Mereka berpisah sejak lama, tetapi perpisahan itu baru sah tahun 2010, setelah gugatan cerai yang diajukan si perempuan diterima, diproses, dan diputuskan Pengadilan Agama meskipun persidangan digelar tanpa kehadiran si laki-laki, dan puluhan tahun kemudian keduanya bertemu untuk pertama kali, di dalam resepsi pernikahan Rahma Susanti, anak kedua Siti Badriyah.

Baik si perempuan maupun si laki-laki berteman akrab dengan Siti Badriyah sejak lama, saat mereka sama-sama melamar sebagai karyawan sebuah perusahaan multinasional milik seorang konglomerat asal Jakarta, dan saat itulah benih cinta sudah mulai tumbuh di antara pasangan yang sudah bercerai itu. Ketika benih-benih cinta itu menjadi kecambah, Siti Badriyah sangat kecewa karena si laki-laki tidak memilih dirinya tapi lebih memilih si perempuan yang usianya jauh lebih tua, dan Siti Badriyah memutuskan memberi pupuk sehingga benih cinta di antara si laki-laki dengan si perempuan tumbuh menjadi pohon yang bernama rumah tangga. Si perempuan maupun si laki-laki akhirnya sepakat bahwa cinta di antara mereka harus dilembagakan dalam sebuah ikatan pernikahan, dan Siti Badriyah menjadi saksi pernikahan keduanya, meskipun setelah pesta pernikahan itu Siti Badriyah merasa sangat kehilangan perhatian si laki-laki.

Di perusahaan yang memproduksi makanan ringan itu karier si perempuan meningkat cepat, sementara karier Siti Badriyah jalan di tempat, dan kemudian Siti Badriyah memutuskan berhenti setelah menemukan laki-laki lain yang bersedia menerima cintanya apa adanya. Lantaran penerimaan laki-laki lain itu tulus dan apa adanya, Siti Badriyah memutuskan berhenti bekerja karena ingin fokus mengurusi rumah tangganya. Suami Siti Badriyah menerima keputusan istrinya itu, dan menegaskan bahwa dia akan meminta Siti Badriyah untuk meninggalkan pekerjaannya seandainya Siti Badriyah tidak pernah berpikir untuk berhenti bekerja setelah menikah.

Sementara itu, si laki-laki yang telah menikahi si perempuan, akhirnya memutuskan keluar dari perusahaan, dan memilih pindah ke perusahaan lain karena perusahaan lama tidak mengizinkan karyawan berasal dari satu rumah tangga. Tidak seperti Siti Badriyah yang lebih mengutamakan mengurus rumah tangganya daripada karier, si perempuan bergeming tetap bekerja di perusahaan meskipun si laki-laki sudah mengingatkan bahwa seorang suami adalah tulang punggung rumah tangga dan seorang istri tidak punya kewajiban untuk bekerja. Si perempuan beralasan ingin membina karier sambil mengutip pernyataan kaum feminis yang menegaskan bahwa perempuan dan laki-laki memiliki derajat yang sama dalam segala hal, termasuk dalam menjalankan karier sebagai seorang profesional.

Ketidakserasian visi antara si perempuan dengan si laki-laki dalam menilai rumah tangga menjadi benih ketidakberesan yang kelak membuat rumah tangga yang mereka bina tidak akan langgeng. Baik si perempuan maupun si laki-laki menyadari ketidakberesan itu, tapi masing-masing keras kepala dan merasa bahwa tidak ada yang keliru perihal apa yang mereka pikirkan tentang berumah tangga.

Si perempuan merasa dirinya benar, si laki-laki menganggap dirinya tidak keliru. Dan, akhirnya, ketidakberesan itu pun terbukti, karena si perempuan maupun si laki-laki lebih sibuk mengurusi pekerjaan masing-masing daripada mengurusi rumah tangga.  Hubungan suami istri di antara mereka terabaikan karena seluruh waktu mereka tersita untuk menyelesaikan pekerjan-pekerjaan di kantor.

Karier si perempuan cepat menanjak, sementara si laki-laki mendapat penugasan baru sebagai kepala cabang perusahaan di kota lain. Si perempuan maupun si laki-laki sebetulnya sadar, bahwa hubungan mereka tidak akan bisa dipertahankan, tetapi keduanya sudah tidak perduli lagi soal masa depan hubungan mereka. Puncaknya terjadi pada tahun 2010 ketika si perempuan mengajukan gugatan cerai ke Pengadilan Agama dengan alasan suaminya tidak pernah menafkahinya lahir dan batin, dan si perempuan menambahkan alasan lain bahwa suaminya itu bukan laki-laki yang baik karena tukang selingkuh.

Siti Badriyah tahu bahwa si perempuan dan si laki-laki sudah lama bercerai ketika dia mengundang mereka untuk menghadiri pesta pernikahan anaknya. Dia sengaja mengundang kedua temannya itu meskipun dia tahu, si perempuan dan si laki-laki seperti anjing dengan kucing, dan keduanya telah saling membunuh antara satu dengan lainnya sejak mereka bercerai. Sebagai teman, Siti Badriyah berharap pertemuan keduanya setelah sekian tahun bercerai akan berdampak positif terhadap hubungan mereka, setidaknya mereka tetap berteman.
*
SAAT menerima surat undangan dari Siti Badriyah, si perempuan sudah 50 tahun usianya, seluruh kulitnya keriput, kelopak matanya menggelambir seperti kelopak mata ayam kalkun, dan sudut-sudut bibirnya macam pelastik terkena seterika panas. Dia tidak lagi memiliki kemolekan yang dulu pernah membuat laki-laki tergoda, dan sepertinya dia tidak akan pernah bisa mengulangi kegemilangan fisiknya di masa muda, dan dia tidak menyadari kekurangannya tersebut. Makanya, dia memutuskan mengenakan gaun berbahan satin berwarna coklat muda, padu dengan kerudung warna kuning telur yang diberi hiasan bordir,  dan dia menduga-duga bahwa dirinya akan menjadi fokus perhatian para undangan dalam pesta pernikahan itu, dan dia harus kecewa karena tidak banyak orang yang melirik saat dia masuk ke gedung resepsi pernikahan.  

Dia datang ke gedung resepsi pernikahan itu diantar oleh Harunsyah, kemudian laki-laki yang bekerja sebagai pengemudi taxi online itu berpamitan untuk bekerja kembali dan akan datang menjemput  kalau acara sudah selesai asalkan si perempuan menghubunginya. Si perempuan mengatakan akan menghubunginya, lalu dia memasuki gedung tempat resepsi pernikahan berlangsung dan saat itulah  dia menangkap kelebat bayangan tubuh si laki-laki yang dibencinya di antara orang-orang yang memasuki pintu gedung. Dia terkesiap, langkahnya berhenti, tapi dia tak yakin apakah laki-laki yang dia benci karena gemar berselingkuh itu yang dia lihat sekelebatan atau orang lain yang mirip dengan bekas suaminya itu? Dan, sungguh, jika yang dia lihat benar-benar bekas suaminya, maka itulah pemandangan yang tak pernah ingin dia lihat di sisa hidupnya; dia bahkan selalu membayangkan, setelah mengetahui Pengadilan Agama menerima gugatan cerainya, laki-laki itu kemudian memutuskan bunuh diri karena merasa hidupnya menjadi sangat sia-sia.

Perempuan itu pun berusaha meyakinkan dirinya bahwa apa yang dia lihat itu bukanlah bekas suaminya, tetapi orang lain yang sedikit mirip dengan si laki-laki, karena dia sangat yakin laki-laki itu telah bunuh diri begitu dia menceraikannya. Dia pun melangkah memasuki gedung resepsi pernikahan, mendatangi meja penerima tamu dan membubuhkan tanda tangannya, lalu menatap ke panggung di mana kedua pengantin duduk didampingi orang tua masing-masing. Dia melihat Rahma Susanti bersanding dengan suaminya di pelaminan, begitu serasi pasangan muda itu dalam balutan pakaian pengantin berwarna kuning emas, dan dia nyaris tidak mempercayai Rahma Susanti akhirnya menikah karena sepuluh tahun lalu dia masih anak gadis belasan tahun yang manja.  

Perempuan itu tersenyum, lalu menatap Siti Badriyah yang terlihat begitu cantik dan lebih mudah dari usianya yang sudah 48 tahun, sedang tersenyum ceria kepada siapa saja yang datang mengucapkan selamat, dan keceriaan Siti Badriyah menjelma jadi binar cahaya begitu perempuan itu berdiri di hadapannya.

“Nadiya!” Siti Badriyah tak bisa menahan diri. “Kukira kau tak akan datang, Nadiya. Aku merinduimu.”

“Maafkan aku tak pernah lagi berkunjung ke rumahmu. Sudah sepuluh tahun ya?!”

“Tidak apa-apa. Kau datang sendirian ya?”

“Sama siapa lagi aku akan datang.” Nadiya mencoba tersenyum meskipun ada denyut di jantungnya saat Siti Badriyah mengajukan pertanyaan itu. “Kau tahu kan kalau aku seorang single parent.”

Siti Badriyah tersenyum. “Sudah bertemu dengan Ibrahim? Dia datang bersama istrinya.” Siti Badriyah menyinggung bekas suami Nadiya. Dan, sungguh, itulah kalimat yang tak diharapkan Nadiya datang dari Siti Badriyah, dan segera roman wajahnya berubah kusut macam pakaian kotor yang dilemparkan ke tempat cucian.  

Siti Badriyah menangkap perubahan yang mendadak itu, langsung minta maaf: “Aku tak bermaksud….”

“Tidak apa-apa.” Nadiya mendustai dirinya. “Sudah lama berlalu.”  Dia berpamitan ingin membaur dengan para undangan, dan dadanya bergetar membayangkan Ibrahim, dan dia menjadi yakin bahwa kelebat bayang bekas suaminya itu ternyata benar. Tapi, sungguh, dia tidak ingin bertemu Ibrahim untuk saat ini, atau saat kapan pun, dan tak pernah dia bayangkan akan terjadi pertemuan di antara mereka. Dia selalu meyakinkan dirinya bahwa Ibrahim telah mati dengan cara bunuh diri.

*

SETELAH Marlina menegur, Ibrahim baru menyadari kalau dia telah terlalu lama memandangi seorang perempuan yang sedang berbicara dengan Siti Badriyah, dan dia merasa mengenali perempuan itu tetapi lupa di mana pernah bertemu dengan perempuan itu.  Marlina berbisik ke telinga Ibrahim, “Tak sopan memperhatikan perempuan lain dengan cara seperti itu!”

“Maaf,” Ibrahim tersenyum, “aku merasa mengenali perempuan itu, tapi di mana ya….”

“Itu Nadiya, bekas istrimu.” Marlina mengembalikan ingatan Ibrahim. “Kau ingin kembali kepadanya?”

“Najis!” Ibrahim memaki. “Kita pergi dari sini. Aku tak ingin bertemu iblis itu.”

Iblis!? Marlina mencibir.  Dia memang menyukai kalau Ibrahim memakai kata “iblis” sebagai kata ganti Nadiya, karena dia memakai istilah itu untuk menyebut  perempuan yang menjadi bekas istri suaminya. Dia tahu persis siapa Nadiya, tak lebih dari seorang perempuan sinting yang merasa sangat berhak atas seluruh hidup Ibrahim, dan dia mengatur apa saja yang boleh dan tidak boleh bagi Ibrahim. Dia tahu soal itu karena pernah menjadi bawahan Ibrahim di perusahaan di mana Ibrahim menjadi seorang manager sebelum dipromosikan ke Kota Medan sebagai kepala kantor cabang.

Dulu, sebelum beberapa tahun lalu dia memutuskan menerima lamaran Ibrahim, dia sempat jatuh kasihan kepada Ibrahim karena perlakuan Nadiya yang sangat tidak menghormati suaminya. Suatu hari, bahkan, Nadiya pernah datang ke rumah kontrakannya, menuduh dia berselingkuh dengan Ibrahim, dan menyangka semua barang-barang yang ada di dalam rumah kontrakannya sebagai pemberian Ibrahim. Waktu itu dia tak bisa berbuat apa-apa kecuali menangis, dan dia bilang kepada dirinya bahwa perempuan seperti Nadiya sebaiknya hidup terkutuk dalam kesepian sampai akhir hidupnya, lalu beberapa tahun lalu Ibrahim melamarnya sebagai istri. Kata Ibrahim, “Kau tahu aku pernah punya istri, dan aku melakukan kesalahan dengan itu, dan aku yakin tak akan pernah melakukan kesalahan yang sama dalam hidupku. Maukah kau menjadi istriku?”

Dia tak meminta diberi waktu untuk memikirkan lamaran itu. Dia tahu pilihannya tidak keliru jika menerima lamaran Ibrahim, dan dia langsung mengangguk. Beberapa tahun lalu Ibrahim menyuntingnya, dan sejak itu dia menjadi istri seorang kepala kantor cabang yang kemudian dipindahkan menjadi kepala kantor pusat di Jakarta. Sekarang,  dia adalah ibu dari dua orang anak sekaligus istri Ibrahim, salah seorang direktur di sebuah perusahaan multinasional yang sahamnya telah dijual di Bursa Efek Indonesia.

Marlina melihat Ibrahim bangkit dari kursi, tapi dia menahannya, “Tak enak sama Siti Badriyah dan suaminya kalau kita pergi buru-buru.”

“Iblis itu akan tahu di mana pun aku berada. Dia akan mendekatiku.”

“Kenapa kau ketakutan?”

“Aku…?” Ibrahim menggeleng. “Bagaimana tidak. Aku sudah membunuhnya berulang-ulang dalam kepalaku, tapi ternyata dia sulit untuk mati. “

“Tidak usah kau bunuh pun dia akan mati.”

“Maksudmu?!”

“Tidak, tidak. Aku tak akan membunuhnya, tapi dia akan mati dengan sendirinya. Tidakkah kau lihat perubahannya secara fisik. Dia lebih mirip nenek lampir ketimbang sebagai bekas istrimu. Tak lama lagi dia akan mati.”

“Semoga hari ini dia mati sebelum dia menemukan aku di tempat ini.”

“Dia tak akan menemukanmu.”

“Kau belum mengenalinya.”

“Kau sekarang suamiku. Tidak ada seorang pun yang bisa mengganggu suamiku.”

Ibrahim menatap istrinya. Dia mencoba meyakinkan dirinya bahwa istrinya akan melakukan apa saja demi mempertahankan suaminya, apalagi dari iblis betina yang pernah menahannya sebagai suami. Ah, dia tidak akan pernah melupakan peristiwa paling mengerikan dalam hidupnya, dan sebetulnya sejak awal sudah bisa dia duga akan seperti itu jadinya.

*

IBRAHIM beberapa tahun lebih muda dari iblis betina itu. Ketika mereka menikah, iblis itu 35 tahun, dan dia 25 tahun. Kawan-kawannya menertawai pilihannya, mengejeknya, dan menyebutnya bodoh. Usia 35 tahun bagi seorang perempuan, begitu kawan-kawannya mengejek, sama seperti sebuah barang antik yang rapuh; gampang pecah begitu mendapat sedikit tekanan.

Dia bergeming karena dia menyukai iblis itu sebagai bidadari. Dia menyanjungnya setinggi langit. Dan iblis itu menyukai pujian tersebut. Tapi, rentang usia yang terlalu jauh itu ternyata menjadi pemicu pertengkaran demi pertengkaran dalam rumah tangga mereka.  Sering, tak ada sebab, atau segala sesuatunya baik-baik saja dari awal, lalu tiba-tiba iblis itu mengeluarkan tanduknya. Suaranya besar dan melengking, berteriak-teriak seperti kesurupan, lalu memaki-maki tanpa alasan. Ini dan itu salah, ini dan itu tidak boleh….

Kadang dia pikir, Tuhan sedang menguji kesabarannya, dan dia bersabar. Kadang dia pikir, Tuhan sedang menjauhinya, dan dia menangis. Kadang dia pikir, Tuhan sudah tak ada, dan dia kesepian. Kadang, dia mencoba memaklumi situasi psikologis iblis itu. Bahwa dia, lantaran merasa lebih tua dari suaminya, adalah wajar dihantui rasa curiga yang berlebihan bahwa suaminya memiliki perempuan lain di luar rumah.

Meskipun begitu, dengan segala cara dia yakinkan iblis itu agar mempercayai bahwa dia seorang yang jujur sejak dari sebelum lahir, tapi tak berhasil, sebaliknya si iblis semakin curiga. Kecurigaannya keterlaluan, lebih menunjukkan kalau dia mirip penderita penyakit jiwa. Penyakit itu memaksa si iblis selalu membatasi suaminya berhubungan dengan perempuan mana saja, membatasi dia mengobrol dengan perempuan lain sekalipun anak buahnya di kantor, dan puncaknya iblis  itu melarang dia menerima promosi dari perusahaan untuk menjadi kepala kantor cabang perusahaan di Kota Medan.  

Tapi, tidak, untuk yang terakhir itu, dia memilih tidak mau menuruti perintah si iblis, lalu menerima promosi dan tinggal di Kota Medan. Dia mengajak si iblis pindah ke Kota Medan, tetapi iblis itu menolak dengan alasan kariernya yang bagus di perusahaan multinasional tidak mungkin dia tinggalkan begitu saja. “Kalau begitu, aku pergi ke Medan,” katanya, “jangan khawatir, aku tetap setia padamu.”

Pernyataannya justru membuat iblis itu mengeluarkan tanduk di kepalanya, kepulan uap amarah dari hidungnya, dan api menyala di kedua bola matanya. Dari mulut si iblis, kata-kata makian meluncur deras seperti butiran peluruh keluar dari moncong senapan, lalu menghunjami dadanya. Dia terkapar oleh rasa sakit yang teramat hebat, dan itu membuat niatnya semakin kuat untuk pergi ke Kota Medan.

Dia tahu, sesuatu akan segera terjadi, tapi dia tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi. Segalanya menjadi jelas bagi Ibrahim ketika Marlina memberi kabar bahwa si iblis telah mengajukan gugatan perceraian ke pengadilan agama.

“Bagaimana kau bisa tahu soal itu?” Dia mendesak Marlina, “kau memata-matainya?”

“Siti Badriyah memberi tahu saya.”

“Bagaimana bisa Siti Badriyah memberitahukan padamu soal itu?”

“Dia meminta saran Siti Badriyah sebelum mengajukan gugatan cerai, dan Siti Badriyah menceritakan kalau dia sudah melarang agar tidak mengajukan gugatan cerai.”

“Kenapa Siti Badriyah bercerita kepadamu?”

“Itulah yang tidak aku mengerti.”

*

MARLINA tersenyum melihat Ibrahim tak lagi punya minat, bahkan sekadar bertemu dengan Nadiya. Itulah yang diinginkannya sejak lama, sejak Nadiya mencurigainya telah berselingkuh dengan Ibrahim, dan dia sangat terpukul ketika pertama kali tuduhan itu disampaikan Nadiya.

Pada hari Nadiya datang ke rumah kontrakannya, lalu menuduh semua barang di dalam rumah itu sebagai pemberian Ibrahim, pada saat itulah Marlina berpikir keras untuk betul-betul menghancurkan hidup Nadiya.  

Rencana itu diawali dengan menemui Siti Badriyah. Gayung bersambut, ternyata, Siti Badriyah menyimpan dendam kesumat kepada Nadiya, karena kemampuan Nadiya dalam menjilat pimpinan di perusahaan telah membuat kariernya lebih cepat naik dibandingkan karier Siti Badriyah. Peningkatan karier Nadiya spektakuler, membuat Siti Badriyah langsung menyerah dan memutuskan keluar.  

“Kalau aku pertahankan, aku takut akan terjadi perang dunia antara aku dengan Nadiya,” kata Siti Badriyah kepada Marlina. “Tapi kau bisa membalaskan sakit hatiku, karena rumah tangganya sangat rapuh.”

“Apa yang bisa aku lakukan?”

“Rebut perhatian suaminya.” Siti Badriyah ingat cara Nadiya merebut perhatian pimpinan perusahaan sehingga kariernya melonjak cepat. “Sebagai bawahan, kau bisa merebut perhatian suaminya hanya dengan menunjukkan kinerja. Kau harus tanggap, dan sekali-sekali kau beri perhatian pada Ibrahim.”

“Ibrahim sangat dingin kepada perempuan.”

“Tidak. Kau keliru menafsirkan Ibrahim. Dia pribadi yang hangat, tapi hidupnya penuh tekanan. Nadiya itu memegang kekangnya, memperlakukannya seperti kuda pacu.”

“Kasihan!”

“Bebaskanlah Ibrahim!” Siti Badriyah tersenyum. “Aku juga kasihan kepadanya. Dia laki-laki yang baik.”

*

NADIYA tak percaya melihat bajingan itu hanya beberapa meter dari tempat dia mengambil tempat duduk, dan lebih tak percaya lagi setelah mengenal perempuan yang menemani bajingan itu. “Marlina!” batinnya. Lalu kenangan itu berlintasan, dan pertemuan demi pertemuan dengan Marlina yang terjadi secara kebetulan selama ini, muncul lagi di kepalanya seperti gambar video. Dan, suatu hari, dia ingat peristiwa itu terjadi sebulan setelah bajingan itu pindah ke Kota Medan dan tak pernah memberi kabar, dia berpapasan dengan Marlina di supermarket saat sedang berbelanja kebutuhan sehari-hari.

“Kukira kau sudah mati,” kata Marlina, “tapi tak apa, dalam waktu dekat kau akan mati dengan sendirinya.”

“Apa maksudmu?”

“Suamimu meninggalkanmu kan?”

“Apa urusanmu.”

“Tali kekangnya putus di tanganmu. Kau akan kehilangan dia untuk selama-lamanya.”

“Apa perdulimu.”

“Itulah yang aku inginkan, dan itulah yang akan aku lakukan.”

“Kurang ajar!”

“Sudahlah. Kau tidak mencintainya sebagai suami. Kau hanya akan menyiksanya sebagai peliharaan. Dia akan bebas seperti burung. Aku yang akan membebaskannya.”

“Kurang ajar, kau!”

“Kalau kau tak ingin malu karena diceraikan suamimu, sebaiknya kau dahului dia. Ajukan gugatan cerai, dan lupakan dia! Percayalah, aku bisa mempengaruhinya agar menceraikanmu. Dia punya banyak alasan, terutama kau tak pernah menjadi istri yang sebenarnya untuk dirinya.”

“Iblis kau!”

Marlina tertawa. Tawa itu selalu tergiang di kepala Nadiya, dan tetap tergiang ketika dia mengajukan gugatan cerai ke pengadilan agama.




===================
Budi Hatees lahir di Sipirok, Tapanuli Selatan, Sumatra Utara,  pada 3 Juni 1972. Menulis esai di berbagai media dan terkumpul dalam sejumlah buku.  Sehari-hari berkebun kopi, melakukan penelitian  budaya, sosial, politik untuk Institute Sahata. Mengelola usaha nursery, tinggal di Kota Padang Sidempuan, Sumatra Utara.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here