KESEPIAN. Kata ini begitu melekat dalam diri karakter karya dari para penulis Jepang. Karya yang datang dari penulis Negeri Sakura bisa sangat subtil dalam menarasikan kesepian. Tentu, kita bisa menyebut beberapa karya yang karib mempersoalkan rasa sepi, mulai dari Kitchen milik Banana Yoshimoto sampai The Wind Up Bird Chronicle atau Norwegian Woold karya Haruki Murakami. Namun begitu, dua karya ini sebatas membabarkan perasaan sepi secara umum: Kau sendirian setelah anggota keluargamu meninggal dan merasa sepi; dan kau ditelan hiruk-pikuk perkotaan hingga merasa dirimu kesepian.

Memangnya, ada berapa jenis kesepian? Mungkin kita bertanya-tanya. Berbeda dengan pemaknaan kesepian dari dua nama penulis tadi, Murata Sayaka menjadi sedikit nama yang mengangkat suara kesepian dari sudut pandang yang lain. Kesepian dalam ruang imajinasi Sayaka adalah sebentang rasa yang menghantuimu dari dekat, yang datangnya dari sisi anggota keluarga, yang dirawat oleh segala tuntutan dan aturan di tengah masyarakat. Dan corak kesepian ini pun bukannya datang dari ruang hampa, sebab Sayaka menangkapnya langsung dari fragmen-fragmen kehidupannya selama ini. Ia pernah terjebak dalam alienasi yang dibentuk keluarga dan masyarakat atas dirinya.

Perasaan itu, kemudian menjelma kesepian yang kerap hadir bahkan di dalam keramaian sekalipun, baik dalam lingkup keluarga sendiri ataupun dalam interaksi dengan masyarakat sekitar. Dari situlah, tumbuh pemaknaan baru dalam memandang masyarakat. Sayaka sebenarnya tidak puas dengan segala aturan, nilai, dan dogma yang ditentukan oleh masyarakat, baik secara langsung ataupun tidak. Dalam pandangannya, masyarakat terlampau sibuk mengatur citra seseorang. Mereka akan sedemikian gagap tatkala mendapati sesuatu yang tak biasa, atau sesuatu yang tampak tidak normal yang ditunjukkan oleh seseorang. Makanya, suatu kali ia pernah berkata, “Bukankah tidak masalah menjadi lain atau anomali di tengah masyarakat?”

Anomali. Pemaknaan itu yang lantas ia tiupkan terhadap karakter Keiko dalam novel debutnya sebagai penulis global, Convenience Store Woman (Gadis Minirmarket: GPU. 2020). Novel ini tampak menjadi corong pemikiran pertamanya yang paling gamblang. Sebab pengalamannya yang menjadi pegawai minimarket, turut memengaruhi pandangan si tokoh utama, Keiko, dalam menjalani hari-harinya. Dikisahkan, Keiko lama menjadi anomali dalam masyarakat. Selama delapan belas tahun ia menggantungkan hidup menjadi pegawai minimarket paruh waktu. Ia memiliki kesulitan dalam bersosialiasi, ditambah pula masih melajang di usianya yang ketiga puluh enam tahun. Hidup seperti itu sebenarnya cukup membuatnya nyaman. Kendati ia mesti menjalani hari-hari yang berputar serupa sistem, tapi minimarket itu sudah menjadi jagat yang sifatnya seperti ibu: nyaman dan menghadirkan keamanan.  

Namun, Sayaka tidak meniupkan keutuhan dalam diri Keiko. Sebetulnya, ia justru mempertontonkan tipikal manusia modern yang gagap dan rapuh dengan lesatan perubahan dalam masyarakat. Pemaknaan minimarket sebagai jagat kecil yang menenangkan Keiko, bisa juga dianggap sebagai responsnya terhadap dunia sosial di luar sana yang dirasa gagal ia masuki. Keiko mencipta jagatnya sendiri. Ia meniru beberapa orang pegawai dan pengunjung dalam hal berpenampilan dan bersikap, semata-mata supaya jagat yang diciptanya itu tidak mengalienasinya seperti yang dilakukan masyarakat kepadanya. Keiko merasa dunianya melulu minimarket, sebab ia tak menemukan kenyamanan ketika membaur dengan keluarga ataupun teman-temannya. Itulah yang ia yakini sampai akhir, bahkan sampai ia suatu kali mesti keluar dari jagatnya demi memenuhi tuntutan orang-orang, tapi kemudian kembali lagi dengan keyakinan bahwa ia sepenuhnya Gadis Minirmarket.

“Kesepian telah memperkaya hidupku,” kata Murata Sayaka dalam diskusi “Reading The People of Asia” yang diadakan Makassar International Writers Festival (25/06/2021). Keiko lahir dari buah permenungannya dalam gelembung yang lahir dari kesepiannya. Sayaka memang ditelan gelembung itu, merasa menjadi anomali di masyarakat dengan merasa “Bukannya tidak masalah kalau dalam suatu sesi foto pernikahan temanmu, kau menjadi satu-satunya yang tidak tersenyum?” Gelembung itulah yang membuatnya bisa berintereksi dengan tokoh-tokoh khayalannya. Bagi Sayaka, tokoh dalam dunia fantasinya tidak kalah eksis dan pentingnya dengan orang-orang yang ia temui di dunia nyata. Hal ini, yang agaknya membawa Sayaka dalam kecenderungan menghasilkan prosa yang tak biasa. Sisi surealis Sayaka adalah sesuatu yang berbeda dengan, semesta bermatahari ganda dan hujan ikan sarden dalam novel Haruki Murakami, misalnya.

Berbeda dengan surealisme Murakami yang termanifestasikan dalam keganjilan dunia para tokohnya, sisi surealis Sayaka lebih seperti sesuatu yang hadir dari dalam tokoh-tokohnya. Itu seperti respons atas keengganan untuk begitu saja menerima kenyataan atau sisi realis orang-orang atau masyarakat dengan segala bentuk standar dan tatanannya. Lebih jauh lagi, bentuk respons Sayaka yang lebih ekstrem, tergambarkan secara jelas dalam novelnya yang lain, yakni Earthlings. Bahkan, walau tidak sepenuhnya, Sayaka sudah memisahkan kelompok manusia dalam novel itu menjadi dua dikotomi yang saling bertentangan, Earthlings dan Popinpobia.

Lewat pandangan si tokoh utama, Natsuki, Earthlings merupakan sebutan bagi penduduk bumi yang kehidupannya memenuhi segala bentuk aturan dan tatanan yang ditetapkan masyarakat. Ciri seorang Earthlings, lebih lanjut, adalah sudah dicuci-otak oleh Factory (Natsuki menganalogi kotanya dengan Factory atau Pabrik) hingga tujuan mereka hanyalah menikah dan memiliki anak. Sementara itu, Popinpobia merupakan planet khayalan Natsuki, planet itu ia yakini sebagai muasal dari boneka landak mini bernama Piyyut, yang dikirim untuk membantu penduduk bumi menghadapi krisis. Natsuki juga yakin kalau ia telah mendapat kekuatan magis dari sosok Piyyut. Semua keyakinan itu tumbuh ketika ia kanak-kanak dan baru duduk di bangku sekolah dasar.

Lantas, apakah itu sebatas buah fantasi kanak-kanak Natsuki? Bisa jadi. Namun, keyakinan itu terus dibawanya sampai ia dewasa, dimulai sejak ia mencintai sepupunya sendiri, menjadi korban kekerasan seksual oleh gurunya, terus diperlakukan sebagai kotak sampah oleh keluarganya, sulit membentuk hubungan asmara di sekolah, sampai akhirnya menjalin pernikahan sebatas formalitas semata. Semua hal ini, selanjutnya, yang membuat kisah Natsuki ini tampak menjadi upaya Sayaka dalam membenturkan berbagai entitas dan genre, dari fantasi kanak-kanak menjadi horror, dari sepenuhnya realis menjadi absurd dan surealis.  

Lalu, apa yang ingin dicapai Sayaka sebenarnya? Suara apa yang ingin ia gaungkan dari ruang kesepiannya itu? Dari dua karya ini, bisa kita berpendapat kalau gugatan atas sekian bentuk aturan dan tatanan dalam masyarakatlah yang menjadi sorotannya. Sayaka jelas melawan anggapan yang dikatakan Sartre bahwa, l’enfer c’est les autres, atau  “neraka dunia berwujud orang lain.” Sayaka menolak kendali atas orang lain terhadap entitas tokoh-tokohnya. Kendati upaya mereka tidak dikatakan berhasil, tapi semangat itu seolah mendarah-daging dan menjadi ciri khas mereka. Kalau Keiko condong menyoroti “bagaimana menemukan jagat atau tempat yang membuatmu nyaman” dan upaya mempertanyakan nilai-nilai kenormalan, Natsuki dengan dunianya menjadi antitesis Sayaka dengan bereksperimen menciptakan jagat dan aturan yang sepenuhnya baru.  

Akhirnya, ruang sepi bagi Sayaka adalah muasal segala bentuk permenungan, kritik, dan alternatif pandangan yang coba ia tawarkan melalui karya-karyanya. Ruang itu mungkin menjelma gua yang menariknya ke dalam semesta penuh makhluk-makhluk khayali, tapi dengan jendela yang terpampang dalam beberapa celah, Sayaka bisa dengan bebas mengamati berbagai hal. Hasil pengamatannya itulah yang mengandung kesegaran dan keunikan perspektifnya.


================
Wahid Kurniawan, penikmat buku. Mahasiswa Sastra Inggris di Universitas Teknokrat Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here