Di Pelataran Sajak

di pelataran sajak ini,
tak pernah lagi tampak
menghias seperti waktu itu
kilat dalam kilau

di pertalian batin yang mesra
gelas-gelas berdenting samarkan
jangkauan, ataupun kepakan merpati
nian melapangkan usaha jalan-

jalan dari langkah langka megah
membidik bintang biduk mega-mega
berkuintal doa-doa panjang
berkahi cinta semesta

Gunung Kelua, 2020/2021




Negeri Layang-Layang

negeri layanglayang menghembuskan
angin gurauan bocah angon yang
kini hanya sematamata terhalang
pada senyap mata ilalang,

segala tengah tersulap menjadi gedung menjulang
lenyapkan kayu egrang, pada lengang tanah lapang.
sementara geliat umpan ular naga hanya
milik ruang-ruang hampa

genapi senyap hiburan
masa kanak kita; petak umpet,
hompimpa dan lainnya

pindai kerumunan
menjadi tradisi lampau,
di mana bilah tergenang
hanya di batas kenang.

demi langkah terasing tiada lagi cermati matahari,
di antara bunga-bunga awan & ruparupa kertas minyak
menawan sang pelayang, menari lepas sampai terik peluh nanti

kini habiskan luang waktu pada wajah datar
kaburkan kabar melalui perihal terkini
kemudian rabunkan usia dini,
sepasang mata kanak muda-mudi ini

Gunung Kelua, 2021




Menembus Batas

beriring tirai bulan yang
menembus ruangruang,
di sebelah dalam pikiranmu
ada kehampaan tiada jemu
memilin kerutinan

bersambut rajutan kelambu mulus
memeluk cipta angan mimpi,
di antara usang kelabu dogma
pemandu jalan hidupmu,
di mana hatimu bersarang
dan kelak berpulang?

Gunung Kelua, 2021




Asfar

Kau merah di hijaunya kelengangan tubuh
Warna darah dari keriangan adalah tabah
Ia bertumbuh pada jarak tempuh

Harapan pesta panen
Senantiasa hangat.
Kendati, pundakmu berat
Memikul cemas 24karat

Melewati rasa syukur dalam kesilapan
Sejak kebebasan, tak mempunyai lagi ruang tempa

Doa-doa telah berubah menjadi
Bunga-bunga fatamorgana
Menyengatkan hati.
Kendati, senantiasa berpijak pada
Hal-hal yang tak sesuai naluri

Kau seluas cakrawala
Selaras rerumputan padang sabana

2020






Rumah Panjang Lamin

kaupandangi ukiran dinding berpola
warisan leluhurmu itu, segenap ingatan
pada musik sape’ bergema di antara
sayup bisikan para wanita dayak
yang bercengkerama

sembari duduk bersandar kayu besi,
pandangi kekasihmu terbaring kaku
dengan kulit nyamu di rumah lamin itu,

patung blontakng segera berdiri
sembari penari hudog menari pilu
pada tanah lapang kering

samar-samar kau dengar tangis getir
di rumah panjang lainnya,
pakaian bersulam manik-manik
tak akan pernah
menghibur laramu,

beras kuning t’lah ditebarkan
bersama percikan air kelapa,

sang kepala adat tiba bersama
dua ekor sapi kurban
biru nian hatimu, mengiringi dia
ke Tanjung Isuy

Pampang, 2015-2021

  • Rumah panjang disebut juga rumah lamin atau longhouse.
  • Kulit nyamu atau kulit daun lemba adalah pohon keras sebagai bahan utama pakaian adat dayak
  • Patung blontakng adalah patung ukir terbuat dari kayu ulin yang merupakan patung simbol pada upacara kematian Kwangkey oleh
    suku Dayak Benuaq.







==================
Andria Septy
lahir 11 September di Samarinda, Kalimantan Timur.Menulis cerpen dan puisi. Menyelesaikan studi Ilmu Pemerintahan di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Mulawarman. Beberapa puisi tersiar di basabasi.co, sukusastra.com, majalah Mata Puisi dan koran Jawa Pos. Pernah bergiat di komunitas Sindikat Lebah Berpikir.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here