Rumah Baru

Sepuluh menit perjalan kutempuh untuk sampai di rumah baru yang kubeli sebulan setelah pernikahanku dengan Devi. Bau cat lawas seketika menyeruak ketika kubuka pintu. Aku buru-buru merebahkan badan ke sofa. Devi ikut menenggelamkan tubuhnya setelah menggaet bantal kecil.

“Akhirnya kita bisa membeli rumah,” ucapnya sambil memejamkan mata.

Kami diam sesaat untuk menikmati atmosfir yang baru. Lalu, aku tak sengaja melihat sehelai rambut di atas bantal kecil yang Devi peluk.

“Ada rambut.”

“Ah, padahal aku telah mencoba produk baru untuk mencegah rambut rontok, tapi hasilnya sama saja. Dasar penipu!” rutuknya. Matanya masih tertutup seolah tak peduli.

Aku perhatikan lagi bantal itu. Ada beberapa helai rambut yang membuatku merebut bantal itu dari Devi.

“Hey!”

Aku menarik sehelai benang yang mencuat dan tiba-tiba rambut hitam berhamburan dari dalam bantal itu. Bantal itu penuh terisi dengan rambut. Kami saling bertatapan.

Aku langsung menggeser tempat duduk dan tak sengaja memegang ujung sofa yang mengelupas. Kulit sofa itu terasa dingin dan lembek. Tanganku jadi berlendir.

Aku segera menelepon polisi untuk memastikan bahwa rumah kami aman. Namun, polisi itu membawa kesimpulan yang lain.

“Rambut dan kulit sofa ini adalah bagian tubuh wanita malang korban pembunuhan seorang suami psikopat yang telah lama jadi buronan,” jelasnya.

Mendadak kepalaku pusing.[]





Malam Purnama

Malam purnama adalah waktu yang sangat rawan. Pada malam itu, para peternak di kampungku sering kehilangan hewan ternaknya. Hal itu membuat mereka resah dan memutuskan untuk membunuh siapa pun itu yang telah mencuri ternak-ternaknya.

Ada yang mengatakan bahwa yang mencuri ternak-ternak itu adalah seekor serigala. Ada juga yang menuduh vampir. Sedangkan Mamat, temanku, bersaksi bahwa yang membunuh ternaknya adalah siluman ular. Pasalnya, ia menemukan sisik ular berukuran jumbo di samping kandang kambingnya.

Malam itu, para penduduk desa sepakat untuk beronda sambil membawa parang, obor, dan golok. Kami berkeliling dari sudut ke sudut, memastikan tidak ada pencurian hewan ternak  kala itu.

Malam makin larut dan penduduk desa merasa kelelahan. “Aku rasa malam ini aman. Kita pulang saja,” ucap salah satu warga. Kami setuju.

Namun, sebelum pulang, saat purnama mencapai puncaknya yang terang, badanku mendadak gatal, perutku sakit, dan wajahku terasa amat panas. Aku segera berlari pulang, tetapi Mamat, tanpa kuminta mengikutiku.

“Kenapa buru-buru? Ayolah kita minum dulu,” ajaknya.

Aku menyeringai, kemudian membalik badan. Tiba-tiba Mamat jatuh tersungkur dan gemetaran. Kulihat ketakutan yang amat dalam di matanya ketika Mamat melihat separuh wajahku bersisik dan lidahku yang bercabang dua. Mamat lari lintang-pukang ketika aku, tanpa sadar, menunjukkan taring runcingku. Akulah siluman ular itu.[]





Hujan Sore Itu

Hujan turun sangat lebat menjelang sore. Perempuan tua itu buru-buru menutup jendela agar tempias tidak masuk ke rumah dan membasahi gorden. Di luar, langit sangat gelap. Kilat yang mengerjap dan gelegar petir menambah suasana sore itu makin menakutkan.

Ketika hendak menutup gorden, ia tak sengaja melihat seorang anak kecil sedang duduk mencangkung di depan teras rumahnya. Ia terlihat sangat kedinginan.

“Nak?” ucapnya setelah membuka pintu. Anak itu menoleh dengan ekspresi datar dan bibir pucat nyaris membiru. Mendadak anak itu bangkit dan berlari ke dalam rumah. Perempuan itu bingung.

“Akhirnya,” ucapnya sambil membanting badan ke sofa.

“Aku sangat kedinginan. Bisakah kauambilkan aku handuk dan segelas teh?”

Perempuan itu makin bingung dengan tingkahnya yang semena-mena. Namun, perempuan itu bergegas mengambil apa yang ia minta.

“Di mana rumahmu, Nak?”

“Mmm, tak tahu.”

“Orang tuamu? Ah, orang tuamu pasti cemas. Kau harus segera pulang.”

“Tidak, tidak. Dia tidak mungkin mencariku. Setelah dipikir-pikir, aku ingin tinggal di sini saja bersamamu.”

“Tunjukkan jalannya. Aku akan mengantarmu pulang.”

“Tidak mau! Eh, bolehkah kuminta segelas teh lagi?”

Perempuan tua yang kebingungan itu segera pergi untuk menemui Pak dan Bu RT.

“Tolonglah bawa anak itu ke rumah orang tuanya. Aku seorang janda enam puluh tahun yang sudah tak punya anak. Aku hanya ingin hidup tenang.” Perempuan itu memohon sambil menangis.

Namun, ketika Pak dan Bu RT melihat ke dalam rumah perempuan itu, mereka tidak melihat siapa-siapa di sana. Rumah itu kosong. Hanya ada segelas teh yang tinggal separuh.

“Maaf, Bu. Tapi tidak ada siapa-siapa di rumahmu.”

Perempuan itu bingung. Ia mencari anak itu ke sepenjuru rumah, tetapi ia tidak ada. Lalu, Pak dan Bu RT pulang. Hujan berhenti tepat pukul enam sore.

“Bolehkah kuminta segelas teh lagi, Bu?” ucap anak itu yang berdiri tepat di belakangnya.

Perempuan itu menatap penuh takut. Melihat mata kecil itu, ia ingat anaknya yang hilang saat banjir dua puluh tahun yang lalu.[]





Couch Potato

Pete duduk di sofa dengan remot dan popcorn di tangannya. Ia terkenal sebagai seorang pemalas. Badannya gemuk atau lebih pantas disebut dengan obesitas. Ia pula jarang berolahraga. Teman-temannya menyebut Pete dengan julukan Couch Potato.

Kebiasaan joroknya itu makin parah ketika ia harus bekerja dari rumah. Ia makan di atas kasur. Remah-remah roti berserakan di mana-mana. Di kolong ranjangnya, sampah sisa bungkus makanan menggunung. Tak pernah terbesit di benak Pete untuk membersihkannya.

Pete jarang mandi sebab aktivitas dalam rumah membuatnya tak mengeluarkan keringat. Baginya, mandi tak terlalu jadi prioritas. Hingga datang waktu ketika ia menghadapi rasa sakit yang luar biasa di telinga kirinya. Awalnya, hanya terasa gatal, tetapi lambat laun seperti ada yang merayap di dalam telinganya. Namun, Pete tidak terlalu mempermasalahkan itu dan untuk mengusir rasa geli, ia mengorek telinganya dengan cotton bud.

Pete masih saja menjadi orang pemalas hingga di suatu pagi, ia bangun dengan pandangan mata kabur. Telinganya berdenging dan ramai seperti cericit burung gereja. Ia panik dan memutuskan untuk menemui seorang otolaryngologist.

Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Pete merasakan sakit yang amat luar biasa di telinganya. Mata sebelah kiri sudah tidak bisa melihat. Pete buru-buru melaju kencang dan segera menuju ruangan yang telah ia pesan.

“Tolong periksa telingaku! Rasanya sakit sekali.”

Sejurus kemudian, dokter mengambil alat semacam lampu sorot berukuran kecil. Ketika hendak memeriksa telinga Pete, seekor kecoak kecil keluar dari dalam telinganya. Dokter itu terkesiap, tetapi ia tetap menjaga attitude dengan pasien. Lalu, beberapa kecoak kecil keluar lagi, keluar, dan terus keluar dari telinga Pete.

Pete menjeritkan rasa sakit yang teramat sangat. Seketika, kecoak berhamburan ke dinding, gorden, dan lantai. Dokter itu berlari ke luar ruangaan. Di kursinya, Pete sudah tak sadarkan diri. Separuh syaraf-syaraf di kepalanya telah lenyap disantap sekawanan kecoak.[]

2021





===================
Firman Fadilah tinggal di Lampung. Karya-karyanya termuat di Negara kertas.com, KBM Soloraya, Lampung News, Harian Bhirawa, Kawaca.com, takanta.id, toknyong.com, Radar Kediri, dan berbagai buku antologi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here