Kekal

Di antara bunga yang dipetik dan asingnya derma
adalah yang tak terkata





Ennui

Meski malam akan berlalu

Ini kembara senyap
mengguncang bayang-bayang trem
di kabut aspal

Aku melihat kepala para supir taksi
mengantuk
Leyeh





Karpet

Setiap warna memuai dan merentang
ke dalam warna-warna lain

Menjadi lebih mufrad jika kau melihatnya




Mungkin sebuah Sungai*

Halimun yang membercaki kita

Mungkin sebuah sungai yang terlahir di sini

Aku mendengarkan nyanyian Sirene
dari danau di mana ada kotanya


* Ungaretti menjelaskan bahwa halimun itu mengubah Milan menjadi danau yang ‘seperti khayalan’ mengingatkannya pada danau Mareotis, dekat Alexandria.





Pesakitan

Memaut bak dahaga burung-burung pipit
Di atas fatamorgana

Atau bak burung puyuh
Sesekali lautan membekas
Tak ada lagi
Keinginan untuk terbang
Binasa di belukar perdana

Tapi hidup bukan untuk meratap
Bak uang emas buta





Tentang Afrika

Matahari merampas di sepanjang kota
Kami tidak lagi bisa menatap
Bahkan makam yang sudah lama ada




Enyah*

Segaris asap
mengambang ayal
di jarak cincin tawang

Gemerincing tumit tepukan tangan
dan dihiasi lengkingan clarinet
dan tawang kelabu
menyepoi gigil gelisah
bak merpati

Dalam buritan emigran Suriah yang berjoget
Di haluan lelaki muda yang mufrad

Di malam-malam Sabtu ini
para Yahudi
di bagian-bagian itu
memboyong
maut mereka
melalui pilinan selongsong
tak menentu
lorong-lorong
cahaya

Putaran air
seperti raket dari buritan
telah aku dengar dalam bayang
yang
lelap

*Ungaretti meninggalkan tanah kelahirannya, Alexandria, menuju Perancis. ‘Di bagian-bagian itu’ mengacu pada Alexandria.




===================
Giuseppe Ungaretti (1888-1970) adalah anak dari petani Tuscan yang beremigrasi ke Mesir dan menjalankan sebuah toko roti di pinggiran Alexandria. Ia adalah penyair pembaharu Itali, jurnalis, esais, kritikus, dan akademisi. Puisi di atas dialihbahasakan dari bahasa Itali ke bahasa Inggris oleh Patrick Creagh (Penguin Modern European Poets). Penerjemah dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia adalah Eka Ugi Sutikno yang giat di Kubah Budaya dan mengajar di Universitas Muhammadiyah Tangerang. Selain itu ia menyibukkan diri di Buletin Tanpa Batas.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here