Kelana

kau tidak mencatat siapa yang datang dan pergi sepanjang
malam-hari. kau lupa menyebut-nyebut siapa yang bermukim
dan masih tinggal di tengah desa dengan pohon kering beruban
semua enggan tinggal setelah rumah tidak lagi menyenangkan
tapi, kau masih lupa menghitung setiap yang datang dan pergi, di luar
orang-orang memilih meninggalkan rumahnya sendiri
“tanah makin gersang, laut sudah tidak perawan”
kau juga membalikkan badan

lama-lama kita juga akan pergi, melambaikan tangan
lalu mengucap selamat tinggal kepada halaman
tidak lagi dapat melihat tegalan yang penuh kacang
sawah-sawah dengan padi menantang amuk matahari
tidak ada lagi
tidak ada lagi!

aku juga akan mendatangimu di kota-kota
yang sarat dengan permainan bahasa dan kata-kata
seumpama ditantang untuk meninggalkan bahasa ibu
meninggalkan periuk, tungku, serta kayu setengah kering
sebab di kota segalanya nyaris tersedia.

Sumenep, 2021





Seumpama Kita Menanam Pohon

seumpama kita menanam pohon lagi, mirip kakek-nenek
dahulu ketika mendudukkan bibit-bibit sebagai pengusir
polusi dan udara yang mulai bertepuk lancang
seumpama kita menanam pohon dan menyadari
bahwa paru-paru bumi sudah tidak baik setiap hari
sering sesak nafas dan butuh pertolongan
sementara, nyaris sepanjang malam satu-dua pohon
dirobohkan.

seumpama kita menanam pohon—dan pohon
ditanam oleh tangan-tangan kita yang halus
dirawat dengan doa leluhur paling manjur
berharap, bumi tidak lagi sesak nafas dan udara
tidak lagi gusar di atas wuwungan rumah

tetapi, kita tidak pernah benar menanam pohon
rencana-rencana tercatat dengan rapi di buku
setiap hari dilihat dan terus berangan-angan
;seumpama kita menanam pohon di halaman
dan burung-burung berpindah dari dahan
ke dahan

Sumenep, 2021





Menatap Yogya

aku akan kembali ketika keadaan tidak lagi mencekam
dan sakit tidak lagi tertinggal nyeri di badan
kita akan bertemu lalu beradu pandang, sebab semua
kepergian hanya kepadamu tempat ‘ku berpulang.
ketika pagi terjaga dan kokok ayam memancing
mata untuk selalu terbuka, tidak ada kau di sisi
tidak dapat kutatap engkau lagi
makanya, besok aku kembali ketika dada tidak
lagi nyeri dan bumi kembali riuh lagi

ini seperti bulan sepi, dari madura menatap yogya
seperti anak yang terusir dari rumah orang tuanya
betapa keasingan ini sangat merajalela
di setiap inci dari pori-pori kepala
padahal, di sana sudah kubangun rumah yang setiap
sudutnya penuh buku-buku, disesaki kenangan
lama yang juga tidak tahu siapa pemiliknya

ini mirip tahun berjarak, berbulan-bulan
kita berpisah dan tak langsung bertatap mata
seperti ada sepi yang asing atau ramai yang
masih malu-malu di telinga

Sumenep, 2021





Tirakat Api

nyaris setiap malam mulai meninggi dan matahari
memasuki lubang kecil di arah barat, selalu kunyalakan
api di halaman dengan ranting dan batang kayu
setengah kering. merah menyala-nyala, matahari
seperti terlahir kembali di tengah pusar api
‘seperti matahari yang masih kanak-kanak
umpama matahari yang baru belajar menyala

hewan-hewan buas, penyakit-penyakit ganas
menjauhlah! menjauhlah!
ini kobar api gesit sekali, sekali tubuh kalian
mendekat hangus terbakar sampai sekarat
ini juga kobar penawar sepi, di halaman
rumah dengan pagar bambu meninggi.

merahnya warna merah, meski panas
yang tidak seberapa. tapi gelap berhasil
diilumat oleh lidahnya yang menjilat-jilat
di tengah pusar api, doaku mendesis
;hewan-hewan buas, penyakit-penyakit ganas
menjauhlah!
menjauhlah!

Sumenep, 2021




Keramaian di Kepala

hampir sepanjang malam keramaian terus berpusing di kepala
seperti suara berdesing-desing atau suara yang tidak pernah kukenali
namun sangat menyibukkan sekali. aku bisa mengandaikan suara itu
berasal dari derap kuda yang berlarian dari selatan ke utara
atau kalau ‘kau masih bingung, suara-suara di kepala
mirip dengan kaki sapi tanpa sepatu yang terus menginjak
punggung tanah.

ramai sekali ini kepala, obat-obat dari dokter tidak satu pun mempan
barangkali pasar berpindah ke kepala
barangkali pertempuran rumah tangga terjadi di kepala
—dan beberapa kemungkinan lainnya

tetapi kau bisa rasakan kepala yang hanya dipenuhi
oleh ringkik kuda, oleh semacam lolongan serigala
kepalaku sudah nyaris menyerupai hutan rimbun
segala keramaian satwa-satwa tersimpan di dalamnya

duh! ini kepala tidak pernah kutahu apa maunya
hewan-hewan ganas dan pendiam meminta-minta apa
agar keramaian tidak lagi tercipta, agar sakit
tidak lagi memukul-mukulkan tangannya

Sumenep, 2021






=================
Moh. Rofqil Bazikh pegiat literasi dan berdomisili di Garawiksa Institute Yogyakarta. Anggitannya telah tersebar di pelbagai media cetak dan online antara lain; Tempo, Kedaulatan Rakyat, Tribun Jateng, Minggu Pagi, Bali Pos, Suara Merdeka, Banjarmasin Post, Galeri Buku Jakarta, Magrib.id, Litera.co, dll.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here