SUDAH satu bulan kabar pernikahan Mutia kudengar. Sebulan itu juga hidupku menjadi tak menentu. Rasa kaget, gembira, sedih, dan haru bergantian berkunjung ke bilik hatiku. Tapi yang lebih sering datang adalah kekosongan, Elena. Ya, kekosongan!

Bagaimana tidak? Lima belas tahun aku menghilang dari kehidupanmu, juga kehidupan dua anak kita. Aku merasa tak pantas lagi diingat, apalagi dikenang. Ah, tidak! Kenangan tak mungkin luput. Tapi kenangan yang tersimpan di hatimu dan anak-anak pasti kenangan buruk tentangku. Membayangkan ingatan lampau itu menggenang di hatimu saja, aku sudah takut luar biasa. Lalu tiba-tiba kau meneleponku dan menyampaikan berita pernikahan Mutia.

Aku memang tak pernah berkirim kabar padamu Elena. Termasuk di saat aku berpisah dengan istriku—madumu yang dulu kau cemburui setengah mati, bahkan menyebabkan kau melapor pada atasanku hingga aku dipecat dengan tidak hormat dan akhirnya kita bercerai. Aku begitu mengenangmu, segala kebaikanmu, dan tentu aku rindu kedua anak yang kutinggalkan karena kemarahanku atas keputusanmu melaporkanku yang menikah siri dengan perempuan itu. Ada keinginan untuk menengokmu di rumah yang setelah perceraian itu jadi milikmu. Melihat anak-anak kita. Tapi kita seakan punya sekat yang tak tertembus.

Setelah dipecat, aku tak lagi bekerja, Elena. Bagaimana aku akan menghidupi perempuan itu tanpa pekerjaan? Aku luntang-lantung mencari uang. Dan hidup denganku yang tak lagi menjanjikan akhirnya membuat ia meninggalkanku. Aku menjalani hari yang sepi setelah perempuan itu pergi.

Aku kawin lagi. Kali ini dengan perempuan yang pernah jadi kupu-kupu malam. Perempuan yang pernah kukunjungi saat kita masih dalam ikatan pernikahan dulu. Aih, kau jadi tahu betapa bejatnya aku, Elena. Ternyata begitu  banyak wanita dalam kehidupanku saat kau menjadi istriku.

Perempuan ini mau kunikahi karena ia sedang tobat dan ingin menjadi wanita baik. Ia masih mengingatku dan mau menerimaku, sebab aku memang sedang mencoba menjadi lelaki baik-baik. Tapi kebaikan selalu dikalahkan dengan uang, Elena. Meski jika di film-film, kebaikan selalu menang di akhir, tapi siapa di antara kita yang sanggup berjuang hingga akhir? Kadang kita lelah sebelum tiba di akhir dan memilih berbalik ke belakang. Atau menempuh jalan lain yang ternyata justru lebih kejam. Atau bahkan berhenti, lalu meratapi kesalahan, putus asa menanti ujung dari kebaikan yang masih samar.

Pernikahanku berakhir lagi, Elena. Kami tak sanggup meneruskan atau sekadar bertahan. Setelah itu kuputuskan untuk tak menikah lagi. Tidak pacaran lagi. Bekerja serabutan, pindah dari kota yang satu ke kota yang lain. Bekerja di pabrik, menjadi kuli, menjadi petani. Tak ada yang kuminati sungguh-sungguh sejak meninggalkan—atau lebih tepatnya ditinggalkan—indikator kebahagiaan bagi orang-orang kebanyakan: hidup mapan, punya rumah dan kendaraan, punya uang, punya istri, dan punya anak. Bukankah itu adalah kehidupan saat aku masih bersamamu, Elena?

Aku menyepi dari orang-orang—termasuk keluargaku—kecuali  adikku yang bungsu. Entah kenapa, ia selalu berhasil menemukanku. Barangkali kau dapat nomor telepon selulerku darinya, Elena. Membuatmu bisa menyampaikan padaku, bahwa Mutia, anak sulung kita sebentar lagi akan menikah. Betapa cepatnya peristiwa menjadi lampau dan berlalu.

Aku tak tahu, sebagai ayah Mutia—yang brengsek ini—apa yang harus kusiapkan untuk pernikahannya. Acara akan digelar seminggu lagi. Hingga saat ini, aku hanya mampu mengumpulkan uang untuk ongkos perjalanan pulang ke kotamu, dengan tertatih. Berbongkah-bongkah pertanyaan sekaligus ketidakmengertian datang menyerbu, apakah peranku hadir di pernikahan anak kita, kecuali sebagai ayah biologisnya? Adakah cinta di hatinya untukku? Layakkah aku menjadi wali nikahnya? Tapi kata-katamu, bahwa kau dan anak-anakmu mengharapkan kehadiranku sebagai wali pernikahan membuat hatiku beriak. Aku telah tua. Dan tua pula kepahitan yang kutanam di hatimu dan anak kita.

Baiklah, aku akan datang, Elena. Janjiku padamu sambil menepis kenangan indah tentang rumah tangga kita sekaligus bencana dulu. Maka dua hari sebelum akad nikah, aku sudah tiba di kotamu. Aku singgah ke rumah adikku beberapa saat. Lalu setelah itu ke rumahmu, ke rumah kita dulu.

Tak banyak yang berubah. Rumah kita sejak dulu memang sudah besar. Pekarangan pun luas. Sudah ada tenda merah marun dengan list warna keemasan yang indah di sana. Dan saat aku datang, beberapa orang yang hilir mudik—tidak semuanya kukenali sebab banyak tetangga baru di sini—menoleh, memandangku, dan aku tak sanggup menebak apa yang ada di kepala mereka sebab isi kepalaku sendiri telah penuh dengan semua kenangan tentang kita.

“Pak,” seseorang mendekat dan aku seakan terpasung di tempatku berdiri. Lima belas tahun, Elena. Kau telah menua dengan anggun. Tak banyak berubah pada wajah dan tubuhmu.

Kita sama-sama terdiam, tak tahu mesti apa dan bicara apa. Ingin kupeluk dirimu, tapi semuanya tentu tak lagi sama. Kulihat titik bening jatuh di pipimu. Oh, Elena, hatiku berderap, tak tahu memaknai pertemuan ini. Kulihat sesosok perempuan muda nan jelita berdiri di sampingmu. Dan aku seakan melihat diriku sendiri di sana.

Perempuan muda itu memegang tangan Elena. Wajahnya tersirat pertanyaan yang ingin aku jawab. Tapi Elena hanya memandangku dengan wajah dipenuhi kabut. Bibirnya bergetar. Perempuan muda itu memapahnya untuk duduk lalu ia mendatangiku.

“Ayah,” akhirnya kata-kata yang kutunggu itu keluar juga. Aku mengangguk. Dan ia memelukku, erat sekali. Oh, Elena. Pantaskah aku mendapatkan pelukan dan cinta ini? Kutahan air mataku. Kucium keningnya. Dan kuusap rambutnya dengan hati yang menjeritkan kata “maaf” berulang-ulang.

Aku masuk ke dalam rumah. Isinya masih tak ada yang berubah. Lemari dan kursi jati, meja kerja yang sudah lebih dari lima belas tahun umurnya. Tiada yang berbeda sejak kutinggalkan dulu. Kenapa, Elena? Bahkan foto-foto kita masih ada. Oh, ada dua yang bertambah, foto Mutia wisuda—yang kau tanggung biaya sekolahnya sendirian—dan foto close up perempuan muda yang lain. Ah, itu tentu si bungsu, Rani, yang dulu umurnya masih lima tahun saat kutinggalkan.

Sungguh, hatiku tersayat-sayat melihatnya. Kau ingin menyimpan kenangan tentang kita begitu lengkap, sampai tak ada yang kau ubah.

Tak sadar, kakiku beranjak ke dalam kamar kita dulu. Aku ingin melihat-lihat isi rumah yang telah kutinggalkan belasan tahun itu. Tak kau cegah. Kubuka pintunya, ranjang serta almari pakaian dan meja hias masih sama, bahkan posisinya tak ada yang berubah. Persis seperti dulu sebelum kutinggalkan rumah ini.

Kubuka almari pakaian, seluruh pakaian dinasku masih tersimpan rapi di sana. Aku tergugu menatapnya. Apa yang telah kau lakukan, Elena? Kau tak membiarkan lelaki lain memasuki rumah ini, memasuki hatimu, bahkan kau menyuburkan semua kenangan tentangku dengan tabah. Betapa kau peluk erat setia, meski kita tak lagi bersama.

Aku terduduk di ranjang tua itu. Menghela napas dan menguatkan hati sebelum akhirnya melangkahkan kaki keluar kamar.

“Kau ingin beristirahat. Pak?” tanyamu dengan suara bergetar. Aku menggeleng. Beku rasanya hatiku mendengarnya.

Kami hanya bertiga di ruang tamu. Orang-orang sepertinya tak hendak mengganggu kehadiranku di rumah ini.

Seorang perempuan muda masuk. Aku terkesiap, serasa melihat Elena masih muda di sana.

“Ini Rani, Pak,” katamu lagi. Kuhampiri anak yang seakan tak mengenalku itu. Tentu saja. Apa yang bisa diingat dari anak usia lima tahun tentang aku ayahnya sebelum pergi dari kehidupannya?

Kupeluk si bungsu itu. Kukecup keningnya. Kutahan air mata yang hendak menyelinap keluar. Andai dapat kujaga rumah tangga yang penuh dengan cinta dan kesetiaan ini sejak dulu? Ah, tidak, tidak! Aku tak sanggup lagi. Tak lagi bisa kutahan air mata yang sedari tadi kupaksa untuk tak jatuh.

Kami bertangisan. Tapi ini tetap tak bisa diubah, Elena. Kau dan aku tetap tak bisa lagi bersama. Bagaimana mungkin kita akan rujuk lagi, menikah, meski cinta dan setiamu kau jaga utuh untukku, bahkan hingga menua? Mengetahui tentangmu, adalah derita yang lebih perih dari beragam penderitaan yang telah kualami hingga setua ini, Elena. Dan dari segala derita, baru kali ini aku merasa lebih baik mati.***

===========

Rumasi Pasaribu, lahir di Taba Pingin, Lubuk Linggau, Sumatera Selatan. Cerpen dan puisinya termuat di beberapa antologi lokal dan nasional, serta di beberapa surat kabar. Novelnya berjudul Aku Masenja merupakan novel pemenang 1 pada lomba menulis novel tingkat nasional Penerbit Araska. Saat ini berdomisili di kota Bengkulu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here