BETAPA masa sejatinya telah berjalan lama, adakalanya bagaikan sekejap rasanya. Seperti diriku yang dua puluh tahun sudah menemani seseorang menjalani hari-harinya dalam kegembiraan maupun kesedihan. Bayangkan saja, berapa banyak cerita yang bisa ditulis sepanjang waktu yang kami lewati bersama. Sungguh aku bahagia dan bangga, ada seorang lelaki yang begitu setia terhadapku. Dalam kurun masa yang sama, mereka yang sebangsa denganku barangkali sudah berkali-kali berganti pasangan atau malah –sialnya– telah menjadi potongan besi tua yang menghilangkan identitas sejatinya ketika hadir ke dunia. Bukankah beruntung sekali diriku yang tidak bakal membuat pangling mereka yang memandangnya? Penampilanku masih cukup anggun, tak jauh berbeda dengan ketika pertama kali dirilis dari pabrik, lantas dipajang di etalase toko, hingga aku menjadi kepunyaan satu orang belaka sampai hari ini.            

Seseorang yang memiliki diriku masih sangat belia ketika memilihku, lantas membawanya pulang. Ia belum terlalu lancar mengendarai sepeda motor, bahkan masih dalam taraf belajar. Maka ia selalu meminta ditemani kakak atau kerabatnya pada masa awal membawaku berjalan-jalan. Setelah ia menyimpan SIM C di dompetnya, barulah ia berani mengendaraiku ke sekolah atau ke mana saja ia mau. Ada kejadian lucu kala baru sehari majikanku memiliki lisensi resmi mengemudikan sepeda motor. Ia sedang pergi memboncengkan kakak perempuannya, tiba-tiba sebuah mobil yang berada tepat di depannya berhenti mendadak. Lantaran sangat terperanjat, ia sedikit terlambat mengerem lajuku. Jadilah, sebelah depan tubuhku membentur bagian belakang mobil itu. Pemuda yang mengendaraiku tampaknya cukup panik. Langsung saja ia tancap gas membawaku berlari sekencangnya menjauhi mobil yang ditabraknya tanpa sengaja. Peristiwa tersebut sedikit melecetkan bagian di atas roda depanku, tapi bukanlah problema berarti. Sehabis kejadian siang itu, pemilik diriku sungguh berhati-hati saban mengendaraiku, dan nyatanya masih utuh seperti sediakala wujudku ini.

Hanya ada sekali lagi insiden kecil yang sedikit melukaiku dan lucu juga sejatinya kala dikenang. Waktu itu di sebuah pertigaan aku dibawa berbelok ke arah kiri karena lampu hijau telah menyala. Tak tahunya, dari arah berlawanan ada sebuah sepeda onthel yang melanggar lampu merah, ia berbelok ke arah kanan dengan kecepatan tinggi. Sepeda itu tiba-tiba saja persis berada di sampingku, memepetku, maka serta-merta kami pun jatuh bersamaan ke samping kiri. Si pengendara sepeda onthel lekas berdiri, mengatakan maaf, kemudian mengayuh kendaraannya lagi dengan kencang. Majikanku tidak terluka sedikit pun. Ia berhasil melompat menghindari ambruknya tubuhku. Hanya hatinya pasti sempat berdebar-debar. Syukurlah, jalan sedang sepi sehingga tak terjadi hal yang bisa jadi lebih buruk. Terjadi sedikit ketidaknormalan pada salah satu organ tubuhku belaka, yaitu bagian pijakan kaki kanan yang menjadi bengkok. Segera dibawalah aku ke bengkel terdekat dan usai sudah masalahnya. Setiap kali pemilikku menceritakannya pada orang lain, senantiasa ia tersenyum geli. Ia menyebut insiden sore tersebut dengan nama ’Kisah Kejatuhan Sepeda’.

Seingatku, ada sejumlah perempuan yang pernah diboncengkan majikanku. Tentu masih banyak lagi yang pernah ditemuinya seorang diri. Namun, aku tak mengerti mengapa sampai hari ini belum ada satu pun dari mereka yang sesuai untuk hatinya hingga layak menjadi pendamping hidupnya. Tampaknya ia cukup betah dengan kesendiriannya. Yah, biarlah hal itu menjadi urusan pribadinya belaka, tak ingin aku mengusiknya. Aku akan tetap setia dan siap sedia menemaninya selagi ia perlu diriku hingga kapan saja.

***

Ternyata sejak jauh hari sudah menjadi rencana kedua orang tuaku membelikan sepeda motor kala usiaku tepat tujuh belas. Tanpa terduga, tiba-tiba berakhirlah perjalanan hidup Bapak di dunia, sekitar tiga pekan sebelum hari lahirku. Namun, hal itu tak membuat Ibu menunda rencana semula. Justru hatiku yang sempat tak nyaman dan kuungkapkan pada Ibu.

“Bu, apakah hadiah itu pantas saya terima saat ini? Bukankah wafatnya Bapak belum lama?” tanyaku.

            “Nak, walaupun Bapak sudah tiada, bukankah hidup harus tetap dijalani seperti biasa? Tetap bergembiralah dengan tujuh belas tahun usiamu. Ibu percaya, di sana Bapak pun tersenyum melihatmu bahagia hari ini menerima hadiah spesial dari kami berdua,” kata Ibu seraya menahan gejolak di kalbunya, terdengar dari suaranya.

Pada satu sisi, aku bahagia memiliki sepeda motor baru. Namun, di sisi lain sungguh sendu hatiku mengingat Bapak belum lama pergi selamanya. Ternyata peristiwa tersebut telah berlangsung dua puluh tahun silam. Rasanya baru sekejap waktu berselang, terjadinya dialog antara aku dan ibuku menjelang kuterima kado teristimewa. Ibu sudah berpulang ke hadirat Ilahi lima tahun silam, menyusul Bapak yang wafat lima belas tahun sebelumnya. Serta-merta terkenanglah diriku ketika pertama kali memiliki sepeda motor yang menjadi satu-satunya kendaraan pribadi yang kumiliki. Entah apa kata Bapak dan Ibu jika mereka mengetahui masih kumanfaatkan hadiah ulang tahun dari mereka dengan baik. Kuharap sungguh, mereka dapat senantiasa tersenyum bahagia di alam sana.

Terdapat sejumlah hal yang menjadi alasan mengapa aku belum pernah berganti sepeda motor selama dua dasa warsa. Pertama, kupegang prinsip untuk terus menggunakan sesuatu selagi ia masih bisa berfungsi dengan bagus. Tak jadi masalah jika seiring waktu berlalu semakin lawaslah barang itu. Bukankah sesuatu yang bersifat masa lalu lambat laun justru menjadi unik, kuno, eksotik, dan nilainya malah melonjak? Namun, biarpun harganya menjadi mahal sekalipun, belum pernah terbesit di benakku rencana menjual kendaraanku. Kedua, sudah jodohku dengannya menjalani masa nan panjang tanpa masalah signifikan. Sekian bulan sekali, aku pasti membawanya ke bengkel untuk diservis dan diganti olinya. Terkadang suku cadangnya mesti diganti. Ketika belum lama kumiliki, nyaris saban hari Minggu aku mencucinya sendiri. Seiring kesibukanku yang meningkat, aku memilih membayar orang lain saja yang membersihkannya.

Masalah yang sempat lama mengusik sepeda motorku adalah kebocoran ban, terutama yang belakang, yang menjadi semacam penyakit menahun. Bukankah biasanya ban motor bocor karena terkena paku? Tetapi, berkali-kali ban motorku habis anginnya tanpa alasan yang jelas, semacam terkena kutukan entah dari mana. Hal itu berlangsung selama sekitar dua hingga tiga tahun, ketika aku telah bekerja. Setiap bulan, setidaknya sekali –tapi seringnya lebih– selalu saja hal itu terjadi. Adakalanya tak hanya ditambal, bagian dalamnya sudah diganti sekian kali pula. Mungkin saja terjadi kesalahan tingkah laku yang selama ini kerap kulakukan tanpa disadari. Dampak negatifnya adalah kerepotanku menghadapi kasus ban bocor tersebut. Kucoba introspeksi diri selalu seraya tentunya memperbaiki sikap maupun tingkah laku. Sampai akhirnya aku berinisiatif mengganti ukuran ban motorku yang belakang, tentu disertai doa nan sungguh-sungguh, maka baru berakhirlah kutukan itu.  

Dua puluh tahun sudah sepeda motor itu menemaniku. Terima kasih belaka barangkali tak cukup kuucapkan baginya. Berlimpah nian kisah yang telah kami lewati bersama dalam beragam rasa. Bahkan tak hanya diriku yang pernah memakainya, kadang kala sejumlah kerabat maupun tetangga pernah meminjamnya. Tak akan kulupakan jasa-jasanya menyertai langkahku mengarungi hidup menjadi lebih ringan. Dalam kurun masa selama itu, begitu banyak fase kehidupan yang orang lain lewati. Sejak mereka masih menjadi anak SMA, mungkin lantas menjadi mahasiswa, sepeda motor pun dipakai bermain bersama kawan, juga berpacaran, lalu ada saatnya digunakan untuk bekerja, dan bisa jadi sampai membawa istri dan anak-anak mereka. Bagiku sendiri, sebagian fasenya serupa dengan yang mereka alami. Sepeda motor tersebut senantiasa menemaniku, baik ketika masih bersekolah maupun setelah bekerja, pastilah dengan segala pernak-perniknya. Tetapi, ada sesuatu yang tak berubah sedari dahulu. Aku mengendarai sepeda motorku hingga kini, masih sendiri. Kau tahu rasanya sendiri?

TAMAT




================
Luhur Satya Pambudi lahir di Jakarta dan tinggal di Yogyakarta. Cerpennya pernah dimuat di sejumlah media cetak dan digital, seperti: Horison, Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, kompas.id, dan magrib.id. Kumpulan cerpennya berjudul Perempuan yang Wajahnya Mirip Aku (Pustaka Puitika).  

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here