PETANG hari di sebuah persimpangan jalan yang sepi, Gogo duduk di pinggir trotoar perempatan jalan. Jalanan itu terbagi empat arah. Di bagian tengah titik pertemuannya, berdiri tugu kecil putih dengan jam besar pada bagian atasnya. Bulir keringat turun membasahi pelipis Gogo yang keriput, menuju area cambang lalu ke dagu. Kaki kirinya terangkat ketika tangan kanannya masih susah payah melepas sepatu bot tua cokelatnya.

“Kenapa sejak dulu susah sekali membuka sepatu ini? Huh!”

“Masih saja kau bersusah payah melepas sepatu itu, Gogo? Sudah tahu sepatu itu sulit kaulepas, kenapa selalu kaupakai lagi setelah beberapa saat melepasnya? Kemarin, kemarin dulu, bulan lalu, tahun lalu, kau bilang sudah mau bertobat tidak akan memakai sepatu itu lagi, tapi selalu begitu. Sepertinya kau tidak pernah kapok.” Didi menanggapi sambil mengisap rokoknya, tanpa menoleh sedikit pun kepada Gogo.

“Bukannya tidak kapok …“

“Lalu apa? Kau mau bilang tidak punya pilihan?”

“Bukan juga, entah mengapa, rasanya memang aku harus terus mengulang memakai sepatu itu lagi. Dan perasaan harus memakai sepatu itu selalu hadir, ketika aku telah berhasil melepasnya. Menurutmu itu kenapa ya?”

“Menurutku kau sudah gila. Aku pernah dengar seorang pemuda yang melintas kemarin sambil menelepon. Kau masih ingat? Ah! Kau pasti tidak ingat, kau, kan, sibuk melepas sepatu busukmu itu. Pemuda itu menyebutkan nama penyakit, obsessive compu …  apa lagi istilahnya itu? Semacam sakit jiwa, ketika seseorang mengulang-ulang kejadian yang sama. Ya seperti itulah kau!” Didi masih terus mengomentari Gogo.

Flop! Sepatu bot tua itu terlepas dari kaki Gogo, ia tersenyum puas, lalu melihat Didi dan berkomentar “Obsessive compulsive disorder! Huh! Begitu saja kau lupa! Aku saja bisa mengingatnya walau sambil melepas sepatu. Ini buktinya aku tidak sakit jiwa karena aku masih mengingat.”

Didi mencibir.

Gogo kini melepas sepatu botnya yang kanan. “Aku pun masih ingat, sekarang tahun 2020. Artinya sudah tujuh puluh tahun sejak kita menunggu Godot di persimpangan jalan ini. Lihatlah, jalan desa ini sudah berubah jadi beraspal. Dulu kita masih bisa melihat matahari terbenam di balik pohon ek, sekarang terhalang penuh karena gedung apartemen itu. Apa kau memperhatikan itu juga?”

“Itu terlalu gamblang,” Didi menjatuhkan sisa rokoknya, menginjaknya hingga rata, kemudian membuangnya ke lubang saluran air. “Semestinya kau memperhatikan fenomena yang lebih besar, kawan!”

“Seperti apa, misalnya?” Gogo masih berusaha melepas sepatu kanannya.

“Seperti: kenapa Popo dan Lulu tidak bersama kita lagi? Kenapa mereka bisa mati sedangkan kita masih di sini?”

“Entahlah! Aku juga heran, kenapa Godot tidak datang sampai sekarang?”

“Karena kita punya harapan, Gogo! Hope is the dream of a waking man. Makanya kita belum mati sampai sekarang. Itulah, Go, aku masih selalu berharap dan yakin sekali, Godot akan hadir di sini, melalui jalan ini.”

“Iya, lah, apa pun itu, tapi kau yakin, kan, ini tempatnya? Godot akan hadir di sini, di titik ini?”

“Iya aku yakin!”

“Seberapa yakin?”

“Sama yakinnya aku bahwa matahari masih akan terbenam di sebelah barat. Dan semakin kau menanyakannya setiap hari, semakin aku yakin.”

Gogo kini berhenti sejenak dari upayanya melepas sepatu, lalu menatap Didi “Kau sudah coba minta share-loc padanya?”

“Apa? Share-loc?”

“Aku kan, memperhatikan yang gamblang di sekitar sini. Orang-orang yang berlalu-lalang di sini sambil memegang telepon genggamnya selalu bilang ‘share-loc ya!’ dan kemudian mereka bisa bertemu dengan orang yang diteleponnya, orang yang ditunggunya. Tidak tersesat. Menurutmu, apakah Godot tersesat? Sepertinya kita perlu punya telepon genggam, supaya bisa share-loc ke Godot? Bagaimana menurutmu, Didi?”

Didi termangu, sebelum akhirnya menjawab. “Bagaimana caranya kita punya telepon genggam? Kita tak punya uang sepeser pun. Kita hidup dari belas kasih.”

Keduanya sama-sama termangu. Tak biasanya, angin tiba-tiba berembus kencang. Topi bulat mereka yang sudah amat lusuh terempas ke kiri. Gogo hanya diam, menatap topinya dengan malas. Didi dengan sigap mengejar, dan kembali duduk di sebelah Gogo. Seketika ia melihat sepatu bot milik sahabatnya itu dengan tidak biasa.

“Ah! Aku ada ide! Bagaimana kalau kita jual sepatumu? Keuntungannya begini: kau tak perlu repot melepas sepatu botmu, dan kita bisa membeli telepon genggam untuk share-loc kepada Godot. Bagaimana?” Didi tampak antusias.

“Ah! Kau gila, Didi! Kalau aku tidak punya sepatu bot, lalu apa yang akan aku pasang dan lepas lagi di kakiku?” Gogo spontan mengambil sepatu kirinya yang telah terlepas, lalu mendekapnya dalam dadanya.

“Jangan picik, Gogo! Bayangkan, kita bisa menemui Godot segera setelah kita memiliki telepon genggam. Dan persoalannya, hanya sepatu yang setidaknya masih bisa dijual.”

“Baiklah, tapi siapa yang akan pergi ke toko barang bekas? Harus ada yang menjaga di sini. Jangan-jangan pada saat kita pergi, Godot datang.”

“Pintar! Biar aku yang pergi ke toko itu dan menjual sepatumu. Ayo, cepatlah buka sepatumu!” Didi mengangkat kaki kanan Gogo, mencoba melepas sepatu bot itu. Peluh mereka bercucuran. Entah kenapa, membuka sepatu bot Gogo yang kanan selalu lebih sulit dari yang kiri.

Flop! Akhirnya sepatu itu terlepas, Didi terjengkang. Ia lalu bangkit mengambil sepatu itu, dan mengambil sepatu yang kiri. Didi pergi ke toko barang bekas. Gogo hanya mengamati punggung sahabatnya itu hingga menghilang di sudut jalan.

Dua jam berlalu, Didi kembali dengan wajah cerah, membawa sebuah benda kecil berbentuk telepon genggam dan sepatu bot. Gogo spontan berdiri menyambut kawannya itu, sambil menduga-duga apa yang terjadi.

“Gogo, kita sudah mendapatkan telepon genggam! Ada seorang pria berambut putih, dia merasa kasihan kepadaku karena tidak ada yang mau membeli sepatu bot tuamu itu. Begitu aku bilang telepon genggam itu untuk share-loc dan menemukan Godot, dia langsung memberikan telepon ini begitu saja, cuma-cuma! Bahkan dia mendoakan keberuntungan untuk kita.”

Tangan Gogo bergetar memegang benda itu, “Kau tahu bagaimana caranya share-loc, kan? Atau pria berambut putih itu memberitahumu caranya?”

Didi termangu, dengan pelan ia menjawab “Kukira kau tahu. Bukankah ide share-loc itu kau yang usulkan?”

Seketika seorang anak lelaki dengan sweater putih melewati mereka. Didi memanggilnya meminta bantuan. “Nak, bantu kami. Bagaimana caranya share-loc? Kami harus share-loc untuk Godot. Kami menunggunya puluhan tahun ini.”

Anak lelaki itu mengangguk dengan sopan, “Anda punya nomornya Tuan Godot? Untuk menghubunginya dan share-loc, Anda harus memiliki nomornya.”

Kedua sahabat tua itu saling berpandangan dan menggaruk kepala bersamaan.


Catatan: Kisah ini terinspirasi dari naskah drama “Waiting for Godot: a Tragicomedy” karya Samuel Beckett



=================
Astrid Wahono, Lahir di Surabaya 28 Juni 1983. Ibu rumah tangga yang senang berkelana dengan kamera, pena, dan buku saku di dalam tas kecilnya. Beberapa cerpennya telah dimuat dalam antologi “Lemonious Love”dan “Sepenggal Kisah Kita”. Selain menulis, juga menggemari fotografi. Karya fotonya pernah dipamerkan di Pameran Foto “Sammaratanna”, Gedung Kesenian Makassar tahun 2016.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here