Judul Buku : Sebuah Rumah di Bawah Menara
Penulis : Tjak S. Parlan
Penerbit : Rua Aksara
Cetakan : Pertama, Mei, 2020
Tebal Buku : 160 Halaman
ISBN : 978-623-7258-58-2

ENAM BELAS cerita pendek dalam buku kumpulan cerpen karya Tjak S. Parlan Sebuah Rumah di Bawah Menara (2020)menghimpun tokoh-tokoh yang sebagian besar berada di posisi terpinggirkan. Mereka terkucil dari masyarakat, tetap berada di jalannya meski tahu akan menanggung risiko yang berat. Melalui tuturan yang didominasi oleh narator impersonal, pergulatan eksistensi individu tertampung dalam format gaya bercerita yang ringkas, padat, juga kerap memasukkan fitur-fitur sederhana seperti “Pohon Saga”, “Daun Beluntas”, “Wahana Bermain”, “Kuda Mainan”, “Puisi”, “Patung”, “Buku Leo Tolstoy”, “Burung”, dan lain sebagainya. Fitur-fitur sederhana ini bekerja dalam konotasi, tidak sekedar merujuk pada kebendaan yang dimaksud, melainkan membayangkan realita yang multikompleks di belakangnya.

Simak misalnya dalam cerpen Daun-daun Beluntas, tokoh perempuan bernama Latifa ialah seorang Tenaga Kerja Indonesia yang telah bekerja di luar negeri dan pulang ke tanah air dengan menanggung aib yakni memiliki anak dari majikannya. Ia adalah korban pemerkosaan. Keluarga dari pihak Bibi mengucilkannya juga orang-orang di kampung. Kegemarannya menyantap daun-daun beluntas secara murni ditafsirkan sebagai perlindunganbagi dirinya atas sikap reaksioner masyarakat. Bisa dibaca melalui kutipan berikut, “Dulu sekali, semasa ia beranjak remaja, ayahnya sering mengatakan padanya bahwa daun beluntas bisa menghilangkan bau badan yang kurang sedap. Ia sendiri tak terlalu peduli sebenarnya. Ia merasa tak ada masalah dengan bau badannya. Kalau pun ia menyukainya, itu karena memang masakan ibunya terasa lezat. Namun sejak ia kembali ke rumah dengan segala hal yang harus ditanggungnya, daun-daun beluntas itu seolah telah menjadi keluarga terdekat, atau semacam teman setia untuk mengusir segala hal yang berbau busuk dalam dirinya.” (Halaman 49-50).

Ketergantungan pada sesuatu yang murni juga tampak dalam cerpen Kekasih Pohon Saga. Pertemuan yang terjadi antara tokoh utama dengan Latifa tidak sekedar pertemuan yang menumpahkan segala curahan hati. Pohon saga sebagai tempat bertemu itu disebaliknya terhampar persolan mengenai pembangunan yang semakin marak, menghabisi ruang-ruang publik, juga pohon saga yang akan ditebang kemudian. Dari masalah publik, pohon saga pun di sini berperan sebagai jalan masuk penceritaan ke ranah konflik privat perihal keluarga Latifa.

Ada juga fitur sederhana “Kuda Mainan” yang berbicara pada tataran ganda dalam cerpen berjudul Kuda-kuda Mungil. Seorang pekerja wahana bermain menaiki kuda mungil untuk terakhir kalinya. Ia diberhentikan dari pekerjaannya karena wilayah wahana bermain itu akan dijadikan tempat pembangunan rumah ibadah. Kuda mungil yang ada di sana juga sebagai pintu masuk penceritaan kenangan sang tokoh di masa lalu tentang peristiwa pembakaran di kota yang korbannya adalah warga keturunan. Sebagai fitur cerpen, kuda mainan itu sekaligus berbicara banyak permasalahan yang menjembatani apa yang terjadi di masa lalu dengan masa kini.

Fitur-fitur sederhana yang digunakan dalam cerpen ini laiknya properti panggung dalam sebuah pertunjukan teater yang berperan dalam penebalan latar. Latar tempat dan peristiwa yang bersangkut-paut dengan latar karakter tokoh itu sendiri. Konflik dalam cerpen berlangsung antara ingatan, persinggungan fisik, dan kilas-balik. Jalan cerita pun banyak mengandalkan adegan yang bergerak. Pembaca menunggu apa yang akan terjadi di tengah kepingan-kepingan gambar bergerak yang disuguhkan seperti pada cerpen Bero dan Keluarganya. Sebelum kita tahu persoalan pengucilan keluarga Bero hanya karena ia memelihara anjing, langkah-langkah bergegas di hutan menapaki jalan setapak diikuti bau bercak darah dan lemparan tombak serta suitan panjang yang membuat anjing-anjing bergerombol adalah pemandangan yang mula-mula menyapa. Sebuah keheningan yang akan berujung pada keributan.

Hal yang sama juga terdapat dalam cerpen Sebuah Rumah di Bawah Menara yang menjadi judul buku ini. Langkah-langkah menuruni tangga menuju bilik kecil di bawah menara lalu dilangsungkan dengan penggambaran perabotan di sekeliling tokoh. Gambar tempat saling bertaut dengan suasana batin tokoh sebelum akhirnya kita tahu ada kemiskinan terstruktur yang dibicarakan secara tersirat sebagai penyebab keterhimpitan ekonomi yang diderita sang tokoh.

Kebenaran masyarakat melawan kebenaran individu merupakan benang merah yang dapat kita tarik ketika membaca secara keseluruhan buku kumpulan cerpen Sebuah Rumah di Bawah Menara (2020) ini. Status sosial, nilai agama, norma yang diberlakukan, pembangunan, dan lain-lain pada mulanya dimaksudkan untuk “mengatur”, tetapi dalam praktiknya sering menjadi “perangkap” bagi kaum kecil. Apa yang dilakukan sang tokoh dalam cerpen Patung Kepala Besar, bisa ditafsirkan sangat jauh oleh sekelompok orang yang merupakan kaki tangan penguasa. Ia hanya menikmati keterampilannya dalam membuat patung, ekspresi karya seni yang menyelamatkannya dari rasa sedih karena kehilangan keluarga, suatu upaya bertahan hidup dalam memerangi perasaan kesepian dan kesendirian. Tapi, oleh masyarakat di sekitar perbuatannya dianggap berbahaya dan diduga akan menimbulkan hal-hal buruk.

Selera kesewenang-wenangan itu menjajah ruang individu, menggerogoti mental dan fisik. Cerpen Rumah yang Gembira juga merupakan pengejewantahan cita-cita sederhana seorang ibu rumah tangga yang merawat anjing-anjing kampung untuk mengisi kekosongan hari-harinya selama ditinggal pergi kerja oleh suami. Perbuatan yang berdasarkan cinta kasih itu justru diartikan oleh sekelompok orang yang berwenang sebagai bentuk perbuatan yang mengganggu kenyamanan lingkungan. Maka sang tokoh pun termenung seorang diri seperti pada kutipan berikut, “Ia tak habis pikir dengan kejadian itu. Suaminya memilih rumah yang terpisah dari pemukiman warga itu karena persoalan harga kontrak yang lebih murah ketimbang rumah lainnya. Lantas, apakah kokok ayam, sekali waktu gonggongan anjing, dan keriangan kucing di musim kawin benar-benar bisa merusak ketenteraman umat manusia? Apakah seseorang tidak boleh memiliki rumah yang gembira?” (Halaman 113).

Akhirnya, mereka yang memang kaum kecil semakin terdesak ke belakang, menyingkir dari misi kolektif, berdiri di jalannya sendiri dengan melakukan persekutuan terhadap sesuatu yang bersifat murni seperti cinta, kasih sayang terhadap sesama makhluk hidup, juga kenangan. Lewat keberagaman permasalahan, cerpen-cerpen dalam buku ini secara tersirat mempertanyakan berbagai hal yang menyangkut eksistensi manusia seperti: Apakah keadilan itu? Apakah kebebasan itu? Apakah arti kebahagiaan? Apakah bermoral menyangkal cita-cita individu demi kepentingan berterimanya seseorang di haribaan publik? Apakah kepatuhan itu?

Masalah sosial yang bersalut dalam cerita di buku ini, di keseharian sebenarnya kita sering menemukannya lewat surat kabar, televisi, atau media lainnya. Namun, melalui buku Sebuah Rumah di Bawah Menara (2020), pembaca menemukan dimensi kemanusiaan yang lebih luas bahwa sesuatu yang hanya sekedar pemberitaan melalui info grafik dan angka-angka, dalam sebuah cerita pendek ia dapat menjelma semesta yang menularkan denyut. Entah dalam bentuk keterharuan, perasaan miris, atau kesadaran baru tentang orang-orang bernasib serupa yang berada di sekitar kita.

Apa yang tertinggal kemudian sesudah membacanya mungkin seperti tokoh-tokoh dalam cerpen-cerpen di buku ini. Merasakan biji-biji buah saga jatuh menerpa wajah atau gurihnya olahan daun beluntas di mulut yang tidak sekedar lintas kilat sesuatu melainkan yang menyaran ke berbagai macam arti dan perenungan.

Pejarakan, 2021






==============
Iin Farliani, penulis buku kumpulan cerita pendek berjudul Taman Itu Menghadap ke Laut (2019). Lahir di Mataram, Lombok, 4 Mei 1997. Alumnus Jurusan Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Mataram. Sejak tahun  2013 hingga sekarang masih terlibat aktif dalam kegiatan Komunitas Akarpohon Mataram, sebuah komunitas sastra dan penerbitan buku. Di tahun 2020, ia terpilih sebagai salah satu Emerging Writer pada Makassar International Writers Festival (MIWF) 2020.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here