Untuk ke sekian kalinya aku melihat gadis itu kembali berdiri tepat di balik jendela kamarnya yang berlapis jeruji besi. Matanya menatap lurus ke depan. Sesekali dia tersenyum tersipu malu, dan menundukkan wajahnya. Ah, ingin rasanya aku menyusup ke dalam benaknya: mencari tahu apa yang membuatnya tampak berbeda. Tenang, tak gelisah seperti biasanya.

Sudah seminggu gadis itu menjadi penghuni kamar VIP di ruang rawat tenang, setelah hampir tiga bulan menjalani perawatan di ruang rawat jiwa intensif. Kamarnya berada tepat di depan nurse station, tempat aku bergumul dengan setumpuk pekerjaan yang terkadang amat menjenuhkan. Di sela-sela kesibukan yang tak kunjung usai, acap kali aku mencuri-curi pandang pada jendela itu. Aku menyukai senyuman lembut di bibir indah gadis itu saat sinar matahari pagi mengecup wajah cantiknya. Tak jarang, matanya yang bening seperti air telaga itu beradu pandang dengan mataku yang tak kuasa menyembunyikan kekaguman.

Aku ingat saat pertama kali dia datang ke tempat ini. Diantar kedua orang tuanya gadis itu masuk ruang IGD. Aku yang saat itu bertugas begitu kerepotan dibuatnya. Gadis itu menolak untuk diperiksa. Dia menjerit, menerjang, memukul semua orang yang ada di dekatnya. Benda-benda yang ada di sekeliling pun tak luput menjadi sasaran amarahnya. Orang tuanya bilang, itu bukan kali pertama anak mereka mengamuk begitu. Aku pun terpaksa menghunjamkan suntikan penenang padanya, hingga dia terkulai tak berdaya, seperti bayi yang tertidur ditimang ibunya.

Berbilang hari hingga bulan berganti, pesona gadis itu semakin menjadi-jadi. Aku tak kuasa menahan diri. Bahkan kini, kehadiran sosoknya di balik jendela itu selalu kutunggu, serupa candu. Padahal, beberapa menit sebelumnya aku baru saja kembali dari kamarnya. Mungkin gadis itu pun merasakan hal yang sama, sebab setiap kali mata kami bertemu, bibir indah itu selalu merekah memperlihatkan dua gigi kelinci yang membuatnya semakin terlihat manis. Meski dari jauh, aku dapat menangkap isyarat yang dilemparkan gadis itu, bahwa ia menyukai keberadaanku.

“Kamu suka sama Nayla?”

Suara Dokter Fitri membuatku menahan napas. Entah sejak kapan psikiater senior itu berada di sebelahku. Aku gelagapan menyentuh benda apa pun yang ada di meja kerjaku.

“Saya perhatikan, kamu memberikan perhatian lebih pada Nayla dibandingkan pasien lainnya.” Dokter Fitri menarik bangku kosong, dan duduk di hadapanku.

Ah, sejak kapan Dokter Fitri memerhatikan gerak gerikku? Mungkinkah selama ini aku terlalu terlena dengan keberadaan gadis cantik bernama Nayla itu? Hingga tak menyadari bahwa ada sepasang mata yang mengawasiku.

“Kondisi mental Nayla baru saja stabil. Jangan memberikan harapan apa pun padanya. Kita semua tahu bahwa itu tidak mungkin.” Suara Dokter Fitri terdengar penuh penekanan.

Rasanya ingin saat itu juga aku menghilang ke dasar bumi dan tak pernah muncul kembali di hadapan Dokter Fitri. Wanita paruh baya itu telah menelanjangi perasaanku, dan membuka tabir rahasia yang selama ini kututup rapat-rapat itu. Tak ada pilihan lain, aku hanya bisa mengangguk. Jika pasien-pasien di sini saja bisa luluh di hadapannya, lantas aku bisa apa?

Kuputuskan untuk mencoba mengubur dalam-dalam semua angan tentang Nayla. Menghindar untuk tidak menatapnya walau hanya sedetik saja. Aku takut kembali khilaf. Namun, aku terlambat. Tampaknya hati Nayla terlanjur masuk dalam jerat yang terpasang di depan jendela kamarnya. Setiap hari, dia memandangku dari kaca jendela berterali besi itu. Aku selalu pura-pura tak melihatnya. Namun, sesekali hatiku goyah juga. Sedikit saja aku meliriknya, dengan cepat dia akan melambaikan tangan sambil tersenyum. Lalu memberi isyarat agar aku datang ke kamarnya. Aku menggeleng. Nayla menempelkan kedua telapak tangannya sebagai tanda memohon padaku. Maka terjadilah peperangan putih dan hitam di jiwaku. Si hitam unggul dan berhasil menyeret kakiku untuk diam-diam menemui Nayla di kamarnya.

Stabil di bawah pengaruh obat, dia akan menceritakan banyak hal dan aku mendengarkannya dengan sabar. Aku pikir, siapa pun tak akan pernah menyangka bahwa mahasiswi tingkat empat fakultas farmasi itu menderita gangguan jiwa. Skizofrenia merenggut masa mudanya. Gadis itu jengah selalu dituntut menjadi anak yang sempurna. Masa kanak-kanak dan remajanya dirampas oleh jadwal les yang tak berkesudahan. Cita-citanya untuk menjadi pelukis terkenal, dibunuh oleh kehendak orang tuanya.

Semakin lama kami semakin dekat. Mungkin banyak hal yang membuatnya nyaman ketika berada di dekatku. Oh, Tuhan. Inikah rasanya dosa yang manis itu? Semanis senyum Nayla yang mengajakku ke taman rumah sakit. Aku menolak dengan halus. Dia merajuk, menarik tanganku untuk mengikuti langkahnya. Aku melirik Dokter Fitri yang berada di depanku untuk meminta izin. Dokter Fitri diam saja. Sepertinya dia juga bingung harus berbuat apa.

Pagi ini wajah Nayla bersinar secerah matahari yang terasa hangat di kulitku. Kami duduk berdua di bangku taman, menikmati kicau burung yang terbang rendah berpindah dari satu dahan ke dahan lainnya.

“Mau lihat ini enggak?” tanyanya sambil menunjukkan sebuah gulungan karton putih yang sedari tadi digenggamnya. Aku mengangguk.

Perlahan dibukanya gulungan karton itu, sementara mataku mengikuti setiap gerakan jari-jarinya yang lentik itu. Sedetik kemudian aku tak tahu harus memberi reaksi apa saat gulungan itu terbuka. Terlihat sebuah sketsa wajah seorang perempuan dan laki-laki. Pipi kanan si lelaki menempel di pipi kiri si perempuan. Dalam sketsa itu, mereka tersenyum lebar hingga mata mereka menyipit, terlihat sangat bahagia.

“Ini … kita?” tanyaku ragu. Nayla menunduk, tersipu malu. Terlihat dari pipinya yang memerah. Tak bisa dipungkiri aku sangat bahagia. Ingin sekali aku menggenggam tangannya, dan memuji karyanya itu. Namun, aku menahan diri. Aku sadar banyak mata yang diam-diam sedang mengawasi kami. Aku juga tahu bahwa setiap dinding dan pintu di rumah sakit ini bertelinga. Nayla menyerahkan gulungan itu padaku. Aku tak sempat bilang terima kasih, sebab dia langsung berlari kembali ke kamarnya.

Nayla, Nayla, Nayla. Nama itu terus menggema di pikiranku. Wajahnya selalu hadir mengisi hari-hariku. Dia yang kekanak-kanakan, tetapi sangat kurindukan. Semenjak gadis itu pulang satu bulan lalu, aku hampir gila dibuatnya. Dokter Fitri mengizinkan Nayla untuk rawat jalan, sesuai permintaan keluarganya. Rasanya dunia ini begitu hampa. Tak ada lagi gadis yang berdiri menatapku dari jendela di depan sana. Tak ada lagi alasan yang bisa membuatku betah berlama-lama di rumah sakit. Aku merasa kehilangan gairah hidup. Apakah di sana dia pun merasakan hal yang sama? Atau bahkan sebaliknya: dia sudah melupakanku begitu saja?

Pertanyaan-pertanyaan itu terus saja memenuhi ruangan di kepalaku. Hingga akhirnya, sore ini semua pertanyaanku itu terjawab sudah. Tergopoh-gopoh aku menuju tempat parkir. Dokter Fitri sudah menungguku di sana. Nayla relaps, dan berusaha melukai dirinya sendiri. Bukan tanpa alasan aku diminta Dokter Fitri ikut ke rumah Nayla. Ternyata selama di rumah, gadis itu tak pernah mau meminum obat. Padahal obat-obat itu adalah nyawa bagi seorang penderita skizofrenia. Nayla hanya mau minum obat jika aku yang memberikannya. Setidaknya, kabar itu yang disampaikan ayah Nayla pada Dokter Fitri lewat sambungan telepon.

“Maaf, Dok. Lama,” ucapku setelah menjatuhkan bokong di kursi penumpang. Dokter Fitri tersenyum tipis, kemudian mulai mengemudikan mobilnya keluar dari gerbang rumah sakit.

Bertahan Nayla, sebentar lagi aku akan berada di dekatmu. Dan aku ingin kamu dalam keadaan baik-baik saja. Hatiku mulai gelisah. Telapak tanganku basah. Segala pikiran buruk tentang Nayla memonopoli perasaanku. Hingga aku tak menyadari sejak kapan mobil ini memasuki jalan tol dan melaju dengan kecepatan tinggi. Samar di antara deru mesin mobil yang saling bersahutan, terdengar ponsel di tasku berdering. Kuambil, terlihat ada panggilan tak terjawab dan sebuah pesan di aplikasi whatsApp.

“Mas, cepat pulang! Aku pecah ketuban.” 

Tiba-tiba saja pandanganku mengabur ketika pesan itu selesai kubaca. Aku merasa terjepit di antara dua bukit. Napasku begitu sesak. Semakin sesak hingga jantung pun terasa berhenti berdetak saat Dokter Fitri mulai mengurangi laju mobilnya. Seratus meter lagi mobil ini akan keluar dari gerbang tol. Itu artinya aku hanya punya waktu beberapa menit saja untuk berpikir. Di depan sana, ada persimpangan jalan. Kanan menuju rumah Nayla. Kiri menuju rumah mertuaku, di mana istriku sedang menunggu. Lantas jalan mana yang harus segera kupilih?*



==================
Teni Ganjar Badruzzaman lahir di Ciamis 1988. Ibu rumah tangga yang gemar menulis dan membaca cerita. Cerpen dan cernaknya dimuat di beberapa media dan antologi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here