Judul Buku   : Jalan Pulang dan Omong Kosong yang Menunggu Selesai
Penulis      : Hari Niskala
Penerbit     : Rua Aksara
Cetakan      : Pertama, 2021
Tebal Buku   : vi + 358 halaman 
ISBN         : 978-602-53388-2-3 

ALANGKAH menyebalkan jika kita dipertemukan dengan narasi yang rumit sepanjang sebelas bab, lalu dikejutkan dengan perubahan sudut pandang secara ekstrim di bab berikutnya.

Hal demikian saya peroleh manakala membaca novel ini. Kesan ciut, geram, haru, waswas, takjub, kagum, dan miris berkelindan mengekor dalam narasi yang dibangun dari awal hingga akhir. Semula saya menduga, judul yang dituliskan akan mengisahkan seorang yang merantau jauh dan akhirnya tak pulang sama sekali. Namun kemudian narasi-narasi di novel ini menggiring saya melihat hal baru, yakni tentang seorang lelaki yang dengan bijaknya mengambil keputusan pelik. Demi mempertanggungjawabkan pembunuhan yang dilakukannya, tanpa melibatkan keluarga kecilnya, ia kemudian “berpura-pura” merantau.

Beriringan dengan hal tersebut di atas, penulis kemudian mengambil sudut pandang orang pertama, yakni tokoh Aku, untuk mengantar pembaca pada narasi lebih intim. Nyatanya Aku memang lebih banyak bercerita, sesekali menjadi narator yang sok kuat namun lebih banyak tenggelam dalam melankoli. Aku adalah anak dari seorang lelaki yang katanya merantau tersebut, yang mengangankan kehidupan ideal yang selama ini tak dimilikinya.

Aku adalah pribadi pemurung, mungkin juga misterius. Aku mengetahui hal-hal personal tentang tokoh Juki alias Kambang, Sopiah, Mbok Sri, Haji Sami’un, Mandor Nasir, Rukin, Rosmia, Nandini, Yudo Basundoro, dan Pranoto. Aku ingin merangkul tokoh-tokoh itu untuk sekadar membaurkan diri atau menemukan pengertian universal tentang kehidupan ideal. Kehidupan ideal—barangkali—hanya omong kosong, namun penulis ingin menjejalkan “omong kosong” lain dalam porsi lebih banyak tanpa ada maksud membikin bosan pembaca.

Pada bab 2 dan 3 Aku ditampakkan sebagai remaja berusia empat belas tahun. Ia tak lupa bagaimana mesti berjalan kaki beberapa kilometer demi memperoleh sinyal seluler, menanggung lapar di pos ronda, hingga tak pulang berhari-hari—semata-mata demi menuruti harapan, siapa tahu, ayahnya yang di tanah rantau akan memberi kabar. Sialnya harapan itu tak pernah terwujud, maka Aku yang telah bersabar selama bertahun-tahun harus mengakhiri “penantian melompong” itu. Di dua bab itu juga Aku mengenang penyebab kepergian ayahnya dengan cara dramatis. Sementara di bab 4 dan 5 ada gambaran masa muda tokoh Mbok Sri sebelum memutuskan pindah dari kota ke kampung pesisir.

Bab 6, 7 dan 8 boleh disebut sebagai fase peralihan nan ajaib. Aku yang merupakan remaja sekolah berbicara banyak tentang antipati pada sekolah (bab 6), entah mengapa, menemukan penyulut pembenarannya (bab 7) sebelum makin bulat membenci sekolah yang baginya tak lebih dari “kurungan” (bab 8). Pada bab 8 juga pembaca akan menemukan sedikit sempalan cerita tentang narapidana, di mana si narapidana akan dijelaskan di bab berikutnya sebagai tokoh Juki alias Kambang, ayah tokoh Aku. Di sini aku juga bertemu dengan tokoh Rukin, sosok penyair yang digambarkan dekil dan urakan. Rukin adalah jenis manusia yang banyak berkutat dengan lembar dan pena, yang dianggap membuka kesadaran tokoh Aku akan makna kehidupan. Di bagian mendekati pamungkas, penyair dekil itulah yang rupanya berbalik mengisahkan Aku dengan pelbagai kemungkinan hidup hingga kemungkinan mati.

Bab 9 jadi titik pertemuan ganjil antara Aku dengan tokoh Nandini, gadis manis dari kota Plat N yang memungkinkannya terpikat sejak pandangan pertama. Asmaraloka, demikianlah biasa disebut. Aku mengagumi Nandini sedemikian rupa sebagai pribadi paling naif, sementara sempalan cerita mengenai si narapidana masih menyelinap secara tiba-tiba di bab ini. Di bab 10 tokoh Pranoto, sahabat baik tokoh Aku, digambarkan mati oleh suatu kecelakaan kerja: tertimpa bongkahan marmer. Barangkali melalui kejadian itu penulis hendak menyisipkan satu kritik tentang sisi kekejaman kapitalisme.  

Kesedihan kehilangan sosok sahabat, kisah cinta yang makin mekar, dan keputusasaan tokoh narapidana berjalin membentuk narasi kian rumit. Rukin bersedia membantu Aku membalas dendam akan kematian Pranoto dan ayah Nandini yang memutuskan bunuh diri(tidak dengan cara yang pernah dilakukan  Ernest Hemingway) menambah keruh narasi yang dibangun. Meski keruh, tak berarti jalinan narasi tersebut tak bisa dinikmati. Sedikit suasana mencekam dan penuh bau darah di bab 10 dan 11—barangkali—adalah satu hal, dan kemungkinan Aku membalas dendam pada pabrik yang membikin Pranoto tertimpa marmer adalah hal lain. Dua bab ini mungkin adalah sisi paling mengaduk emosi, namun rupanya penulis belum puas dengan “adukan” demikian. Bab 12 yang merupakan bab pamungkas nyatanya memberi “adukan” lebih besar.

Pembaca yang tak siap menerima kejutan mungkin akan mengernyitkan dahi dan mengira bab 12 hanyalah racauan yang perlu dituruti. Namun, bagaimanapun bab 12 adalah bab penghabisan. Pembaca harus menghabiskannya kendati sudut pandang “direbut” oleh sesuatu yang bahkan tak terlihat dan teraba. Bab 12 adalah milik “waktu”, demikian yang saya pahami. Tokoh Aku yang sempat saya kira sebagai tokoh utama hanya boleh disebut sebagai “si tokoh yang sempat memakai sudut pandang orang pertama” di bab ini. Ia masih tak bernama, harus berjalan jauh demi mencari pendonor darah golongan B, dan sesekali merindukan Nandini kala berada di dalam bus. Di sisi lain, tokoh narapidana diceritakan mulai dapat menghirup udara bebas. Ia bertekad menempuh jalan kaki untuk pulang ke kampungnya: kampung pesisir. Tempuhan jalan kaki itu tak mulus. Juki alias Kambang harus berurusan dengan beberapa preman sebelum dijatuhi beban psikis yang nyata-nyata lebih besar daripada sekadar kekasaran preman.

Sekali lagi, novel ini benar-benar mengisahkan dimensi kehidupan yang sangat kompleks. Pembaca diajak untuk berkelana menyusuri ruang dengan alur maju-mundurnya, juga tokoh yang misterius. Pembaca harus menemukan teka-teki itu, untuk akhirnya menemukan jalan pulang, meski pada akhirnya takkan selesai, hanya menunggu. Dari novel ini mungkin kita bisa belajar dengan cara mendalami semesta tokoh-tokohnya.

Pelbagai kekurangan teknis (typo, kesalahan ejaan, dll) mungkin sedikit mengganggu, namun pembaca tentu masih dapat menikmati jalinan cerita di dalamnya. Narasi patriarkal yang sesekali muncul mungkin juga agak mengganggu, namun tak lantas jadi alasan pembaca perempuan menghentikan kegiatan membacanya. Dan terlepas dari kekurangan-kekurangan tersebut, novel ini mencoba menghadirkan (atau: menyinggung) muatan lain yang mungkin bisa menambah wawasan, mulai kredo-kredo terselubung tentang Filsafat; lirik-lirik lagu dari musisi adiluhung tanah air (Iwan Fals, Kla Project, Tony Q, Chrisye dan Waljinah); cerita pewayangan; nama-nama kritikus musik (Taufiq Rahman dan Nuran Wibisono); juga satu puisi dari pemuda asal Banyuwangi.

Dan akhirnya, Aku adalah milik para pembaca. Sudut pandang orang pertama yang berubah drastis pada bab terakhir menghendaki semua orang memiliki pandangan demikian. Seorang Guru Besar di salah satu universitas Yogyakarta yang saya setujui pendapatnya pernah berkata “Seringkali kita menganggap bahwa aku di dalam karya sastra adalah aku penulis. Padahal, aku itu bisa saja tidak menunjuk kepada pribadi tertentu, termasuk penulisnya, melainkan aku yang sifatnya kolektif atau transendental. Karena perasaan aku sebagai pribadi sudah menyatu dengan aku besar masyarakatnya bahkan aku besar kemanusiaan.”

Demikianlah, saya kira, Hari Niskala mencoba untuk menggugat segala ke’aku’an yang ada dalam diri pembaca, juga manusia pada umumnya. Tak ada “aku” mutlak pada manusia, sebab nyatanya “waktu” bisa mencerabutnya begitu saja. Dan di atas itu, di atas “aku” dan “waktu”, Anda tahu ada siapa.





================
Ummi Ulfatus Syahriyah
, mahasiswi yang sedang nyaman berada di rumah peraduan, LPM DIMeNSI dan CRIS (Center for Research and Islamic Studies). Karya bukunya yang pernah diterbitkan berupa novel berjudul “ Sepucuk Surat untuk Negeri Yaman” dan “Alila, Alalo, Alexandria.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here