BIASANYA ia membunuh pebisnis atau lawan politik yang cukup diperhitungkan di sebuah negara bagian. Paling tidak seorang pemberontak yang amat membahayakan keberlangsungan negara. Namun, kali ini lain. Politikus itu hanya memintanya membunuh seorang pria murung bermata sayu.

Alessandro tidak perlu menceritakan dengan detil bagaimana ia harus bertindak. Di Altoona tindak kejahatan di ruang publik hampir tidak pernah ada. Bila malam hari jalanan bersih tanpa orang-orang mabuk atau perampas tas wanita. Wajar jika seandainya terdapat peristiwa pembunuhan akan menghebohkan seantero kota yang di negara bagian Pennsylvania itu.

Bagaimana bisa kejahatan luar biasa itu menimpa di wilayah ini? Begitu kira-kira yang akan ada di benak penduduk usai pembunuhan terjadi. Surat kabar, televisi, dan radio akan gencar menyiarkan kasus pembunuhan keji itu. Kepolisian setempat sibuk memecahkan kasus. Para aktivis turun ke jalan menenangkan warga yang panik. Khawatir peristiwa itu akan terulang kembali.

Sudah lima target yang ia hilangkan nyawanya. Semua berada di luar Altoona. Target berikutnya berada dalam satu negara bagian Pennsylvania, yaitu pria murung bermata sayu yang kedengarannya tidak perlu teknik khusus untuk membunuhnya. Tentu akan menjadi pengalaman menarik dalam perjalanan karier Alessandro.

Sebenarnya ia tidak benar-benar ingin menjadi seorang pembunuh. Ia bekerja serabutan, dari pelayan restoran hingga bekerja di barber shop. Namun, ketika usianya dua puluh, ia memutuskan menjadi pembunuh bayaran.

Keterampilannya membidik rusa atau babi hutan menjadi modal utama membunuh seseorang. Tentu, ia butuh uang. Namun, uang bukanlah tujuan utamanya. Bara yang tersimpan di dalam dada Alessandro terus-menerus tersulut hingga sulit untuk dipadamkan. Hasrat untuk membunuh saban hari berkilat-kilat dalam dadanya. Semua tidak terlepas dari Rico, adiknya yang mengkhianati kepercayaannya.

Musim gugur sedang berlangsung, kala itu. Dedaunan rontok dari pohon dan embun beku muncul di permukaan rumput setiap pagi. Saat itulah senapan angin mulai dibersihkan. Perlengkapan berburu disiapkan. Musim perburuan telah tiba. Seperti Halloween dan Thanksgiving, pemburuan menjadi bagian tradisi musim gugur yang penting untuk banyak warga Pennsylvania. Alessandro bertaruh dengan Rico, berburu menangkap anjing hutan atau rusa untuk dipersembahkan di hari ulang tahun ayahnya.

Mereka melewati pepohonan pinus, semak belukar, hingga menyeberangi danau berlintah. Mulanya, Alessandro hendak mengakhiri pertaruhan ketika ditemukannya babi hutan tengah keluar sarang untuk mencari pasangan. Matanya awas menamati gerak sang babi hutan. Namun, ketika hendak menekan pelatuk senapan angin, tetiba kehadiran Rico mengagetkan sang babi hutan. Babi hutan menyadari sedang diintai sebelum sempat tembakan Alessandro mengenai bagian tubuhnya.

Hingga malam menjelang, tidak ada satu pun yang berhasil mendapat hewan buruan. Mereka beristirahat di bawah ceruk gua untuk menghalau dingin. “Tidak ada yang memenangi pertaruhan ini,” kata Rico, ia merapatkan kedua tangan di depan jaket tebal yang dikenakannya.

“Parade musim gugur baru dimulai. Kita masih bisa bertaruh lagi,” balas Alessandro menghangatkan telapak tangannya di atas api unggun.

“Tidak ada yang patut dipertaruhkan. Aku tidak kuat lagi. Kau akan menjadi pecundang bila tetap mengajakku melanjutkan pertandingan ini.” Bibir Rico membiru. Bintik-bintik cokelat muncul di bawah matanya yang kuyu.

Alessandro melihat adiknya penuh iba. Satu tangannya ia masukkan ke dalam saku jaket, berlanjut ke saku sebelahnya lagi. Tidak ditemukan apa-apa di sana. Perbekalannya telah habis. Tidak ada sesuatu yang bisa dimakan untuk mengganjal perut malam itu.

Alessandro melihat wajah Rico dari dekat hingga tersisa satu jengkal. Ia menatapnya tajam, mencari jawaban atas kekhawatirannya dengan kondisi adiknya itu. Melihat dadanya yang naik-turun pelan dan merasakan denyut jantungnya yang melambat. Beberapa buah setengah busuk telah berhasil ia dapatkan. Alessandro terdiam sesaat. Rico membuka mata. Tubuhnya bangkit, sampai-sampai hampir membentur dahi kakaknya.

Tetiba wajahnya semringah. “Lihat itu, Ale! Aku telah memenangkan pertaruhan.” Telunjuk Rico mengarahkan tatapan Alessandro berpindah pada seekor rusa dalam keadaan terikat di sebatang pohon.

Ia membuang napas kasar. Rongga dadanya tengah disulut api. “Kau curang!” tiba-tiba Alessandro bangkit sambil mengangkat senapan anginnya.

“Tidak ada yang curang, Ale. Kau sendiri yang bodoh!” Rico tidak mau kalah. Tanpa membuang waktu, Rico langsung menghunuskan belati ke arah dada kiri Alessandro. Tidak kena. Alessandro lebih dulu menangkis gerak tangan adiknya dan melempar belati ke sembarang arah. Alessandro mulai kalap. Ia arahkan senapan anginnya ke dada Rico. Rico menyentak ingin meraih, segera dibalas dengan tekanan pelatuk senapan angin di depan dadanya,  menyalak, dan seketika meremukkan tulang rusuk Rico. Ia sekarat.

Di ujung kematiannya, Rico sempat berkata, “Kau tidak akan pernah menang dariku, Ale.” Sorot matanya berkilat janggal dengan napas tersengal-sengal sebelum akhirnya tewas.

Sedari kecil Rico selalu memenangkan apapun itu. Ayahnya mewariskan banyak bisnis kepadanya, mulai dari bar, penggelapan dana beberapa politikus, hingga penjualan senjata terlarang. Sementara Alessandro hanya diamanahi mengurus perkebunan anggur saja.

Di mata Alessandro, pria itu bukanlah ayahnya lagi. Selepas itu Alessandro tidak menetap di Pennsylvania. Ia tiba di sebuah kota di lereng Timur Pegunungan Allegheny bernama Altoona. Di kota padat penduduk itu, gereja tua terbengkalai di sudut kota disulap menjadi rumah hunian sebagai tempat tinggal Alessandro.

***

KEMARIN malam seorang politikus terkemuka mengajaknya berbincang di bar sambil menikmati wine di awal musim gugur. Ia meminta Alessandro membunuh pria murung yang dalam foto buram sedang duduk di meja bundar seperti sedang melakukan transaksi tersembunyi. Tidak jelas bagaimana bentuk wajahnya. Potret itu telah rusak oleh bercak hitam lelehan tinta. Politikus itu hanya menunjukkan pria mana yang harus dihabisi oleh Alessandro.

“Apakah dia orang yang berbahaya?” tanya Alessandro sambil memutar foto, mengamati garis figur sekaligus memikirkan cara terbaik untuk membunuhnya.

“Jika kau melihatnya dengan kacamata awam, kau hanya akan mendapati pria murung bermata sayu semata. Tapi, jika kau melihat dari sorot matanya, kau akan mengetahui kejahatan apa yang telah ia perbuat. Dia tidak sebodoh yang kau kira. Berhati-hatilah!”

Sang politikus menceritakan siapa pria murung itu. Kisah dari politikus itu sulit diterima akal, namun Alessandro tetap tenang mendengar takzim. Alessandro menyanggupi pekerjaan itu kendati target kali ini bukan orang sembarangan.

Untuk memuluskan niatnya, Alessandro menunggu malam tiba. Ia hanya butuh kegelapan menyuruk-nyuruk ke kota itu sehingga ia leluasa menyusup rumah sasaran. Selongsong senjata api beserta kain penutup kepala ia persiapkan dengan teratur. Alessandro bersiap keluar. Ia nyalakan rokok lalu mengisapnya dalam-dalam sebelum mengambil jaket wol yang terserak di lantai. Alessandro mulai melajukan mobil membelah jalanan bersalju keluar dari Kota Altoona.

Alessandro tiba di sebuah rumah sesuai alamat yang diberikan politikus itu. Malam itu target sedang duduk menghadap jendela buram dengan salju yang menebal dan Alessandro telah berdiri di belakangnya tanpa ia sadari. Pria itu sedang mengelap senapan. Cahaya lampu temaram menyorot kepalanya yang pelontos dan tampak licin berminyak. Pria itu belum beranjak dari kursi rodanya meski uap panas dari tungku perapian yang terletak tepat di samping kirinya mulai ganas mencumbui kulit.

Sebagaimana kata politikus itu, sang pria murung memang gemar berburu. Terbukti dengan caranya mengelap penuh kehati-hatian. Alessandro tidak membekali diri dengan suatu apa, kecuali senjata api yang biasa ia gunakan dalam menjalankan misi.

Alessandro mengamati gerak-gerik target. Tidak ada tanda-tanda pria itu orang yang berbahaya. Ia sedikit gemetar, sebab barangkali dia orang baik, dan tidak masuk akal rasanya ia membunuh seseorang yang hari-harinya sudah dibunuh dengan kemurungan. Namun, tidak ada perasaan iba dalam hati seorang pembunuh. Sebagaimana ia pernah iba kepada Rico, justru kebaikannya dibalas dengan sebuah pengkhianatan yang amat keji.

Saat kesempatan terbuka lebar, tanpa membuang waktu, Alessandro melangkah mendekati pria itu untuk mengedor batok kepalanya dari dekat. Mula-mula Alessandro berjalan menuju perapian dengan penuh kehati-hatian. Dipelankan langkah dan dirapatkan tangan agar bayangan tubuhnya tidak memantul dari unggun itu.

Tiba-tiba saja pria itu menoleh dan memutar kursi rodanya. Sial! Belum pernah Alessandro sekaget itu, sampai ia mematung sejenak dengan senjata api masih menodong ke arah pria itu. Mereka saling menatap pada menit-menit singkat. Ia tidak berniat beranjak atau sedikit menggeser kursi rodanya menjauh dari unggun. Pria murung bermata sayu dengan senyum pahitnya, senyum yang menyerah pada kemungkinan yang mungkin bakal terjadi. Dugaan sang pria murung meleset. Alessandro tidak menekan pelatuk senjatanya. Ia hanya mematung, dan tetap mematung.

Dalam benak Alessandro dirinya tidak melihat kejahatan demi kejahatan dalam bisnis dari sorot mata itu sebagaimana dikisahkan sang politikus. Lebih dari itu, ia hanya melihat pria murung dengan sepasang mata sayu yang sedikit pun tidak pantas untuk dimaafkan atau sekadar diajak bicara.

Pikiran Alessandro tidak karuan. Namun, ia tetap mendekat dan makin dekat dengan sang pria murung bermata sayu. Sekitar empat langkah, telunjuk Alessandro ancang-ancang menekan pelatuk. Lalu, cahaya berkilat-kilat menyilaukan mata. Sesaat kemudian, suara berondongan senjata api memekak-mekak di kota itu.

Yogyakarta, Maret 2022




===============
Finka Novitasari, perempuan kelahiran Pacitan yang kebetulan sedang menempuh pendidikan di Universitas Alma Ata, Yogyakarta. Beberapa karyanya telah dimuat di media cetak maupun daring. Aktif dalam Komunitas Penulis Anak Kampus (KOMPAK) dan Kelas Menulis Daring (KMD) elipsis.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here