Judul Buku   : The Midnight Library
Penulis      : Matt Haig
Penerjemah   : Dharmawati
Penerbit     : Gramedia
Cetakan      : Pertama, 2021
Tebal Buku   : 368 halaman 
ISBN         : 978-602-064-932-0 

*

“Tidak bisakah kau langsung saja memberiku kehidupan yang kau tahu bagus?”
Nora Seed kepada Mrs. Elm.

*

SEPERTINYA tidak ada kehidupan yang benar-benar bagus, kecuali tafsir dan pilihan diambil setiap orang selama jangka (panjang) hidupnya. Novel The Midnight Library (2021) garapan Matt Haig mendapat penghargaan-pengakuan Goodreads Choice Awards 2020 Best Fiction kemungkinan karena menempatkan tema sangat relevan hari ini: kesehatan mental. Berlatar di kota kecil Bedford, Amerika, melalui tokoh utama seorang perempuan lajang berusia 35 tahun—Nora Seed—biang masalah yang mengganggu peredaran mental berkisar pada impian, asmara, hubungan keluarga, ataupun keberadaan diri.

Ketika Nora Seed memutuskan bunuh diri, ia tidak langsung mati. Nora berada di Perpustakaan Tengah Malam sebagai ambang kehidupan dan kematian. Sejak remaja perpustakaan memang menjadi ruang yang secara emosional dan signifikan menaungi hari-hari Nora. Penjaga perpustakaan sekolah masa SMA bernama Mrs. Elm hadir sebagai pembimbing. Dalam masa krisis di kehidupan akar Nora, Mrs.Elm tetap seseorang yang penting.

Perpustakaan Tengah Malam ibarat ruang transit menawarkan kemungkinan (buku) kehidupan yang belum Nora ambil dan bagaimana ia ingin hidup. Nora bisa mencoba menjadi glasiolog, vokalis, istri dan ibu, atlet, atau sekadar hal kecil menjadi teman baik bagi Voltaire, kucing peliharaannya. Setiap kali Nora merasa kecewa lagi sama persis di kehidupan akarnya, ia akan kembali ke Perpustakaan Tengah Malam. Percobaan menawarkan kebalikan dari isi Buku Penyesalan yang dimiliki Nora, “Aku belum menjadi atlet renang Olimpiade. Aku belum menjadi glasiolog. Aku belum menjadi istri Dan. Aku belum menjadi ibu. Aku belum menjadi vokalis The Labyrinths. Aku belum belum berhasil menjadi orang yang betul-betul baik hati ataupun bahagia. Aku belum berhasil mengurus Voltaire” (hlm. 47).

Setiap kehidupan yang dicoba atau setiap diri Nora di kehidupan lain ibarat buku. Matt Haig tidak menggunakan buku “orang lain” atau semacam tokoh hebat di dunia untuk dimasuki Nora. Nora dengan pelbagai kegagalan-kekecewaan di kehidupan asal, bisa menemukan diri yang sukses di kehidupan lain. Begini, “Kalau kau betul-betul sangat ingin menjalani kehidupan, kau tidak perlu cemas. Kau akan tetap berada di sana seolah-olah selama ini kau berada di sana. Karena di dalam satu semesta kau memang selalu berada di sana. Buku ini, katakanlah, takkan pernah dikembalikan. Buku ini lama-lama bukan lagi dipinjamkan, melainkan dihadiahkan. Begitu kau memutuskan kau menginginkan kehidupan itu, betul-betul menginginkannya, maka semua yang ada di dalam kepalamu, termasuk Perpustakaan Tengah Malam ini, akhirnya akan menjadi kenangan yang sangat samar dan tidak teraba hingga takkan ada di sana sama sekali” (hlm. 59).  

Namun, setiap kehidupan yang dicoba tetap saja setidaknya memiliki satu benih menanamkan kesedihan mental; kematian, obat depresi, ketidakpuasan pada asmara, ambisi orangtua kepada anak, penyakit, atau popularitas manipulatif. Kehidupan yang tidak diambil Nora seolah dengan sukses berkamuflase menjadi kebahagiaan. Yang klise untuk diingat, tidak ada kehidupan tanpa penderitaan!

Gangguan mental dalam banyak hal adalah efek jangka panjang. Nora mengalami, termasuk di lingkungan keluarga atau sekolah. Ada keresahan (identitas) di masa remaja, “Nora memikirkan masa lalunya. Kombinasi pemalu dan dikenal luas saat ia remaja dulu merupakan campuran bermasalah, tapi ia tidak pernah dirundung, mungkin karena semua orang kenal kakaknya, Joe, meskipun tidak pernah betul-betul tangguh, selalu dianggap keren dan cukup populer hingga adik kandungnya kebal terhadap tiran di halaman sekolah. Ia memenangi lomba-lomba di tingkat lokal, lalu kejuaraan-kejuaraan nasional, tetapi sewaktu mencapai umur lima belas tahun, ia kewalahan. Berenang setiap hari, meter demi meter demi meter” (hlm. 117).

(Selalu) Penderitaan

Sebagai anak, Nora tidak merasa bebas mengendalikan impiannya. Keinginan ayah melihat Nora sukses sebagai atlet renang, lebih terasa sebagai ambisi dari kegagalan ayah Nora di masa lalu. “Tapi yang betul-betul tidak dipahaminya pada umur lima belas tahun adalah seburuk apa penyesalan itu, dan seberapa besar sakit hati yang dirasakan ayahnya karena berada sedekat itu dengan realisasi mimpi pria itu hingga hampir bisa ia sentuh. […] Sejak cedera ligamen yang menghancurkan karier rugbinya, ayah Nora sangat yakin semesta menentangnya. Nora, setidaknya itulah yang ia sendiri rasakan, dianggap ayahnya sebagai bagian rencana semesta yang sama” (hlm. 118).

Bahkan di kehidupan lain yang dikira Nora bebas dari depresi dan kekecewaan, ia tetap menghadapi masalah bertumpuk. Kebahagiaan yang mencuat ke permukaan, selalu menyimpan penderitaan di dasarnya. Misalnya saat mencoba kehidupan sebagai vokalis sukses, musibah tetap berlimpah; sengketa-sengketa palsu, kasus pengadilan, isu-isu hak cipta, hubungan yang berantakan dengan Ryan Bailey, penerimaan pasar untuk album terakhir, rehabilitasi, dan yang paling berat kematian Joe, kakak Nora, karena overdosis.

Freda L. Paltiel, koordinator Kanada pertama untuk Status Wanita dan pernah menjadi anggota Executive Subcommittee on Women, Health, and Development Pan Amerika, di tulisan “Kesehatan Jiwa Wanita: Suatu Perspektif Global” (dihimpun-diterjemahkan dalam buku Kesehatan Wanita: Sebuah Perspektif Global, UGM Press, 1997), depresi rentan dialami perempuan dalam pelbagai latar geografi-ekonomi, status sosial, dan usia. Ini bukan saja masalah di negara-negara Dunia Ketiga dengan ciri kemiskinan dan kultur patriarki yang kuat, tapi juga di negara maju. Asosiasi Psikologi Amerika tentang Masalah Depresi Wanita misalnya, melakukan penelitian, kondisi kejiwaan perempuan terkait dengan persoalan reproduksi, pembagian peran atau kerja, lingkungan sosial. Kemiskinan, penyakit jasmani, hubungan keluarga, lingkungan kerja, diskriminasi, kekerasan seksual, dan situasi psikologis karena kehilangan atau kematian menciptakan ketegangan dan trauma. Pelayanan kesehatan jiwa lebih sering menempatkan perempuan sebagai pasien.   

The Midnight Library bisa dinikmati sambil menyantap biji-bijian organik atau burger vegan, menanam harapan di tengah perubahan iklim, bersyukur untuk setiap hal kecil—kucing peliharaan misalnya. Penyesalan yang dituntaskan adalah bukti implisit untuk terus mencintai diri sendiri. Inilah pesan kesehatan mental bagi manusia modern bahwa hidup harus disyukuri seperti dipesankan Matt Haig melalui tokoh Nora Seed. Bahkan pada kehidupan akar paling remuk dan gagal sekalipun, ke sanalah Nora kembali. Seolah, percobaan pada (kemungkinan) hidup yang dalam kenyataan tidak pernah diambil hanya ujian untuk menerima, mensyukuri, berdamai dengan penderitaan, mencintai diri sendiri, dan mengikis setiap penyesalan yang mengganggu mental diri. Pertobatan menuju happy ending dipilih Nora.





==============
Setyaningsih, esais dan penulis Kitab Cerita (2019). Tinggal di Boyolali.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here