TIBA-TIBA saja ia terbangun, mendapati dirinya rebah dalam tumpukan barang-barang yang kian menggunung. Ia mulai tidak mengenali dirinya sendiri, tiap kali ia bangun, pusing lagi-lagi menerpa kepalanya. Benarkah ia seorang pencuri? Selalu terbit tanya-tanya seperti itu. Lalu mengapa? Ia harus bagaimana?

Kian pagi, terus terpikir olehnya, dari matari terbit, berlalu menanjak tepat menusuk ubun, hingga kembali lagi menuju pembaringannya. Ia mencoba mengulik siapa yang telah mencuri barang-barang itu lalu membenamkan harta tersebut dalam rumahnya—sebenar-benarnya ia yakin benar bahwa bukan dirinya yang mencuri. Tetapi, mau bagaimanapun, tiada yang mengetahui, begitu pula dirinya sendiri. Ia gugu. Tak tahu harus bicara dengan siapa untuk menceritakan peristiwa ini.

Rumah tersebut cukup besar jikalau hanya berisi dirinya. Maka dari itu, ia beroleh seorang saudara jauh yang numpang menginap—yang telah lama menumpang dan tak jua kembali, bahkan setelah beranjak dewasa. Dan, satu orang pembantu pula yang mengurus kesehari-harian dua orang pemuda tersebut. Mereka hidup damai, tenteram, sentosa. Tak perlu jerih payah pergi membeli keperluan sehari-hari di kota. Ya, mereka benar-benar manja.

Terpikir, suatu kali, ia ingin bertanya mengenai harta yang tertimbun di kamar pada saudaranya. Baru sekilas, dan saudaranya yang satu itu mendekap dirinya sendiri erat, kian erat.

“Engkau tak apa?”

Ia yang tadinya hanya bingung itu jadi kian bingung, tidak hanya tentang harta, tetapi juga mengenai saudaranya yang seperti akan gila.

“Aku melihatnya! Aku melihatnya merangkak melewati pintu kamarku. Ia membawa sesuatu, aku tak tau itu. Apakah itu kau, Kakakku?” Dilihatnya saudaranya yang penakut itu, tangannya mengepal dan berjalan merangkak mengentak-entak ubin kamar. “Aku begitu mengenal langkah kakimu, langkahmu lembut dan mengalun pelan seperti tidak mengapak di bumi. Namun, langkah sosok yang kulihat itu begitu kuat, ia menghantam lantai-lantai itu dengan empat kaki. Akankah pijakan itu menangis dibuatnya? Ya, aku selalu mendengar derak-derak tangis lantai itu bersahutan. Tolong selamatkan aku, tolong!”

Ia mendekap saudaranya yang penakut itu. Ditenangkannya sebentar, lalu beranjak pergi tanpa memberi solusi. Berat, sungguh, berat rasanya melihat saudara kecilnya bertingkah selayaknya orang gila. Benarkah ada hantu? Hantu itu pula kah yang mencuri harta-harta lalu menimbun di dalam kamarnya? Ia tafakur, meratapi saudaranya—lebih dalam lagi pada harta-harta itu. Milik siapa saja ini? Adakah hakku untuk memiliki semua ini, batinnya. Ia masih gugu, tak dapat berbicara dengan siapa-siapa, begitu jua dengan saudaranya.

Hari berlalu lagi. Monoton. Namun, satu yang berubah akhir-akhir ini, harta-harta itu seakan bertumbuh dan semakin sesak memenuhi kamarnya. Ia agak bingung kala merebahkan badan, kadang terlelap di kasur, kadang terlelap di atas lapisan kain sutra—yang tak kita tahu dari mana asalnya.

Pembantu itu tak tahu-menahu, ia hanya membereskan kamar tanpa bertanya-tanya. Kadang terpikir olehnya bahwa orang tua Tuan majikannya sebelum meninggal mewariskan harta kekayaan yang memang sebanyak ini. Lagi pula ia takut kelewat batas ketika bertanya-tanya. Pernah sekali ia begitu penasaran, lalu berujar, “Tuan, apakah tuan tidak pekak mendengar gemerincing perhiasan ini berjatuhan tiap hari, bukankah menyakitkan mata pula melihat kilau keemasan terlalu pagi?” Sembari ia meraba-raba perhiasan tersebut. Dan, Tuannya pula tahu benar apa yang diinginkan seorang pengasuh tua yang tiap harinya dijemukan rasa kenyang dan pelipur dahaga bagi dua orang pemuda yang manja. Tuan—ia, pemuda yang sering bingung itu—memberikan beberapa perhiasan selagi pembantu itu menengadahkan tangan kepadanya—lagi pula ia tak benar-benar tahu dari mana semua ini berasal, apakah memang dari warisan Bapaknya atau bagaimana? Lagi-lagi, terlalu banyak teka-teki untuk persoalan sepele seperti ini.

Namun, keesokan hari, seisi kampung tetiba ramai. Kampung geger sebab tersiar berita barang-barang berharga warga hilang entah ke mana. Terjawab olehnya bahwa harta tersebut bukanlah warisan Bapaknya dan persoalan harta ini, sedikit demi sedikit tidak lagi menjadi persoalan yang sepele. Mereka—dua bersaudara itu—memang jarang pergi ke luar rumah, dan memang berkemungkinan warga tidak perduli sama sekali dengan mereka. Namun, sesekali para pemuda ini juga disinggung, meskipun ada pula yang menepisnya, “Lagi pula orang tuanya itu orang kaya,” ujar seorang tetua kampung yang juga kehilangan mesin tik antiknya.

Namun, tak pelak lagi, pemuda itu—Tuan muda itu—tumbuh ketakutan pada dirinya dan ia tersadar hanya seorang yang mengetahui akan hal ini, ya, pembantu itu.

Memang pada dasarnya, tabiat pembantu itu tak ada beda dari biasanya. Ia menyapu, mengepel, menyiapkan makan dan keperluan sehari-hari lainnya. Tetapi, pembantu itu juga manusia dan tabiat manusia siapa yang tahu, batin pemuda itu. Dus, setiap hari terus ia pantau perkembangan sifat pembantu ini. Diintainya benar, adakah muncul benih-benih ketamakan pada wajahnya, adakah gelagat lidahnya akan membeberkan harta yang tertimbun di kamarnya pada warga. Ia curiga, pemuda itu benar-benar curiga.

Lalu, sebab pikiran keras dan kotor itu, ia jatuh sakit. Mau tidak mau, pembantu itu bakal semakin keras dan sering pula berada di dekatnya. Detik-detik pertama syukur merayapi wajahnya, lalu detik selanjutnya ia mulai tersadar bahwa sebab ia sakit, pembantu itu jadi sering menjajak kaki ke luar rumah. Alasannya memang benar-benar biasa, “Membeli obat buat Tuan Muda,” ujarnya. Dus, ia—pemuda itu—jadi berkeinginan keras agar ia sembuh lekas-lekas.

Namun, satu hal yang agak membingungkan ia. Tiap hari, kala terik tepat memanggang kepala, pembantu itu sering mendengar rumor-rumor mengenai Tuannya. Sering kali ia menemui tuduhan-tuduhan mengenai pencurian harta itu, sebab itu pula, ia agak canggung untuk berbicara dengan tetangga, takut kelewat cakap dan tanpa sengaja membeberkan semuanya. Pembantu itu diam, bingung harus berbuat apa. Ia hanya melangkah, beranjak dari tempatnya berdiri dengan pikiran yang melayang ke sana-ke mari. Bagaimana nasib Tuan Muda jikalau kubeberkan harta tersebut kepada warga, begitu pula sebaliknya.

Lagi, ia menemui Tuan Mudanya dalam keadaan layu, tubuhnya menyusut di antara tumpukan kain sutra—yang entah sudah berapa tebal melapisi kasurnya.

“Mereka bilang Tuan pencuri.” Sembari tangannya gemetar menyuapi obat kepada Tuannya, tetapi mulut itu bergeming tak terbuka.

Pembantu itu mengistirahatkan tangannya, ia mengerti bahwa pemuda itu lebih tertarik akan rumor ini dari pada sesuap obat yang mungkin saja berisi racun di dalamnya.

“Lalu bagaimana?” gumam pemuda itu, sorot matanya menyiratkan api yang tak biasa, ada penasaran, ketakutan dan kemarahan bersembunyi di baliknya.

“Tetua bilang tak mungkin, sebab Tuan anak orang kaya, kakek Tuan pula bekas tuan tanah.”

Akhirnya pemuda itu menganga jua, ditenggaknya habis obat itu, cepat sekali. Pembantu itu yakin benar sudah ditelan bulat sirup itu, ditatapnya benar jakun Tuan Mudanya yang turun naik. Pemuda itu bingung, mengapa ia lekat menatapnya, lama mereka beradu tatap. Lalu pemuda itu berucap, “Kau tak bilang mengenai harta ini?”

Pembantu itu hanya menggelengkan kepala, lalu melanjutkan ceritanya, “Tapi orang bilang mungkin saja. Tuan Muda ini feodal orangnya, kata mereka, mungkin saja Tuan sudah gila harta dan kalap mata.”

Pemuda itu diam, pembantu itu jua. Ia tak ingin bilang bahwa seorang dari mereka—yang perhiasannya hilang entah ke mana—mengira bahwa kalung yang ia kenakan sekarang adalah miliknya. Mulutnya malu berucap, takut benar bahwa harta ini memang warisan dari orang tua tuannya.

“Bisa kau rahasiakan ini?” ucap pemuda itu, lalu pemuda itu memejamkan matanya perlahan. Ia tak tahu, tetiba terasa panas pada tubuhnya. Tenggorokannya terasa kering, diperas sehabis-habisnya. Badannya megap-megap, menggapai udara yang tak jua masuk-masuk ke paru-parunya. Dan, pada tarikan nafas penghabisan, wajahnya menatap nanar pembantu itu. Wajahnya menjadi dua, tidak, tiga, dan bahkan semakin banyak. Pembantu itu siapa?

Segurat senyum melukis wajahnya—wajah pembantu itu. Ia tak sadar ia sedang diintai jua, ia tak sadar ada dua orang pemuda. Pembantu itu berbalik, lalu mereka bertatap muka. Pemuda itu tak lagi ketakutan, terjawab sudah persoalannya, “Ya, kaulah hantu itu.” Dan, tubuhnya menyusut pula perlahan, telah tiada kesadaran dari kepala hingga kaki. Namun, mata yang telah mati itu lekat menatap sebuah sosok, sangat gelap, menggelapi bayang-bayang pada matanya dan berjalan kokoh, merangkak mendekatinya dengan empat kaki.

Banjarmasin, 13 Oktober 2021




==============
Muhammad Rifki lahir di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, 5 April 2000. Kini sedang menempuh pendidikan sebagai mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan di Universitas Lambung Mangkurat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here