SAHAB Budiman terbangun dari tidur lelapnya. Ia menyeka mata, lalu mencoba menerka-nerka apakah waktu bangunnya itu sudah tepat sesuai dengan yang direncanakan atau tidak. Ia tak mau salah. Matanya segera beralih ke arah jam yang menggantung di tembok kamarnya. Pukul 01:00. Setelah memastikan waktu tersebut, ia melepaskan selimut panjangnya, kemudian bangkit dan bersejingkat keluar rumah. Ia ingat betul pesan Bape[1] Reman; harus sendiri, jangan sampai ada yang tahu, kalau ada yang tahu tak mau jadi. Karenanya, ia berupaya sedemikian rupa agar langkah kaki bahkan bayangannya pun jangan sampai ada yang tahu.

Ketika hendak memasuki jalan setapak di kebun yang menghubungkan rumah dengan tempat yang ditujunya, ia berhenti sejenak. Langkahnya sempat tercekat dengan rasa takutnya. Ia teringat cerita warga betapa seramnya rempung[2] itu. Mulai dari babi ngepet, anjing jadi-jadian, kambing berwajah perempuan tua, hingga kucing berekor dua meter konon sudah acap ditemukan di tempat yang ditujunya tersebut. Ia pun berusaha menepis rasa takutnya itu dengan menghadirkan kembali penghinaan yang pernah dialaminya itu di hadapan saingannya.

Namun, lagi-lagi angin malam seolah meniup bulu kuduknya. Lolongan anjing yang terdengar sahut-menyahut dari kejauhan juga tambah menyusupkan rasa takut ke dalam dadanya. Ia menarik napas dalam. Sebetulnya, ia enggan melakukan ritual itu. Selain syarat yang berat, diperlukan tekad dan keberanian yang kuat untuk melangsungkannya. Hanya saja harga diri adalah sesuatu yang harus dibayar mahal di depan seorang gadis. Ketika bayangan penghinaan demi penghinaan yang dilakukan gadis kampung itu tampak jelas, rasa takutnya segera lindap sekali lagi. Bujang itu memantapkan niat, dan tanpa buang waktu lagi ia segera menerobos pekatnya malam menuju tempat mematangkan senggegernya itu.

٭٭٭

Nama gadis itu Budiani. Panggil saja Diani. Untuk ukuran gadis kampung, ia memang bisa dibilang primadona. Wajahnya tirus, kulitnya cukup putih, bermata bundar, dan rambutnya yang hitam arang tergerai lurus sampai bahu, membuatnya punya semacam chemistry. Orang Sasak menyebutnya melik yang membuat mata laki-laki enggan berpindah ketika menatap wajahnya. Ditambah lagi dengan hidung bangir membuatnya seolah ada darah blasteran mengalir dalam dirinya.

Sahab memang bukan satu-satunya cowok yang pernah ditolak gadis bermulut burung pleci itu. Jumadi, misalnya, seorang bujang panuan di kampung itu pernah nekat menembak Diani. Kalau sekadar ditolak barangkali tidak jadi soal. Tapi komentar pedasnya membuat citra dirinya jadi rusak, yang tentu saja tak disampaikan secara langsung, melainkan melalui mulut orang-orang. “Kalau menikah dengan Jumadi, pekerjaanku jadi bertambah satu; jadi tukang garuk tutul di sekujur tubuhnya,” oloknya. Keesokan harinya, ramai orang menggunjingkan perihal penolakan tersebut. Dan sejak saat itu, nama Jumadi berubah jadi Jumadi Tutul, yang tak lain berarti bujang panuan.

Mahip Purnama adalah bujang yang senasib dengan Jumadi. Nama aslinya sebenarnya Mahip Rasidin. Diani pula yang menambahinya Purnama. Tentu saja bukan karena wajahnya seperti bulan purnama, melainkan jidat bujang satu ini lebar dan bulat persis seperti bulan purnama. Mahip memang tidak pernah menembak Diani. Ia baru mulai melakukan pendekatan belaka, tapi sudah mendapat gelar tambahan itu.

Kalau disebutkan, masih banyak lagi bujang yang bernasib seperti mereka. Dan Sahab termasuk di antara golongan yang tak selamat tersebut. Bahkan penolakan yang dialaminya jauh lebih parah dari mereka.  Begini ceritanya, malam itu Sahab pergi midang[3] ke rumah Diani. Sadar betul ia akan risiko penolakan atau persaingan yang akan dihadapinya. Karena sudah menjadi kebiasaan, rumah gadis cantik pasti tak pernah sepi didatangi bujang. Tapi mau bagaimana lagi, mungkinkah keberhasilan datang dengan sendiri tanpa usaha? Setidaknya, itulah yang tertanam dalam diri bujang bertubuh kontet itu. Meskipun sudah dua kali ia ditolak gadis primadona itu.

Sesampai di rumah Diani, rupanya sudah ada Gondrong yang duduk di sana. Gondrong tidak lain bernama asli Bonggek, seorang bujang karatan paling disegani dari kampung tetangga. Ia dipanggil Gondrong karena betul rambutnya panjang melintasi bahu. Dan rambut gondrong itu dilengkapi dengan wajah sangar dan perawakan gempal.

“Kamu nyundul[4] saja, Hab. Nanti saya yang jadi depan,” ucap Samsul Karim, teman yang setia menemaninya malam itu.

“Kamu yakin? Aku khawatir bakeq beraq[5] itu mabuk dan menghadang kita lagi di jalan.”

Gondrong memang suka mabuk, dan kalau sudah mabuk omongannya sering meracau dan menantang siapa pun bujang yang ia temui.

“Kalau masih suka takut, potong saja kemaluanmu, Hab!” tukas Samsul Karim mengompori.

“Bukan begitu. Cuma aku tak mau ribut.”

“Lihat, dari caranya duduk, sepertinya dia sudah lama datang.”

Sahab akhirnya memantapkan diri untuk menyundul. Dalam tradisi midang, seorang bujang yang datang duluan dan sudah duduk cukup lama, ia memang harus mengalah atau pulang ketika ada orang lain menyundul, meski gadis tersebut pacarnya. Tapi, malam itu dugaan Sahab dan Samsul Karim meleset. Gondrong baru saja datang, sehingga tak mau turun meskipun mereka telah mendaratkan bokong di kursi. Pada saat itulah penghinaan itu terjadi.

“Sebaiknya kamu pilih saja siapa yang akan turun, Diani!” pinta Sahab.

“Kamu siapa seenaknya nyuruh aku memilih, Hab!”

Tak tanggung-tanggung. Terang dan jelas kalimat itu meluncur dari mulut Diani.

“Kamu kan sudah tahu aku Sahab, calon kamu…”

“Calon apa maksud kamu?”

“Calon pendamping hidupmu.”

“Kamu jangan kepedean, Hab. Aku sudah bilang, aku ndak mau sama kamu. Kamu mau ajak semua keluargamu, dihitung dari buyutmu, datang ke sini sambil memohon-mohon, aku tetap tidak mau sama kamu!”

Itulah kalimat terakhir yang ditangkap Sahab setelah ia merasakan dadanya kembang kempis. Kalimat itu adalah petir yang menyambar jantungnya. Sehingga ia kesulitan mengeluarkan napas dan suara. Getaran dadanya semakin kencang ketika melihat saingannya tertawa cekikikan. Boleh jadi ia merasa sedang memenangkan ajang paling bergengsi malam itu. Dan Sahab sendiri adalah pecundangnya. Ia pun pulang dengan hati meradang, dan bersumpah untuk kembali sebagai pemenang.

***

Dari tempatnya berdiri, tampak jelas bahwa rumah berberanda itu malam ini sepi. Empat buah kursi plastik yang posisinya tepat di bawah lampu itu kosong. Gondrong, belate[6] itu pasti sudah ditolak juga, bisiknya sambil tersenyum. Sahab lalu melangkah dengan rasa percaya diri yang melangit. Kali ini ia yakin bahwa dirinya pasti berhasil melunasi sumpahnya beberapa malam lalu. Ia segera menyiangi rambut lebatnya dengan minyak rambut yang sudah dirapalkan senggeger turun tangis. Kata Bape, kalau senggeger itu sudah dimatangkan dengan ritual mandi tengah malam, wajib sasarannya tergila-gila.Sahab segera menghampiri rumah yang berjarak dua pelemparan batu dari jalan itu.

“Diani mana, Bu?” tanya Sahab setelah dipersilakan duduk.

“Kamu belum mendengar kabar?”

“Kabar apa?” Sahab digerayang rasa penasaran.

“Serius kamu betul-betul belum mendengarnya?”

“Apa wajahku belum kelihatan serius, Bu?”

“Ia sudah merarik[7], kemarin malam ia dibawa lari sama Gondrong!”

“Ibu tidak bercanda, kan?”

Rasa percaya diri Sahab yang tadinya melangit seketika melorot ke kerak bumi.

“Sejak kapan Ibu suka berbohong?”

Sahab mengempaskan punggungnya ke sandaran kursi. Ia tertunduk lesu untuk beberapa saat. Seribu umpatan menyembur dalam hatinya, meski ia tahu buat apa kekonyolan itu ia lakukan. Kenapa Diani yang berhati baja begitu cepat luluh sama Gondrong? Apakah laki-laki brengsek itu juga memakai senggeger dan mungkin lebih sakti dari pada yang dipakainya? Lalu, mau diapakan senggeger warisan yang baru diijazahkan oleh Bape yang katanya tidak boleh untuk main-main itu? Batin Sahab terus digerayang pertanyaan-pertanyaan gelap semacam itu.

Ketika ia mengangkat wajah, didapatinya mata ibu Diani mengerjap-ngerjap sambil tersenyum simpul. Perempuan paruh baya itu lalu mendekatkan kursinya, sehingga membuat Sahab jadi kikuk. Bujang bertubuh seperti bantal Lombok itu baru memahami kejanggalan yang mendadak dihadapinya setelah beberapa saat ibu Diani berbisik lirih, “Kau tahu, ibu juga sudah lama menjanda.”

Catatan:

  • Senggeger            : semacam mantra atau pelet yang bisa membuat targetnya, khususnya gadis, mudah jatuh cinta.
  • Melik: raut wajah seseorang yang selalu membuat orang suka dan betah memandangnya.
  • Praktik kawin lari dalam tradisi Sasak Lombok dinamakan merarik. Sebetulnya bukan kawin lari, hanya saja lebih diidentikkan dengan kata itu.

Lombok Tengah, 11 Mei 2022




==============
Wardie Pena, seorangpenikmat kalimat. Ia menulis cerpen, esai, opini, dan resesensi buku. Karya-karyanya sudah tersiar di berbagai media lokal dan nasional, cetak dan daring. Ia bermukim di Lombok Tengah, NTB.


[1] Paman (kakak dari ayah); istilah ini biasa dipakai untuk golongan menak/bangsawan

[2] Pertemuan dua sungai yang membentuk pertigaan. Konon tempat semacam ini diyakini sebagai tempat untuk melakukan berbagai ritual di kalangan masayarakat Lombok

[3] Sebuah tradisi (suku Sasak) berkunjung ke rumah seorang gadis dengan maksud mendapatkan hatinya atau meminangnya.

[4] Menghampiri. Biasanya ini dilakukan untuk orang yang datang belakangan dengan maksud agar orang yang datang lebih dahulu itu mengundurkan diri atau pulang

[5] Sebutan untuk jin yang jahat dan menyeramkan

[6] Makhluk dari bangsa Jin yang menghuni rumah-rumah kosong

[7] Kawin (lari)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here