Kurenai*
; kematian yang paling nikmat

Perempuan itu pernah mati, satu kali. Ia yang telah hambar kepada
segala rupa kehilangan dan keberadaan. Apa yang terburuk di
kedalaman matanya, ialah siang yang tiada pernah memiliki malam,
sekaligus malam yang tiada pernah mengkhidmati siang. Bahkan, pada
kehilangan yang pernah berucap padanya,

“Kau jauh lebih dingin, keras, dan menyakitkan lagi,
aku serasa seperti tidak mengenalmu, lebih tepatnya aku tidak mampu
mengenalmu, kau terasa sedemikian asing bagiku,
dan aku seperti tiada bermakna apa pun bagimu.

Apa yang telah terjadi dalam kurun waktu itu?
Apa dan siapa, yang berada di dalamnya, ada penggalan yang tidak
pernah kau ungkap dan ceritakan padaku.”

                                   ***

Aku meninggalkan kamar, lantas menanggalkan segenap yang
berkehendak – segenap yang tidak berpihak – segenap yang memangku
kepentingan dalam jiwaku.
Pada lantai dua ini, aku begitu sibuknya mencari-cari perempuan itu,
di dalam sebuah cermin besar. Ya, kini begitu nyata, aku dapat menatap
jelas.

˗˗ dia dan aku, yang adalah satu ˗˗  

Dan perihal bagaimana dahulu kami pernah berpesta besar
: merayakan kematian yang paling nikmat.

2020


* Kurenai: warna “merah menyala” dalam bahasa Jepang





Pada Persimpangan Terakhir
         kita rayakan ini sekali lagi, pada kucing-kucing piaraanmu
         pada malam, yang telah aku tentukan

/1/
seperti kucing;

aku hendak bebas keluar saat malam tiba. menjadi leluasa memanjati pagar temaram dibanding tertidur pulas pada batas ranjang kayu jati. ikutilah pengembaraanku… ditariki gelora remaja yang pintar berlari, selalu, serupa keempat kaki mungilku, bukan?  setidaknya tak pernah butuh tawaran kendaraan yang ada −kaleng berkarat penuh jentik nyamuk, rombakan tiang, dan lelampu taman, umpatan hasil perang manusia, atau pun rerusuk rembulan yang ugal-ugalan sehabis berdebat dengan musang hutan. hitung-hitung, tarif kendaraannya cukup bila kujajani beberapa butir nasi, ditemani serpihan tulang ikan.

/2/
aku hendak bebas mengenali, memasuki gedung-gedung tua itu sekali lagi, tanpa peduli-tanpa tahu penghuninya kini, kemudian sekadar beramah-tamah seperti sedang mengundang roh yang berkimbang-kimbang sekian lama −roh kenangan masa silam.

namun baiklah; jika kau telah bersikeras menegurku bahwa dosen itu tengah berdiri penuh wibawa di sana (dengan kacamata berbingkai hitam kesukaannya). ya, tepat di pusat ruangan bersama semerbak keinginan, perjuangan, hingga obsesi kita. aku masih berusaha menangkap aroma kopi bercampur rokok yang dikebutkan dari lantai bawah. kita: yang dahulu disebut sebagai sehimpunan perancang grafis, sibuk bereksperimen dengan ibu segala garis, ayah segala bentuk dan bidang, sampai anak-anak warna itu tiada pernah ragu dipadatkan menjadi kepuasan jiwa paling cantik, eksentrik, dan tentu saja paling mengesankan (di layar monitor komputer). sungguh, kita kerap berdoa, agar musim tandus tidak mengendus bekal nurani, juga inspirasi.

/3/
ingatkah? ketika kita bebas duduk bersantai di atas bongkahan semen yang pernah membekukan pikiran-pikiran keras kita, seusai habis terkuras. di sana kau pernah bersenandung pula akan pekatnya cita-cita, lagu-lagu kemerdekaan jiwa, tentang sajak matahari yang kau katakan cahayanya membanjiri namaku. getir… saat itu kau teruskan bayang pohon besar di sisi jantungmu dengan aba-aba kegelapan, suara-suara lantang demonstrasi mahasiswa, bahkan politik yang sama sekali tidak aku sukai. namun, di dalam perjalanan panjang menuju mata dan hatiku, kau selalu tunggangi mimpi-mimpi yang paling gerimis, mimpi-mimpi yang paling indah.

/4/
hingga −pastinya aku ingat betul−  pada pertengahan bulan kedelapan yang merah, ketika pori-pori anjungan malam masihlah bayi: sepasang mata kita mesti berduka, masing-masing menyala-nyala menembus persimpangan jalan yang berbeda, persis mata kucing yang memang harus bergemuruh sendiri-sendiri di antara setumpuk bulu hitam yang mengelilinginya. “hitam…, bukanlah merah…! seperti malam,” katamu menegaskan kehampaan yang krusial, yang takkan pernah sanggup kupahami, separuh, atau pun seluruhnya.

lalu, perlahan di sini ada yang meranggas, sayang… (seromantis itukah aku memutuskan membahasakanmu?) seperti kata-kata yang semula bersumpah hendak mengikat, sekaligus menggugurkan rindu.

        wahai jam pasir,  jam pasir…  pinjami aku tubuh,
        tubuh baru yang memandikan dan mengekalkan jenazah-jenazah waktu

2012




Bibir Perempuan Penyair, pada Tubuhmu

Bibirku yang telah menggurat alur
perenungan yang menentang
kesepian,
pada tubuhmu.

21 Desember 2020




Bola Mata Penyair Perempuan, 2

Pada matamu, perempuan. Sesosok penyair
menjerit murka, sebab
menabukan bayangan air
yang hendak tumbuh
menjadi
api yang basah.

23 Februari 2021




Don’t Cry
       — perihal cinta kepada Y.G

gadis, ini bagimu
yang menangis pilu malam ini.
gadis, kau berencana mengendarai
sebuah mobil klasik
di tengah hutan pengasingan
yang kelam dipeluk pekuburan.

Sebelum diundang menjadi tamu
pesta perjamuan kekal di surga,
jiwa-jiwa penghuni di sini setia
menanti, hingga tenang berhimpun
sebagai
tanah merah bumi, rerumput
bersembunyi, dan luruh hujan dari
langit terjanji yang
bertugas mewartakan kelahiran
makhluk-makhluk kembali.

Sementara kau tengah menatap
tajam dan menyasar (bagian)
dirimu yang berdiri di depan sana.
sekerasnya di sana kau berlari,
secepatnya kau di sini meraih
kendali mobilmu.

Kau hendak menabrak kuat-kuat,
agar sekejap lenyaplah tubuhmu,
pikiranmu
                  jiwamu
                                     hatimu
                  keningmu
heningmu
                                    matamu
bibirmu
                darahmu
                                  tulangmu
jantungmu

bayanganmu
                                   bulanmu
mataharimu
                        gelap terangmu
hujan terikmu
                   terbit terbenammu

— sajak sajakmu –

yang mendamba dan
menginginkannya.

Matilah engkau,
gadis
bersama cinta gila nan keras
kepala.
Nyatanya masih menekan
kemabukan sejauh telunjuk kiri dan
kananmu
dan yang kian lancang bertanya
akan sebuah lelucon keparat ini
kepadamu:

— menangkah engkau, atau justru
kalah atas hatimu sendiri
        ; puaskah engkau
                  gadis?

20 Desember 2020
(01.55)



=================
Faustina Hanna, lahir di Jakarta, 5 April 1987. Penikmat seni dan budaya. Pernah menempuh pendidikan Desain Komunikasi Visual di Bina Nusantara Center, Jakarta dan berencana melanjutkan studi ke Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Sehari-hari bekerja sebagai karyawan perusahaan swasta di Jakarta, aktif menulis puisi, freelance Graphic Design, dan menekuni dunia kuliner Nusantara. Sajak-sajaknya terbit antara lain di Republika, Media Indonesia, Jurnal Nasional, Pikiran Rakyat, Minggu Pagi, Lombok Post, Bali Post, Tribun Bali, dan BWCF (Borobudur Writers & Cultural Festival).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here