Ular

Seekor ular macan melata
Seperti kilat yang lambat. Seperti
Sulur air selokan
Melintasi bebatuan
Menyentuh rumputan

Dari mana saja,
Kawan lama, saudara jauh,
Seperti potongan dahan atau
Kebenaran akan rasa malu
Sebab berganti kulit?

Ular-ular seperti sebaris
Puisi: angin beku
Tengah hari,
Menegakkan bulu roma, hingga rontok

”Kebanyakan orang takkan tinggal
Bersama ular dalam rumah.”
Tikus-tikus melarikan diri. Tengoklah  
Kolong kursimu; kemudian
Catatkan:

Ular itu laksana tetesan air membeku!





Ulinda

Adalah sebuah telur bebek sehijau langit malam
Ikan trout berenang-renang dalam bak. Jalanan jadi putih
Dan mengecil laksana denyaran cahaya keresahan
Dan pucat biru pegunungan. Dan parit di pekarangan mengering
Dan penuh kerikil. Kakek bertanya mengapa?
Adalah isyarat berlekuk. Janggutnya jatuh ke dalam piring.
”Susu, Kek. Gula, Kek.” ”Kini
Aku tak bisa menyantapnya.” Dan kedip mata paling biru itu
Seperti telur bebek. Kami hanya bermain-main,
Tapi ibu meninggalkan meja; maka kami pun terus.
Suatu petang mereka menyembelih babi dan aku mendengar jeritannya
Aku menutup telingaku tapi tetap nyaring jeritan itu. ”Kenapa?”
Tanya mereka. ”Ini hanya mimpi.” Dan aku bernyanyi dalam mimpiku:
”Kakek sekarat. Dia akan mati.” Aku bernyanyi.





TanganTangan Hijau

Aku membaringkan punggung di dalam gua
Mempelajari tangan-tangan orang mati
Berwarna tinta oker
Pada langitlangitnya yang berasap—
Tangan langsing yang panjang
Dan tangan mungil kanak-kanak.
Di bawah sinar pagi ini
Lewat antena yang bergantung
Ada dua tangan di layar
Hijau berlumut.
Satu tangan tanpa kelingking.





Dari Stasion Pusat

Bulan menggantung di udara
Ketika sepuluh lebih sepuluh:
Bapak terjaga
Dan aku mengingkarinya

Bapak melangkah ke depan
Kemudian berhenti dan berbincang
Dengan lelaki-lelaki bertopi yang tertawa.
Dia memberi mereka hadiah.

Kereta itu menggelinding meninggalkanku
Bertumpukan peti seperti bata di dalamnya:
Asap dan peluit menjerit
Dan aku berusia enampuluh-lima

Rumah-rumah melintasi taman-taman,
Jalan-jalan berlarian suntuk dan lelah:
Malam tiba-tiba menjadi semisal
Harapan dan rasa takut yang tua

Kereta di jalannya
Tiba waktu bekerja,
Letakkan bapa dalam peti
Dan beringsutlah dia di gelap itu.





Ibu dan Anak Perempuan

Gadis bengis yang pernah kita cintai
Berusia empat-puluh lebih,
Anak-anak perempuan yang tak kentara
Telah mencuri kecantikannya

Dan dengan tatapannya yang murung
Keheranan yang hampa,
Mereka mencibir kegelisahan ibu-ibu mereka
Yang tampak di mata-mata mereka





Kucing dan Tikus

Matanya yang hijau menguning. Ini
Musim bebas. Di labirin kaca
Pasangan kekasih bermain kucing-kucingan
Kucing yang elok! Memesona dengan bulunya
Cakar-cakarnya yang runcing
Kerutan di dahinya.
Air matanya menetes laksana pir merah
Dia menggaruki batang pohon-pohon dan mendengkur
Dan demikian parau suaranya
Sedangkan ia memilah-milah diamnya
Di manapun? Seekor tikus sabana
Memandangi cengkeramnya
Jauhkan dari benakmu!





Harry Pearce

Aku duduk di sebelah lembu merah
Dan mengunyah sejumput rumput pahit
Dan kulihat bentangan khayalan
Sebuah pedati lewat
Si Harry Pearce tua bersama kelompoknya.
“Lalat-lalat buruk,” kukatakan padanya.

Deraan bagi pemimpin, sungguh
Menenangkanku mendengar si tua Harry bersumpah,
Dan di teriknya siang itu tampak
Lembunya melenggang di udara
Bergelantungan di langit senja
Mereka mengangkut wol menuju Gundagai.

Dia berjalan melintasi Waktu di daratan itu,
Dan lelaki tua berjalan di udara
Bertahun-tahun keluyuran di kepalaku;
Dan kini dia menginap di situ
Dan mungkin masih menggembala lembunya
Ketika sang Waktu telah menguasai kehendaknya.





Menuju Utara

Duhai, Bill dan Joe telah pergi ke utara
Mengenakan kemeja hijau
Tak banyak biri-biri dan anak-anaknya
Sepanjang jalanan Kokoda

Tak banyak biri-biri dan anak-anaknya,
Tapi para lelaki berbaris
Seperti domba-domba sepanjang gunung itu
Berjalan hingga keringat bercucuran;

Dan tiap setengah-jam mereka bergantian,
Meski tak pernah aku mengerti
Dimanakah pastinya perut buncit itu
Tertembak, di gunung itu, kemudian mati

Hanya domba-domba yang berkumpul di sana
Yang terlintas di benakku
Semestinyalah ketika berhenti
Berganti kemeja hijau jadi putih.

Dan meskipun Bill mimpi berbondong-bondong kini
Di daratan yang sedang paceklik
Ada baiknya tersenyum
Dan berdo’a memohon hujan.

Mereka tak lagi kekurangan air di sana
Tapi masih ada ingatan yang menyengat
Karena lelaki-lelaki yang mati
Di sepanjang jalan Kokoda.






===============
David Campbell
 adalah penyair Australia yang cukup produktif. Buku-buku puisinya yang pernah diterbitkan antara lain: Selected Poems (1978) dan The Man in The Honeysuckle (1979). “Ular”, “Ulinda”, “Dari Stasion Pusat” dan “Tangan-Tangan Hijau” dibahasa-indonesiakan dari Buku Two Centuries of Australian Poetry (ed. O’Connor, 1988), sedangkan “Ibu dan Anak Perempuan”, “Harry Pearce”, “Kucing dan Tikus”, dan “Menuju Utara” dibahasa-indonesiakan dari portal Poemhunter.com

Acep Utsman Arifin, lahir dan tumbuh di Bandung; alumnus Fakultas Satra Universitas Padjadjaran; menulis sajak, cerpen dan esai, dan menerjemah, juga menulis dalam Basa Sunda dan Bahasa Inggris. Beberapa karya dimuat di Harian Pikiran Rakyat, Inilah Koran, Majalah Sunda Cupumanik, Majalah Risalah, Majalah Bina Da’wah, beberapa media online seperti bewarajabar.com dan ngaderes.com, dan beberapa buletin sastra. Buku Kumpulan Puisi pertama bertajuk “Ibadah Semut” diterbitkan tahun 2016 (Wahana Iptek Bandung).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here