DARI jendela kamarmu menghadap pantai, matamu menangkap sosok perempuan berambut jagung sebahu. Perempuan itu hadir setiap petang ketika nelayan menggulung jaring dan mendorong perahu ke daratan. Di tangannya ada ember kecil berisi ikan. Ikan-ikan itu dilemparkan pada sekumpulan camar. Ia akan bertepuk tangan dan sesekali memutar tubuh kegirangan melihat camar menghabiskan ikan-ikannya. Perempuan itu mengingatkan kamu pada isterimu yang meninggal ketika melahirkan anak pertama kalian.

Namanya Maria. Ia pemilik sepatu kulit lusuh yang kamu temukan di tangga gereja tua dekat rumahmu. Kamu menikahinya tiga tahun lalu. Kata ibumu, perempuan pemilik sepatu kulit lusuh itu yang menyelamatkan anjing pudel-mu saat terkurung di wc gereja. Perempuan pecinta binatang, kelak akan mencintai suaminya dengan sepenuh jiwa. Itu hanya pendapatmu. Walau akhirnya, kamu ragu dengan pendapatmu sendiri.

Kamu melamar Maria dengan sepuluh ekor anjing pudel. Ibunya murka tidak terima puterinya hanya bernilai sepuluh ekor anjing. Untuk melunakkan hati ibunya Maria, ibumu terpaksa menjual perhiasan peninggalan ayahmu. Ibumu pensiunan guru TK buatmu hingga kini mencintai lagu Bintang Kecil. Sedangkan ayahmu seorang pencuri handal tidak pernah tertangkap. Ia meninggal dalam gereja tua dekat rumahmu saat mengikuti perayaan natal anak sekolah minggu. Semua orang beranggapan bahwa ayahmu mati suci dan akan masuk surga. Bila mereka tahu, perhiasan dan uang mereka yang hilang, pencurinya adalah ayahmu, apa mereka masih mengatakan ayahmu akan masuk surga?

“Cukup mereka menjadi anak-anakku.”

Maria menunjuk sepuluh ekor anjing pudel tengah tidur di bawah kolong meja. Setelah menikah, Maria lebih mencintai anjing-anjing kalian ketimbang kamu. Ia lebih sering tidur bersama anjing-anjing itu.

“Janin ini akan memisahkan aku denganmu. Dengan anjing-anjing kita juga.” gumam Maria ketika kalian dalam perjalanan menuju rumah sakit.

“Janin ini lebih berharga dari anjing pudel kita.” Bantahmu.

**

Ibumu sibuk menyiapkan kamar untuk calon anakmu. Calon cucunya. Tampaknya, ia lebih bahagia dari pada kamu dan Maria. Setiap malam, ibumu merajut sarung tangan bayi, piyama dan topi. Ia membongkar isi gudang dan menemukan kereta bayi tua namun masih bisa digunakan. Hari melahirkan bagi Maria-pun tiba. Ibumu mengutuk Maria karena tidak mau mengeluarkan bayinya dari rahim. Ia tidak mau meng’ejan.

“Perempuan bodoh. Keluarkan bayimu.” hardik ibumu sembari menjambak rambut Maria.

“Kehadiran bayi ini akan membuat anjing-anjing pudel kami terabaikan.” ujar Maria tidak mau meng’ejan, meski ibumu dan dokter berteriak kalap. Akhirnya, Maria meninggal karena pendarahan. Pun bayinya terjepit di mulut rahim.

Kembali memandangi perempuan berambut jagung sebahu itu. Selain datang setiap petang dengan ember kecil berisi ikan, ada hal lain tidak berubah dari dirinya. Ia selalu memakai daster merah dengan syal melilit di leher. Kamu meninggalkan jendela, menuruni tangga rumah, membiarkan kakimu tanpa alas menjejaki pasir sedikit lembab karena habis turun hujan satu jam lalu.

Hampir sepuluh menit berdiri di dekatnya. Kamu tertarik pada daster merah dan syal melilit di lehernya. Syal tenun bergambar tokek. Kamu pernah memberi Maria sebuah sarung tenun bergambar tokek sehabis pulang dari luar kota. Berharap Maria memakainya saat pergi ke gereja. Namun Maria mengubah sarung itu menjadi beberapa buah syal. Syal itu dililitkan ke leher anjing-anjing pudel kalian. Setiap sore, ke sepuluh anjing pudel kalian dibawa jalan-jalan keliling kompleks memamerkan syal buatannya.

Perempuan berambut jagung sebahu menoleh ke arahmu setelah ikan-ikan dalam ember habis dibagikan.

“Apa kamu ingin ikan?” ujarnya. Kepalamu menggeleng sembari tersenyum simpul. Matamu tidak mau lepas dari daster dan syal-nya.

“Andai ikanku masih ada, aku tidak akan memberikannya untukmu.”

“Mengapa.”

“Karena kamu bukan burung camar.”

Perempuan berambut jagung sebahu tertawa. Suara tawanya sangat jelek seperti derit engsel pintu berkarat. Tawanya berhenti begitu menyadari pandangan matamu. Ia memeriksa tubuhnya sendiri.

“Mengapa memandangku seperti itu?”

“Aku sangat suka pada daster merah sedang kamu pakai.”

Kemudian ia bercerita tentang kisah daster merah itu padamu. Daster itu ia minta dari sahabatnya tengah hamil muda, berharap ia akan hamil juga bila nanti memakainya. Perempuan berambut jagung sebahu ternyata sudah tujuh tahun menikah namun belum punya anak.

“Apa kamu hamil setelah memakainya?”

Ia gelengkan kepala.

“Segala sesuatu berada di luar rahim tidak akan berubah menjadi jabang bayi. Daster merah ini tidak punya khasiat. Rahimku telah diangkat.”

“Jadi mengapa masih memakainya.”

“Setidaknya aku menganggap diriku hamil setiap memakai daster ini.”

Kamu mengajaknya duduk di atas pasir, membiarkan kaki kalian dijilati air laut meninggalkan buih putih di ujung jari. Ia tidak bertanya siapa namamu dan kamu juga tidak ingin tahu siapa namanya. Kamu lebih suka memanggilnya perempuan berambut jagung sebahu.

“Dari mana kamu dapat ikan setiap hari.”

“Dari suamiku.”

Ada kesedihan di bola matanya.

“Dari mantan suamiku tepatnya. Ia telah menikah dengan perempuan yang punya rahim. Aku bersedia menandatangani surat cerai asal memberiku ikan satu ember kecil setiap hari.”

Ia mengencangkan syalnya, lalu beralih memandangmu.

“Berdiri di mulut jendela setiap petang, apa hanya untuk melihatku?”

Pertanyaannya membuatmu tersendak.

“Kamu mirip dengan isteriku.”

“Apa rahimnya juga diangkat?”

“Bukan. Wajah dan rambutmu mengingatkan aku padanya.”

Petang berubah gelap. Air laut makin jauh menjilati pantai. Sebelum berpisah, ia memberikan syal miliknya padamu.

“Aku hanya meminjamkan syal ini. Besok petang aku menagihnya. Sepertinya kamu tidak terurus. Aku tidak ingin melihat garis lipatan pada lehermu.”

Ia melilitkan syal itu pada lehermu.

“Apa syal ini juga punya kisah?”

Ia menganggukkan kepala.

“Apa kamu percaya dongeng?”

Ia balik bertanya. Kepalamu menggeleng.

“Tunggu kamu percaya dongeng dulu baru aku ceritakan kisah syal ini.”

Kalian pulang. Syal di lehermu sangat lembut. Tiba-tiba kamu mencium aroma anjing pudel.

**

“Aku percaya dongeng. Terlebih kisah Cinderella.” ujarmu berbohong. “Sekarang, apa boleh mendengar kisah syal ini?”

Perempuan berambut jagung sebahu melemparkan ikan terakhir dari dalam ember.

“Konon, syal ini dibuat oleh seorang isteri yang teramat mencintai anjing pudelnya. Syal ini hanya titipan. Syal ini akan berubah menjadi bulu bila menemukan pemilik aslinya.”

“Ini dongeng paling konyol pernah aku dengar.”

Kamu terbahak.

“Aku juga tidak percaya pada kisah syal itu. Aku hanya percaya pada hal yang terlihat oleh mata. Aku tidak percaya Tuhan karena tidak melihatnya. Malah lebih percaya pada dokter. Kata dokter, aku akan hidup lebih lama bila rahimku diangkat. Perkataan dokter benar terbukti. “

Ibumu memanggil dirimu dari jendela. Pasti akan menyuruhmu mencicipi kue brownies yang ia masak setiap petang. Wajah ibumu memancarkan kegembiraan setiap kamu bilang masakannya sangat enak. Kamu berusaha buat ibumu bahagia. Sesungguhnya, kue masakannya sangat tidak enak. Rasanya bagai ban motor gosong. Kamu pamit pulang. Syal miliknya masih melilit di lehermu. Kembali mencium aroma anjing pudel. Aroma itu makin menyengat.

**

Kamu tidur seharian. Baru bangun setelah lonceng gereja berdentang bertanda hari sudah petang. Bau amis ikan sampai ke dalam kamarmu. Aneh, tiba-tiba kamu bisa mencium lebih banyak bau: Bau ketiak ibumu, bau bunga mawar di halaman, aroma pasir atau bau ingus nenek tua depan rumahmu yang tidak pernah kering. Kamu bisa mencium semua bau itu dari jarak jauh. Segera melompat dari atas ranjang, keluar rumah mengikuti aroma khas seakan melekat di hidungmu. Kamu mendapati perempuan berambut jagung sebahu sedang melakukan ritual petangnya.

“Aku bermimpi berubah menjadi seekor anjing pudel. Cerita dongengmu telah merusak pikiranku.” ujarmu. Perempuan berambut jagung sebahu masih melemparkan ikan-ikannya.

“Berhentilah melemparkan ikan-ikan itu. Sisakan beberapa ekor untuk kita bakar. Aku bisa membuat sambal paling enak.” ujarmu mendekat, lalu mencolek pinggangnya. Matanya membola saat melihatmu tengah menjulurkan lidah ke arahnya.

“Anjing pudel yang sangat lucu. Apa kamu punya tuan? Bila tidak punya, aku akan membawamu pulang.”

Ia memeluk lehermu. Menciumi wajahmu. Ini pertama kali seorang perempuan menciummu sejak Maria meninggal. Kamu dibilang seekor anjing pudel lucu.

“Aku bukan anjing. Aku lelaki yang setiap petang melihatmu dari jendela rumahku.”

“Jangan menggonggong terus. Nanti orang mengira aku pemilik anjing yang tidak tahu mendiamkanmu.”

Perempuan berambut jagung sebahu mondar-mandir di sepanjang pantai. Ia menemukan seutas tali, lalu mengikatkannya pada lehermu. Kamu meronta. Namun pegangannya sangat kuat. Teringat cerita dongeng tentang kisah syal tenun bergambar tokek. Barangkali cerita itu benar. Dan kamu pemilik syal titipan itu.

“Mari kita pulang.”

Perempuan berambut jagung sebahu menarik tali. Tubuhmu terseret. Di jendela, ibumu berdiri sambil meneriakkan namamu. Ia akan menyuruhmu mencicipi kue brownies yang rasanya bagai ban motor gosong. Ibumu tak akan mengenalmu. Kamu sudah berubah menjadi seekor anjing pudel. [*]






===================
Dody Wardy Manalu. Lahir di kota Barus, Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Menghabiskan masa remaja di kota Sibolga menjadi salah satu siswa di SMA Katolik di kota itu. Awal tahun 2015 mulai serius menulis. Beberapa karya fiksinya pernah dimuat di beberapa media.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here