Kita Adalah Sepasang Kesepian yang Terluka

Aku cuaca berkabung
Di rintik gerimis
Jalan basah menangis
Raut kenangan murung

Matahari sore redup
Jantung yang berdegup
Kau kehangatan yang tak berhenti menjadi api
Aku kesedihan yang lupa caranya untuk mati

Rindu menulis kepedihannya sendiri
Hari tiba-tiba menjadi kenelangsaan panjang
Pagi menaruh lukanya pada air mata
Aku terbangun dengan kesedihan yang masih sama
Mengingat jejak jalan tapi lupa
Jika kita adalah sepasang kesepian yang terluka

Purwokerto 2021




Tempat Berkali-kali untuk Kecewa

Hujan adalah api merah yang menyamar menjadi air
sampai benar-benar ke sungsum paling dingin
bekas jejak kaki, lumpur kering yang menempel di ujung celana sekolah
bau mendung dan rerumputan di lapangan metafora

Buku-buku menjadi basah
kata-kata meluber menjadi tinta yang minta dituliskan kembali menjadi kata-kata
mencium harum buku, apakah seperti mencium harum kematian?

Kehampaan seperti apapun
kehilangan seperti apapun
tidak bisa menghapus jejak hujan
aroma yang menguar menjelang terang

di sore hari bulan November, matahari turun begitu pelan
bagai meteor yang kehilangan gravitasinya
ia aurora yang menyamar senja
tempat berkali-kali rindu untuk kecewa

Bengkel Idiotlogis, 30 Oktober 2019-2021




Akar Rumput dan Amarah

Tiap tragedi berjabat tangan dengan kematian
Ia merindukan air mata
Keluar dari rahim seorang ibu yang iba

Pohon-pohon ranggas
Akarnya seperti cinta yang tak sampai
Batu-batu bicara dengan aliran sungai
Sungai-sungai ikut mengering dan menangis

Kota-kota ikut bersekutu dan berseteru
Ia mencabik segala akar rumput kering yang ringkih
Rumput memang tak memiliki darah, tapi mereka memiliki cukup amarah
Menyeret kematian dalam api pembakaran

Ia berseru hujan, kepada kematian alam
Kepada malapetaka yang dititipkan
Sebagai sebuah kutukan dosa
Air bah sebentar lagi terjaga

Purbadana, 30 Oktober 2019-2021




Yang Sebentar Mendekat

Hidup ini rapuh
Serapuh sayap kupu-kupu yang koyak dan jatuh
Ia mencoba terbang untuk mengabarkan
Perihal kedatangan, kepergian, dan kehilangan

Ia berkelindan menjadi kabar duka cita
Ketika kata-kata hanya menjadi kabut tipis di depan kesedihan
Kematian begitu dekat, tapi seringkali kita lupa untuk mengingat
Bunga kamboja kuning luruh, tepat di jantung makam
yang bertahun-tahun tak pernah kita singgahi

Apakah doa memiliki bentuk dan warna
Seperti gelombang transversal ataupun longitudinal
Saat gemanya menghujam ke jantungmu sampai bergetar ke
Jantungku yang telah lama tercerabut oleh kehilangan dan kesedihan yang panjang.

29 April 2021




Aku Mencintai Cuaca Mendung di Sepanjang Jalan Tol

Aku mencintai cuaca mendung di sepanjang jalan tol
Hujan rintik, kenangan basah, angin dingin meniup tengkuk
Ia datang menulis nasib pada setitik gerimis yang jatuh menyentuh rambutmu
Aku mencintai senja di jalan tol selepas hujan reda
Warna langit menjadi jingga, sebelum kemudian berubah menjadi biru keungu-unguan
Hitam pekat, menjadi malam

Jalan Tol, 29 April 2021




Kekalahan Demi Kekalahan

Kekalahan demi kekalahan yang diterima dalam hidup
Semacam nasib buruk yang ditelan mentah-mentah dengan mata tertutup
Nelangsa, rekasa, terjungkal, terjerembab, terjatuh
Seperti langkah bayi yang baru saja belajar melangkah

Di peluk ibu segalanya menjadi terang, menjadi bening
Menjadi kesejukan, keteduhan murni yang paling hening
Maka segala kenelangsaan dan penderitaan
Seharusnya tak menjadi soal untuk tetap bisa  dirayakan

Selama dekap ibu membekas di tubuh kita
Usap tangan dan doa yang menyembuhkan luka
Sambil terus mengumpulkan harapan yang utuh
Tempat jiwa kering dan ringkih berteduh

Purwokerto, 2020-2021




Di Bawah Pohon Kastanye

Aku terbaring di tengah hutan, di bawah pohon Kastanye yang akarnya menjulang di atas tanah, seperti otot yang keras kekar dan tak terpatahkan. Di tengah hutan, danau berair bening penuh dengan kenangan dan ingatan orang-orang yang dirindukan. Kasih sayang mengalir tenang, riak airnya bergelombang dan menciptakan wajah-wajah penuh sukacita. Angin semilir berhembus dari pintu firdaus menyentuh wajahku yang kering, dan tak secemerlang orang-orang yang berputar mencintai nasib dan kesunyiannya masing-masing.

Di bawah pohon kastanye, rumput-rumput dan umut tumbuh subur dan lembut. Seperti kehalusan telapak kaki ibu yang berjalan menempuh ketulusan tak berujung pangkal.

Sebuah buku di tangan, dibaca dengan segenap rasa santai yang tersisa dari kehidupan sibuk manusia. Kini bukankah hidup begitu aneh, yang singkat yang dikejar, yang abadi lalu ditinggalkan

Tapi di pangkuan kekasih segala luka sembuh, segala yang patah tumbuh, dan segala yang menyakitkan luruh. Di pangkuan kekasih segalanya menjadi begitu bening, begitu hening. Kedamaian yang didapatkan dari pertapaan panjang seribu tahun perjalanan musim.

Kerinduan itu menciptakan fatamorgana yang mengerikan, detik terakhir waktu, ujung pulau, laut yang kalut kematian yang menutup. Keindahan kemudian mengubah orang-orang menjadi pemabuk.

Daun-daun pohon kastanye gugur di malam hari, tanpa cahaya, tanpa nyala, tanpa jeda, matahari hanya menjadi misteri, dan tak pernah benar-benar menjadi inti hidup yang begitu pendek.

Segala entitas kelembutan, keindahan, bisa menjadi buruk di hadapan cakar misteri yang paling rahasia, aku, kekasih, buku, pohon kastanye, semilir angin, danau yang bening. Adalah catatan-catatan yang dibuat oleh seorang lelaki yang selalu bernasib buruk, dan selalu kalah dalam berbagai bentuk cinta yang paling menyakitkan dan membusuk.

Purwokerto 2021



Kata-kata

Bagaimana kata-kata lahir dari ketiadaan, semua berawal dari kekosongan kebisuan, ketidak tahuan, yang tak terbatas, ketiadaan. Lalu ada kembali tiada, ada lalu mengada, megada-ngada, lalu hilang, ditinggalkan menjadi semacam omong kosong, dan pergi tanpa meninggalkan jejak tentang yang hidup, yang bergeming, menetap dan menolak untuk berpaling

Kata-kata dibentuk dari sekian ribu rasa rindu, cemburu, deigunakan dalam peperangan, perdamaian, kejujuran, kebohongan, pembantaian, cinta kasih. Kata-kata adalah iblis, adalah malaikat, adalah apa yang terucap adalah apa yang tak terucap, adalah yang terbatas adalah yang tak mengenal batas. Lalu titik. Tak ada yang mesti dituliskan menjadi rahasia dari sesuatu yang entah dan indah

Di sekeliling nestapa menjadi bunyi dan kata indah hanya menjadi selogan bagi orang-orang yang sedih, kini kita hanya menjadi orang asing di dunia asing, dengan wajah asing kebiasaan asing, dan bahasa asing, tapi bukankah di sini kata-kata masih tetap menjadi petunjuk bagi orang-orang yang tersesat yang hidup dengan isyarat? Dan mati meninggalkan nama? Dan nama adalah kata-kata yang berumur pendek.

Jangan-jangan hidup ini adalah mimpi, dan mimpi adalah hidup yang sesungguhnya. Sore hari menjadi murung apa yang membuat orang-orang bahagia, selain anggur dan setangkup roti tanpa penyedap rasa dan micin. Aku kehilangan diriku sendiri saat mencari diri yang lain yang tak mencari diriku sendiri, lalu untuk apa kita dipertemukan dengan bentuk-bentuk kesedihan, kesedihan tanpa mau belajar dan terus mabuk memuncratkan kata-kata dengan kematian yang terkutuk.

Tanpa bisa memberikan jawaban di akhir hidup dan kelak saat ditanya oleh malaikat, kita hanya diam tak bisa berkata-kata, berbohong pun percuma dan kata-kata yang dulunya tak bisa berkata-katalah yang mewakili kita menuju kepada-Nya?

Purwokerto, 2021





==================
Juli Prasetya adalah penulis puisi, esai, dan cerpen. Sekarang sedang berproses di Bengkel Idiotlogis asuhan Cepung. Kini ia bermukim di Desa Purbadana, Kembaran, Banyumas.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here