Angin pagi merayap lewat jendela yang terbuka, ketika kuberdiri tercenung di kamar ibu. Tiga hari yang lalu dia berpulang, setelah sekian tahun bertahan hidup menjanda karena ayah pun telah  mendahuluinya sejak aku SMA. Kenangan atas sosok ibu seolah melekat pada setiap benda yang ada di sekeliling ruangan ini. Gorden jendela, cermin rias, gantungan baju, bahkan seonggok keset di pintu, membuatku semakin larut tidak hanya dalam rasa kehilangan, tetapi juga sesal yang tak mungkin lagi kupadamkan.

Sedikit gemetar tanganku meraih pigura yang berdiri di atas meja. Saat pandanganku terpatri pada foto di  dalamnya, tak bisa kusangkal sorot keteduhan dari mata ibu yang tengah menggendongku. Kecantikan yang seperti itu kuharap menurun pada anak perempuanku nanti. Tergambar samar senyum keduanya, berlatar rumah petak berdinding kayu, mengalirkan serangkaian kisah kebersamaan kami di masa-masa susah dulu. Jemariku mengusap pelan debu tipis di kacanya sehingga lebih jelas kulihat wajah-wajah bahagia yang terpampang. Kembali kuteringat ibu, tentang kecermatannya menyisihkan uang demi membelikanku baju baru, juga perihal kegigihannya mengais rejeki dari pakaian kotor para tetangga agar ayah sedikit terbantu.

Lucia Utaminingsih, itulah nama yang tertulis di lelayu, disebutkan pula ketika upacara pemberangkatan jenazahnya. Saat remaja, baru kutahu makna di balik nama depan perempuan yang melahirkanku itu. Sejak saat itu aku sadar bahwa ibu harus menyesuaikan dirinya dengan keyakinan baru sejak menikah. Sesuatu yang tak sempat kuperhatikan sebelumnya, sama sekali belum pernah kulihat ibu mengerjakan sembahyang bersama ayah. Pada akhirnya aku pun jadi paham alasan dulu ibu suka marah besar manakala aku malas belajar mengaji ke masjid di dekat rumah. Meskipun beberapa ayat mampu dia lafalkan, ternyata memang ibu sama sekali tak bisa membaca kitab suci, apalagi untuk mengajariku.

Hingga saat aku lulus kuliah dan sempat kembali tinggal serumah, tak rela kulihat ibu masih saja memperlihatkan kemilau rambutnya yang mulai beruban. Kami juga sering bertengkar karena persoalan ibu yang tak mau segera insaf dengan kelalaiannya terhadap tuntunan agama. Sembari terus saja mengenang segala hal tentang ibu, satu persatu barang yang ada di kamar itu kubereskan. Tak henti-hentinya air mata kesedihan tumpah mengaliri pipiku.

“Ibu sudah tenang, apalagi yang kamu khawatirkan, Ais?” Terdengar suara suamiku, menyusul lembut elusan tangannya di punggungku.

“Kenapa ibu begitu keras kepala, Mas?” Tak kuat lagi kutahan sesal, menyertai ledakan tangis yang terhambur ke dalam dekapannya. Pundakku terguncang, ada sesak lain yang seketika datang, mengingat belasan tahun terakhir kutinggalkan ibu sendirian sejak kuliah hingga sekarang. Buku-buku baru yang dulu kubeli saat kuliah berjajar rapi di rak dengan bungkus plastik yang masih utuh, terlihat sia-sia karena sama sekali tak mampu menemani ibu dalam kesendiriannya.

Aku dan suamiku memang telah memutuskan untuk tinggal jauh dari orangtua, menetap di luar kota terkait alasan pekerjaan kami berdua. Meski telah lima tahun menikah, kebetulan kami belum dikaruniai anak. Karena itulah masing-masing dari kami menyibukkan diri bekerja, sambil melanjutkan kuliah S2 di almamater kami sebelumnya. Sebulan sekali belum tentu kami pulang, itupun dengan maksud sekadar memastikan kesehatan ibu, sekaligus menjawab kerinduannya terhadap anak satu-satunya. Ibu tak pernah protes. Tetapi seperti yang akhirnya kukatakan pada suamiku, bahwa sebetulnya ada kerinduan lain yang terpendam di batinku. Terutama sejak kepergian ayah yang membuat ibu semakin tak punya kesempatan belajar lebih dalam tentang agama.

Aku tahu, ayah bukan termasuk orang berpendidikan. Ijazah SMP hanya bisa mengantarkannya jadi buruh, mulai dari toko besi hingga terakhir dia habiskan usia produktifnya di sebuah pabrik konveksi. Pernah suatu ketika sebelum meninggal, ayah tak kurang-kurang meminta maaf atas segala kekurangan ibu. Sembari dia tumpahkan pula segenap permintaan maaf di hadapan anaknya, selama hidup bersama ibu.

“Aku memang bukan suami yang baik,” dengan terbata-bata ayah berusaha tegar mengatasi dirinya yang sedang sakit, meski genangan di mata tak bisa menyembunyikan kepedihan lain yang dirasakannya.

Tampaknya ayah pun pernah larut dalam sesal sebagaimana yang kini kurasakan. Berulangkali kalimatnya harus terhenti dengan sorot mata kosong menatap langit-langit kamar. Dia akui sejak awal menikah sempat berusaha mengajak ibu belajar sungguh-sungguh tentang keyakinan baru yang dipeluknya. Namun seperti yang dia katakan, ibu tak pernah sedikitpun menggubris apalagi serius menjalankannya. Ibu selalu menghindar atau bahkan sesekali bersitegang atas ajakan ayah. Sementara ayah sendiri tak kurang menyadari keterbatasannya perihal pelajaran agama. Sedangkan yang dia harapkan sebetulnya cukup sederhana, sekadar kesediaan ibu melaksanakan sembahyang selayaknya umat yang mengerti tentang kewajiban.

“Dibalik kelembutan sikap ibumu, dia sejatinya seorang yang tak mudah diberi pengertian.” Terlontar kesaksian ayah yang kian menenggelamkanku dalam kesedihan.

Kini setelah lama berselang, giliran pandanganku menerawang, menembus sekian banyak lapisan ingatan. Terlahir dari keluarga awam yang sederhana, lalu perjuangan orangtua menyekolahkanku hingga sarjana, membuatku tak mudah patah dalam menempuhnya. Sampai-sampai keputusanku mengenakan hijab hingga akhirnya kuterlibat dalam organisasi dakwah, semata-mata kuniatkan sebagai wujud kesungguhanku menggenapi kekurangan orangtua. Kupenuhi waktu luangku dengan banyak menghadiri pengajian, belajar sebanyak-banyaknya pemahaman agama yang tak kudapat dari mereka. Tapi apalah arti itu semua, jika ibuku sendiri tak dapat kuselamatkan. Dia tetap enggan menanggapi dan hanya merasa cukup dengan iman tanpa kesempurnaan amalan.

Suara ketukan membuat lamunanku buyar. Suamiku bergegas membukakan pintu depan. Baru kusadar hari telah beranjak siang. Beberapa barang telah kurapikan dalam kardus, kecuali pakaian yang masih utuh di almari. Sejujurnya kami telah berencana akan menyerahkan urusan rumah ini kepada Lik Kardi, sepupu jauh ibu yang hingga sekarang masih tinggal di rumah kontrakan. Kami pikir, keputusan itu lebih baik daripada membiarkan rumah ini kosong.

“Ais, seseorang mencari ibu,” tergopoh-gopoh suamiku kembali ke kamar.

“Loh, bukan Lik Kardi?” tanyaku keheranan.

“Bukan, yang ini aku gak kenal,” tandasnya.

Setelah merapikan kerudung, beberapa detik kemudian kulihat seorang ibu tua berpakaian kumal, berdiri di depan pintu dengan sebuntalan kain terikat di punggungnya.

“Iya ibu, ada apa ya?” sedikit gugup kubertanya.

“Bu Utami?” Dia balas dengan mata penuh tanda-tanya.

Setelah kupersilakan duduk, kusampaikan kabar kepergian ibu, sebelum kemudian kami larut dalam duka dan kenangan masa hidupnya. Dia mengaku bernama Mbok Ginem, seorang tunawisma yang sehari-harinya tinggal di pasar kota. Setiap hari dia terpaksa berkeliling pasar menengadahkan tangan demi mendapatkan belas kasihan para pengunjung yang ditemuinya. Sampai pada perkenalannya dengan ibu, dia ceritakan kesan yang berbeda. Ketika orang lain memberinya sedekah tanpa disertai pandangan mengacuhkan, ibu selalu mengajaknya bicara terlebih dahulu. Bahkan sekali waktu ibu menasihatinya, memberinya sajadah dan mukena, serta sedikit tambahan uang untuk makan seadanya. Satu hal lagi yang dia perhatikan, ibu tak pernah memberikan sesuatu kepadanya dengan uluran tangan dari atas, melainkan mengulurkan tangan ke hadapannya sehingga dia harus mengambil sendiri apa yang ibu berikan.

“Kenapa begitu, Mbok?” mataku mulai basah karena ceritanya.

Bu Ginem melanjutkan cerita perihal ibu yang memang tak ingin merasa dirinya lebih baik dari orang lain. Ibu ternyata juga sering mengulang-ulang alasannya pergi ke pasar tiap hari Senin. Ibu ingin di hari kelahiran Nabi itu dia berbagi kebahagiaan, menyambung persaudaraan dan cinta kasih, meski sederhana. Seolah ibu betul-betul ingin meneladani budi pekerti Nabi dalam kesehariannya. Dan hari ini Bu Ginem merasakan hal yang berbeda, sebab hingga matahari meninggi tak dapat menjumpai ibu di hari yang sudah menjadi kebiasaannya. Akupun membalas cerita Bu Ginem dengan permintaan maaf dan ucapan terimakasih. Tak bisa kulukiskan sebentuk rasa apa yang timbul dalam keadaan seperti ini, mendengarkan banyak hal tentang ibu yang tak kualami sendiri. Sampai kemudian kuputuskan mengemasi beberapa pakaian ibu dan memberikannya pada Bu Ginem, sebagai pengganti ketidakhadirannya kali ini dan hari-hari Senin seterusnya. Bu Ginem mohon diri setelah kami berpelukan cukup lama, sembari saling mendoakan kebaikan untuk ibu dan tentu saja harapan tulus kami masing-masing agar bisa dipertemukan lagi di kesempatan yang lain.

Aku lepas kepergian Bu Ginem dengan pandangan kabur sebab genangan di kelopak mata yang kian tebal, mengalir jatuh menghempaskan sebagian rasa sesal sebelumnya. Lamat-lamat kudengar suamiku telah berbincang dengan seseorang di teras belakang. Rupanya Lik Kardi datang belum lama, ketika kusibuk ngambilkan pakaian ibu untuk Mbok Ginem.

Pripun niki, Mbak Ais?” dia ulurkan tangan menyalamiku.

Kutimpali sapaan itu sembari mengusapkan ujung kain kerudung ke muka sembabku. Sedikit terbata-bata kusampaikan rencana kami selanjutnya, tentang titipan rumah dan kewajiban apa saja yang sekiranya masih menjadi tanggungan kami. Kujelaskan perihal beberapa barang yang tak boleh dipindah dan sebaliknya, kupersilahan beberapa yang lain untuk dipakai keluarga Lik Kardi nantinya. Situasi batinku berangsur mereda, melihat kembali tumpukan buku di rak yang terlihat bersih terawat. Aku dulu memang termasuk rajin membeli buku, mulai dari buku-buku agama, sastra, hingga filsafat. Buku-buku itu kubeli dari hasil jualan baju dan tas rajut buatanku yang kusisihkan, setelah kupakai membiayai hidup dan kuliah jauh dari orangtua. Memang tak seberapa jumlahnya, namun ketika kubawa pulang, cukup memenuhi satu rak sendiri di ruang keluarga. Sejak saat itu belum pernah sekalipun buku-buku itu kubuka apalagi berpindah dari tempatnya. Dan rasa-rasanya saat inilah waktu yang tepat untuk membawanya.

“Mas, bantu Lik Kardi ya?” kuminta suamiku menemani Lik Kardi memasukkan buku-buku itu ke kardus, bersamaan terdengar suara azan, pertanda masuk waktu Zuhur.

Sementara, aku masih harus mengemasi beberapa barang yang bersifat kenangan, semacam album foto keluarga, cinderamata dan benda-benda pribadi lainnya. Satu persatu barang-barang itu seolah bercerita tentang kebersamaan, kerinduan, ataupun kesetiaan yang terajut sekian lama. Aku rasakan sebuah kemewahan, ketika barang-barang seperti itu dapat menggantikan sebentuk rasa kehilangan yang tak tergantikan.

“Ais, yang ini juga?” lantang suamiku bertanya, membuatku hampir saja menjatuhkan album foto yang sedang kupangku.

“Ya, memangnya?” kulangkahkan kaki mendekat.

Suamiku dengan wajah keheranan menyorongkan sebuah buku tipis bersampul ungu tanpa balutan plastik pembungkusnya. Sebaliknya, kuberikan apa yang masih ada di tanganku kepadanya.

“Tuntunan Shalat Lengkap?” gumamku.

Ketika kubuka lembar demi lembar halaman di dalamnya, kudapati beberapa bagian tulisan bergaris bawah. Garis bertinta biru itu terlihat bergelombang, seperti ditorehkan oleh jemari yang gemetar. Entah mengapa terasa dadaku sedikit berdebar. Kucoba mencari, sekadar goresan nama atau tulisan yang mungkin bisa membuatku tahu siapa pemilik buku ini. Sembari kucoba mengingat, siapa tahu ada teman kuliah yang tak sengaja meninggalkan buku ini sehingga terbawa olehku. Sampai di halaman terakhir sebelum sampul belakang, tertera dengan jelas tulisan tanggal. Tanpa sadar kedua tanganku mendekapkan buku itu ke dada. Betapa kuingat tanggal itu, sepuluh hari setelah kematian ayah.

Sebuah lembaran kecil terjatuh, mungkin semacam pembatas buku. Kuturunkan badan demi mengambil secarik kertas bertulisan yang semakin membuat batinku bertanya-tanya.

Kula gesang tanpa nyana

Kulo mboten gadhah seja

Mung kersane Kang Kuwasa

Gesang kula mung sak derma

Kueja empat larik tulisan di sobekan kecil kertas pembatas buku itu di saat terdengar lantunan pujian di masjid, seolah menuntun kesadaranku tentang hari-hari indah yang dilalui ibu.

***



====================
Ahmad M. Nizar Alfian Hasan, biasa dipanggil Ian Hasan, pegiat di Pasamuan Among Anak (Pamongan), sebuah model prakarsa pendidikan alternatif berupa sanggar berbasis komunitas sejak 2013 lalu. Dunia pendidikan anak menjadi perhatiannya hingga kini, di sela kesibukannya sebagai juru rancang bangunan di Solo. Menggambar, menulis dan bertani adalah kegemaran lain yang sedang ditekuni, selain terlibat di beberapa komunitas, termasuk Komunitas Kamar Kata di Karanganyar.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here