SUDAH banyak kekacauan yang disebabkan karena ulahnya, namun sang Ibu belum cukup dalam memberinya pelajaran. Berbagai macam cara sudah dilakukan agar anaknya mau berubah, rupanya sia-sia belaka.

Bocah kecil itu masuk ke dalam rumah dan membawa seekor katak untuk dia tunjukkan pada Ibunya. Ketika sedang berjalan ke arahnya, dia berteriak kaget saat katak dalam genggamannya hendak melompat. Tanpa berpikir panjang, bocah itu mengangkat kedua tangan sehingga katak pun lepas. Melihat katak melompat dan menempel pada baju sang Ibu, bocah itu kembali berteriak dengan menjerit-jerit ketakutan. Dia melempar katak itu ke tanah dan tumpahlah air dalam bejana yang terjatuh dari atas meja karena tangan ibu menyenggolnya..

Dia berlutut di hadapan Ibunya dengan kepala tertunduk, siap untuk menerima hukuman. Dirinya terlihat menyebalkan. Namun, alih-alih meluapkan amarah, si Ibu hanya tertawa melihat tingkah lakunya. Dia berusaha untuk tetap tenang seraya berkata, “Kalau dirimu takut dengan katak, mengapa kamu memegangnya? Kamu memang anak yang tidak juga mengerti.” Kemudian Ibunya mengambil bejana tadi dan berkata, “Pergilah ke sungai dan gantilah air yang sudah tumpah tadi.”

Dia mengambil bejana itu. Ternyata berat, lantas dirinya menggerutu,
“Ibu yang menjatuhkan, mengapa aku yang dihukum? Kalau aku keberatan membawa bejana kosong ini, mana mungkin aku bisa mengangkatnya bila terisi penuh?” Rupanya sang Ibu mendengar anaknya menggerutu, namun pura-pura tidak mengetahuinya. Dia hanya berharap dalam hati semoga hukuman ini dapat membuatnya jera.

Beberapa tahun telah berlalu…

Gadis itu tidak kunjung memiliki teman karib, apalagi seorang tambatan hati. Ayahnya telah meninggal beberapa tahun lalu. Kini, dia hidup bersama Ibunya seorang diri. Dia beranjak dewasa dan mulai tampak tanda kematangan di wajahnya. Seiring waktu pula, rasa malu timbul dalam diri yang memberi rona merah pada pipinya. Dia tidak pernah pergi ke luar kecuali menuju sungai yang terletak dekat dari rumahnya.

Di pinggir sungai desa dikelilingi oleh pepohonan yang besar. Di sampingnya terdapat banyak bebatuan. Gadis ini, orang biasa memanggilnya Sarah, duduk di pinggirnya lalu melempari sungai dengan bebatuan kecil sembari merenung tentang kehidupan. Tampak beberapa wanita sedang mencuci sayur-mayur dan pak tua penangkap ikan yang sudah sering dia lihat. Pak tua itu duduk di pinggir sungai sejak matahari mulai terbit hingga agak meninggi untuk memancing ikan yang nanti akan diberikannya kepada sang istri. Dia tidak memiliki anak. Sudah bertahun-tahun lamanya dia tinggal bersama sang istri dan tidak pernah berniat berpisah untuk selamanya. Selain pak tua itu, Sarah tidak tahu-menahu mengenai kehidupan orang-orang desa. Dia agak menjauh dari mereka. Dirinya juga tidak terlalu suka bergaul dengan banyak perempuan. Meski di waktu kecil sering membuat keributan, namun dia bukanlah tipe yang mudah bergaul.

Sementara itu, terlihat dari kejauhan seorang pemuda sebaya Sarah hendak menuju ke arah dirinya. Dia membawa senar pancing, keranjang berisi makanan dan umpan untuk ikan yang akan ditangkapnya. Dia berjalan dengan tenang, lewat di depan Sarah tanpa sedikit pun menoleh ke arahnya lalu duduk menjauh. Tetapi, duduknya tidak jauh dari pak tua yang sedang memancing. Kini, si pemuda tampak jelas di mata Sarah. Sarah pernah melihat sebelumnya tetapi belum pernah dia melihat dengan sejelas ini. Dia memakai kaos putih tipis, mengikat erat pinggangnya dengan sabuk dan mengayunkan kailnya ke tengah- tengah sungai.

Sarah tidak mengetahui siapa pemuda itu. Sarah bukan tipe yang mudah bergaul seperti yang sudah aku katakan sebelumnya kepada kalian. Tetapi, dia memperhatikan dengan saksama bagaimana cara pemuda itu menangkap ikan. Bagaimana dia melompat ke dalam sungai sesekali waktu, kemudian menangkap ikan dengan menggiringnya di antara ikan buruan pak tua. Tak ayal, setiap pak tua hendak menangkap ikan buruannya, ikan-ikan tersebut berlarian sebelum dia sempat mendekatinya.

Keranjang pemuda itu rupanya sudah penuh dengan ikan. Dia akan menyudahi perburuannya hari ini. Setelah mengencangkan ikat pinggangnya, dia pun berlalu. Sesampainya di tepi jembatan yang menjadi penghubung antar sungai, dia berhenti sebentar. Dia menyeberangi jembatan untuk menghampiri bapak tua. Dia masukkan setengah keranjang ikannya ke dalam keranjang bapak tua itu lalu melanjutkan langkahnya pergi. Ternyata, Sarah masih memperhatikan gerak-gerik pemuda itu. Sesampainya di rumah, dia ceritakan semuanya kepada sang Ibu, “Dia pasti orang baik. Mungkin dia merasa bersalah kepada bapak tua itu karena akibat ulahnya dia tidak mendapatkan seekor pun ikan”. Waktu terus bergulir, pagi beranjak siang. Cahaya matahari mulai menembus sela-sela dahan pepohonan yang menenggelamkan cahaya bulan sehingga tak tampak, menandakan waktu malam benar-benar berakhir.

Tanpa terasa siang beranjak sore, dan malam telah tiba. Gadis itu duduk di dekat jendela kecil kamarnya. Matanya awas menatap sungai. Bulan menampakkan putih wajahnya, memantulkan keindahan dan menunjukkan kepadanya beberapa keelokan sungai. Pikirannya dipenuhi oleh pemuda yang tadi pagi sama sekali tidak menoleh ke arahnya namun rela berbuat baik demi bapak tua. Sarah memutuskan untuk pergi tidur. Dari atas ranjang, dia masih mengamati bulan sambil membayangkan pemuda itu. Berulang kali dia melihat ke arah bintang-bintang yang mengelilingi bulan. Dia tidak bisa berhenti memikirkannya. Namun, tidak terasa kelopak matanya menjadi berat dan perlahan-lahan terpejam, akhirnya dia tertidur.

Keesokan hari, dia sarapan bersama ibunya, membantu mencuci pakaian dan membereskan rumah. Dia membawa sayuran hijau dan mencucinya di pekarangan rumah. Setelah itu, dia pergi mandi kemudian berpakaian lengkap untuk bersiap-siap pergi bersama menuju sungai. Kali ini, dia melihat pemuda itu datang terlebih dahulu. Anehnya, si pemuda duduk di tempat yang biasanya diduduki oleh Sarah. Apakah mungkin dia sengaja melakukan itu atau hanya kebetulan?. Dirinya sejenak membatin.

Sarah pandai memahami apa yang dia maksud. Dia lewat di depan pemuda itu seperti apa yang sudah pernah dilakukan padanya, lalu duduk di tempat yang pemuda itu duduki sebelumnya. Sarah melemparkan pandangannya ke arah bapak tua di sisi lain sungai. Seperti biasa, belum satu ikan pun yang berhasil ditangkap oleh pak tua. Sarah menjadi teringat dengan apa yang dilakukan pemuda itu kemarin. Dia putuskan untuk menemui bapak tua dan membantunya. Dia menyeberangi jembatan kemudian mendekatinya dan berkata, “Hai kek, apakah engkau membutuhkan bantuan?”. Lelaki tua itu menganggukkan kepalanya, tersenyum.

Saat Sarah sedang berbincang-bincang dengannya, tiba-tiba seekor ikan besar menarik senar pancing. Terjadilah pertarungan antara si kakek melawan si ikan. Senarnya terus ditarik oleh kakek tua dan terlihat ikan menyembul terseret menuju pinggir sungai, lantas kakek berseru kepadanya, “Tahanlah ikan itu sebelum lepas”. Sarah turun ke sungai membawa keranjang besar untuk mendekati ikan yang menggelepar itu. Dia celupkan keranjang ke dalam air. Walhasil, ikan besar tersebut berhasil ditangkapnya. Alangkah senang hati kakek tua. Dia berseru kembali, “Sudah cukup penangkapan kita pagi ini”.

Sarah  menuju tepian sungai sambil menjinjing keranjang berisi ikan tadi. Begitu hendak meletakkan keranjang di pinggir sungai, kakinya terpeleset dan jatuhlah dia ke dalam sungai. Si kakek mendadak tertawa melihat pipi Sarah yang merona merah karena menahan malu. Dia mengulurkan tangan membantu Sarah untuk bangkit, lantas berujar, “Aku tidak tahu harus bagaimana lagi berterima kasih kepadamu, nak. Kamu telah bersusah payah membantuku hari ini”. Sembari melihat pakaiannya yang basah kuyup, Sarah menjawab, “Sudahlah kek, aku tidak apa-apa”. Kemudian dia melihat ke arah pemuda itu, takut kalau-kalau dia melihatnya. Sayang, kejadian itu dilihat olehnya dan dia pun tertawa terbahak-bahak, sampai dia seka air matanya menggunakan lap karena terlalu banyak tertawa.

Hal ini lantas membuat Sarah naik pitam. Dengan langkah penuh kemarahan, dia mendekati pemuda itu dengan kaki yang dientak-entak, sehingga mengakibatkan jembatan itu bergoyang. Ketika sudah berdiri di hadapannya, dengan nada tinggi dia membentak, “Hei! Mengapa engkau tertawa?! Tidak kah kau kasihan melihat wanita terjatuh ke dalam sungai? Bukannya memberikan pertolongan, mengapa engkau terus saja menertawakanku!”.  Gadis itu berani. Meskipun menahan malu, dirinya tidak bisa tinggal diam apabila diperlakukan seperti itu. Si pemuda menjadi tergagap. Rasa takut bercampur malu menyelimuti dirinya. Dia tidak bisa menjawab sepatah kata pun.

Kemudian, Sarah bergegas pulang dengan perasaan marah. Dia tidak berbicara sepatah kata pun kepada ibunya. Dia hanya duduk di dekat jendela kamar, terdiam membisu hingga sore tiba. Ibunya sudah terbiasa melihat sikap anak gadisnya. Anaknya selalu bersikap begitu bila kesal dengan orang lain. Dia belum bisa mengendalikan emosinya. Sebenarnya, dia adalah gadis yang lembut bagai kucing penurut. Namun bila sedang marah, dia akan berubah menjadi seekor macam garang yang tidak seorang pun dapat meredam kemarahannya.

Tibalah waktu menjelang malam. Dia melihat bulan di atas langit sembari memikirkan sikap yang telah dia lakukan terhadap pemuda itu pagi tadi. Dia bergumam, “Wajar saja bila dia menertawakanku. Kejadian itu memang pantas untuk ditertawakan. Lalu, mengapa aku menggertaknya? Mengapa aku tidak ikut memarahi kakek tua ketika dirinya menertawakanku? Dia pejamkan kedua matanya, “Aku tidak mempunyai alasan untuk marah-marah kepadamu wahai pemuda “. “Ah, diriku benar-benar bodoh.. mengapa aku melakukan itu?”. Gadis itu tidak berhenti merutuki dirinya sendiri hingga tertidur. Cahaya bulan menunjukkan gurat kesedihan yang tampak pada kedua matanya yang sedang terpejam.

Pagi harinya, dia berniat membawakan beberapa buah untuk si pemuda sembari meminta maaf kepadanya. Dia meminta izin kepada sang ibu. Ibunya menyuruh dia menambah jumlah buah untuk diberikan juga kepada kakek tua. Di jalan, dia berbicara seorang diri, “Bagaimana supaya diriku bisa memulai pembicaraan? Sebaiknya aku mengatakan kepadanya bila aku ingin berbicara terkait kejadian kemarin”. “Ah, tidak-tidak, ini terlalu datar. Perkataanku harus lebih mengena. Apa sebaiknya diriku berkata, tolong jangan marah kepadaku atas kejadian kemarin, aku sudah berkata kasar. Aku bersalah dan ingin meminta maaf. Ya, mungkin ini lebih baik”.

Sesampainya Sarah di sungai, dilihatnya pemuda itu sedang duduk di tempat biasanya, lantas dia menghampirinya. Namun, rasa malu bercampur takut akan penolakan perlahan-lahan menghinggapi sekujur tubuhnya. Dia gugup dan mendadak lupa terhadap ucapan yang sudah dia dipersiapkan matang-matang. Oh ya Tuhan…

Ketika berhadapan dengannya, pemuda itu menatapnya. Dengan tergagap Sarah berkata, “Dengarkan aku.. a.. a.. aku ingin meminta maaf. Aku, aku… ambil buah-buahan ini.. jangan marah kepadaku..”. Mendadak pemuda itu tertawa. Namun terburu-buru dia menutup mulutnya dan tersipu malu mengingat kejadian kemarin. Akhirnya, Sarah tidak tahan untuk ikut tertawa pula. Dia menyodorkan beberapa buah kepadanya. Pemuda itu terpana. Tiada henti dia memperhatikan Sarah dan lupa terhadap kail pancingnya. Tangkai pancing itu bergerak dan ikan yang besar menyangkut pada kailnya. Dengan cepat Sarah menarik senar pancing dari sungai menuju ke bebatuan yang paling tinggi. Keduanya berlomba memperebutkan senar pancing hingga terjatuh ke dalam sungai bersama.

Dari kejauhan mendengar suara seseorang sedang terkekeh-kekeh. Ternyata, kakek tua itu sedang menyaksikan tingkah mereka. Mereka menjadi malu. Si pemuda bangkit lalu membantunya berdiri. Kemudian, dia mengambil beberapa buah pemberian Sarah dan mencucinya. Dia berujar, “Kita dipanggil oleh kakek itu. Ayo, kita ke sana dan makan buah bersama”. Sarah sangat bahagia dengan apa yang terjadi hari ini. Seakan hari ini adalah hari terindah yang pernah ada dalam hidupnya.

Awal pertemuan selalu menjadi momen indah di dalam hidup. Setiap mengingatnya, tanpa sadar dirimu akan tersenyum. Apakah kamu mengingat, bagaimana rasanya pertemuan pertama dengan seseorang yang kamu sukai diam-diam? Tersenyumlah, ayo tersenyum.. tidak akan ada orang yang melihatmu. Namun, apakah dirimu sadar, bahwa kamu juga membenci datangnya kesedihan setelah adanya kebahagiaan? Sadarkah bagaimana hubunganmu dengan orang yang kamu sukai itu sekarang?.

Kita bersedih karena masing-masih dari kita sudah berubah. Kita ingin banyak mendapat perhatian, dan berharap selalu bersama seperti awal kita berjumpa. Namun seiring berjalannya waktu, kita dapati diri kita keterlaluan. Kita banyak menuntut. Lantas baru tersadar bahwa semua yang menjadi keinginan kita terhadapnya hanya ada dalam angan-angan. Mengapa?  Hakikatnya, semua yang tampak indah-indah dalam hubungan itu akan terlihat di awal saja. Hal yang sebenarnya justru terlihat belakangan. Sikap yang diambil di dalam menghadapi masalah akan menunjukkan wajah kita yang sebenarnya.

“Aku bahagia.” Itulah kalimat pertama yang diucapkah oleh Sarah sesampainya di rumah. Sarah memeluk Ibunya erat, lantas beranjak untuk membuat beberapa manisan. Pikirannya masih terbayang oleh kesan pertamanya saat berjumpa dengan pemuda itu.

Satu bulan telah berlalu, pemuda itu datang melamarnya. Hal ini karena Ibunya Sarah tidak setuju apabila dia sering bertemu dengan anaknya tanpa ada ikatan pernikahan. Pemuda itu tidak berbohong dalam memperkenalkan  diri. Tetapi, dengan cepat dia utarakan maksudnya hendak melamar putrinya. Si Ibu menerima pertunangan itu, namun dia berencana untuk menunda pernikahan mereka selama satu tahun. Hal ini dilakukan agar putrinya dapat menemukan suatu hal yang belum terungkap pada diri pemuda itu.

Setiap pagi, Sarah menemuinya di sungai. Mereka mengobrol panjang lebar sambil menangkap ikan bersama. Terkadang, mereka membawa ikan hasil tangkapan ke rumah Sarah untuk dimakan bersama-sama. Adapun rumah pemuda itu terletak di desa seberang sungai. Hampir setiap hari pemuda itu pergi ke sungai. Seperti yang dikatakan sebelumnya, sungai adalah sumber kehidupan baginya. Saat itu, tidak banyak lahan pekerjaan bagi orang-orang desa sepertinya yang rata-rata hidup sederhana. Dan ikan adalah makanan yang biasa dimakan oleh segala macam orang, baik miskin maupun kaya.

Si gadis memiliki hati yang perasa dan mudah terobsesi kepadanya, sementara si pemuda memiliki sifat yang berlawanan dengan si gadis. Namun, suatu ketika dia memperlihatkan sifat jelek yang biasa dialami oleh kebanyakan orang, yaitu bosan. Apakah kalian masih bertanya-tanya, apa itu bosan? Kalian pun mengerti maknanya. Tetapi kalian tidak mengerti siapa yang sering kali bosan di dalam sebuah hubungan.

Ada banyak pria yang meluapkan semua gairah cintanya di awal hubungan. Sehingga, gairah itu perlahan-lahan berkurang dan lambat laun akan menghilang. Apabila telah hilang, mulai terlihat dari sikapnya yang menjauh dari sang kekasih. Si wanita menganggap bahwa pria menjauhinya karena sudah tidak mencintainya lagi atau sudah merasa bosan dengannya. Dan masalah yang kemudian membuat kita terhenyak adalah, apabila sang pria kemudian mengincar wanita lain padahal masih memiliki hubungan dengan wanita sebelumnya..

Pemuda itu amat pencemburu dan dia tidak ingin Sarah berpaling darinya. Namun di saat yang sama, si pemuda enggan berbicara dan tidak peduli terhadapnya. Bagaimana kalian melihat ketidakadilan ini? Itu hanya dialami oleh pria yang pembosan. Sarah melihat tanda-tanda tersebut ada padanya, bermula dari seringnya tidak datang ke sungai untuk bercakap-cakap dengannya hingga beralasan, “Maaf, aku sedang ada kesibukan di desa”. Dia membuat banyak alasan agar Sarah mempercayainya. Dia ingin bebas dan menghibur diri dari pembicaraan yang tiada habis dan melelahkan.

Kesedihan mulai menyusupi relung hatinya ketika melihat perubahan sikap pemuda itu dari hari ke hari. Dia berkata dalam hati, “Apakah diriku banyak kekurangan? Atau kah rasa curigaku yang berlebihan sehingga dia menghindariku?”. Hilanglah kepercayaan dirinya. Pemuda itu menjadi sosok yang lain semenjak menjauh dari Sarah. Setiap kali bertemu, dia selalu mengatakan sibuk sebagai alasannya. Sementara Sarah berpikir bahwa pemuda itu sudah tidak menginginkannya lagi.

Namun, kepada siapa dia hendak mengadu? Dia telah memilihnya dan tidak bisa mundur karena terlanjur cinta dan terpikat olehnya. Tidak hanya sekali Sarah bertanya, “Apa kau masih mencintaiku, atau hatimu sudah berubah? Aku berharap kau akan mengatakan yang sesungguhnya. Jangan menyiksaku lebih dari ini..”. Rupanya ucapan Sarah tidak dihiraukan olehnya. Hanya tanggapan ketus yang diterimanya. Pemuda itu berujar, “Kamu benar-benar gadis yang menyebalkan dan berlebihan, jangan sampai dirimu membuatku marah..”. Kemudian, dia meninggalkan Sarah yang menangis terisak di pinggir sungai seorang diri. Dia berlalu darinya. Dia tidak pernah seperti ini, mengapa berubah?

Sebenarnya, salah satu ciri pria pembosan yakni lebih penyayang daripada yang lain. Ya, jangan lah kamu heran. Mereka dipenuhi rasa cinta namun mudah untuk merasa jenuh. Apabila ada suatu hal dari dirimu yang berhasil memancing perhatiannya kembali, dia akan merasa senang sehingga kebosanan terhadap hubungan kalian menjadi hilang. Lalu muncul kembali sifatnya yang penyayang dan bertambah pula rasa cintanya kepadamu. Namun, begitu dia mendapati keluh kesah dan kerinduan tanpa adanya tantangan yang menyenangkan dalam sebuah hubungan, perlahan-lahan kebosanan itu kembali menghampirinya. Sayangnya, Sarah tidak menyadari hal ini. Perasaan cintanya mengalir begitu saja seperti aliran sungai yang mengalir di antara bebatuan.

Pada suatu hari, dia merasa begitu sedih. Dia memutuskan untuk mencarinya dengan berjalan di sepanjang tepian sungai. Banyak dahan-dahan pohon besar yang melintang di pinggir-pinggir sungai menghambat langkah kakinya. Dia berkata dalam hati, “Aku harus menemukan dimana pun dia berada. Dia tidak bisa meninggalkan pekerjaannya sebagai penangkap ikan”. Maka, mulailah Sarah mencari dan akhirnya menemukannya. Namun, dia tidak langsung menghampiri pemuda itu. Dia hanya melihatnya dari jarak yang cukup jauh.

Rupanya dia sedang terlihat gelisah. Beberapa kali dirinya menoleh ke kanan dan ke kiri seakan-akan menunggu seseorang yang akan datang. Sarah memperhatikan gerak-geriknya sembari bersembunyi di balik pepohonan untuk mengetahui mengapa dia ada di sini. Inilah yang disebut cinta. Cinta dapat membuat kita melakukan apa saja bahkan hal konyol sekalipun. Cintalah yang menggerakkan diri kita. Lakukan apa saja yang menjadi keinginanmu Sarah..

Tidak berselang lama, seorang gadis muncul dari seberang sungai. Dia membawa sebuah bejana. Pemuda itu menatap dengan mata berbinar penuh harap dan semangat saat gadis tersebut melempar senyum ke arahnya. Dengan tenang dia mengisi bejananya dengan air, lalu kembali menatap pemuda itu cukup lama. Dia membalasnya. Mereka pun saling berpandangan. Tak pelak, hal ini membuat dada Sarah menjadi sesak. Dalam hati berkata, “Tegakah dia melakukan itu? Mengapa selama ini dia tunjukkan cintanya kepadaku. Oh, rupanya ibu benar dalam menunda pernikahan kita.” Karena tidak tahan dengan perasaan yang sungguh menyesakkan, pecahlah tangis Sarah.

Saat gadis itu berlalu dengan menenteng bejananya, Sarah muncul mendekati tunangannya sambil terisak. Pemuda itu melihatnya dan mengetahui bahwa Sarah telah menyaksikan semua. Namun, hanya kalimat ini yang terucap, “Jangan berbicara padaku karena aku tidak ingin mendengar sepatah kata pun darimu. Aku bebas melakukan apa saja yang aku sukai. Sebaiknya, pulanglah..” Kemudian, pemuda itu memunguti beberapa ikan hasil tangkapannya lalu menenteng keranjangnya dan bergegas pergi. Di dalam hati dia berkata, “Dia pasti mengejarku, karena dia telah mencintaiku dan tidak bisa lepas dariku..”

Alih-alih mengejarnya, Sarah hanya terdiam, berdiri tertegun seolah  tidak menyangka pemuda itu berkata demikian terhadapnya. Lantas memutuskan untuk balik menuju tepi sungai tempat awal di mana dirinya hendak mencari si pemuda itu. Dia membasuh wajahnya, duduk sebentar lalu menangis lagi. Dari kejauhan si kakek tua itu melihatnya. Dia memberi isyarat agar Sarah datang kepadanya. Sarah menghampiri kakek tua itu dengan menyeberang jembatan, lalu duduk di dekatnya. Mereka saling terdiam hanyut dalam pikiran masing-masing. Setelah satu jam lamanya, mulailah kakek tua itu membuka suara.

Cucuku, sudah lama aku hidup bersama nenekmu tanpa dikaruniai seorang anak. Dahulu, aku berpikir bahwa masalah ada padanya. Lalu aku pergi meninggalkan nenekmu untuk menikah dengan wanita lain. Bertahun-tahun aku tinggal bersamanya. Akhirnya, dia meninggalkanku karena kita tidak juga memiliki seorang anak. Orang-orang menyadari bahwa penyebabnya ada padaku.

Aku kembali pada istriku yang pertama dan mencoba untuk menjelaskan semua yang sudah terjadi. Namun dia tak mengizinkanku berbicara. Tangannya menutup mulutku, kemudian dengan mudahnya dia berkata, “Lupakan semua yang sudah terjadi.”  Dia memberiku pancing ini sembari berkata, “Cobalah menangkap ikan.. sudah cukup bagi kita berdua hidup bahagia bersama.” Aku merasa sangat malu. Tidak berani diriku menatap matanya pada saat itu. Semenjak itulah, setiap hari aku menangkap ikan untuk kami makan. Bila ada kelebihan, ikan itu kami jual lalu hasilnya kami belikan sesuatu yang lain. Aku berjanji tidak akan pernah membuatnya menangis lagi.

Cucuku, kami para lelaki tidak akan pernah sadar sampai wanita yang kami cintai mencampakkan kami. Aku belum belajar ketika istri keduaku pergi meninggalkanku dan aku memohon kepada istri pertamaku untuk kembali. Jika bukan karena Allah yang memberinya kemurahan hati, niscaya sisa hidupku hanya habis untuk menanggung malu.

Kemudian, kakek itu mengambil seekor ikan dari keranjangnya, lalu berkata : “Ikan ini berenang menuju tepian sungai, mengira bahwa tempat ini lebih baik dari rumahnya. Ternyata, dia kehilangan nyawanya. Jangan mengorbankan hidupmu demi mengejar angan-angan semu. Jauhi semua yang membuatmu emosi dan berhentilah memandang kehidupan orang lain seolah-olah lebih baik dari hidupmu..”

Sarah berkata, “Tapi dia meninggalkanku karena mencintai yang lain”. Kakek tua menjawab, “Itu hanya pelampiasan kebosanannya saja. Dia akan kembali kepadamu setelah mengerti siapa yang sebenarnya mencintainya. Namun, siapa yang telah mengecewakan orang lain, tidak akan bertahan lama dia akan dikecewakan oleh orang lain juga”. Dunia terus berputar. Apa yang kamu tanam hari ini, itulah yang akan kamu tuai di hari esok. Semua perbuatanmu pasti kembali untukmu. Kamu harus membiarkan dirinya melakukan apa yang dia suka. Jika kamu tidak setuju dengan apa yang telah dia perbuat terhadapmu, maka dirimu berhak menolak dan tidak mencoba kembali kepadanya.

Mengapa diriku berkata seperti itu? Apabila pria melihat seorang wanita yang merendah, pasrah, lemah dan terlalu bergantung kepadanya, dia menjadi bangga dan bertambah sikap sewenang-wenangnya terhadap wanita. Sedikit dari pria bisa menghargai wanita seperti ini. Buatlah dirinya menyesal telah bersikap demikian dan jangan kembali kepadanya. Sebab, seorang mukmin tidak akan terperosok ke dalam lubang yang sama untuk kedua kali. Aku tidak bermaksud menyalahi hukum atau membuatmu takut untuk menunjukkan sisi lembutmu sebagai seorang wanita. Aku hanya berharap bisa memberikan pengertian ini dengan baik, agar kamu tidak menjadi wanita bodoh yang mengacaukan duniamu serta mengorbankan hidupmu sendiri. Allah telah memuliakanmu. Islam menjaga hak-hak mu. Maka, jangan kamu biarkan seseorang mempermainkan sikapmu.

Sarah kembali ke rumah. Hatinya menjadi agak tenang mendengar penuturan si kakek tua tersebut. Semenjak itu, dia banyak menghabiskan waktunya di rumah dan tidak pergi ke sungai. Dia tidak ingin bertemu dengan tunangannya. Karena kesedihan dan kedukaan telah menemukan tempat yang damai di dalam hatinya, perlahan-lahan dirinya mulai bangkit dari keterpurukan. Dia sibukkan hari-harinya dengan melakukan banyak kegiatan. Jika di waktu siang dirinya sibuk dengan pekerjaan dan jauh dari kata santai, maka di waktu malam dia gunakan untuk beristirahat karena merasakan capek dan penat. Hal ini membuat Sarah mudah terlelap tidur.

Ternyata benar. Pada mulanya, tunangan Sarah tidak menyadari hal itu dan tidak bertanya apa pun mengenai keadaannya. Satu bulan telah berlalu. Namun, pada suatu hari dia kembali ke sungai dan duduk di tempat seperti biasa. Dia tidak hendak menangkap ikan. Pikirannya dipenuhi oleh Sarah. Mengapa dia tidak datang dan tidak kembali?. Dia mengira Sarah akan kembali padanya dan mencarinya, ternyata dugaannya salah.

Lama sekali pemuda itu termenung. Raut mukanya terlihat murung. Mendadak dirinya ditimpa kesedihan yang teramat sangat dan merasa kehilangan. Hatinya pun diliputi kekacauan serta kegundahan. Bagaimana caraku bisa bertemu dengannya lagi? Apakah kamu sudah tidak mencintaiku lagi, wahai Sarah? Mulailah banyak pertanyaan muncul di benaknya tanpa adanya sebuah jawaban. Pertanyaan itu terus mengusik hati dan pikirannya hingga kelelahan. Dia tidak berani mendekati rumahnya. Yang dia lakukan hanya menunggu dan menunggu dengan sia-sia.

Aku ingin menyampaikan suatu hal yang penting kepadamu wahai para wanita. Entah dia mengharapkanmu ataupun sebaliknya, jangan kembali kepadanya. Jangan kira bahwa dia yang membutuhkan perhatian pasti mencintaimu. Sekali-kali, tidaklah dia merasa senang kecuali melihat ketundukan dan kepasrahan cintamu kepadanya. Orang yang mengasihi tidak akan menyiksa orang yang dikasihinya.

Kekasih adalah mereka yang peduli kepadamu, menyebut namamu dan mendekapmu dengan penuh kehangatan. Bukan mereka yang mengabaikan, melupakan dan mengacuhkanmu. Mereka jua lah yang mau menyadari kesalahannya sejak awal dan tidak sudi berbohong kepadamu.





==================
Ibrahim al-Shamlan berasal dari Lebanon. Dia adalah seorang motivator sekaligus penulis aktif di media cetak maupun elektronik sejak tahun 2000-an hingga sekarang. Namanya dinisbahkan kepada daerah asalnya yakni Shemlan, sebuah desa di daerah pegunungan Lebanon. Karya-karyanya banyak membahas mengenai motivasi hidup, pengembangan diri dan pemikiran filosofis yang dibalut dengan gaya bahasa kekinian dan tidak kaku sehingga sesuai dengan minat pembaca muda zaman sekarang. Sudah puluhan karya diterbitkan berupa novel, cerpen dan buku serial, antara lain: Maharaat al-hayat – buku serial (2013), Ath-thalaq ash-Shomit (2013), Atsimul Hawa – Cerpen (2015), Sukuun al-Ruuh – Novel (2017), Rawai’ Aqwalu al-Hasan al-Bashri, dan masih banyak lagi. 
Nidda Amirotul Qori’ah, lahir di Purworejo, 26 Februari 1995, adalah mahasiswi UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, program Bahasa Sastra Arab. Gemar menulis dan meminati bidang kritik sastra dan penerjemahan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here