SAAT melihat Uno tertawa bersama Cantika di pasar malam, dan bagaimana keceriaan keduanya ketika menaiki komedi putar, di bawah kaki mereka, tepat di pagar pembatas area permainan, Malau seakan sadar, bahwa lelaki itu tidak pernah diciptakan untuknya. Matanya memandang ke atas, mengikuti ke mana tubuh Uno bergerak, dengan berkaca-kaca. Seolah hendak bertanya kepada Tuhan, benarkah lelaki ini tidak tercipta untuknya? Benarkah dia tak bisa memilikinya? Sekali saja tidak bisakah Uno mencintainya?

Selama ini telah ia hujani lelaki itu dengan perhatian-perhatian lembut. Setiap kali tubuhnya letih, jemari Malau ada untuk memijitnya. Tak sekali dua kali pula, Malau datang siang-siang ke kantor Uno untuk mengantar bekal. Persis seperti sepasang kekasih atau seorang istri kepada suami. Bahkan Malau selalu ada dalam segala momen yang dilewati Uno. Yang begitu membekas, ialah ketika kematian ayah Uno. Malau melihat Uno, seorang pria yang begitu tangguh, menangis hingga memukul-mukul apa saja yang ada di sekitarnya. Saat seperti itulah, Malau ada untuk menadahi tangis Uno. Hanya Malau yang bisa menenangkan Uno.

“Aku ingin engkau tahu, aku selalu hadir dan menemanimu,” tutur Malau di masa-masa duka itu.

Uno tersenyum, lalu merengkuh Malau dengan segenap jiwanya. Seolah ia adalah separuh napas yang tak boleh dilepas.

“Perhatikan,” ucap Uno berbisik di telinga Malau, “dan dengarkan aku selalu.”

Malau membelai punggung Uno, mengusir hawa dingin dini hari yang menyerang teras rumah, sekaligus membagi cinta. Sementara orang-orang telah tertidur lelap. Kelelahan dalam menyiapkan selamatan kematian ayah Uno, atau beberapa kewalahan dihajar sungkawa yang berat.

Sebelum Uno meminta pun, telah lama Malau memperhatikan dan mendengarkannya. Malau ada meski hanya untuk mendengarkan napas Uno. Serta pembicaraan-pembicaraan tak berarti lainnya, perihal pagi yang dingin tanpa kopi atau senja yang murung di lereng gunung.

Begitulah maka ia, pada suatu hari harus mendengarkan ceracauan-ceracauan Uno yang meledak-ledak tentang seorang gadis yang ditemuinya di taman wisata. Katanya gadis itu memiliki kaki yang jenjang dan mata sipit dengan ujung mencuat ke atas. Juga Uno menjelaskan begitu dramatis bila gadis tersebut berambut seperti Layla, kekasih Majnun; hitam kelam seperti malam.

Ketika itulah tiba-tiba Malau menarik dagu Uno. Ia memandang Uno dengan pandangan yang lain. Uno yang sejak tadi berbicara tanpa henti seketika bergeming. Segalanya menjadi sunyi dalam sekejap. Ruang tengah rumah Malau itu seolah tertelan menuju dimensi lain.

“Apakah kau tak pernah melihatku?” tanya Malau.

Uno memandang keheranan. “Apa, sih, Mal? Maksud kamu apa?” tukas Uno sambil menghalau tangan Malau.

“Boleh aku berbicara sesuatu padamu?” Malau menunduk. Ia begitu lain, pikir Uno.

“Ada apa, sih, Mal?” Uno tampak sangat penasaran. “Kita sudah bersahabat dari lama dan baru kali ini aku melihatmu begitu aneh. Katakan saja! Biasanya juga apa-apa langsung bilang.”

“Tapi aku berharap ini tak akan mengubah apa pun di antara kita.”

“Emang ada apa, sih? Apa? Bilang!”

Uno mencondongkan badan pada Malau dan memasang baik-baik telinganya. Persis seorang ibu yang hendak mendengar anaknya berceloteh.

“Apakah selama ini kau tidak tahu bahwa aku memiliki perasaan yang lain terhadapmu?” Malau menatap dalam mata Uno.

“Perasaan lain? Perasaan macam apa?” Uno mengerutkan dahi.

“Perasaan lebih dari sekadar sahabat, Un ….”

Uno tertegun sejenak. Matanya balas memeriksa pupil-pupil mata Malau yang terhubung langsung ke hati. Uno menangkis pikirannya sendiri. Lalu dia mulai tertawa, bahkan terbahak-bahak. Melihat reaksinya, Malau mendengus kesal. Ia sedang tidak bercanda. Dan itu bukanlah waktu yang tepat untuk tertawa.

“Kenapa tertawa?”

“Mal! Mal, haha,” Uno masih terbahak-bahak, “kita … kita dari bayi pun sudah bersahabat. Dari orok, Mal! Sampai sekarang pun kita bersahabat. Cuma kamu orang yang paling mengerti aku di dunia ini selain ibuku. Semua orang tahu itu! Gak mungkin kamu bisa cinta aku, Mal! Gak mungkin! Hahaha.”

“Tapi kenyataannya seperti itu, Un! Aku serius! Aku punya perasaan lebih dari sahabat ke kamu!”

Uno berhenti tertawa. Ia cukup mengenal Malau untuk memahami bahwa ia sedang tidak berkelakar. Matanya membelalak seakan tak percaya, atau memang ia tak ingin percaya. Pasalnya selama ini Uno benar-benar menganggap Malau hanya sebagai sahabat dekat yang selamanya akan menjadi sahabat. Persahabatan mereka terlalu kental untuk diubah menjadi cinta.

Malau duduk tegang melihat Uno yang terperangah. Perasaannya berganti antara tak mau kehilangan ia sebagai sahabat dan dorongan ingin memilikinya sepenuhnya. Sementara Uno tampak tak bisa menerima keadaan yang dianggapnya konyol ini. Sahabat yang berubah menjadi cinta? Hah? Maka tiba-tiba ia berdiri dan lari keluar rumah. Malau panik dan mengejarnya sambil berteriak memanggil. Namun Uno sudah melesat begitu jauh seperti orang dikejar anjing.

Perasaan Malau bercampur aduk. Ia pun tahu seperti apa perasaan Uno kepadanya. Perasaan yang tidak sama seperti perasaannya kepada Uno. Ia pun terperenyak di teras dan menangis di sana dengan perasaan tercabik-cabik, dengan hati yang tinggal setengah, dibawa lari begitu saja oleh Uno ….

Berminggu-minggu kemudian mereka tidak pernah bertemu. Malau mengurung diri di rumah. Uno pun tak pernah datang. Malau sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi, misal Uno tak ingin menemuinya lagi, atau dibenci seumur hidup olehnya. Perasaan Malau sudah terlalu kacau saat ini.

Akan tetapi, tiba-tiba saja pada suatu hari yang cerah, Uno datang seperti biasa, langsung masuk ruang tengah. Ia menyalakan televisi dan menonton seperti itu rumahnya sendiri. Ia hadir seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Ia masih sama seperti dulu. Dan ia biasa saja. Malau pun menyambut selayaknya dulu. Membikinkan secangkir teh, menata toples berisi kue-kue di hadapannya, lalu duduk di sebelahnya. Biasanya obrolan muncul tiba-tiba sekenanya. Tetapi kali ini tidak ada yang mereka bicarakan. Mereka saling diam satu sama lain sampai sebuah sinetron tamat ditonton. Barulah setelah itu Uno bersuara.

“Malau,” katanya, “aku tidak ingin terjadi apa-apa di antara kita. Tetaplah menjadi Malau yang kukenal. Aku pun tetap Uno yang dahulu. Jangan terbawa perasaan. Aku tidak pernah ingin melukaimu.”

Mendengar itu Malau hanya mengangguk. Ia menyetujui semua perkataan Uno meski hatinya sangat berat. Betapa cinta bertepuk sebelah tangan tak pernah mudah diterima. Beginikah rasanya hidup setengah mati?

Beberapa bulan kemudian Uno berkencan dengan perempuan yang belakangan dikenalnya sebagai Cantika. Kencan perdana mereka mengunjungi pasar malam yang penuh arena permainan. Malau sedang di sana mengantar adik sepupunya bermain. Tak sengaja ia melihat mereka.

Cantika adalah gadis yang senang menjejali ponsel Uno dengan pesan-pesan posesif. Setiap waktu Uno harus memberinya kabar. Sedang di mana ia, bersama siapa, apa yang mereka lakukan, dan lain-lain. Perempuan itu juga mudah curiga kepada teman wanita Uno. Sehingga sering kali ia melarang Uno dekat-dekat dengan teman wanitanya (kecuali Malau karena hubungan keluarga Uno dan Malau telah terjalin begitu erat.) Uno harus menjaga jarak dan mulai mirip pria kesepian yang lebih banyak menghindari perempuan. Selain itu, pernah suatu kali Uno telat menghadiri rapat hanya karena mengurusi Cantika dengan segala kecurigaannya. Yang bisa dilakukan perempuan itu hanya mengomel, curiga, marah-marah, cemburu, lalu menangis. Uno sempat dibuatnya begitu stres. Namun setiap kali Cantika menitikkan air mata, Uno selalu luluh dan menjadi pria yang begitu sabar dan pengertian.

Malau tersenyum tipis setiap mendengar ocehan Uno tentang kekasihnya itu. Malau telah melakukan yang terbaik untuk Uno. Ia selalu membebaskan Uno melakukan apa pun dan bahkan mendukung jika itu memang hal baik. Ia menjadi perempuan sabar yang selalu ada untuk Uno. Tapi nyatanya semua itu tidak cukup untuk membuat Uno jatuh cinta. Bahkan jikalau Malau mempunyai sepuluh kali kebaikan dan kesabaran yang sama, rasanya belum cukup untuk menembus hati Uno. Sebab cinta benar tak bisa dipaksa.

“Jatuh cinta adalah wahyu. Kita hanya bisa menunggu kapan Tuhan menjatuhkannya. Dan tak pernah kita tahu, akan turun kepada siapa cinta di antara seluruh umat di muka bumi,” tutur Malau pada suatu malam yang hening, kepada dirinya sendiri.

Semenjak Uno semakin dekat dengan Cantika, Malau berusaha sekuat tenaga menjaga perasaannya. Betapa ia harus menutupi binar matanya yang berubah menjadi lebih cerlang ketika Uno datang. Bagaimana ia menahan senyuman yang seharusnya amat lebar ketika disebutkan nama Uno. Ia ingin menjadi wajar-wajar saja, selayaknya sahabat yang tak memiliki rasa. Sebisa mungkin ia bendung perasaannya yang berlebih. Maka tatkala dilihatnya Uno tertawa lepas, ia palingkan muka sebab tak kuasa menahan pesonanya. Ketika Uno begitu manja, ia pura-pura dingin dan tak peduli. Malau terus menjaga jarak karena ia tak mau tenggelam begitu dalam menuju cinta.

Lebih dari semua itu, hanya satu yang membuat Malau begitu terpukul. Di suatu sore yang muram, Uno datang membawa sebuah lembaran. Berwarna merah muda dengan beberapa baris kalimat sederhana di dalamnya. Uno menyerahkannya dengan sumringah. Sedangkan Malau menerimanya dengan sisa ketegaran yang ada.

Tidak lama lagi, pada hari yang telah terpilih, Uno akan melangsungkan pernikahan dengan gadis pujaannya. Cantika, perempuan pemarah yang seperti putri dalam dongeng di mata Uno.

“Akhirnya kalian menikah,” ucap Malau sambil menunjukkan raut bahagia.

“Udah lama, Mal, aku menantikan hari ini! Sekarang aku benar-benar akan menikahinya!” kata Uno membara.

“Selamat, ya, sahabatku!” Malau memeluk Uno dan membelai punggungnya.

“Ya, udah, aku pergi dulu. Banyak yang harus kupersiapkan untuk pernikahanku nanti. Aku harus fitting kemeja pengantin.”

“Dah, Uno!”

Malau melihat Uno berlalu begitu cepat seakan tak ingin terlambat sedetik saja. Secepat itu pula senyum Malau terenggut dan seketika ia menangis histeris. Kepura-puraan luar biasa baru saja ia lakukan. Sekarang hanya ada luka yang menganga lebar di dadanya. Harus ia lepas lelaki terkasih di hatinya selama-lamanya.

Bersama air mata yang jatuh ke bumi, Malau berkata dalam hati, “Kerelaan yang paling tinggi bukan ketika engkau melepaskan kekasih, melainkan kesediaanmu sendiri untuk memupuskan perasaan seperti daun di musim gugur. Sesungguhnya manusia tak pernah bisa merelakan dirinya sendiri.”

Malau menangis hingga petang tiba dan malam datang. Air matanya masih mengalir deras selama tiga puluh hari setelahnya. Selanjutnya saat ia sudah kehabisan air mata, ia merasakan betapa cintanya masih sebasah lautan.

Pada hari yang ditentukan, Malau datang mengenakan kebaya hijau muda dengan mulut rendah, menampakkan belahan dadanya yang padat. Di pusat ruangan, dengan dekorasi yang meriah, Uno berdiri bersama perempuan yang dicintainya. Tersenyum dengan senyuman yang paling indah. Tak pernah Malau melihat Uno sebahagia itu. Sebaliknya Malau tak pernah menderita sebagaimana ia menderita sekarang.

“Gila. Harusnya aku berbahagia di hari kebahagiaan sahabatku. Mengapa aku malah menangis?” gumam Malau dalam hati sembari menghapus air matanya yang jatuh begitu saja.

Malau mengulurkan tangan dan memberi selamat kepada kedua mempelai yang setahun sudah melewati masa penjajakan. Ia juga mencium pipi kanan dan kiri Cantika, memeluknya, dan mendoakan kebahagiaannya. Diremasnya jemari Cantika dengan hangat dan ditatap lembut matanya.

“Tak lain tak bukan, kau memang patut dicemburui, bunga hati Uno,” ujar Malau dalam hati.

Puas memandang pengantin ayu itu penuh ketabahan, Malau tersenyum. Mereka berpose sejenak selanjutnya, di depan seorang fotografer. Benar-benar seperti seseorang tanpa cinta. Perempuan pandai sangat menutup derita. Padahal di dalam sana, ia hancur lebur tak kentara.

Sepulang dari acara perkawinan Uno dan Cantika, Malau mengemas barangnya dalam koper. Ia memandang sendu ke sudut-sudut kamar. Memperhatikan satu per satu barang yang akan ditinggalkannya. Saat melewati dapur, ruang tengah, ruang tamu, juga halaman, ia teringat segala hal yang pernah dilakukannya bersama Uno. Kenangan-kenangan itu segera ia telan dengan pahit. Kini di sana, di ranjang pelangi bulan madu, Uno telah memiliki seorang wanita yang menjadi segalanya. Maka ia tak boleh lagi ada. Malau tak boleh lagi ada untuk Uno. Ia harus berhenti. Ia tak perlu berjuang lagi. Perjuangan sudah usai. Semua telah tamat.

“Aku ingin membenci pria itu,” katanya pada angin dan jalanan lengang, ”bahkan aku sudah berusaha membencinya seribu kali! Tetapi cinta selalu menghalangi ….”

Setelah berpamitan kepada semua orang, kecuali Uno, Malau pergi dengan patah hati. Ia akan mengunjungi tanah-tanah terasing dan tak kembali. Betapa pun sakit hari ini, biar bagaimana ia harus tetap hidup esok lagi. Itulah makna kepergiannya; bertahan. Membuka lembaran baru, mencari kehidupan baru, di tanah yang jauh dari masa lalu. Walau tak pernah ia tahu, siapa kelak yang bakal meminang kesunyian di dadanya dan menyembuhkan segala luka. Namun, berikhtiar adalah doa dan wajib daripada harus merana dalam keputusasaan cinta. Malau ingin pergi dan melupakan segala yang terjadi. Sudah sempurna segala deritanya kini dan harus segera diakhiri.

Sehari setelah kepergian Malau, Uno memaki-maki siapa saja yang ada di hadapannya, sebab tak ada satu pun dari mereka yang mengabarinya perihal kepergian Malau. Padahal ia dan Malau telah begitu dekat sejak kecil. Dan untuk urusan seperti ini, mengapa Malau tak memberitahunya? Uno bertanya-tanya setengah marah. Bahkan ia belum sempat mengucapkan selamat tinggal. Sesuatu terasa hilang. Pikirannya merambat ke belakang. Teringat masa-masa senang dan duka sepanjang hidupnya. Perempuan yang pergi itu, pernah ada dalam hampir seluruh peristiwa penting kehidupan Uno. Celaka, ia malah kehilangan orang yang paling berharga tersebut.

Uno agak frustasi setelah itu. Hingga menjelang petang ia tak henti-henti menghubungi Malau. Tentu hasilnya percuma. Tak ada satu pun telepon yang diangkat atau pesan yang berbalas. Mungkin Malau sudah mengganti nomor telepon. Jadilah Uno duduk-duduk di halaman belakang rumah sambil memandang sayu mentari yang mengantuk ingin tidur. Tangan kirinya mengapit rokok. Sedang tangan kanannya sesekali mengangkat cangkir kopi. Ia menunduk dalam. Mencoba menyembunyikan mata yang sembab dari semburat jingga yang penasaran menyorot mukanya. Terasa api berkobar, membakar dadanya dengan rasa kehilangan.

“Sedalam apa aku telah menyakiti hatinya?” tanya Uno lirih pada diri sendiri bersamaan tetes air mata yang satu-satu jatuh. “Sebab kini hatiku pun tak kalah sakit!”

Kehilangan Malau adalah kehilangan separuh raga.

“Bagaimana seseorang yang tak tergantikan dapat pergi begitu saja?” ratapnya. “Oh, Malau… di mana engkau? Kaubuat terbelah dua hatiku!”

Mentari lelap. Tersisa gelap. Uno terus meratap.


Sintang, 30 September 2021





======================
Reka DRamadani, lahir di Malang. 11 Desember 1999. Perempuan yang cintanya telah ditolak berkali-kali. Kini berdomisili di Sintang, Kalimantan Barat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here