TAK biasanya persediaan ikan hari ini cepat sekali habisnya. Hal itu tentu membuat Rastam, juragan warteg, jadi curiga sekali. Padahal ia sudah menambah anggaran lebih untuk membeli kebutuhan stok ikan di dapur. Sebenarnya kecurigaan sang juragan mengerucut pada satu orang. Hanif namanya, tapi tentu tak elok mencurigai pekerja di wartegnya pilihan dari Kiai Bahtiar, guru spiritualnya.

“Turuti saja kemauan Hanif, meski tingkahnya kadang sering aneh, tapi justru sering benar di luar pemikiran kita yang awam,” pesan Kiai Bahtiar yang selalu diingat Rastam, meski dirinya sering dibuat jengkel dengan tingkah aneh Hanif, tapi selang beberapa hari kemudian ucapannya memang sering terbukti.

Rastam juga ingat nasihat Kiai Bachtiar, “Sabar saja, yang penting kau tidak dirugikan karena semua toh yang dilakukan tentu demi kebaikanmu. “

Menurut Kiai Bahtiar, ia tak menyesatkan. “Ingat, sebagai gurumu, aku tentu tidak akan menyesatkan kamu, tapi justru membimbingmu dari kehidupanmu yang dulunya hanya melirik bisnis oriented, sekarang kamu mulai membuka ladang amal demi bekal untuk dunia yang kekal, ” papar sang kiai panjang lebar.

“Kamu menerima Hanif kerja di wartegmu termasuk ladang amal juga, “ tegas Kiai Bahtiar, kemudian menerangkan, “Karena Hanif anak yatim-piatu yang tentu butuh pertolongan orang seperti kamu yang memang hidup berkecukupan.”

***

Rastam tercenung beberapa saat mengingat pesan-pesan bijak dari Kiai Bahtiar, guru spiritualnya. Memang menerima Hanif kerja di wartegnya termasuk ladang amal juga. Setelah itu, ia membayangkan awal pertama kali menerima Hanif kerja di wartegnya, betapa Hanif adalah sosok anak yang pintar, sederhana dan bersahaja. Ia masih ingat sekali, bagaimana Hanif saat awal bekerja tampak begitu amat senangnya bekerja di wartegnya. Bahkan terlihat begitu sangat bersemangat mengerjakan berbagai pekerjaan, mulai dari mencuci gelas-piring, menyapu, hingga melayani pembeli. Sungguh ia sangat terharu melihat semua itu.

Tapi Hanif lambat laun mulai memperihatkan tingkah-tingkah anehnya. Seperti di antaranya, memberi uang pada pengemis yang tampangnya kurang menyakinkan sebagai pengemis dengan pakaian yang masih bagus dan bersih. Sedangkan, pada pengemis yang pakaiannya kotor dan compang-camping, ia tak memberi uang sama-sekali, bahkan mengusirnya pergi. 

“Saya memberi uang pada pengemis yang berpakaian masih bagus dan bersih karena saya tahu kalau ia benar-benar butuh bantuan kita, “ kata Hanif penuh percaya diri dengan gaya sok tahunya itu. “Ia menghargai orang dengan berpakaian masih bagus dan bersih dan saya tahu kalau pakaian itu satu-satunya pakaian terbaiknya dan sangat menjaga kebersihan pakaian.”

Sedangkan, lanjut Hanif, ia tak memberi uang sama-sekali, bahkan mengusir pergi pengemis yang pakaiannya kotor dan compang-camping karena katanya ia tahu kalau pengemis itu hanya pura-pura miskin. “Padahal rumah pengemis itu di kampungnya begitu paling besar, terlihat megah dan mewah, dibanding rumah-rumah tetangga di kampungnya, “ papar Hanif masih dengan gaya sok tahunya.

Rekan-rekan sesama pekerja warteg tampak takjub mendengar penuturan Hanif yang begitu menyakinkan dan penuh percaya diri, meski tampak dengan gaya sok tahunya.

“Benar itu apa yang diucapkan Mas Hanif, “ terdengar salah seorang yang makan di warteg angkat bicara. “Kita memang tidak bisa menilai yang hanya tampak mata saja, tapi juga dengan mata batin yang jernih. Hanya orang tertentu dan punya kemampuan khusus yang bisa melakukan itu.”

“Hahaha, Bapak ini bisa aja, “ Hanif tergelak menanggapinya. “Saya hanya orang biasa kok, “ ujar Hanif merendah.

“Mas Hanif hebat!”

“Ah, saya bukan orang hebat.”

“Mas Hanif ini orangnya suka merendah.”

Rekan-rekan sesama pekerja warteg jadi lebih takjub lagi mendengar penuturan Hanif yang tak mau dianggap hebat itu. Bahkan, kemudian mereka sering minta Hanif cerita berbagai kisah-kisah unik dan ajaib yang di mata masyarakat awam aneh. Hal itu tentu membuat semua orang jadi penasaran.

Tapi Hanif selalu punya cara agar dirinya tak harus cerita terus kalau ceritanya nanti kalau warteg sudah tutup karena kalau cerita pada saat warteg buka itu sangat mengganggu kerja. Ia menjunjung tinggi profesional dalam kerja. Begitu warteg tutup, Hanif bukannya melanjutkan cerita, tapi langsung tidur lebih cepat dari rekan-rekan sesama pekerja warteg. Tapi saat semua orang terlelap dengan mimpi-mimpi indah, Hanif selalu bangun untuk menegakkan sholat di sepertiga malam.

***

Terkait persediaan ikan hari ini cepat sekali habisnya, Rastam masih belum tahu apa sebabnya. Ia tak enak hati kalau kejadian itu harus ditanyakan pada Hanif. Saat warteg tutup, ia memeriksa lauk, dimana lauk-lauk yang habis segera dicatat untuk kemudian dimasukkan ke daftar belanjaan.

“Ijah, apa benar persediaan ikan hari ini cepat sekali habisnya?” tanya Rastam pada Ijah yang tampak sedang nonton tiktok di hpnya.

“Benar, Gan, “ jawab Ijah masih tetap asyik menatap layar hpnya.

Rastam geleng-geleng kepala, kemudian bergumam, “Kok aneh ya padahal saya sudah menambah anggaran lebih untuk membeli kebutuhan stok ikan di dapur.”

“Iya aneh Gan, “ Ijah kembali menjawab dengan masih tetap asyik menatap layar hpnya. Bahkan diselingi ketawa cekikikan karena tayangan tiktok memang sering lucu-lucu dan begitu sangat menghibur.

Rastam tercenung kali ini penuh kebingungan karena hampir semua pekerja warteg selalu membenarkan kalau persediaan ikan hari ini cepat sekali habisnya. Kecuali Hanif yang belum ditanya, tapi tentu seperti biasa begitu warteg tutup, pembantu pilihan Kiai Bahtiar itu langsung tidur.

Benar juga, saat Rastam menyeret langkah ke lantai atas, tampak Hanif tidur pulas. Tapi begitu ia akan berbalik pergi, sebuah suara menghentikan langkah. “Juragan ingin tahu perihal persediaan ikan hari ini cepat sekali habisnya?” tanya Hanif seketika bangun dari tidur.

“Maaf, Han, kalau kehadiran aku di lantai atas ini membangunkan tidurmu, “ tutur Rastam tersipu-sipu.

“Jangan minta maaf, Gan, karena itu hak juragan untuk bertanya, “ kata Hanif, kemudian menerangkan, “Juragan jangan segan-segan bertanya tentang apapun pada saya, karena saya bawahan juragan tentu wajib hukumnya untuk menjawab pertanayaan juraga, karena saya memang bekerja untuk juragan.”

“Selama ini, juragan segan bertanya pada saya karena saya tahu juragan sangat hormat pada Kiai Bahtiar, “ imbuhnya.

Hanif mengaku kalau perlakuan itu tidak adil. “Saya merasa dibedakan dengan rekan-rekan pekerja warteg lainnya dan itu tidak adil. Mohon kiranya juragan memperlakukan saya sama dengan rekan-rekan pekerja warteg lainnya.”

Adapun, lanjut Hanif, mengenai persediaan ikan hari ini cepat sekali habisnya, ia membuka tabirnya. “Mungkin yang akan saya ceritakan ini terdengar aneh, tapi saya akan cerita sebatas pengetahuan saya yang sangat terbatas.”

Rastam mengangguk-angguk memakluminya.

Hanif menghela napas sejenak, setelah itu menceritakan, “Persediaan ikan hari ini cepat sekali habisnya karena beberapa ikan tiba-tiba hidup dan kemudian berloncatan keluar dari bak persediaan ikan, rekan-rekan pekerja warteg tidak ada yang tahu, kebetulan saya mengetahuinya, dan itu sebuah isyarat yang saya tangkap sepertinya Nabi Khidir singgah di Warteg Barokah ini.”

“Subhanallah alhamdulillah…” Rastam takjub menyebut-nyebut.

“Tapi maaf saya tidak tahu persis kapan Nabi Khidir singgah di Warteg Barokah ini, pagi, siang atau malam, entah, saya tidak mengetahuinya, “ tutur Hanif begitu lembut penuh kebijakan. “Juga sosok persisnya Nabi Khidir seperti apa, mohon maaf, saya tidak mengetahuinya. Saya hanya menangkap sebuah isyarat saat beberapa ikan tiba-tiba hidup dan kemudian berloncatan keluar dari bak penampungan ikan itulah mungkin saatnya Nabi Khidir singgah di Warteg Barokah ini.”

“Subhanallah alhamdulillah…” Rastam kembali menyebut-nyebut.

            “Oh-iya, saya jadi ingat tadi siang saat warteg sepi pembeli, datang seorang lelaki tua yang sekilas seperti seorang pengemis, namun hanya meminta minum. Saya menyuruh Ijah menyerahkan segelas air ke lelaki tua itu. Begitu selesai menegak air, lelaki tua itu mengucap alhamdulillah dan menyerahkan lagi gelas yang masih ada sisa airnya. Si lelaki tua mengucap terima kasih lalu mohon diri. Setelah lelaki tua itu pergi, pembeli begitu banyak berdatangan, saking banyaknya pembeli kita sampai kewalahan melayani. Alhamdulillah…”

“Subhanallah alhamdulillah…” Rastam menyebut-nyebut terus tiada henti.

Pengadegan, Pancoran, Jakarta Selatan, 2022






===============
Akhmad Sekhu, penulis kelahiran desa Jatibogor, Suradadi, Tegal, 27 Mei 1971. Novelnya: Jejak Gelisah (2005), Chemistry (2018), Pocinta (2021). Kumpulan cerpennya “Semangat Orang-Orang Jempolan” (siap terbit).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here