GEMERISIK terdengar dari tumpukan sampah di samping rumahku. Waktu kuperiksa, kudapati bahwa yang mengorek-ngorek sampah itu ternyata seorang perempuan, masih muda, bukan anjing tetangga sebelah. Dia berhenti sejenak dengan tatapan awas ketika kuperhatikan. Dari perawakannya, usianya kutaksir sekitar 15 atau 16 tahun. Kulitnya coklat muda dan rambutnya berwarna terang meski wajahnya kotor. Dia memakai pakaian dari kulit binatang yang aku duga itu kulit rusa atau sapi yang dikeringkan [1].

Karena dilihatnya aku tak menunjukkan tanda-tanda mengancam, dia melanjutkan mengendus-ngendus satu per satu kantung plastik di tumpukan sampah. Diambilnya bungkusan sate padang yang kemarin malam kubeli. Aku terkejut melihat dia melahap dengan rakus sisa sate yang tak habis kumakan. Sambil mengunyah dengan keadaan mulut penuh, dia tetap mengawasiku. Kubiarkan dia mengacak-acak tumpukan sampah itu sampai puas. Dikoreknya terus tumpukan sampah hingga ke dalam tanah. Dari dalam tanah dia keluarkan kantung-kantung plastik yang barangkali sudah tertimbun puluhan tahun dan tak bisa terurai. Tak lama, dengan cekatan dia memanjat pagar tembok tetanggaku.

Cepat-cepat kuikuti gadis itu. Kubawa kamera dan perekam. Ini kesempatan langka, pikirku. Dia berjalan menuju pasar. Langkahnya cepat. Antara takut dan heran, dia perhatikan apapun yang dilaluinya dengan waswas.

Dia berhenti di tenda penjual daging. Ditunjuk-tunjuknya daging merah yang tergantung. Si penjual tampak kebingungan karena tak paham dengan bahasanya.

“Mau beli daging?” tanya si penjual, berdiri menghampiri si gadis.

“Asiama sudesama noha (Ini pasti enak—bahasa rekaan pengarang; selanjutnya akan ada bahasa rekaan lainnya),” jawab gadis itu dengan gelisah. Tentu saja bahasa gadis itu tak dapat dimengerti oleh si pedagang daging.

“Maksudnya?”

Sudesama noha. Sude na soha (Ini enak. Ini sangat enak),” si gadis masih menjawab dengan bahasa yang tak dapat dipahami [2], sambil terus menunjuk-nunjuk daging yang tergantung. Orang-orang di sepanjang lorong itu menghentikan aktivitasnya, menonton tingkah gadis itu. Sementara si penjual, karena mengira si gadis hanya gelandangan pengidap skizofrenia, berhenti meladeni, dan kembali ke tempat duduknya sambil menyibak lalat yang mampir di ujung hidungnya.

Sejurus kemudian, orang-orang terperangah saat tiba-tiba si gadis menyambar daging yang tergantung, dan langsung mengoyak dan menelannya dengan lahap. Setengah ketakutan, si penjual langsung mengusir gadis itu dengan sapu lidi yang biasa digunakannya untuk mengusir lalat yang menghinggapi daging dagangannya. Tidak terdengar ada teriakan ‘maling, maling’ dari orang-orang yang menyaksikan peristiwa itu. Mereka setengah ketakutan alih-alih terpukau.

Saat berlari menghindari kerumunan orang-orang di pasar, dengan masih menggenggam sobekan daging di satu tangannya, gadis itu masih sempat menyambar wortel dengan tangan lainnya. Aku terus mengejarnya sambil memotretnya.

Setelah menjauh beberapa puluh meter dari pasar, gadis itu melambatkan jalannya. Daging dan wortel di tangannya tidak dimakannya, tapi juga tidak dibuangnya. Beberapa kali dia menoleh ke belakang, berhenti sebentar, mengamatiku, sebelum meneruskan jalannya. Dari rute jalan yang dilewatinya, meski bukan rute yang biasa dilewati orang-orang, aku tahu dia menuju sungai.

Benar saja, dia memang berhenti di sungai. Dugaan awalku bahwa dia tersesat tampaknya keliru. Entah bagaimana dia bisa tahu keberadaan sungai. Diminumnya air sungai yang keruh dengan kedua telapak tangannya. Setelah beberapa tegukan, dia muntah. Jelas saja, dia minum air yang tercemar limbah pabrik. Kini menyadari bahwa aku mengikutinya. Tapi dia tidak takut. Tatapannya tidak lagi awas seperti semula.

Tosa ma rapocoka (Kau orang asing),” katanya.

Tentu saja aku tak paham apa yang dia bilang. Tapi dengan yakin aku mendekatinya.

Tosa ma rapocoka,” dia mengulangi. Kupikir-pikir, mungkin dia bertanya aku ini siapa. Maka aku ulurkan tanganku agar bisa digapainya. Dia tampak keheranan. Bukan hanya terhadap ucapanku, tetapi juga terhadap uluran tanganku, rupaku, juga terhadap kaos, celana jins, dan sendal jepit yang kupakai. Dipindainya tubuhku dengan saksama dari ujung kepala sampai ujung kaki.

Resta da ma boha. Tosa ma rapocoka (Aku akan membuat api. Aku akan memasak),” katanya lagi, kali ini sambil menumpuk batu-batu dari pinggir sungai. Dengan ranting-ranting bambu yang tumbuh di pinggir sungai, ditusuknya daging yang tadi diambilnya di pasar. Dari situ aku paham bahwa dia hendak memasak daging itu. Lalu, dikeluarkannya batu dari balik pakaian kulitnya. Diciptakannya percikan api dengan hanya beberapa kali gesekan. Sambil membuat api, dan seraya mengunyah wortel mentah-mentah, gadis itu mengucapkan kata-kata yang lagi-lagi aku tak paham.

Gaha ma loha. Estuadia na koko soha (Daging ini rasanya aneh. Air sungai ini juga rasanya aneh.),” katanya.

Sambil mengucapkan kata-kata yang aku tak mengerti, dia menoleh ke arahku. Aku pun mencoba berkata-kata kepadanya. Meski kami tak saling memahami bahasa masing-masing, beberapa kali gadis itu tertawa, dalam arti harfiah. Aku dapat menangkap bahwa dia tertawa meskipun tertawanya agak aneh. Tidak seperti cekikikan, tertawanya lebih menyerupai sesenggukan. Tetapi tentu saja dia tidak sedang menangis karena wajahnya semringah.

Setelah kuperhatikan garis mukanya, ekspresi-ekspresinya, serta gerak-geriknya yang cekatan dan lincah, aku mulai menyadari kalau gadis ini manusia purba. Tapi aku berpikir keras, bagaimana dia bisa datang? Ini sungguh mustahil. Bukankah manusia purba telah punah? Bukankah kepurbaan manusia telah tiada setelah melewati revolusi kognitif, revolusi pertanian, revolusi industri, dan revolusi sains dan teknologi?

Lamunanku buyar saat si gadis menawariku daging yang telah matang. Aku bisa tahu bahwa dia menawariku karena meskipun aku tak mengerti bahasanya, aku dapat menangkap maksudnya karena dia menyodorkan secuil daging ke arahku, meskipun tak disertai anggukan kepala sebagaimana orang-orang menggunakan bahasa isyarat. Sambil menatap air sungai yang berbau limbah, kami menyantap daging panggang itu bersama-sama.

Selama berada di sungai, gadis itu tak henti-hentinya mengawasi sekeliling. Hidungnya terus menerus mengendus, pandangannya ditebar ke sekitar, dan telinganya dipertajam. Bukan hanya ke sekitar, tapi juga ke kedalaman air.

***

Langit mulai gelap. Sudah seharian aku mengikuti dan mengamati si gadis purba ini. Kuabadikan momen selama di sungai dengan beberapa kali jepretan, beserta dengan perekam suara yang terus kunyalakan sejak awal. Kupotret dia dari jarak yang sangat dekat.

Aku pikir, foto-foto yang kudapatkan seharian ini sangat menarik. Sangat pas kukirim untuk majalah tempatku bekerja. Pada salah satu jepretan yang kuambil, aku bahkan telah memikirkan judul seperti ini: “Manusia Purba Muntah Minum Air Sungai yang Tercemar Limbah.”

Sebelum benar-benar gelap, si gadis bangkit dan berjalan menuju gua yang letaknya cukup jauh dari sungai. Aku terus mengikutinya. Di dalam, sudah ada tumpukan kayu. Si gadis membuat penerangan dengan membakar kayu. Maka teranglah seisi gua.

Di dinding-dinding dan langit gua, kulihat banyak coretan yang menyerupai lukisan. Ada beberapa coretan yang tampak jelas dan dapat aku terka apa artinya. Salah satunya lukisan manusia berkepala burung diseruduk oleh seekor bison. Di dekat manusia berkepala burung itu ada lukisan seekor burung yang kuduga itu arwah si manusia setelah tewas ditanduk oleh bison [3]. Di bagian dinding lainnya ada pula cap-cap tangan yang seolah-olah menggapai-gapai meminta pertolongan [4]. Bulu kudukku meremang melihat itu semua.

Syahdan, aku terpana ketika melihat sebuah lukisan perempuan, dengan payudara terbuka dan pakaian dari kulit hewan yang hanya menutupi kemaluan. Perempuan itu tampak memegang alat seperti tombak, dengan ujung yang runcing, dan di hadapannya ada hewan serupa kelinci dengan ukuran yang sangat besar. Lukisan itu seperti hidup, seolah-olah perempuan dalam lukisan itu benar-benar sedang berburu.

Te suma ha,” kata si gadis, saat melihatku memerhatikan lukisan itu. Suaranya memantul ke dinding gua, dan entah bagaimana teralihbahasakan menjadi “Itu aku.”

Aku mulai merinding. Berada di dalam gua membuatku merasa akulah yang tersesat ke zaman purba, bukan sebaliknya. Gadis itu lantas mengajakku menapakkan tangan ke dinding gua. Aku tak mengerti apa maksudnya. Dia lalu berkomat-kamit sambil menutup matanya dengan khusyuk. Aku pun mengikutinya menutup mata. Firasatku memberitahuku bahwa itu adalah cara si gadis berdoa. Ternyata, dia juga sudah memiliki keyakinan terhadap kekuatan maha besar yang menopang kehidupannya.

“Kami berterima kasih kepada-Mu karena telah memberikan kami napas, hewan-hewan, dan tumbuh-tumbuhan untuk kami makan,” begitu terjemahan yang dipantulkan oleh dinding gua.

Setelah selesai berdoa dan aku membuka mata, gadis itu menghilang. Lenyap. Sepintas lukisan perempuan yang kulihat tadi bergerak. Mungkin itu dia, menyampaikan perpisahan.

Dalam keadaan bingung seorang diri di dalam gua, kuputar perekam suara yang sedari tadi kunyalakan. Dinding gua menerjemahkan rekaman suara si gadis.

Aku manusia dari zaman batu. Hidupku berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Aku dan kelompokku hidup dengan memakan hewan dan tumbuhan di alam liar. Kami tidak mengandangkan hewan maupun bercocok tanam. Kalian menyebut kami sebagai manusia pemburu-pengumpul. Aku memang gadis pemburu-pengumpul. Kita berbeda dalam cara bertahan hidup. Pada mulanya kalian mulai bertani, lalu kalian bergegas menuju pabrik-pabrik dan kantor-kantor. Seiring dengan itu kalian terus menjarah Bumi dengan brutal, merusak tidak hanya air dan tanah, tapi juga udara. Alat-alat yang kalian gunakan semakin canggih, tapi itu tidak berarti bahwa kalian lebih kuat dalam bertahan hidup. Kalian justru sedang menuju arah pemusnahan diri sendiri karena kalian terus merusak Bumi. Selebihnya, kita sama-sama purba; makan, kawin, beranak-pinak, dan saling membunuh.” (*)

Keterangan:

  1. Gambaran spekulatif manusia Neanderthal (Homo Neanderthalensis) atau disebut juga ‘Manusia dari Lembah Neander’. Spesies homo ini hidup di zaman Pleistosen (sekitar 2,5 juta – 11.500 tahun yang lalu). Menurut Teori Penggantian (teori yang menyatakan bahwa spesies manusia saat ini merupakan hasil keturunan murni Homo Sapiens tanpa campuran dengan genus-genus homo lain), spesies ini tersebar di wilayah Eropa dan Asia Barat. Ciri-ciri tubuhnya lebih gempal dan berotot dibanding Homo Sapiens (manusia saat ini), mampu beradaptasi dengan baik terhadap iklim dingin di Zaman Es Erasia.
  2. Penelitian termutakhir menemukan bahwa manusia Neanderthal juga sudah menggunakan bahasa. Majalah Amerika Serikat Populer Science melansir bahwa bahasa Neanderthal juga mungkin beragam sebagaimana bahasa masyarakat kita saat ini. Sementara para ilmuwan berspekulasi bahwa bahasa Neanderthal memiliki ciri-ciri tak teratur dan memiliki kosakata yang mencapai puluhan ribu.
  3. Gambaran lukisan di Grotte de Lascaux (Gua Lascaux) di Montignac, Prancis. Gua ini ditemukan oleh Marcel Ravidat pada 1940 dan ditutup sejak 1963 demi menjaga keasliannya. Wisatawan saat ini hanya bisa mengunjungi replika Lascaux yang berada sekitar 200 meter dari gua asli.
  4. Gambaran di dalam Cueva de las Manos (Gua Tangan) di Santa Cruz, Argentina.

* Garapan poin 3 dan poin 4 tidak dimaksudkan untuk membaurkan ciri-ciri kedua gua tersebut, melainkan semata untuk keperluan alur cerita.




=================
Abul Muamar, lahir di Perbaungan, Serdang Bedagai, Sumatera Utara, 6 November 1988. Penyuka prosa, film, sejarah, dan filsafat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here