DI ZAMAN modern sekarang ini, sebagai zaman yang dikenal serba canggih atau apa yang disebut dengan era integrasi dunia fisik, digital dan biologis, sehingga menyebabkan perubahan cara hidup manusia secara fundamental. Jika melihat dunia sekarang, disorientasi nilai banyak terjadi pada segala aspek kehidupan, seperti penghargaan hak hidup seseorang telah terabaikan. Nilai-nilai keadilan dan nilai-nilai kemanusiaan diinjak-injak oleh berbagai kelompok yang memiliki superpower.

Nilai cinta kasih dan kedamaian di antara sesama mahkluk ciptaan Allah sudah banyak terabaikan, kebencian yang malah semakin marak ditampakkan. Korupsi semakin menjadi-menjadi, jual beli jabatan merajalela, menggurita tak kenal malu, agama tidak bisa membentengi seseorang untuk mencegah diri dari nafsu duniawi, lemahnya penegakan hukum, dan berita hoax bertebaran dimana-mana, fitnah saling tuduh menuduh menjadi sarapan wajib setiap hari yang terus memicu amarah masyarakat. Pertikaian bahkan meluas pada pelanggaran antar kelompok etnis, pemeluk agama, bahkan oleh komunitas yang dulunya secara historis terkenal memiliki jiwa gotong royong yang tinggi, masyarakat yang cinta damai.

Fenomena seperti digambarkan di atas tidak hanya terjadi pada isu sosial dan kemanusiaan. Melainkan juga sistem keseimbangan alam ikut terancam akibat ulah manusia, tidak dapat dipungkiri bahwa pada era global seperti sekarang ini banyak fenomena alam yang terjadi, bukan saja terhadap kehidupan manusia, tetapi juga berimbas pada binatang dan tumbuhan. Dalam Kitab Suci Alquran, surah ar-Ruum ayat 41 disebutkan, “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan Karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”.

***

Asmaul Husna adalah nama-nama Allah yang terbaik dan agung, sesuai dengan sifat-sifat Allah, jumlahnya ada 99 nama. Antara lain nama Ar-rahman yang artinya Maha Pengasih dan Ar-rahim yang artinya Allah Maha Penyayang. Maha Pengasih dan Penyayang maksudnya adalah Dialah Tuhan yang kasih-sayangnya tiada terbilang.

Ar-rahman artinya Tuhan yang kasih sayangnya untuk semua hamba-Nya meskipun hambanya itu kafir (walau karihal kafirun), musyrik, munafik, dzolim dan lain sebagainya, tetap disayang oleh Allah.

Ar-rahim berkaitan dengan sifat rahimiyah yang menggambarkan Tuhan Sang Maha Pemurah, yang sifat kasih sayang-Nya Dia wujudkan dalam memberi balasan kepada setiap orang yang berusaha, aktif berbuat dan mencipta, mewujudkan segala potensi dalam dirinya dan kekayaan yang tersedia dalam alam semesta untuk kebaikan diri, sesama dan lingkungan hidupnya.

Adanya sifat rahmaniyah dan rahimiyah Ilahi, diharuskan bagi manusia berusaha menjaga dan memelihara alam sebagai anugerah Tuhan, yakni melestarikan tanpa merusaknya, berusaha hidup berguna bagi diri sendiri dan orang lain, di mana pun dan kapan pun. Keseimbangan antara alam dengan makhluk hidup berdampak pada keselarasan serta kesejahteraan hidup manusia. Dalam hal ini perlu adanya peran manusia secara langsung dalam menjaga keseimbangan alam.

***

Banyak perilaku manusia yang melampaui batas menyebabkan semesta tidak bersahabat lagi dengan manusia, perilaku eksploitasi alam besar-besaran, penebangan hutan secara liar tanpa inisiatif penanaman kembali, pemburuan binatang liar dan yang sudah banyak terancam punah, pembuangan sampah dan limbah yang kerap menyebabkan pencemaran tanah, sungai dan udara, pada saat ini satwa dan tumbuhan semakin zaman semakin berkurang dan punah karena diburu, diperjual belikan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya di dunia yang fana.

Sebagaimana dinyatakan oleh para ahli fenomenologi, pemahaman manusia tentang agama terbagi ke dalam dua kelompok berdasarkan konsepnya tentang Tuhan. Yang pertama, agama atau cara pandang berorientasi hukum atau nomos (law oriented). Agama atau cara pandang seperti ini, jika dilacak lebih jauh, bersumber pada keyakinan kepada Tuhan sebagai suatu mysterium tremendum (misteri yang dahsyat, agung, mencekam). Sebagai akibatnya, lahir ketundukan kepada hukum-hukumnya. Yang kedua, agama atau cara pandang yang berorientasi cinta dan kasih sayang (eros oriented), yang melihat Tuhan sebagai mysterium fascinans (misteri yang indah, anggun, dan mempesona), yang menimbulkan rasa cinta kepada-Nya.

Dapat diduga, kelompok manusia beragama yang melihat Tuhan lebih sebagai suatu tremendum akan menekankan secara nyaris eksklusif pada sifat-sifat-Nya yang keras, memaksa, jumawa, pembalas, dan sebagainya. Konsep Ketuhanan seperti ini, disadari atau tidak, mendorong pemeluknya cenderung melihat kemanusiaan melalui kacamata Tuhan seperti ini sebagai lebih diwarnai pembangkangan, arogansi, dan kejahatan. Sehingga kemudian sikap membenci dan penggunaan kekerasan terutama diperlukan untuk menaklukkannya.

Sesungguhnya di dalam 99 Asmaul Husna, terdapat inti sifat Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Semua makhluk di alam semesta ini termasuk manusia diciptakan atas dasar sifat Ar-rahman dan Ar-rahimNya, yang mana sifat Pengasih dan Penyayang dapat tercermin (bertajalli) dalam diri manusia. Sifat Ar-Rahman (Maha Pengasih) yaitu bahwa Allah selalu melimpahkan nikmat karunia-Nya kepada para mahluk ciptaan (manusia)-Nya, dan Ar-Rahim (Maha Penyayang) mengartikan bahwa Allah senantiasa bersifat Rahmat, Allah selalu melimpahkan Rahmat-Nya. (Abas Asyafah, 2009) Berawal dari itu kita selaku manusia yang diberi akal budi dan hati nurani oleh karenanya agar senantiasa di dunia ini memancarkan sifat Pengasih dan Penyayang baik kepada sesama manusia, sesama mahluk hidup dan alam semesta, sehingga memberikan “rohmatan lil alamin” rahmah bagi seluruh alam semesta.

Meski tidak menyangkal pula bahwa memang Allah memiliki sifat-sifat jalaliyah atau keras, yang prinsipil dariNya adalah cinta kasih, kelembutan, dan permaafan. Bukankah Dia sendiri memfirmankan bahwa “RahmatKu melingkupi segala sesuatu”. Bahwa Allah memiliki segala sesuatu dan sesuatu itu berada di bawah kekuasaan dan rahmatNya, sejalan dengan hal itu maka dapat diartikan “Rahmat-Ku mendominasi murka-Ku”.

Sehingga tolak ukur kesalehan dalam ibadah seorang hamba bukan hanya hal eksoteris saja, beribadah karena takut hukuman Tuhan. Tetapi diharuskan manusia sebagai hamba dan kholifah fil ardh yang merupakan tajalli Allah yang termanifestasikan sifat Ar-Rahim salah satu di dalamnaya, tidak hanya saleh individu melainkan saleh sosial dengan konsep cinta dan kasih sayang fascinans merangkai jalinan cinta penuh sukarela. Dalam segenap kesadaran tentang cinta kasih Tuhan yang meliputi segala, orang-orang seperti ini terikat oleh obligasi untuk bertindak sebagai khalifah-Nya dan khalifah rasul-Nya dalam menebarkan rahmat kepada semesta alam (rohmatan lil ’alamin).

Sejatinya Islam agama damai yang juga mengajarkan kita tentang mengatur keseimbangan dalam hidup. (hablum minallah) hubungan vertikal kepada Allah yang menguasai alam semesta, hubungan sosial dengan sesama (hablum minannas), dan juga (hablum minal alam) yakni konsekuensi bahwa kita sebagai khalifah di muka bumi harus bertindak bijak dalam menjaga alam dan merawat lingkungan sekitar. Hubungan itu tidak akan terjalin jika tidak dilandas dasari oleh dua energi, yaitu rasa kasih dan sayang, energi positif yang dahsyat kepada seluruh mahluk dan alam semesta. Dengan cara berbagi kasih kepada sesama, menyayangi, menjaga, merawat, melindungi alam sekitar, bukan malah merusaknya. Manusialah satu-satunya mahluk penuh keluhuran, keadilan, kebijaksanaan dan kasih sayang yang menjadi tumpuan harmoni jagad raya. Keberadaan manusia jelas adalah suatu pengharapan dari seluruh mahluk untuk menjadikan alam semesta senantiasa dalam keseimbangannya.

Manifestasi Sifat Ar-rahman dan Ar-rahim ke dalam Kehidupan Modern

Perubahan di segala aspek kehidupan manusia telah terjadi pada zaman Modern seperti sekarang ini. Pola kehidupan manusia yang semakin instan dan pragmatis menuntut manusia untuk berpikir cerdas, cermat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Di sisi yang lain, kehidupan global yang serba instan juga kadangkala merusak mindset (pola pikir) manusia untuk meninggalkan pola kehidupan sosial, sehingga kadangkala manusia tidak lagi harmonis kehidupannya akibat lepas dari tajalli Allah yang bersemayam di diri manusia, seperti manefestasi sifat Ar-rahman dan Ar-rahim.

Sebagai makhluk sosial manusia tidak bisa hidup sendiri, ia memerlukan bantuan dari orang di sekitarnya. Oleh sebab itu, maka hubungan antara sesama umat manusia harus selalu dijalin dengan baik dan harmonis. Hubungan antar manusia harus diatur dengan dasar cinta dan kasih sayang, harus saling menghargai, saling mengasihi dan saling membingbing satu sama lain.

Dalam kehidupannya, manusia juga tidak dapat terlepas dari hubungannya dengan alam lingkungan, manusia, diberi amanat oleh Tuhan sebagai khalifah fi al-ardh (pemimpin di bumi), dan alam menjadi sebuah tanggung jawabnya. Alam sebagai makrokosmos, dan manusia sebagai mikrokosmos merupakan bagian dari semesta ini. Manusia dalam tugasnya dituntut untuk menjaga keseimbangan alam. Dengan tidak mengekploitasi alam secara berlebih, memenage limbah, tidak merusak alam sekitar. Sesungguhnya kita dan alam berasal dari Yang Satu. Ketika kita merusak alam, sebetulnya kita telah merusak diri kita sendiri, sebagaimana contohnya ketika kita menebang pohon, sebetulnya kita telah mengurangi jatah oksigen, juga meniadakan cadangan air lebih jauh lagi, sama artinya dengan meniadakan paru-paru dunia.

Akibat pengaruh kehidupan manusia yang dicekoki kemajuan IPTEK dan budaya global, maka dewasa ini lingkungan hidup manusia sudah semakin rusak, akibat ulah manusia itu sendiri. Bencana lingkungan yang semakin sering terjadi di tanah air kita, dari persoalan sampah plastik yang kian membendung, penebangan hutan liar masih tidak terkendali, tempat pembuangan limbah yang hasilnya tidak diolah dengan benar dapat mengakibatkan kerusakan lingkungan, termasuk juga akibat kesalahan manusia yang menimbulkan korban seperti tanah longsor, banjir, dan kebakaran hutan. Semua peristiwa itu semestinya memerlukan pemikiran dan tindakan yang konkrit dalam jangka pendek maupun jangka panjang, yaitu berupa sebuah gerakan penyelamatan lingkungan yang komprehensif. Hal itu diperlukan kontribusi manusia sebagai pemegang penuh harmoni jagad raya.

Jika manusia ingin selamat dalam kehidupannya, maka lingkungan harus selalu dijaga dengan perhatian dengan intensif dan penuh cinta Lingkungan harus selalu bersih dan rapi, serta lingkungan tidak boleh dikotori atau dirusak. Hutan tidak boleh ditebang semuanya melainkan tebang pilih dan penanaman hutan kembali, pemburuan binatang tidak dilakukan semenanya. Manusia boleh mengolah kekayaan alam, tetapi harus juga memperhatikan beberapa cataan penting yang tidak dapat diabaikan seperti, bertindak secara bertanggung jawab, memikirkan masa depan generasi mendatang, dan mengembangkan sikap konservatif.

Jika secara terus-menerus manusia sudah tidak peduli lagi pada lingkungannya, maka keseimbangan alam akan terganggu dan ekosistem akan menjadi rusak. Lingkungan justu harus dijaga kerapiannya, keserasiannya dan kelestariannya. Jika manusia mampu memelihara lingkungan dengan baik, maka manusia akan mendapatkan kebahagiaan dari manefestasi sifat ar-Rahman dan ar-Rahim.

Untuk menjaga harmonisasi antara manusia dengan makhluk sesama, lingkungan dan alam semesta, maka merupakan tugas manusia sebagai makhluk yang memiliki kelebihan untuk selalu memelihara, dan menjalin hubungan yang harmonis dengan Tuhan, antara sesama umat manusia dan terhadap lingkungan. Dengan sesama makhluk harus saling mengasihi, membantu yang lemah, menghargai sesama, dan bergotong royong untuk segala hal kebaikan didasari oleh manefestasi sifat ar-Rahman dan ar-RahimNya. Lingkungan ditata dengan rapi dan bersih, karena dengan lingkungan yang tertata dengan baik dan lestari hubungan dengan alam di sekitar kita. Dengan kehidupan yang terhamonisasi, akan tercipta ketentraman dan kebahagiaan.






==================
Rasyida Rifa’ati Husna
, mahasiswi Fakultas Ushuluddin & Humaniora, Universitas Islam Negeri Walisongo, Semarang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here