1

HARI Senin dia akan mendatangi Dumasari ke rumahnya. Pada Minggu pagi Oloan berpamitan ke Langkat. Seperti biasa, Oloan akan menghabiskan satu pekan di Langkat. Pekerjaannya di perkebunan sawit akan menyita seluruh perhatiannya. Oloan bercerita perusahaan di Langkat mengalami kerugian. Oloan menduga ada korupsi dalam internal manajemen. Dalam hati dia mensyukuri hal itu, menganggapnya sebagai bukti bahwa Tuhan telah mengabulkan doanya agar memberi peringatan keras terhadap Oloan yang akhir-akhir ini semakin tak mensyukuri segala sesuatunya.

Rotua, orang yang disuruhnya memata-matai perempuan itu, sudah memberi tahu di mana persis rumah Dumasari. Oloan membelikan rumah itu untuk Dumasari tahun 2021 lalu, dua bulan sebelum mereka memutuskan menikah. Rumah itu terletak di Padang Sidimpuan, dia tahu persis alamat itu. Salamah, salah seorang kawannya sewaktu kuliah, tinggal satu daerah dengan Dumasari. Dia bisa berpura-pura bertamu ke rumah Salamah untuk melihat rumah Dumasari.

“Perempuan itu sedang hamil,” kata Rotua.

Dia sudah tahu soal kehamilan Dumasari dari Oloan. Pertama kali mendengarnya, dia merasa nyawanya bagai ditarik dari ubun-ubunnya secara paksa. Rasa sakitnya luar biasa sampai ke ujung jari-jari kakinya. Tapi dia tidak menangis. Tidak di hadapan Oloan. Di pelukan ibunya, dia meraung-raung bagai kesurupan. Ibunya ikut menangis, ayahnya emosi. Namun, kedua orang tuanya tak bisa berbuat apa-apa.

Oloan bukan orang lain. Tanpa pernikahan pun, Oloan masih saudara sepupunya. Ibu Oloan adalah adik kandung ayahnya. Anak gadis dari saudara laki-laki boleh dinikahi oleh anak laki-laki dari saudara perempuan. Adat membenarkannya dan menyebut hubungan itu sebagai pariban. Tapi, pernikahan itu boleh juga tidak terjadi jika kedua belah pihak bersepakat. Cuma, ayahnya menginginkan pernikahannya dengan Oloan, dan ibu Oloan berharap agar dia bersedia menjadi istri Oloan. Dia menolak, Oloan pun tidak setuju. Tapi, ibu Oloan memaksakan kehendak karena hanya dengan cara itu Oloan akan berpikir untuk menikah, sementara usianya sudah layak untuk berumah tangga.

Dia bilang kepada orang tuanya, bahwa dia akan mengajukan gugatan cerai. Ayahnya melarang karena hal itu akan merusak hubungan keluarga. Ibunya membantah, menilai ayahnya telah bersikap tidak adik terhadap anak mereka. Ayahnya bergeming dengan keputusan, menyuruhnya agar menerima kenyataan itu sambil berkata: “Kenapa pulak kau tidak bisa hamil.”

Ucapan ayah menyakitinya. Hubungannya dengan ayah menjadi renggang. Dia putuskan untuk tidak lagi mengadukan apapun persoalan keluarganya bersama Oloan. Dia akan menghadapi sendiri persoalan itu. Dia akan mencarikan solusinya. Dia pun terpikir untuk mendatangi Dumasari. Sebelum niat itu diwujudkan, dia menyuruh Rotua untuk mencari tahu semua hal tentang Dumasari.

Rotua bilang Dumasari tidak cantik, jauh lebih cantik dirinya. Demi Tuhan, mata Oloan sudah rabun. Dia pernah mengatakan hal itu kepada Oloan. “Kalau ingin menikah dan punya anak, carilah perempuan yang lebih dalam segala hal dibandingkan aku,” katanya.

“Aku hanya membutuhkan anak, dan kau tidak bisa memberikannya kepadaku,” kata Oloan.

Ucapan itu bagai ribuan tombak dihunjamkan ke jantungnya. Dia ingin marah, ingin mencakar wajah Oloan. Tapi, dia bisa menahan diri, dan berpikir bahwa semua laki-laki sama saja. Dia begitu tenang. Sangat tenang untuk seorang perempuan yang akan dimadu oleh suaminya.

“Kalau aku, pasti sudah kubunuh perempuan itu,” kata Lasmaria, kawan akrabnya, orang kepada siapa dia selalu mencurahkan isi hatinya sejak masih gadis. “Kenapa tidak kasih pelajaran perempuan itu?”

Dia tidak terpancing untuk mengumbar emosi. Dia berusaha memberi kesan, bahwa dia tabah menghadapi persoalan itu. Lasmaria justru tambah emosi melihat sikapnya yang begitu tenang, lalu menawarkan diri untuk memberi pelajaran kepada Dumasari.

“Kau hanya akan menambah persoalan,” katanya.

“Kenapa di dunia ini ada perempuan yang tega menghancurkan rumah tangga orang lain.”

Dia mencoba tersenyum. Senyum itu bermakna, bahwa dia tidak akan membagi persoalannya kepada siapa pun. Semua orang akan membuat emosinya teraduk-aduk. Semua orang akan menganggapnya bodoh. Semua orang akan menyalahkannya. Makanya, dia putuskan menyelesaikan sendiri persoalan itu, dan dia harus bertemu Dumasari.

2

DIA pilih hari Senin mendatangi rumah Naulinai karena pada hari itu tak ada Oloan. Oloan, malaikat pelindungnya, berangkat tugas di luar kota. Tanpa Oloan, perempuan tua yang sakit-sakitan dan tidak bisa hamil itu hanya seonggok daging tua dan nyaris membusuk oleh bibit penyakit yang menggerogoti tubuhnya dari dalam. Dia akan leluasa memperlakukan daging itu tanpa perlu mengkhawatirkan apapun.

Naulinai masih istri Oloan, meskipun dia dan Oloan sudah resmi sebagai suami-istri sejak enam bulan lalu. Dia mendesak Oloan agar segera melembagakan hubungan mereka. Awalnya Oloan tak langsung menyanggupi, memintanya agar lebih sabar. “Aku ceraikan dulu Naulinia, barulah kita menikah,” kata Oloan.

Dia memberi tenggat waktu satu bulan agar Oloan segera menyelesaikan proses perceraiannya dengan Naulinia.

“Dua bulan,” kata Oloan “Tidak mudah untuk bercerai.”

“Tidak ada yang sulit kalau kau pakai uang.”

“Itu tidak adil bagi Naulinia.”

“Kau pikir situasi seperti sekarang adil bagiku?” Dia bergeming dengan tenggat waktu pertama. Oloan akhirnya menurut seperti yang dia harapkan. Tapi dia tahu, Oloan tetap tidak yakin sanggup menceraikan istrinya itu. Ketidakyakinan Oloan itu membuat dia ragu pada kemampuan Oloan membuat keputusan.

Sebelum satu bulan, dia berubah pikiran dan mendesak Oloan agar segera menikahinya. Oloan merasa tertekan. Dia justru semakin menekan. “Aku hanya butuh status.” katanya. “Kita menikah dan kau jadi suamiku.”

Oloan akhirnya menyerah. Mereka menikah secara sederhana, tapi dengan catatan dia tetap mengizinkan Oloan bertemu dengan Naulinai. Dia setuju, tapi hatinya menolak. Bagaimana bisa berbagi suami? Dia tidak bisa. Oloan hanya untuk dirinya.

Makanya, Senin dia akan mendatangi Naulinai ke rumahnya. Dia sudah mengirim Rotua untuk memata-matai kebiasaan Naulinai. Rotua awalnya bekerja untuk Naulinai, tapi dia berhasil meyakinkan Rotua agar bekerja untuknya. Dia janjikan kepada Rotua, bila dia sukses dalam menjalankan tugas, nanti akan dia rekomendasikan kepada Oloan agar Rotua bekerja pada salah satu perusahaan milik Oloan.

Rotua tidak pernah ditawarkan seperti itu oleh Naulinai. Dia membayangkan akan mendapat pekerjaan yang bagus, dan dia memilih mengkhianati Naulinai.

“Hari Senin biasanya Naulinai sendirian di rumah,” kata Rotua.

“Kau yakin?”

“Apa yang akan kau lakukan kepadanya?”

“Dia satu-satunya penghalangku untuk menjadi istri Oloan.”

“Oloan sudah menikahimu. Oloan juga sudah membelikan rumah untukmu. Kau tak perlu lagi mengkhawatirkan Oloan. Kau sudah mengandung anak Oloan, satu hal yang tak bisa diberikan Naulinai.”

“Aku harus menyingkirkan Naulinai.”

“Bagaimana caramu….?”

“Selalui ada cara.” Dia diam, berpikir tentang cara menyingkirkan Naulinai. “Aku bisa memakai caramu.”

“Tidak. Aku tidak mau terlibat soal seperti itu.”

“Kau sudah terlibat.” Dia tertawa. “Sejak awal kau sudah terlibat.”

3

Dia sedang membaca laporan hasil audit perusahaan dan menemukan angka-angka yang tidak logis pada table-tabel. Ada banyak pengeluaran yang sebetulnya tidak diketahuinya sebagai pemilik perusahaan, dan ini meyakinkannya bahwa telah terjadi penyalahgunaan keuangan perusahaan. Dia mencoret bagian-bagian yang tidak logis itu dengan tinta merah. Tangannya gemetar menahan emosi. Dia ingin meledakkan emosinya, tapi dia tahankan sambil terus membaca laporan itu.

Telepon selulernya yang ditaruh di atas meja, bergetar. Di layar muncul nomor seseorang. Dia tak perduli, tapi suara telepon seluler itu memecahkan konsentrasinya. Ketika telepon itu kembali meandering, dia mengangkatnya.

Seseorang di seberang mengaku bernama Rotua dan menjelaskan kepadanya bahwa istrinya, Naulinai dan Dumasari, akan saling menghabisi pada hari Senin. “Kau harus mencegahnya sebelum mereka saling bunuh.”

“Saling menghabisi bagaimana maksudmu?”

“Saling membunuh.”

“Jangan mengada-ada! Aku bisa melaporkanmu ke polisi.”

“Aku hanya mengingatkan. Aku tak ingin kau menyesal nantinya.”

“Menyesal!?”

“Salah seorang di antara mereka akan ada yang terluka, atau malah mati,” kata Rotua. “Siapa pun orang itu, dampaknya pasti akan menyulitkan hidupmu.”

Sambungan telepon ditutup. Dia berteriak-teriak memanggil. Tentu saja tidak ada jawaban. Dia membanting teleponnya dengan kesal. Dia merasa sedang dikerjai, dan dia melupakan ucapan orang itu. Dia kembali membaca laporan audit keuangan itu, tapi konsentrasinya pecah karena memikirkan bagaimana jika orang yang menelepon itu benar soal Naulinai dan Dumasari yang akan saling bunuh. Dia ragu, antara percaya dan tidak. Tapi, kemudian, dia melupakan semua sambil berkata kepada dirinya: “Aku harus menyelamatkan perusahaanku.”[]






=================
Budi P. Hatees lahir di Sipirok, Tapanuli Selatan, Sumatra Utara, pada 3 Juni 1972. Menulis cerpen, puisi, esai, dan novel dan sebagian karyanya diterbitkan di berbagai media dan sejumlah buku.  Sehari-hari bekerja sebagai peneliti budaya, sosial, politik untuk Institute Sahata dan Tapanuli Database Center for Researd Culture and Social (Tapanuli Database).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here