KETIKA hujan reda setelah turun begitu derasnya selama dua hari, kota dipenuhi kolam-kolam kecil berwarna coklat yang bertebaran di mana-mana. Kolam-kolam sedalam mata kaki yang membuat anak-anak perlu melepas sepatu saat mereka berjalan dengan enggan ke sekolah. Di sepanjang saluran pembuangan yang mengapit jalan, berbagai macam benda bekas mengapung seperti meminta diselamatkan. Kau bisa melihat botol soda, mangkuk mi siap saji, kotak susu, kulit permen, bungkus makanan ringan, dan hal-hal lain yang ingin dilupakan.

Pada waktunya, semua kekacauan itu akan tiba di laut. Dalam perjalanan panjangnya, mereka akan menjadi serpihan yang sangat… sangat… sangat kecil… sampai tak dikenali lagi, dimakan oleh ikan-ikan yang nasibnya berakhir di jala nelayan, tiba di atas piring sebagai ikan panggang, dan daging lezat beserta serpih kecil itu memasuki perut orang-orang tanpa perlawanan.

Di suatu taman kota, Lati menjengukkan kepala dengan lega ke atas tanah. Lehernya meliuk ke sana kemari, seperti mencari-cari. Ia menggeliat perlahan di antara tanah berlumpur, rumput basah, dan daun-daun gugur. Saat udara lembab begini adalah waktu yang tepat meninggalkan liang. Pagi berawan selepas hujan memberinya kesempatan untuk keluar tanpa takut tersengat matahari.

Ia seekor cacing kecil, dan akan selalu terlihat kecil walaupun ia mampu melahap makanan sebanyak mungkin dengan kecepatan mengagumkan. Ia tampak seperti tali karet berwarna merah pucat kecoklatan yang dapat memanjang maupun memendek sesuai keperluan. Kedua ujung tubuhnya meruncing, dengan ujung ekor lebih tumpul dari kepala. Garis-garis yang ia miliki hampir serupa cincin yang menempel satu sama lain. Serangkai cincin yang hidup dan berdenyut-denyut.

Namun bukan berarti karena penampilannya tak menarik, cuma makan tanah dan daun-daun mati yang tak seorang pun menginginkannya lagi, maka hidupnya akan jauh dari bahaya.

Sewaktu ia berusaha mengatasi hamparan rumput liar di taman itu, terdengar kaok burung yang mengancam membuatnya gemetar. Kepak sayap mendesing ke arahnya. Ia tidak punya gigi yang bisa menggigit, tidak punya cakar untuk melawan balik, dan lari tampaknya bukan pilihan. Tapi ia punya lendir yang membantunya menembus tanah lebih cepat. Hanya saja, sebelum seluruh tubuhnya masuk ke dalam lubang, sepasang paruh tajam burung itu telanjur menjepit ekornya.

Lati bertahan sekuat jangkar kapal tertancap di dasar samudra. Namun burung itu menariknya kuat sekali. Aduh! Ekornya terlepas! Si burung segera terbang bersama ekor Lati di paruhnya.

Lati tidak menangis. Ia malah tertawa geli. “Hahaha… Burung nakal itu pasti berpikir sudah mendapatkanku, tapi lihatlah… Aku masih selamat dan ekor ini kelak akan tumbuh lagi.”

Biasanya ia memang hanya mondar-mandir di dunia gelap bawah tanah, sebab itulah ia tak memerlukan mata. Ia juga tak punya telinga. Bagaimanapun, ia dapat merasakan cahaya dan gelombang suara melalui kulitnya yang sangat peka. Ia begitu senang mendengar daun-daun mahoni kering bergesekan saat angin bertiup lembut, derak ranting patah yang terinjak, juga tap tap langkah kaki manusia yang menjadi lebih ramai setiap akhir pekan.

Tapi yang paling ia suka dari semua itu adalah mendengar percakapan akar-akar pohon tentang bagaimana langit menjadi semakin biru ketika matahari semakin terang, bagaimana daun-daun hijau menguning sebelum rontok, bagaimana awan menjadi merah setiap senja, abu-abu ketika mendung, dan setengah lingkaran besar penuh warna di langit yang disebut pelangi.

Ia tak yakin seperti apa semua warna itu, tapi ia senang mengetahui bahwa di dunia ini ada pula hal-hal selain kegelapan. Hal-hal yang berharga untuk ditemukan. Dengan keyakinan seperti itu, maka ia beranikan diri muncul ke permukaan, bertekad meneruskan tugas bangsa cacing yang diwariskan turun-temurun hingga sampai kepadanya: mencari Nin.

Beberapa minggu kemudian, buntutnya telah tumbuh kembali walau belum sepanjang sebelumnya. Ia siap mencoba lagi. Sebelum pergi, ia meninggalkan setumpuk kotoran di atas liangnya sebagai tanda jika nanti ia ingin pulang. Kali ini ia merayap lebih hati-hati. Ia terkejut saat mendengar seseorang berbicara.

“Siapa di situ?” Suaranya terdengar seperti ketukan gerimis pagi. Tenang, perlahan, dan sedikit murung.

Sejenak Lati tidak tahu apa yang mesti ia katakan. Ia bahkan sulit percaya jika pertanyaan itu ditujukan padanya. Tapi ia pikir alangkah baik jika punya teman di atas sini, mungkin bisa membantunya mencari petunjuk.

“Ini aku, Lati.” Seketika ia merasa konyol telah menyebutkan namanya dengan cara seperti itu, seolah-olah ia dikenal.

“Ah… Aku hampir membuatmu jadi gepeng,” Sira meminta maaf lalu berjongkok rendah sehingga ia bisa mendengar si cacing lebih jelas.

“Kadang itu tak bisa dihindari,” kata Lati setuju.

Ia beringsut dari bawah telapak kaki Sira. Tidak seperti anak-anak sekolah yang hampir tiap hari bersepatu, sepanjang hidupnya Sira tak begitu sering mengenakan kemewahan itu. Keluarganya bekerja mengumpulkan barang yang telah selesai digunakan orang lain, dan apa yang mereka hasilkan hanya cukup agar tidur mereka tidak diganggu rasa lapar. Kadangkala Sira menemukan sepatu yang tidak lagi dibutuhkan pemiliknya, itupun tidak selalu pas.

“Aku sedang mencari Nin. Apakah kau tahu di mana dia?” tanya Lati.

“Nin?” Sira mengulang untuk memastikan.

“Yah.. bisa dikatakan bahwa gadis itu adalah nenek moyang para cacing.”

Kedua alis Sira berkerut. Omongan cacing ini membingungkan.

“Akan kuceritakan padamu sebuah kisah. Mau dengar?” tanya Lati.

“Boleh saja. Tapi sebelumnya, kita harus mencari tempat lain, sebab aku akan capek mendengar ceritamu sambil berjongkok.” Sira mengangkat Lati dan merasakan cacing itu menggeliat di telapak tangan kirinya. “Kukira kau ini sangat licin, ternyata tidak juga ya?”

“Kau pikir bagaimana aku dapat bergerak? Aku punya rambut yang sangat kecil di hampir seluruh bagian tubuhku.”

“Aku tidak melihat apa-apa,” tukas Sira menilai hasil pengamatannya.

“Tidak terlihat bukan berarti tidak ada, bukan? Ketika tubuhku meregang, rambut-rambut itu mencengkeram tanah dan aku bisa mendorong diriku ke depan.”

Dengan tangan sebelah kanan, anak muda itu meraih karung yang dibawanya, pindah ke bangku kayu yang masih setengah basah, lalu duduk bersandar di sana.

Lati berdehem. “Dahulu kala, ada sebuah keluarga…”

“Mengapa ceritamu harus dimulai dengan ‘dahulu kala’? Sungguh membosankan,” protes Sira.

“Dengan sangat menyesal kukatakan bahwa itu adalah cara termudah, meskipun bukan cara terbaik untuk menyampaikan cerita seperti ini,” keluh Lati. Ia melanjutkan.

Dahulu kala, ada sebuah keluarga petani tinggal di dekat hutan. Mereka  memiliki anak gadis bernama Nin yang sangat mereka sayangi. Meski baru berusia sepuluh tahun, Nin seolah tak pernah kehabisan tenaga. Ia membantu ayahnya di ladang sepanjang pagi, dan sebelum siang ia sudah di dapur menemani ibunya memasak.

Nin begitu menyukai rambutnya. Rambut itu dirawat dengan tekun dan dibiarkan tumbuh panjang melewati bahu. Setiap pagi dan malam sebelum tidur, ia menyempatkan diri bersisir. Ia kumpulkan rambut-rambut yang jatuh di dalam salah satu saku bajunya. Semakin lama, rambut itu bertambah banyak dan ia mulai khawatir sakunya tidak akan muat lagi.

“Jika saja aku punya sesuatu untuk menyimpannya,” gumam si bocah.

Peri hutan yang kebetulan lewat mendengar harapannya. Pada pagi hari, Nin kegirangan menemukan kotak kaca yang begitu indah di samping bantal. Satu keajaiban kecil telah dikerjakan selama ia tidur.

Sejak menerima hadiahnya, Nin membawa kotak itu ke mana-mana, sekalipun saat ia menyirami petak-petak ladang. Tiap sebentar, ia mengintip penuh rasa sayang pada rambut dalam kejernihan kotak kaca itu. Ia jadi repot sendiri tapi juga tak mau berpisah dengan kotaknya walau hanya sekejap. Sekarang ia punya harta yang harus dijaga.

Suatu waktu ia ada di tengah ladang, berjalan dengan kotak kaca di tangan, abai pada sulur ubi rambat yang merintangi jalan dan mengait kakinya. Tubuhnya terhuyung-huyung seiring kotak kaca itu lepas dan mendarat di atas batu dengan bunyi remuk yang menggetarkan. Nin berlutut menyesali pecahan-pecahan kecil yang berkilau ditimpa cahaya. Rambut-rambutnya berserakan diembus angin.

Ayah Nin mengusap kepala si bocah yang berduka. “Apa yang harus disyukuri bukan hanya yang datang pada kita, tapi juga semua yang pergi. Jika kotak itu tetap bersamamu, kau akan terikat padanya dan dikuasai rasa takut kehilangan.”

Nin mengangguk sambil membereskan air mata walau tak betul-betul mengerti apa kata ayahnya.

“Mungkin pemberianku terlalu berlebihan untuknya,” pikir peri hutan mengawasi bencana itu dari jauh. Ia mempertimbangkan sesuatu yang lebih sederhana. Maka ia ganti hadiahnya dengan kantong kain kecil. Setiap kali satu kantong penuh, Nin akan menguburkannya di tepi ladang. Nin sangat berterima kasih walau tak tahu dari mana kantong-kantong itu datang.

Semua kembali berjalan seperti biasa. Keluarga itu bekerja sangat keras menggemburkan tanah, namun di akhir musim hasil panen mereka tetap sedikit. Nin memeluk ayahnya dengan sedih, tak tahu apa yang kurang dari cara mereka merawat ladang.

Sang peri yang rajin mengunjungi si gadis kecil berpikir hendak memberinya hadiah yang lebih berguna. Peri itu terbang menghadap kepada dewa hutan dan memohon satu lagi keajaiban bagi Nin.

Di dalam kegelapan tanah, rambut-rambutnya mulai menggeliat. Makhluk-makhluk itu membuat terowongan yang rumit dan berliku-liku, membuka semacam jendela bagi air dan udara agar mudah diserap oleh akar tanaman. Seiring waktu, tanaman di ladang keluarga Nin menjadi lebih rimbun, buah dan umbi lebih besar, dan sayuran terlihat amat segarnya. Panen-panen terbaik dirayakan setiap tahun dengan sukacita, dan Nin tidak akan pernah tahu bahwa rambutnya telah hidup, membantunya bekerja tanpa ia sadari.

Sementara cacing-cacing menyibukkan diri, tahun-tahun terus berganti. Nin tumbuh menjadi seorang gadis yang sebenarnya, bukan lagi bocah kecil yang lalu-lalang menyirami ladang. Kemudian, pada suatu hari ketika hujan baru saja berhenti, seseorang membawa dia pergi dan tak pernah kembali.

“Itu sebabnya kami muncul untuk mencarinya,” Lati menutup cerita.

“Lantas apa yang kau harapkan saat bertemu dia? Bagaimana kau yakin kalau Nin masih ada, sedangkan itu terjadi sudah lama sekali… kalaupun ceritamu benar?”

“Soalnya bukan lagi Nin ada atau tidak, tapi pencarian itu sendiri, agar kami tetap punya alasan untuk terus hadir di dunia ini.”

“Kau hidup untuk mencari, sedangkan aku mencari untuk tetap hidup.” Sira tertawa sambil menepuk-nepuk karungnya. Dari dalam sana, sekejap terdengar bunyi logam yang terbentur satu sama lain.

“Suara apa itu?” Lati penasaran.

“Rahasiaku,” jawab Sira.

“Ayolah. Balasanmu tidak sepadan. Masa kau tega?”

“Kita tidak punya perjanjian, kan?”

“Ya, sama sekali tidak.”

Lati terdiam. Kesunyian aneh di antara mereka membuat Sira merasa bersalah. Ia berusaha menemukan sesuatu untuk dikatakan. Gerimis mulai lagi, sementara hari semakin siang.

“Baiklah, aku pergi dulu. Besok, jika kau masih ada di sekitar-sekitar sini, aku akan menemuimu dan kau akan mendapatkan apa yang ingin kau ketahui,” ujar Sira sambil meletakkan Lati di atas tanah, di dekat kaki bangku taman yang ditumbuhi lumut. Ia mengangkat karungnya ke atas pundak, meraih tongkat besi berujung bengkok yang selalu menemaninya bekerja, lalu melangkah menjauh dengan titik-titik air berjatuhan di wajahnya.

Mereka tidak akan berjumpa untuk kali kedua. Sira masih membawa cerita tentang Nin di dalam kepalanya ketika ia melintasi jalan. Ia bahkan tidak menoleh untuk melihat sebuah mobil bergegas ke arahnya dan berhenti di saat yang sudah sangat terlambat.

Maka begitulah, setiap kali hujan reda, kita akan menemukan cacing-cacing menjulurkan kepala dari dalam tanah. Mencari Nin. Tapi Lati menambahkan Sira di dalam daftarnya. Ada janji yang perlu ditagih. Cacing itu menahan diri untuk tidak lagi berbicara dengan manusia manapun sampai ada yang akan mulai menyapa, “Siapa di situ?”

==============
Mariati Atkah. Mengikuti program residensi yang diadakan oleh Rumata’ ArtSpace bekerja sama dengan British Council Indonesia pada tahun 2019. Dari program ini, terbit buku anak berjudul Tenri dan Kisah Jari-Jari. Buku puisi tunggalnya berjudul Selama Laut Masih Bergelombang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama (2020).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here