DI PALU sebelum gempa bumi, para remaja — secara harfiah dan kiasan — mengendalikan segalanya.

Ah, sebenarnya aku tak ingin pergi, tetapi dia memaksa.

Kami sedang menuju pesta perpisahan. Hendri, seorang teman kami, pindah ke Makassar untuk selamanya. Sesungguhnya, aku tidak akan secara spesifik mengatakan Hendri adalah temanku, tetapi dia adalah salah seorang dari yang terlalu ramah, yang ingin tetap dekat dengan teman mereka dengan cara apa pun, dan oleh karena itu siapapun juga bisa menjadi temannya yang akrab. Dia adalah teman pacarku; tidak ada pilihan lain.

Komplek perumahan itu seperti keterasingan. Meskipun penuh orang, pemandangan kotak-kotak yang bertegel dan koper yang telah dikemas di lorong memberiku perasaan tidak nyaman. Hasratku sedang tidak mau bergaul, jadi aku mengambil sirup dari lemari es dan pergi ke balkon. Aku juga ingin memberi Sari dan Hendri ruang untuk waktu terakhir mereka sebelum perpisahan.

Aku selalu membenci balkon Hendri. Dalam pemandangan luas Palu dari Tadulako, yang menurut semua orang menakjubkan, aku tak melihat apa pun selain penderitaan yang melata di jalan-jalan kota, meratakan penduduknya. Aku tak mengetahui proses berpikir yang membuat Hendri memutuskan dia akan meninggalkan kota ini, tetapi apa pun yang mendorongnya, balkon itu pasti sangat berpengaruh.

Aku sedang berdiri di tempat yang gelap dan tersembunyi dengan sirupku, bersandar pada pagar besi yang kokoh, ketika Sari melangkah keluar ke balkon dan menemukanku. Sepertinya dia telah mencari beberapa lama.

“Ke mana saja ngoni?” dia bertanya marah.

“Menyendiri di sini,” jawabku tenang.

“Sejak kita tiba?”

“Iya.”

“Mengapa?”

“Aku tak kenal siapa pun.”

“Ngoni kenal Bassem dan Alia!”

“Aku sedang tak ingin bersosialisasi.”

“Kau bisa masuk dan membantu kami di dapur.”

“Kupikir akan memberi kau waktu berkualitas dengan Hendri.”

“Ya, benar. Betapa bijak ngoni.”

Aku tak yakin mengapa dia begitu tegang. Apakah Hendri pernah memberitahunya sesuatu yang membuatnya kesal? Aku menelan sarkasme yang menggigit dan mengikutinya ke dapur, dengan botol sirup kosong di tangan.

Tamu mulai menyedikit. Hendri berdiri dengan dua temannya di ambang pintu kamar tidurnya yang sekarang hampir melompong, sementara kelompok kecil lainnya duduk-duduk di sofa di depan TV. Kami memasuki dapur. Tidak ada orang lain di sana. Kulihat sekeliling untuk melihat apa yang dapat kulakukan untuk membantu. Kugulung lengan bajuku dan pergi mencuci piring.

“Ngoni luar biasa, ngoni tahu itu?” kata Sari.

Ah, apa yang kulakukan sekarang?

“Mengapa kau datang malam ini?” susulnya.

“Apa maksudmu kenapa aku datang? Kupikir kau ingin aku datang! “

“Nah, jika rencanamu adalah menghabiskan sepanjang malam sendirian di balkon, kau mungkin lebih baik tinggal di rumah.”

“Sari, apa masalahmu? Aku mencoba di sini. Kau tahu aku tak tahan dengannya, tapi kau mengisyaratkan bahwa alangkah baiknya jika aku datang, bahwa ini akan menjadi yang terakhir kalinya dan aku tak perlu melihatnya dalam waktu dekat, dan inilah aku.”

“Alah, persetan denganmu!” Itu adalah Hendri. Dia telah mendengarku. “Jika kau tidak menyukai aku, mungkin kau tidak harus meminum semua sirup punyaku!”

Aku akan memberitahunya bahwa hanya satu botol sirup yang kuminum, tapi kuputuskan itu tidak sopan.

“Sari, kenapa kau tidak menemani Hendri sampai dia pergi ke bandara? Kau bisa meneleponku begitu dia sudah masuk di pesawat.”

Aku meraih jaketku dan pergi. Aku tak terlalu marah, tetapi ada sesuatu yang berulang dalam hubunganku dengan Sari yang terus menggangguku; nada tertentu yang diambil suaranya ketika dia kesal karena sesuatu yang kulakukan. Nah, Sari kesal karena sesuatu yang kulakukan — itu terus berulang. Mungkin itulah yang benar-benar menggangguku.

Aku bertemu Sari di pesta Malam Tahun Baru tiga tahun lalu. Dia mendatangiku dan berkata, “Ku mengenalmu.” Dia tidak melanjutkannya, sungguh, tapi aku senang dia mengira dia kenal aku. Kami berkumpul pada awal Februari, dan merayakan Malam Tahun Baru berikutnya di kamar kontrakan kecil tempat kami pindah bersama. Semuanya berjalan lancar sampai kualami krisis keuangan yang mencekik. Aku tak pernah ditawari pekerjaan baru selama sekitar satu tahun dan bangkrut. Secara kebetulan, pada tahun yang sama Sari mulai memikirkan kami untuk menikah. Dia tidak pernah membicarakannya secara langsung, tetapi secara menyindir, dan arahnya jelas.

Dia sangat membantu, penuh perhatian, dan ramah tentang situasi keuangan secara keseluruhan. Tapi itu tidak mencegah ketegangan. Dia yang biasanya membayar ketika kami pergi ke tempat mewah bersama teman-teman atau ketika kami mengadakan pesta. Setelah percakapan melelahkan tentang rencana dan masa depan, dan dua bulan setelah kubayar bagian terakhir dari kontrakan, kuputuskan untuk pindah kembali ke rumah ibuku.

Berdiri di depan rumah Hendri, diselimuti oleh angin pantai Talise yang dingin, kuhitung uang di dompetku. Aku tak punya cukup uang untuk naik ojek pulang ke rumah, jadi kuputuskan untuk naik ke terminal terdekat sebagai gantinya; barat laut ke pusat kota atau ke barat daya, atau mungkin pergi ke tempat lain. Kuhentikan ojek dan memberi tahu pengemudi ke mana tujuanku. Dia sudah ngebut saat kududuki sadel penumpang, menceritakan semua tentang permainan domino yang harus dia teruskan setelah dia menurunkanku. Aku sibuk menghitung kembalian untuk membayarnya ketika teleponku berdering. Itu Sari.

“Hei,” katanya.

“Hei, sayang.”

“Dengar, kupikir kita harus bicara malam ini.”

Nada mendesak itu lagi. Aku tak menyukainya, sama sekali tidak. Kutahu dia tidak akan membiarkanku melupakan apa yang terjadi di rumah Hendri tanpa alasan yang tepat, tetapi perasaan mendesak dalam suaranya membuatku merasa ada yang lebih dari itu.

“Aku dalam perjalanan ke rumah.”

“Rumah ibumu?”

“Ya.”

Kupikir begitu.

Aku tak ingin bertengkar dengannya, jadi pura-pura tidak kudengar jawaban terakhirnya. “Aku akan meneleponmu saat bangun besok.”

“Kenapa kau tidak datang malam ini?”

Astaga, dia tidak akan membuatnya mudah. “Aku tidak mau, sayang.”

“Mengapa?”

“Karena kau agresif, itulah sebabnya.”

“Siapa yang agresif? Aku hanya ingin bicara.”

“Aku tak suka nada bicaramu dan lebih suka kita bicara besok.”

Dia menutup telepon tanpa sepatah kata pun.

Aku sedang mendidihkan amarah. Kuingat pertengkaran yang pernah kami alami karena tidak kubantu dia membersihkan ruang tamu untuk kunjungan ibunya. Energinya untuk terus bertengkar selama berjam-jam atas sesuatu yang dimulai dan diakhirinya sendiri hanya dalam beberapa saat benar-benar membuatku bingung.

Di terminal ku berdiri menunggu. Dua remaja yang tertawa sedang memainkan musik di ponsel China yang murah. Salah satu dari mereka memegangnya — jenis musik yang begitu keras dan berlebihan sehingga aliran itu sendiri disebut remix. Ketukan elektronik menghantam kepalaku ke dinding imajiner ketika angkot tiba. Pintu bergeser terbuka dan aku melompat ke dalam, sementara kedua remaja itu terus mendorong satu sama lain ke dalam dan ke luar mobil sampai pintu akhirnya tertutup.

Salah satu dari banyak keterampilan yang harus kukuasai sebagai lelaki sejati adalah kemampuan untuk mengabaikan keributan apa pun yang terjadi di sekitarku, tidak peduli seberapa kasarnya. Aku sedang dalam suasana hati yang buruk, jadi sedikit kesal. Kedua remaja itu bernyanyi dengan riuh diiringi alunan musik melalui speaker ponsel mereka. Kulihat sekeliling untuk melihat apakah ada orang lain yang merasa terganggu. Seorang wanita tua dengan salib di lehernya, mengenakan blus hitam dan kombinasi rok tengah hitam yang sering dipakai oleh pemeluk Kristen, duduk dengan pandangan jauh di wajahnya. Seorang buruh dalam perjalanan pulang tampak terlalu lelah untuk ikut campur, sementara pasangan yang berada di belakang tampak tidak menyadari segalanya kecuali satu sama lain, mencuri-curi ciuman cepat, didorong oleh fakta bahwa mobil angkutan itu relatif kosong.

Musik para remaja berhenti tiba-tiba. Dugaanku baterainya habis. Aku bersuka ria dalam keheningan yang menguasai mobil, sampai mereka mulai berbicara.

“Bilang saja, Modi, aku punya ide.”

“Apa?”

“Mengapa kita tidak mencoba dan membuka pintu saat mobil sedang melaju?”

“Wah, itu berisiko.”

“Ayo, kita buka saja dan mobilnya akan berhenti.”

Kuikuti percakapan itu dengan geli. Kutahu mereka tidak akan berani melakukannya. Tapi kemudian salah satu dari mereka — yang bukan Modi — meletakkan tangannya di pintu.

“Beri aku tangan, ngoni,” katanya pada temannya.

“Astaga, ini bikin masalah.”

“Jangan jadi banci. Tidak ada yang akan menghalangi,” desak Modi.

Sampai saat itu aku tak terlalu peduli. Mereka masih anak-anak dan mereka memiliki adrenalin tinggi. Tapi kepercayaan diri remaja itu membuatku tersinggung.

Kupertimbangkan pilihanku. Di satu sisi, aku tak ingin memecahkan kode: Jangan pernah berkelahi di jalan. (Juga, akan sangat menghina jika aku dipukuli oleh dua remaja itu.) Di sisi lain, aku bisa merasakan diriku menjadi gelisah karena marah.

Kutinggalkan kursiku dan berjalan menuju mereka dengan senyum palsu di wajahku.

“Apa yang kalian lakukan?”

Mereka membeku. Jelas mereka benar-benar percaya — Modi, khususnya — bahwa tidak ada yang akan ikut campur. Dia dengan cepat berkata, “Tidak ada.”

“Tidak ada? Kupikir kudengar kalian membahas soal membuka pintu saat mobil berjalan. “

“Mengapa kau peduli?”

“Aku tak peduli apakah kau membukanya atau tidak, tetapi kau memberi tahu temanmu di sini bahwa tidak ada yang akan menghalangi. Nah, aku berbicara kepadamu dan kuberi tahu kau: Jangan. Jika kau memikirkannya, jangan. Jika kau sudah memimpikannya sejak berusia sepuluh tahun, jangan.”

Suaraku naik satu tingkat, yang membuatku terkejut. Mereka saling memandang dengan gelisah. Modi melangkah mundur sementara kutahan tempatku di depan pintu. Tidak ada orang lain di dalam mobil yang melihat kami; tidak ada yang peduli. Kutemukan diriku memikirkan novel Pramudya Ananta Toer yang kubaca ketika masih muda— “Rumah Kaca” —di mana semua orang dalam cerita tahu bahwa rumah itu akan runtuh, namun tidak ada yang akan melakukan apa-apa.

Ini Palu, baiklah.

Modi dan temannya tampak tidak senang. Tentu saja mereka begitu. Mungkin itu salah satu kali pertama mereka berhadapan dengan batas kekuasaan mereka di ruang publik, di kota tempat remaja — secara harfiah dan kiasan — mengendalikan segalanya.

Salah satu dari mereka, teman Modi, mendekatiku dengan sebatang permen. Dia mengulurkan tangannya dengan sikap ramah yang gugup, menawarkanku untuk berbagi batangan itu dengannya. Itu adalah caranya mengatakan, ‘Kita ini sama saja, kau tahu, bukan?’ Kami tidak. Kuabaikan uluran tangannya dan malah bertanya, “Katakan padaku, Nak, siapa namamu?”

Sekali lagi mereka dikagetkan oleh keterkejutan. Dalam perseteruan jalanan, orang cenderung mempertahankan anonimitasnya; ketika tidak ada yang tahu siapa Anda, Anda dapat melakukan apa yang Anda lakukan tanpa mengkhawatirkan konsekuensinya; tidak ada yang tahu di mana Anda tinggal, tidak ada yang akan menangkap Anda. Tetapi begitu pertanyaan diajukan, begitu seseorang menantang Anda untuk itu, Anda tidak punya pilihan selain menjawab.

“Rama,” dia menjawabku.

“Dari mana asalmu?”

“Perintis.”

“Perintis di mananya?”

Dia diam.

Kuulurkan tangan dengan kepercayaan diri yang mantap. “Mahmud, dari Perumahan Vanda Land. Kita tetangga kalau begitu.”

Mereka bertukar pandangan khawatir lagi setelah mendengar nama pemukimanku. Dengan suara rendah, Modi memberi tahu Rama untuk bertanya apakah kukenal seseorang yang namanya tidak kuketahui.

“Apa yang temanmu katakan?”

“Apa kau tahu dengan Enggar?”

“Berapa usia kau?” Kutanya dia.

“Tujuh belas.”

“Apakah dia seusiamu?”

“Ya.”

“Kurasa tidak kekenal siapa pun seumur kau, tapi mungkin kau mengenal orang-orang yang lebih tua di perumahan itu: Arfah, Totan, dan orang-orang dari Masjid Baiturrahman? Mereka adalah temanku.”

Aku berbohong, total dan tanpa malu-malu. Telah kudengar nama-nama yang kusebutkan, tentu saja, dan telah bertemu beberapa dari mereka selama giliran ronda yang telah ditetapkan di jalan kami pada delapan belas hari pertama gempa bumi — ketika kekacauan yang datang merangkak di malam hari dan polisi telah meninggalkan jalan-jalan sepi — tetapi aku tak pernah benar-benar berhubungan dengan mereka.

Rama menggelengkan kepalanya. “Ya, tidak, kurasa aku tidak mengenal mereka.”

“Tidak apa-apa. Kau seharusnya tidak melakukannya. “

Kuucapkan kalimat terakhir untuk menekankan usia dan pengalamannya. Mobil berhenti menderu di tempat tujuanku. Aku turun, tapi kuperhatikan mereka tidak bergerak.

“Ini Perintis. Apa kalian tidak turun?”

Mereka bertukar tatapan cemas. Rama membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu, tapi mobil di arah yang berlawanan memasuki halte seberang jalan pada saat yang bersamaan, jadi aku tidak bisa mendengarnya. Pintu ditutup, dan mobil mulai bergerak, dengan dua remaja yang sekarang berkecil hati masih berada di dalamnya.

Rasa kemenangan yang sangat memuaskan menyapu diriku.

Turun di halte, kukeluarkan ponsel dari saku. “Sayang, apa kau sudah pulang? Aku akan datang.”

Selesai berkata, angin bergemuruh. Pohon di atas kepalaku berderak patah. Tanah tempatku berpijak tiba-tiba berguncang lagi. Tubuhku ditelan bumi. []






=============
Arpan Rachman, pengarang cerpen dan esai. Alumni program English for Journalism dari Coursera-University of Pennsylvania. Menulis berita pada beberapa media di Kuala Lumpur, Bangkok, Hong Kong, Kashmir, Amsterdam, London, dan Berlin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here