Malam itu ia duduk di tepi dermaga. Wajahnya menengadah ke langit. Dan di matanya, cahaya rembulan telah menjadi biru. Perahu-perahu yang bergoyang di tepian berwarna biru. Bangku-bangku yang bisu berwarna biru. Pohon-pohon yang menyemak berwarna biru. Air segara yang beriak ringan juga berwarna biru. Dan ia pun merasa dirinya telah menjadi biru.

“Jika kesunyian punya warna, mungkin warnanya juga biru,” desahnya, dalam.

Ia seperti bertanya pada diri sendiri, kesunyian ini berpusat di mana? Mungkin di sini, di dada yang berlubang ini. Semua karena sepasang mata. Sepasang mata yang bisa berkedip, memejam, memutar, dan menangis. Sepasang mata ini.

Pada suatu hari, seratus tujuh belas hari sebelum hari ini, untuk pertama kalinya, ia diajak tuannya mengantarkan beberapa keranjang ikan ke dapur sebuah pesantren. Dengan tubuh hitam mengkilap yang ditempeli butiran-butiran sisik ikan, serta bau amis yang bisa bikin siapapun menumpahkan isi perut, ia memanggul keranjang penuh ikan. Tergopoh-gopoh. Menuju sebuah dapur yang begitu lapang. Dengan dinding penuh ukir kaligrafi dan kata-kata bijak. Ia dan beberapa kawan mengempaskan keranjang-keranjang penuh ikan itu ke lantai dapur. Ikan-ikan di permukaan goyah, beberapa ekor melesat ke lantai. Ia memungutinya dan mengembalikannya ke dalam keranjang.

Saat tuannya berunding soal harga, ia dan beberapa kawan duduk mencakung di lantai dapur. Di sana ada beberpa bangku makan. Namun, ia tidak mau duduk di sana. Ia tahu diri. Tubuhnya yang kotor dan bau amis itu akan meracuni bangku-bangku makan para santri. Para pencari ilmu yang mulia. Jika sampai itu terjadi, Tuhan pasti akan menghukumnya.

Pada saat tuannya membalikkan tubuh dengan tangan menggenggam segepok uang, ia melihat sepasang mata di balik tubuh tuannya itu dengan matanya. Sebuah anak panah melesat sudah. Seorang gadis dengan jilbab berwana putih bercahaya, tersenyum mengucapkan terima kasih pada para buruh nelayan. Ia merasa, gadis itu hanya tersenyum padanya seorang. Mengucapkan terima kasih khusus untuknya seorang. Anak panah yang sudah kadung melesat dan menyeruduk seraut wajah yang bakal membuatnya lunglai seketika. Itu tak pernah terjadi sebelumnya. Ketika balik ke mobil pikap yang mengusungnya, ia berjalan gontai bagai rusa tertembak, hingga seorang kawannya bertanya apakah ia baik-baik saja. Wajah gadis yang dikerubuti cahaya itu tak bisa hilang begitu saja.

Pada tuannya, nyaris setiap hari ia bertanya, “Kapan kita antar ikan ke pesantren lagi? Jangan lupa saya diajak!”

Di muka pesantren itu, di seberang jalan, ada sebuah warung makan di bawah tenda sederhana. Ada yang tiba-tiba menggerakkan hatinya untuk pergi ke sana saban pagi atau sore. Sambil melahap nasi dan meyeruput kopi, sepasang matanya tak henti-henti mengawasi gerbang pesantren di seberang jalan. Para santri berlalu lalang, mendekap buku dan kitab-kitab. Mereka saling berbincang. Tertawa. Mencium tangan para guru yang ditemuinya. Ia seperti melihat potongan surga di depan mata. Tak ada bau amis yang bisa bikin muntah, tak ada terik matahari yang benar-benar menyengat, dan tak ada barang-barang berat yang harus mereka panggul di bahu. Betapa terberkatinya hidup mereka. Para pencari ilmu itu.

Hari-hari pun berlalu seperti yang dulu-dulu. Ia mencecapnya tandas sampai ke pori-pori tubuh, ke lorong-lorong ingatan. Aroma asin laut. Dermaga yang riuh nyaris sepanjang hari. Pasar pelelangan ikan yang sudah seperti komplek neraka. Sebuah warung di seberang jalan muka pesantren… hanya saja, sepasang mata yang pernah ia lihat di dapur pesantren beberapa waktu silam itu tak pernah tampak. Ada perasaan aneh bergelung di dadanya. Seperti sesuatu yang menyiksa dan akan berlangsung lama.

Hingga tibalah hari itu, kali kedua ia mengantarkan keranjang-keranjang ikan itu ke dapur pesantren. Jantungnya berdegup tak karuan. Seekor kakap raksasa bagai menggelepar dalam perutnya. Ketika ia mengempaskan keranjang pertama, ia tak melihat siapapun di dapur itu. Namun, ketika ia memanggul keranjang kedua. Ia mulai menghirup aroma melati. Gadis itu muncul dari seberang pintu dan tersenyum padanya. Gadis itu mengenakan gamis berwarna hijau toska, dengan jilbab warna senada. Ia mendadak lunglai. Ia memanggul keranjang-keranjang berikutnya dengan langkah lebih pelan. Karena sendi di lulutnya mulai goyah. Gadis itu duduk di belakang sebuah meja. Dengan beberapa santriwati lain. Membaca kitab suci ukuran kecil. Aroma amis bertumbuk dengan aroma melati. Aroma amis menang.

Ketika tuannya merundingkan harga, ia mengambil posisi duduk yang lebih gamblang agar bisa memandangi wajah bercahaya itu dari kejauhan. Kakap raksasa di perutnya semakin liar, hingga jantungnya bagai siap meledak. Untuk menghentikan siksaan itu, ia mencoba membayangkan sepotong pistol dengan moncong mengarah ke jidatnya. Tak berhasil.

Ia tak mendengar suara gadis itu sepatah kata pun. Dan ketika keranjang-keranjang itu habis terempas, ia balik ke mobil pikap dengan hati berat. Hari-hari berikutnya telah menjadi hari-hari biasa yang membosankan. Sekitar seminggu berselang, pada suatu pagi menjelang siang, ketika ia sarapan di warung seberang jalan depan pesantren, ia melihat pesantren itu begitu riuh. Tak seperti biasanya. Terdengar suara rebana ditabuh. Melantunkan shalawat nabi. Butuh beberapa detik baginya untuk menyadari bahwa pesantren itu sedang punya gawe. Butuh beberapa detik pula baginya untuk menatap sepasang mempelai yang berjalan pelan menuju mobil pengantin. Ia berdiri dari duduknya untuk menerawang lebih jelas.

“Siapa itu yang menikah?” tanyanya pada orang-orang di warung.

“Oh, itu Ning Issa, putri bungsu Kiai Khalid.”

“Dapat putra Kiai dari Rembang,” sahut yang lain.

“Anak Kiai dapat anak Kiai, cocok!” imbuh yang lain pula.

Ia melihat sepasang mempelai itu naik mobil pengantin. Ia tak yakin, apakah mempelai putri yang ia lihat sekilas naik mobil pengantin itu adalah gadis berwajah cahaya yang ia temui di dapur pesantren. Sepertinya bukan, tapi sepertinya iya. Mempelai putri itu mengenakan riasan di wajah. Dengan gamis putih rapat mengembang, ekor kerudung beterbangan. Barangkali seperti itulah wujud nyata bidadari, batinnya. Mempelai lelakinya terlihat begitu tampan dan salih, mengenakan kacamata. Sepasang pengantin yang terberkati, yang akan terus berjalan sampai ke surga. Hari itu, ia merasakan lubang-lubang kecil mulai menganga di dadanya, puluhan peluru bagai menembus dadanya. Lubang-lubang di dada yang kian detik kian melebar.

Ia sadar sepenuhnya, bahwa untuk jatuh hati sekalipun, manusia tetap membutuhkan cermin. Ia telah banyak membaca dari yang sudah-sudah. Seorang gelandangan memiliki kemungkinan besar untuk berkahir di jalanan, sebagaimana seorang penjual parfum memiliki kemungkinan besar untuk mati dengan aroma wangi. Begitupula, seorang berilmu memiliki kemungkinan besar untuk menikahi seseorang yang juga berilmu. Buktinya, hari ini ia melihat putri Kiai menikah dengan putra Kiai. Dan beberapa kawan yang bekerja sebagai buruh nelayan juga menikahi anak-anak buruh nelayan. Begitu sepadan. Dan dunia ini sepertinya memang telah tercipta seperti itu. Yang sejajar hanya akan berjalan dengan yang sejajar. Yang sejenis akan akan menapak dengan yang sejenis. Dan seterusnya.

Sejarah berjalan sampai detik ini. Ia hanya bocah yatim piatu yang dirawat oleh adik ibunya—sepasang buruh nelayan miskin, lalu tumbuh besar di pesisir, setelah lulus sekolah menengah ia segera terjun ke lautan, menjadi seorang buruh nelayan yang baru. Tubuhnya hitam legam, wajahnya tidak tampan, tak punya banyak keahlian. Detik itu ia merasa dunianya begitu timpang. Dan ia merasa, bahwa Tuhan menganak tirikannya. Dalam hati kecil, ia menyangkal perasaan itu. Tuhan tak pernah salah. Kalaupun ada yang senjang, semua berkat dirinya sendiri. Pasti begitu. Ia mengaku memiliki Tuhan, namun benar-benar lupa kapan terakhir kali sembahyang. Ia tidak pernah berpuasa pada bulan Ramadan, dan lebaran baginya tak ubahnya sebuah pesta singkat. Ia minum dan berjudi, sesekali membayar perempuan untuk mendapat kesenangan. Apakah Tuhan memang menganak tirikannya?

Malam itu ia pergi ke dermaga. Duduk menghadap ke tengah segara. Wajahnya mendongak ke langit. Dan di matanya, cahaya rembulan telah menjadi biru. Perahu-perahu yang bergoyang di tepian berwarna biru. Bangku-bangku yang bisu berwarna biru. Pohon-pohon yang menyemak berwarna biru. Air segara yang beriak ringan juga berwarna biru. Dan ia pun merasa, dirinya telah menjadi biru. Apakah Tuhan melihatku? Hamba yang biru ini? Rasa sesak yang aneh memenuhi dadanya. Merongrong dirinya. Ia yakin, matanya sudah berair sejak tadi. Rasanya, ia tak ingin dilahirkan sebagai manusia. Lahir sebagai ikan mungkin lebih baik.

Dari tempatnya duduk, ia bangkit dan menyusuri jembatan buntu yang menjorok ke tengah segara. Di ujung jembatan buntu itu ia kembali duduk. Memandang kosong ke biru segara, sebelum akhirnya melompat ke dalam air. Hawa dingin itu membekap tubuhnya. Ia terus berenang. Semakin ke dalam. Terus meluncur. Sampai ke dasar. Ia merasa, kian detik tubuhnya kian menciut. Sisik-sisik mungil mulai tumbuh. Sepasang tangannya memipih menjelma sirip depan. Sepasang kakinya merapat membentuk sirip ekor. Dan tubuhnya telah berwarna biru gelap. Ia terus berenang dan berenang. Mencoba kembali ke permukaan.

Ia terus berenang dengan siripnya yang rapuh. Berenang dan berenang. Menuju permukaan. Dengan tubuhnya yang biru. Berenang dan berenang. Setelah perjalanan yang terasa begitu panjang dan melelahkan, akhirnya ia bisa mengucup udara di muka air. Ia terus menggerakkan sirip ekornya. Sepasang matanya yang bulat mendelik ke wajah langit. Menatap rembulan bulat biru yang agung. Rembulan bulat biru yang tak mungkin bisa ia sentuh.

Seekor ikan yang hidup di palung-palung laut terdalam tak akan mampu menyentuh rembulan. Bahkan untuk sekadar menatapnya, ia mesti melewati perjalanan panjang dan melelahkan untuk sampai ke permukaan. Sebuah keniscayaan, bahwa seekor ikan tak boleh jatuh cinta pada rembulan?***

Malang, 2017-2020






=====================
Mashdar Zainal, lahir di Madiun 5 juni 1984, suka membaca dan menulis puisi serta prosa. Tulisannya terpercik di beberapa media. Buku terbarunya, Gelak Tawa di Rumah Duka (2020). Kini bermukim di Malang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here