AKU
tak pernah membayangkan bisa sampai di sini. Kepulan salju yang menumpuk sampai kaki, angin dingin yang bersemilir, langit mendung yang murung. Sudah berapa jauh kami berjalan?

“Ibu, aku lapar,” ucap anakku di belakang berjalan sempoyongan. Aku bisa merasakan lemas yang dialaminya.

Kulihat sekeliling, daun-daun membeku, air menjadi batu bening seolah baru dikutuk. Tidak ada siapa-siapa lagi di sini. Anakku menatapku penuh permohonan, butiran salju membuat bulunya mengeras, kakinya bergetar.

“Kurasa, kita harus beristirahat sebentar.” Aku menekuk kakiku hingga dapat merasakan tanah yang basah. Kudekatkan anakku pada bulu tebalku, mendekapnya, menyelimutinya.

“Aku lapar,” ulangnya. “Aku ingin pulang.”

“Sebentar lagi kita akan sampai.”

“Dari kemarin Ibu bilang seperti itu, tapi sampai sekarang kita tak sampai-sampai.”

Aku hanya mengandalkan insting keibuanku, mungkin justru kami berjalan semakin jauh dari rumah. Aku tak tahu arah, kami tersesat. Tetapi aku tak menyesali pilihan ini, lebih baik bergerak, terus berjalan dari pada berdiam diri kedinginan. Kuhirup napas dalam-dalam, “Ibu janji setelah ini kita akan sampai. Apa yang akan kamu lakukan ketika sampai di rumah?”

“Hmmm… Aku akan banyak-banyak makan, bermain bersama Domba Cerewet, berlari-lari bersama Domba Kuat. Berpelukan denganmu sepanjang hari seperti ini, juga tidur bersama domba-domba lain!” serunya.

“Bukankah memang itu yang kamu lakukan setiap hari?”

“Ya, karena itulah aku merindukannya. Lalu, apa yang akan Ibu lakukan ketika pulang?”

“Entahlah, aku hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja. Aku ingin melihatmu bersenang-senang setiap hari,” Aku memeluknya semakin erat. Ketakutanku pada arah pulang menghantuiku lagi. Mungkin selama ini aku hanya berjalan memutar sehingga anakku jadi kelelahan.

Langit kelabu makin pekat, udara terasa makin dingin. Seekor burung hitam beterbangan mengitari kami, mendekat, sampai akhirnya mendarat tepat di hadapanku.

“Lebih baik kalian pulang! Cepat! Sebelum teman-temanku datang ke sini,” ucapnya cemas.

Aku pernah melihat jenis burung ini, burung hitam pemburu, aku pernah melihatnya memakan mata tikus, mencabik mangsa sampai dalam rongga perut. Jantungku berdebar kencang, kulitku merinding, rasanya aku ingin berlari secepat mungkin.

“Aku tidak seperti yang kamu pikirkan. Aku tahu kamu tersesat, sepanjang hari kamu hanya berjalan tak tahu arah. Ketika badai melanda, kamu dan anak itu terpisah dari gerombolan. Yah, badai kemarin memang berlangsung sangat tiba-tiba. Aku tak bisa bayangkan betapa hebatnya kalian dapat bertahan sampai detik ini. Dan ini pesanku untuk kalian, aku sangat gatal ingin memberitahu bahwa dari tadi kalian hanya berjalan semakin jauh dari tempat asal kalian. Di barat sana, aku melihat kepulan asap. Tempatnya besar dan luas dan ada pohon besar di depan, benarkah itu rumah kalian?”

‘Pohon besar di depan’, ya itu rumah kami. Di peternakan kami memang ada pohon besar yang sudah ada sejak aku kecil. Aku mengangguk bersemangat.

“Cepatlah kalian pergi ke barat, sebelum teman-temanku mengetahui keberadaan kalian. Teman-temanku itu buas, liar, dan serakah. Mungkin karena musim dingin ini membuat mereka sangat kelaparan, sudah berhari-hari mereka belum makan.”

“Terima kasih.”

“Jangan berterima kasih padaku, berterima kasihlah pada dirimu sendiri yang kuat bahkan sampai sekarang. Baiklah, aku harus pergi. Setidaknya untuk memastikan agar teman-temanku tidak sampai ke sini.”

Burung hitam itu terbang, semakin tinggi sampai hanya terlihat seperti noda hitam kecil. Entah sejak kapan anakku terlelap, aku jadi tak enak membangunkannya. Tapi, kami harus segera berjalan lagi.

“Nak, nak. Rumah kita sudah dekat, tadi malaikat hitam datang membawa pesan. Kita hanya perlu berjalan ke barat. Bisakah kamu berdiri?”

Anakku membuka mata, kakinya gemetar. “Ibu, aku lapar,” ucapnya.

“Kita hanya perlu berjalan ke barat.”

“Seberapa jauh itu, bu?”

“Tidak terlalu jauh. Mungkin sebelum gelap kita sudah sampai di rumah.”

“Begitu sampai di sana aku ingin banyak-banyak makan.”

“Pasti akan banyak makanan buat kita dan pasti teman-teman sedang menunggu kita. Kamu juga bisa menceritakan perjalanan kita pada yang lain. Pasti mereka suka.”

Kami mulai melangkah ke barat, arah matahari akan terbenam. Langkah kami semakin berat karena tumpukan salju yang lebih tebal juga karena kami harus menghabiskan tenaga kembali. Aku tak dapat membayangkan jika dari kemarin kami hanya berdiam diri di tengah kedinginan tanpa melakukan apa-apa, setidaknya dengan berjalan ada suatu keajaiban yang dapat menyelamatkan kami.

Walau langkah anakku masih sempoyongan, aku dapat melihat keceriaan dari ekornya yang melambai-lambai. Seekali juga aku mendengar dengungan dari mulutnya, menyanyikan sesuatu yang tak kumengerti.

Kami berjalan terus sampai jejak langkah kami lebih mirip bekas batang pohon yang jatuh dibandingkan dengan dua ekor domba berjalan. Aku tak sabar bertemu dengan domba lain. Mungkin mereka akan bertanya banyak hal, mungkin mereka akan membicarakan badai itu. Yah, membicarakan badai itu.

Tiba-tiba anakku menghentikan langkahnya. Burung-burung hitam dari barat beterbangan mengelilingi kami.

“Itukah malaikat hitam yang tadi Ibu sebut?”

Aku terdiam. Bukan, mereka bukan malaikat. “Kita harus berlari, nak.”

“Ke mana?”

“Ke mana saja.”

Anakku berlari secepat yang dia bisa, aku di belakang mengikutinya. Burung-burung hitam itu mengikuti kami, mereka sesekali berciut-ciut juga tertawa terbahak-bahak.

Tiba-tiba anakku terjatuh, seluruh badannya gemetar, matanya melihatku kemudian memejam, tak lama kemudian darah keluar dari mulutnya. Aku berusaha membangunkannya—menjilat kepalanya, mendorong tubuhnya—hingga kemudian tubuhnya lemas tak berdaya.

Burung-burung hitam mendarat mengelilingi kami, beberapa masih ada yang beterbangan menyusul kami. Burung-burung itu mendekati anakku, menciuminya seperti menunggu makanan siap dihidangkan. Aku melenguh, tak membiarkan satu burung pun menyentuh anak kesayanganku.

“Kamu memang domba kuat dan besar. Besar tapi bodoh. Baru kulihat ada ibu sebodoh kamu,” seekor burung hitam berbicara, diikuti dengan gelak tawa burung-burung lain.

“Pembohong! Kamu pembohong. Kalian membunuh anakku…”

“Bukan kami yang membunuhnya, dia mati sendiri.”

Rasanya aku ingin menangis sekeras mungkin, aku ingin membunuh semua burung yang ada di sini. Aku hanya ingin pulang, aku tidak ingin mengalami hal semacam ini. Aku ingin berbahagia kembali bersama anakku.

Mata burung-burung hitam yang kelam menatapku, kemudian bergantian menatap anakku. Mereka mulai mendekati tubuh lemas di sampingku, paruh hitam mereka mencongkel bulu putih. Aku menghalau mereka, tapi percuma. Mereka semakin banyak seperti salju yang berjatuhan, seolah badai hitam telah datang. Badan anakku yang putih bermandikan darah, salju menjadi merah. Selagi burung-burung hitam dengan buas mencabik daging anakku, samar-samar aku mendengar sesuatu.

“Jangan sedih, sebentar lagi kami akan memakanmu.”

Mataram, April 2022





=================
Nuraisah Maulida Adnani lahir di Tulungagung, Jawa Timur, 27 Januari 2001. Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Mataram. Cerpen-cerpennya dimuat di berbagai media, baik online mau pun offline. Saat ini bergiat di komunitas Akarpohon, dan juga mengelola perpustakaan komunitas Teman Baca, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here