Sungguh, betapa butuh lelaki itu pada omong kosong
. Setiap hari setelah berdoa, mandi dan sarapan pagi, ia pun mulai mengumpulkan omong kosong. Kebiasaan itu bermula setelah lelaki itu mimpi bertemu ibunya yang sudah lama tiada. Dalam mimpi itu ibunya berpesan agar ia berhati-hati dalam hidup: jangan menyakiti orang lain dan jangan sampai pula disakiti orang lain. Mimpi yang aneh. Tidak menyakiti orang lain mungkin bisa ia lakukan. Tapi bagaimana caranya agar tidak disakiti orang lain? Bukankah kita tidak punya kuasa mengontrol persepsi atau tindakan orang lain kepada kita?

Lama lelaki itu merenung mencari jawaban, namun tak kunjung jua ketemu jawabannya. Hingga akhirnya lelaki itu bermimpi kembali dengan ibunya.

“Kalau kau tidak ingin disakiti orang lain, maka kau harus memiliki kesiapan diri yang tangguh. Dan untuk mencapai kesiapan diri yang tangguh, kau harus banyak memakan omong kosong. Sebab semakin banyak omong kosong kau makan, tubuh dan jiwamu tidak akan mampu lagi disakiti siapa pun. Mulai sekarang kumpulkanlah sebanyak mungkin omong kosong!” kata ibu lelaki itu dalam mimpinya.

Maka sejak saat itu, lelaki itu pun mulai mengumpulkan omong kosong. Omong kosong pertama yang biasanya ia kumpulkan setiap pagi ialah omong kosong yang menyembur dari tabung televisi. Setelah habis ia kumpulkan omong kosong di televisi, lelaki itu pun bergegas keluar rumah mengumpulkan omong kosong yang lain. Di luar rumah lelaki itu biasanya memulai rutinitasnya dengan mengumpulkan omong kosong yang berserak di lapak-lapak koran yang gelisah sebab semakin menyusutnya penikmat berita. Setelah habis omong kosong ia kumpulkan dari lapak-lapak koran, lelaki itu lanjut ke pedagang-pedagang di pasar pagi.

Di pasar pagi, bukan hanya omong kosong dari penjual dan pembeli saja yang lelaki itu kumpulkan. Tetapi dari tukang parkir dan tukang minta-minta yang biasanya selalu muncul di pasar pagi, juga habis dikumpulkan lelaki itu. Bagi lelaki itu, omong kosong tetaplah omong kosong. Tak peduli dari mulut siapa ia menyembur; muncrat.

Bila semua omong kosong di pasar pagi telah selesai lelaki itu kumpulkan, ia pun melanjutkan perburuan omong kosongnya ke gedung rakyat. Biasanya di gedung itu ia lebih banyak menghabiskan waktu. Sebab produksi omong kosong paling banyak muncrat dari tempat seperti itu. Kadang-kadang saking melimpahnya, lelaki itu sampai lupa istirahat. Sungguh, lelaki itu tak mau melewatkan selembar pun omong kosong yang mereka semburkan terlepas begitu saja ke angkasa raya. Apalagi ketika mereka sedang rapat atau sedang membahas soal rakyat.

Setelah mengumpulkan seluruh omong kosong di gedung rakyat, lelaki itu biasanya kelayapan ke jalan-jalan padat ibu kota yang banyak menempatkan petugas pengatur disiplin. Di jalan-jalan padat itu ternyata banyak juga ia temukan omong kosong. Sehingga membuatnya cukup betah berlama-lama selain di gedung rakyat. Puas melucuti semua omong kosong yang muncrat dari mulut petugas pengatur disiplin dan masyarakat yang melanggar disiplin, lelaki itu lanjut ke gang-gang sempit yang banyak berserak di ibu kota. O, ya, jangan kira di gang-gang sempit itu tak banyak omong kosong. Malah menjelang tenggelam matahari omong kosong begitu banyak menyembur dari rumah-rumah sempit yang berderet-deret di dalam gang-gang sempit itu. Sebab baru menjelang tenggelam mataharilah para penghuninya pulang setelah seharian bertarung dengan omong kosong.

Begitulah keseharian lelaki itu sejak pagi hingga tenggelam matahari dalam upayanya mengumpulkan omong kosong. Tak pernah sekalipun ia merasa lelah atau malu karena setiap hari mengumpulkan omong kosong. Dengan penuh kesabaran dan ketekunan dipintalnya omong kosong yang ia kumpulkan itu sehasta demi sehasta. Sampai akhirnya rumah tempat ia tinggal dipenuhi omong kosong.

Semakin hari rumah lelaki itu semakin tak sanggup menampung omong kosong. Lambat laun benda-benda di rumahnya juga berubah menjadi omong kosong. Mula-mula pintu rumahnya berubah menjadi pintu omong kosong. Lalu kemudian jendela-jendela di rumahnya pun menjadi jendela omong kosong. Bertahap namun pasti, kini dinding-dinding rumahnya pun menjadi dinding-dinding omong kosong. Begitu juga dengan lantai rumahnya, tempat tidurnya, kamar mandinya, kompornya, sendoknya, gelasnya, piringnya, handuknya, bajunya, celana dalamnya dan apa saja yang ada di rumahnya—semua berubah menjadi omong kosong belaka. Sampai orang-orang kadang sulit membedakan itu rumah atau omong kosong.

Lelaki itu pun semakin terkenal di antero kota. Orang-orang yang sudah lama mengenalnya mulai memanggilnya dengan sebutan lelaki pengumpul omong kosong. Semua itu tak lain karena saban hari saban waktu orang-orang selalu melihat ia mengumpulkan omong kosong.

Jika awalnya orang-oranglah yang memanggilnya lelaki pengumpul omong kosong, belakangan malah ia sendiri yang mengenalkan dirinya sebagai lelaki pengumpul omong kosong. Sungguh tak sedikit pun ia merasa malu. Malah ia bangga bila dipanggil lelaki pengumpul omong kosong. Padahal kalau dilihat dari tampangnya, penampilannya dan cara bicaranya, ia sungguh tidak layak disebut lelaki pengumpul omong kosong.

Namun, lelaki itu sudah terlanjur suka dengan panggilan itu. Sudah terlanjur jatuh cinta pada pekerjaannya mengumpulkan omong kosong. Sehingga tak seinci pun daerah di kota tempat lelaki itu tinggal yang tak pernah ia jamah omong kosongnya.

Sampai pada suatu hari kota tempat lelaki itu tinggal kehabisan omong kosong. Tentu saja ia menjadi kebingungan, kelabakan mencari omong kosong. Padahal biasanya setiap hari di tempat-tempat seperti lapak-lapak koran, pasar-pasar pagi, gedung-gedung rakyat, jalan-jalan macet, dan gang-gang sempit, omong kosong begitu mudah lelaki itu dapati. Tapi, tidak kali ini!

Matahari sudah hampir terbenam dan ia tak juga mendapatkan satu lembar pun omong kosong dalam pencariannya. Ia benar-benar lelah. Belum pernah ia merasakan kelelahan setiap kali mengumpulkan omong kosong. Namun hari itu, hari ketika tak selembar pun omong kosong berhasil ia dapatkan, sungguh benar-benar telah menguras semua tenaganya. Dan di antara sisa-sisa tenaganya, di ujung pencariannya pada omong kosong, lelaki itu malah bertemu dengan seorang penyair yang ternyata adalah seorang pengumpul omong kosong juga.

Bagaimana lelaki itu bisa tahu penyair itu juga pengumpul omong kosong? Hal itu tentu tidak perlu dijelaskan lagi. Sebagai sesama pengumpul omong kosong pastilah mudah baginya mengetahui hal itu. Seperti seorang tukang sulap mengenali tukang sulap lainnya tanpa harus memakai tongkat atau topi sulap.

Dengan sedikit was-was, lelaki itu coba mendekati penyair pengumpul omong kosong. Alangkah terkejut lelaki itu ketika dilihatnya tubuh penyair itu ternyata terluka parah. Tampaknya penyair itu kebanyakan menelan omong kosong. Atau mungkin dia keracunan salah satu omong kosong yang dia telan hari itu. Tapi bagaimana mungkin itu bisa terjadi. Bukankah omong kosong itu sendiri pada dasarnya beracun? Ah, sudah lupakan! Yang jelas melihat penyair itu terluka parah dan ditambah pula ia tak mendapatkan selembar pun omong kosong, pikiran lelaki itu tiba-tiba saja berbisik.

Kenapa tidak kau habisi saja penyair itu. Bukankah omong kosong yang keluar dari mulut penyair lebih gurih dan nikmat?

Mendengar bisikan itu, lelaki itu pun akhirnya nekat ingin menghabisi si penyair pengumpul omong kosong. Tapi saat ia ingin menghabisi si penyair, lelaki itu teringat kembali pada pesan ibunya. Ia pun ragu. Namun bisikan itu kembali merongrongnya. Dan karena sudah terlampau butuh akan omong kosong lelaki itu pun mencekik penyair pengumpul omong kosong sambil menghisap omong kosong yang terus menerus disemburkan penyair itu ke udara.

Akan tetapi setelah selesai  menghisap seluruh omong kosong dari tubuh penyair itu, pelan-pelan tubuh lelaki itu berubah menjadi seperti tubuh penyair pengumpul omong kosong. Ia pun menjadi takut dan merasa menyesal karena melanggar perintah ibunya. Tapi penyesalan sudah tak ada gunanya. Tubuh lelaki itu sudah sempurna berubah dan tak henti-hentinya menyemburkan omong kosong ke udara. 

Dalam upaya lelaki itu menghentikan semburan omong kosong yang muncrat dari mulutnya, matanya menangkap sesosok tubuh yang mengendap-endap mendekatinya. Sepertinya sedang mengincar omong kosong yang terus ia semburkan ke udara.

Akasia 11CT




=================
Ilham Wahyudi, lahir di Medan, Sumatera Utara, 22 November 1983. Ia seorang juru antar makanan di DapurIBU dan Fuqara di Amirat Sumatera Timur. Beberapa cerpennya telah nimbrung dalam antologi serta dimuat koran-koran, dan majalah. Buku kumpulan cerpennya “Kalimance Ingin Jadi Penyair” akan segera terbit.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here