FRANS selalu muncul di balkon flat ketika senja mulai sekarat di balik gedung-gedung bertingkat Kota Hole. Sinar jingga matahari yang menerpa membuat kulitnya tampak merah tembaga. Tubuhnya yang menjulang melebihi mistar pintu semakin mempertegas bahwa ia tak seperti orang-orang pada umumnya.

“Turunlah. Apa kau tak jenuh di atas sana?” pekik James, seorang pengamen tua dari trotoar seberang jalan sembari menenteng gitar. “Lebih baik kau temani aku di sini. Kita bernyanyi!”

Frans tak menjawab ajakan James. Ia hanya tersenyum seraya menampakkan deretan gigi kuning gading sebagai bentuk penolakan secara halus atas ajakan si pengamen tua.

Sebenarnya penolakan Frans hanyalah basa-basi belaka. Apalagi beberapa kali James membawakan lagu yang membuat jari jemarinya mengetuk-ketuk pagar balkon. Namun selalu ada kekhawatiran dalam dirinya. Ia khawatir apabila kehadirannya bersama si pengamen tua justru mengundang ketakutan orang-orang. Ia sadar betul bahwa dirinya tak seperti orang kebanyakan. Ia takut orang-orang akan pergi karena telah melihat wajahnya yang buruk, lalu merusak pertunjukan James. Maka, ia memutuskan untuk tetap berada di balkon.

Namun kekhawatiran Frans mulai goyah setelah melihat sedikitnya orang-orang yang melempar koin ke dalam koper gitar James sebagai tanda apresiasi. Frans pun kembali mempertimbangkan keluar dari flat untuk menemui James. Dan segala kekhawatiran Frans benar-benar hilang setelah James mengalunkan lagu; Start spreading the news/I’m leaving today/I want to be a part of it/New York, New York/….[1]

Meski suara James terdengar parau, namun terdengar nyaman di telinga Frans. Jemari tangan Frans pun mengetuk-ketuk pagar balkon.

***

Ketika Frans memutuskan keluar flat untuk mendatangi James, lagu yang membuat jemari tangannya mengetuk-ketuk pagar balkon telah usai dinyanyikan James. Sementara si pengamen tua itu tengah duduk di sebuah bangku trotoar.

“Selamat malam, James,” sapa Frans, dengan suara yang direndahkan.

James tersenyum. “Selamat malam.”

Frans sejenak memandang ke sekeliling.

“Apa kau tak mengenalku?”

Dahi James mengerut. Dipandanginya Frans dengan sedikit mendongak. Sejurus kemudian pengamen tua itu berpaling ke arah flat. “Apa kau pria tinggi-besar yang ada di atas sana?” James menunjuk balkon flat Frans.

Frans mengangguk.

“Ya Tuhan. Hampir saja aku tak mengenalmu.”

“Aku harus berpakaian seperti ini. Agar orang-orang tak takut padaku,” jawab Frans, sembari menunjukkan pakainnya; mantel di bawah lutut, topi laken, dan kacamata hitam.

“O, begitu ya. Namaku James Lennon. Kau boleh memanggilku James.”

“Ya, aku sudah mengenalmu sejak lama. Pelintas trotoar ini tentulah sangat mengenalmu, termasuk aku. Namaku Frans.”

“Senang rasanya berkenalan denganmu, Frans.”

Frans mengangguk. “Bagaimana kabarmu hari ini, James?”

Si pengamen tua menggeleng seraya menunjukkan peti gitar berisi uang receh. “Tak begitu menggembirakan. Malam yang tak bersahabat.”

“Apa yang bisa kubantu, James? Agar peti gitarmu penuh terisi.”

“Ah, kau tak perlu repot-repot.”

“Tak ada yang direpotkan. Meski aku tak pandai bernyanyi, tapi aku yakin suaraku dapat mengalahkan suaramu yang parau itu,” ucap Frans, diiringi gelak tawa James.

“Baiklah. Kau bernyanyi, aku yang mengiringi.”

Sejurus kemudian, mereka pun berkolabirasi. Frans menyanyikan sebuah lagu lama yang kerap dinyanyikannya tatkala dirundung sepi.

Way down among Brazilians/Coffee beans grow by the billions/So they’ve got to find those extra cups to fill/They’ve got an awful lot of coffee in Brazil // You can’t get cherry soda/’cause they’ve got to fill that quota/And the way things are I’ll bet they never will/They’ve got a zillion tons of coffee in Brazil//[2]

***

Keceriaan tergambar jelas di wajah James ketika para pejalan kaki berhenti dan ikut bernyanyi. Bahkan semakin malam, orang-orang ramai berkumpul mengelilingi James dan Frans. Sesekali Frans mempersilakan orang-orang untuk melempar uang ke dalam koper gitar.

“Kau istirahatlah dulu. Ada sekaleng bir di dalam tasku di bawah bangku,” bisik James ketika jeda.

“Terima kasih, James. Aku tak haus. Ayo kita lanjutkan saja.”

Frans pun kembali bernyanyi dan James semakin bersemangat memetik gitar. Kini, kekhawatiran Frans bahwa ia tak akan diterima oleh orang-orang, berangsur-angsur sirna. Ia seolah telah menemukan kembali kebahagiaannya yang telah lama hilang. Hingga waktu perlahan menuntun orang-orang meninggalkan pertunjukan mereka.

“Aku rasa perjumpaan kita malam ini telah usai, James,” ucap Frans ketika orang terakhir yang melihat pertunjukan mereka telah pergi.

“Terima kasih Frans. Ambillah beberapa lembar uang untukmu.”

Frans menggeleng.

“Ambillah,” paksa James.

“Tidak, James. Itu hakmu. Aku bisa membantumu sudah cukup senang.”

James tersenyum. “Kutraktir kau bir ya?”

“Tidak, James. Kau tak perlu repot-repot. Aku tak minum bir.”

“Baiklah Frans. Aku tak akan memaksamu. Ah, besok malam apa kau akan datang lagi?”

“Tentu saja. Duet kita malam ini cukup sukses, bukan?”

Keesokan harinya, Frans dan James kembali berduet menyanyikan lagu-lagu nostalgia. Orang-orang kembali berkumpul mengelilingi mereka. Melempar uang kertas dan koin ke dalam koper gitar. Namun kebersamaan mereka tak berlangsung lama setelah lagu kelima. Frans memutuskan untuk menghentikan pertunjukan setelah dua senar gitar James putus secara bersamaan.

“Kau tak bawa senar cadangan, James?” tanya Frans, setelah orang-orang berlalu.

James menggeleng. “Terkadang aku berpikir akan membuang gitar tua ini. Tapi selalu aku urungkan. Bagaimanapun gitar tua ini satu-satunya sumber penghidupanku. Dari gitar tua inilah aku dapat membeli obat untuk mengendalikan sesak napasku yang setiap saat datang menyergapku.”

Frans hanya terdiam mendengar perkataan James. Namun jauh di lubuk hatinya, ia tengah memikirkan sesuatu.

***

Senja baru saja purna ketika Frans duduk di balkon flat. Matanya tak lepas dari bangku trotoar dimana beberapa malam terakhir ia berada di sana bersama James. Namun malam ini sepertinya itu tak akan terjadi. Sudah hampir satu jam Frans menunggu James dengan gelisah sembari memeluk gitar yang baru dibelinya. Pikirannya pun menghambur ke segala arah ketika memikirkan pengamen tua itu. Hingga malam terus merangkak naik, James tak juga muncul di bangku trotoar.

Pada malam ketiga selepas ketidakmunculan James, Frans melihat seorang bocah lelaki mendekap koper gitar tengah duduk di bangku trotoar. Tanpa berpikir panjang dan menunda-nunda, ia segera keluar flat untuk menemui bocah tersebut.

“Apa kau Frans?” tanya bocah lelaki, ketika Frans muncul di hadapannya.

“Benar. Bagaimana kau tahu namaku?”

“James menitipkan ini untukmu. Ia berpesan agar aku memberikan pada lelaki berbadan tinggi besar, bermantel panjang, dan bertopi laken.”

Frans mengulurkan tangannya untuk menerima koper gitar. Beberapa saat ia tertegun.

“Lalu, di manakah James sekarang?” tanya Frans, pada si bocah lelaki yang mulai berjalan menjauh.

“Dua hari yang lalu, Tuhan telah memanggilnya pulang,” jawab si bocah lelaki, tanpa menoleh sedikit pun.

Kudus, Juni 2021

Biodata

M Arif Budiman, lahir di Pemalang. Karyanya dimuat di beberapa media massa dan daring. Sekarang menetap di Kudus.


[1] Lagu New York, New York oleh Frank Sinatra
[2] Lagu The Coffee Song oleh Frank Sinatra

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here