Bagaimana Tuhan Menciptakan Ikan-Ikan di Laut?

Tuhan ada pada setiap pelukan
angin kukenang
hujan basah
bumi semakin geram
lautan masihkah bergaram?

Pelukan membunuh pulang
puing-puing tenggelam
nikmat Tuhan di lautan

sepasang ikan mengapung
sepasang akan, menghilang
cinta kandas
khianat lepas landas
roda, sepasang
doa bertebaran
seperti undangan perang

kun, kata Tuhan
dijadikan makhluk
dari jenis yang menelan Yunus
pada lautan
bara api sujud
pada birahi yang disesalkan
gurun basah
pada rupa-rupa wajah
yang terbakar amarah

di pasar, ibu datang
saat ikan-ikan telah pulang
saat azan dikendalikan tembakan

2021




Kenapa Ambulans Berlari Mengejar Waktu?

Kota, bendera putih, dan
suara-suara menyedihkan yang marah
putaran roda tanpa kendali
menerobos kerumunan dan isyarat lampu tanda berhenti
dan pedal gas pasrah lebih dalam seperti sebuah kenikmatan fana
yang terlanjur diberitakan

kita mendaur ulang kecemasan, air mata,
dan teriakan menjadi kembang api yang melesat sangat cepat ke udara
seperti kecepatan mata elang yang mengejar tikus, ular, dan kelinci

izrail kini sembunyi
setelah gagal memahami takdir manusia

Waktu, waktu, waktu
berlari pada ujung kesepian yang pasti

Makassar, 2021




Menjamah Desah Bagian Tubuhku yang Mencintaimu

Di hadapan cermin malam
aku samar melihat batang tubuh menungguku
dendang cinta di permukaan desah bibir basah
menjamah seluruh bagianku
memanggil suara-suara celahmu
menjamah apapun yang memanggil seluruh milikku

aku melupakan siapa aku
dia adalah dia, diriku hanya ketiadaan
aku mencintaimu sebelum waktu dapat dihitung
sebelum usia mengantarku
sebelum dan sesudah hanya milikmu

dengan menyebut dan mendengar nama-nama dan seluruh wahyumu
di hadapanmu, aku bersaksi bahwa
aku pernah mencintai segala rupa,
segala dusta, dan segala tubuh yang bukan milikku

Makassar, 2021




Mengalirkan Darah

Yang mengalir tidak selamanya mata sungai
ia bisa darah dari tabahnya jiwa
dari ketinggian suhuf-suhuf Ibrahim
menyerahkan Ismail

jika kau tak punya unta, domba atau sapi
ambillah hilir tubuhku
maka bermuaralah dengan deras ke pelukanku
sebab Tuhan tidak haus darah
alirkan saja cinta miliknya




Jampi-jampi
:apipa

Kau perempuan merapal jampi di atas bau asap kemenyan yang mengantarmu dengan selamat. Sayang kemarau membakar kesetiaanmu di penghujung musim. Sebelum hujan melahirkan anak-anak manis yang berlarian menadah berkat dari Sang Khalik.

Ranting-ranting kemarau seperti hati yang mudah patah bersama perasaan cemburu. Daun-daun seperti amarah yang mudah kering, bergesekan, panas dan menyala dalam tumpukan dada anak manusia. Ia warna yang khusyuk melacurkan diri dalam kesendirian.

Dalam hidup yang lacur ini, di antara kedua lenganku ditumpahi sekujur aliran waktu kiriman Jibril, semua kembali ke laut. Yang tersisa hanya aroma tubuhmu dan sisa dupa yang mengantarmu.

Samata, 2021




Pulang Bersama Angin

Aku mendengar lirih angin
yang ingin pulang bersamaku
perlahan menjadi bumi, buih dan aku.

Apakah kau masih menyimpan puisiku?
masih kukenang, kau begitu bingung
memungut satu persatu puisi diriku
seribu tanya pada pekat bulan, masih kukenang
apakah kau masih menyimpannya?
puisi yang kutulis saat kita melintasi kota
yang disentuh kau
memandangi kehidupan manusia kota
yang mereka bawa di punggungnya
kita ke pusat kota lalu mengelilinginya
melihat derita dipelihara ibu kota
seorang ibu yang menunggu nasib berjalan, berhenti,
dan berganti seperi lampu lalulintas
masih ingatkah?
saat aku membawamu ke kaki lima
tempat di mana kehidupan banyak didewasakan
dan kau menuntunku ke resto mewah
juga saat kau memberiku tepuk tangan
dan aku hanya kata-kata yang mudah kau pulangkan

Makassar, 2021




Jika Ada yang Menamaimu Selainku

Kelak jika ada yang menamaimu selainku
entah pada cincin, nisan ataupun kitab suci
aku masih menyebutmu

2021




Sejarah Manusia

1. 
Setiap malam Adam membakar kesepian
Mengunjungi taman
Mencela lautan
Menyalakan langit malam
Menebang hutan
Berburu kijang
Mengumpulkan tualang
Memahat bintang
Masih kesepian

Adam naik sampan menuju Tuhan
Membawa Hawa pulang

2.
Dua anak bulan tumbuh di dada Hawa
Lahir sejak di surga
Lalu dibesarkan Adam

Adam membelai seperti Angin
Selama 1000 tahun
Sedang Hawa menuju hutan
Menyiram pepohonan yang ditanam Adam setiap malam

2019





==================
Muhammad Musmulyadi, lahir di Makassar 30 Juni 1998, menulis esai, opini dan puisi di beberapa media, seperti Tribun Timur, Harian Fajar, Harian Rakyat Sultra, Majalah Pewara Dinamika UNY, Locita.co dan Qureta. Bergiat literasi dan sastra di Forum Lingkar Pena (FLP) dan didapuk sebagai Ketua FLP Cabang Makassar. Alumni UIN Alauddin Makassar.




LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here