1897, awal musim hujan yang agak terlambat datang, dia dilahirkan untuk menjalani takdir kehidupan paling kelam yang pernah digariskan Tuhan untuk manusia di Hindia Belanda. Kelak dewasa, dia bahkan menyimpulkan kesialan itu berkaitan dengan darah pribumi yang mengalir dalam tubuhnya. Kalau bukan darah yang cair, mungkin saja dia akan datang ke dokter untuk memintanya mencopot lalu menggantinya dengan sesuatu yang baru, lebih baik darah babi yang mengalir di tubuhnya, pikirnya. Tentu saja semua itu tak pernah terjadi.

Ibunya anak seorang pengacara yang tentu saja dipandang terhormat. Keterhormatan itulah yang kemudian mengusir ibunya dari rumah. Ibunya masih bocah baru gede saat mengandungnya. Sialnya, ibunya sendiri tak bisa menyebutkan nama ayah anak dalam perutnya. Setelah dilahirkan, ia diserahkan ibunya ke panti asuhan yang dikelola suster-suster.

Setelah diadopsi sepasang suami-istri yang menikah pada usia yang terlalu tua untuk melahirkan keturunan Prancis, dia mendapat kasih sayang berlimpah dan pendidikan yang baik. Namun, nasib baik memang tak pernah ditakdirkan berkarib dengan dia. Pada usianya yang kedua belas, kedua orang tua angkatnya itu meninggal karena sebuah penyakit paru-paru dalam waktu yang berdekatan.

Mau tak mau ia kemudian kembali ke asrama untuk bocah-bocah bernasib sama sepertinya di Surabaya. Di sanalah, ia mendapat darah menstruasi pertamanya. Letupan darah remajanya itu pulalah yang menunjukkan celah sempit untuk keluar dari asrama yang pintu dan jendelanya selalu tertutup rapat sehingga membuat sesak, mendidih, dan ingin meledakkan kepada dan dadanya yang kian membusung. Pada usianya yang keempat belas itulah, untuk pertama kalinya, ia masuki dunia yang paling kelam yang akan mengenangnya sebagai aktris ternama dengan sederet julukan hiperbolik sekaligus sinis yang tercetak dalam halaman-halaman koran berbahasa Belanda dan Melayu.

Di koran, ia digambarkan seorang wanita dengan pesona, keanggunan, dan daya pikat. Dia tempat-tempat yang biasa berada orang-orang penting atau kaya, ia selalu muncul dengan dengan nama yang berbeda dengan penampilan yang lain pula. Jika ia melakukan sesuatu, dia melakukannya dengan semangat dan ketelitian yang mengagumkan, cara kerja yang sama untuk menghasilkan sebuah mahakarya semacam lukisan Monalisa atau nada-nada magis Ludwig van Beethoven. Mungkin kerena itu juga, di usia 18 tahun, seorang penata rambut terpikat dan menikahinya. Dari pernikahannya itu, ia kemudian melahirkan seorang putra. Namun, perkawinan dalam kebahagiaan selalu ingin berakhir dengan begitu cepatnya seperti menguapnya cairan spiritus yang tumpah ke lantai. Seperti dirinya, ia membiarkan putranya tumbuh di sebuah panti asuhan. Kelak, ibu dan anak itu akan berkomunikasi setelah Jepang mengakhiri masa pendudukannya sebagai tanda berakhirnya fasisme di kulit bumi.

Begitulah, ia akan selalu kembali ke masa-masa sulit yang akrab dengannya sejak ia terlahir ke dunia, mungkin karena itu dia diciptakan Tuhan. Karena itu, ia tak pernah peduli dengan surga atau neraka sebagaimana ia menganggap dunia ini begitu kejamnya melebihi gambaran mengerikan neraka Tuhan yang ada di kepalanya. Dalam keputusasaan yang mendera, ia pernah mencoba mengakhiri hidup dengan meminum cairan sublimat. Ketika ia merasa akan berhasil dengan rencananya memutus takdir sialnya, dan tersenyum mengejek kehidupan saat ia menahan sakit merasa dadanya akan meledak, petugas medis rumah sakit justru berhasil memompa sejumlah sublimat yang telanjur masuk ke lambungnya. Tuhan seolah begitu membutuhkan kehadiraanya di dunia ini seperti kisah seorang saleh yang tertelan ikan paus karena melarikan diri dari pekerjaannya.

Ia seorang aktris dengan kapasitas pilih tanding. Salah satu akting terbaiknya adalah saat ia memerankan diri sebagai Lady Elly, karakter yang memungkinkannya bepergian ke seluruh Jawa, tinggal di hotel kelas satu dan toko mewah tanpa kehilangan sepeser pun uang, bahkan ia mendapat semua yang diinginkannya dari sana. Lebih dari itu semua, ia bahkan berhasil membuat seorang letnan pertama Angkatan Darat Hindia Belanda bertekuk lutut mengemis-ngemis cintanya hingga kemudian mereka bertunangan; tentu saja setelah itu ia melekatkan nama sang tunangan di belakang namanya.

Sekali lagi, kesialan itu datang pada saat tak tepat padanya. Takdir kemudian membawanya ke hadapan pengadilan Batavia. Ketika muncul di muka persidangan, ia menunjukkan dirinya telah berdamai dengan takdirnya yang keji, ia tampil sederhana, tapi penuh selera. Ia mengenakan pakaian putih, stoking putih, sepatu hak tinggi putih, rambut pirang gelap dangan potongan penuh gaya. Orang-orang akan semakin terpesona padanya jika mereka berada di dalam persidangan yang berlangsung secara tertutup itu saat melihat tak ada reaksi berlebih tampak di wajahnya yang dipenuhi jerawat saat jaksa menuntutnya dengan delapan bulan bui. Setelah rangkaian persidangan, majelis hakim menghukumnya satu tahun penjara dan denda 500 gulden. Namun, dalam sidang banding, pengadilan memperberat hukuman menjadi dua tahun penjara.

Setelah bebas, beberapa kali ia masih harus keluar masuk bui karena bakat aktingnya itu. Awal 1930-an, ia bekerja di Hotel de Boer, Medan. Siapa pun tak berpikir hotel ternama itu akan mempekerjakan perempuan sepertinya untuk mengurus administrasi atau sekadar menjadi tukang kunci bukan? Begitulah, isu yang banyak berembus, ia menjadi penghibur tamu-tamu penting yang menginap di sana. Dan sangat mungkin, kerena alasan itu kemudian, ia disapa takdirnya yang lain, bertemu lalu menikah dengan seorang Inggris, meski hanya untuk waktu yang singkat. Kelak, ia akan menyadari dan amat bersyukur pernah betemu dengan lelaki Inggris yang menikahinya untuk menghabiskan masa hidupnya yang hanya menyisakan tiga tahun itu. Dengan menggunakan nama bekas mantan suaminya itu, ia dapat bertahan hidup dalam komunitas Inggris di Singapura, ia hijrah karena saat itu ketegangan pemerintahan Soekarno dengan Belanda mengalami eskalasi.

Pada masa pendudukan Jepang, ia mulai menjalani hubungan gelap dengan seorang priyayi Jawa. Lelaki itu bekerja sebagai petinggi di Djawatan Pos di Batavia. Sebagai pelengkap perkawaninan, mereka mengadopsi seorang anak laki-laki sebelum kemudian tinggal di Makassar. Di kota itu, ia terlibat dalam penyelundupan makanan dan informasi ke kamp-kamp tahanan orang Belanda (dan Eropa pada umumnya). Akibatnya, ia dipenjara dan dilecehkan dengan kejam oleh tentara Jepang. Sayang, kematian yang pernah diinginkannya belum berkenan padanya. Mungkin, itulah hal terbaik yang pernah dilakukannya semasa hidup. Itulah yang sering ia ulang-ulang dalam suratnya. Tapi, koran-koran itu lebih senang membicarakan tindakan-tindakan kriminalnya semasa hidup; mungkin begitulah cara jurnalisme bekerja.

Berakhirnya perang menandai juga berakhirnya hubungannya dengan sang priyayi. Sementara anak adopsinya tinggal dengan ayah angkatnya, ia memilih kembali ke kota kelahirannya, Surabaya. Dengan nama barunya, ia secara teratur melakukan kontak denganku, putra kandungnya.

Aku tak pernah bertemu dengannya secara fisik, kami hanya bicara melalui surat. Ada banyak alasan untukku memilih melakukan itu. Aku ingin menjaga kehormatan ibu dan ayah angkatku yang kebetulan seorang priyayi Jawa. Selain itu, aku tak mungkin mengatakan latar belakangku yang sedemikian kacau kepada istri dan anak-anakku. Aku telah berhasil memulai mendefinisikan identitas diriku yang baru dengan membangun keluarga, aku tak ingin merusaknya. Dari surat-surat yang ia tulis, aku kemudian tahu, ia hijrah ke Singapura pada 1957. Di sana, ia menyusup ke dalam komunitas Inggris Singapura dengan menggunakan nama mantan suami Inggrisnya.

Di hari-hari terakhirnya, dia tetap menjadi perempuan yang ditindas takdir yang sekaligus menjadi karibnya paling setia; miskin harta dan kehormatan. Beberapa tahun kemudian, ia berkabar telah menyeberang ke Kuala Lumpur. Dan, di sanalah, takdir kematian yang dulu sering menolak dengan angkuh saat ia panggil-panggil datang dengan sendirinya. Dan, ia menyambut kematian itu dengan keanggunan yang bercampur keangkuhan, kematian yang menguarkan aroma wiski yang harum. Di usia 77, ia meninggal. Aku hadir dalam upara pemakaman yang hidmat itu dengan pakaian serba gelap dan kacamata hitam, tanpa setitik pun air mata.

Dengan pandangan yang ajek ke kuburan yang tanahnya masih basah itu, istriku bertanya, “Jadi ia masa lalumu yang selama ini kaucoba sembunyikan dari kami, Sayang?”

“Kini kamu tahu segalanya. Dan itu sangat melegakan.”

Dia memelukku, semakin lama makin erat saja, hingga aku merasa ia adalah kulit dan dagingku yang menyelubungi tulang dan organ-organ dalam tubuhku.

Fakuntsin, 2020



======================
Mufti Wibowo lahir dan berdomisili di Purbalingga. Menulis puisi dan prosa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here