“Kita tak pernah tahu ke mana arah angin takdir bertiup. Kita juga tak pernah tahu, apakah ia membawa udara berair atau badai debu.”

SUMI duduk bersisian dengan Rama. Mabuk oleh bisikan cinta yang tak putus-putus. Matahari terbit di seberang bukit tempat mereka duduk. Sinarnya merambat di atas permukaan air, seperti akar pepohonan yang terbakar dan merusak jalan setapak.

Para penduduk yang bermukim di pesisir keluar dari rumah mereka satu per satu dengan raut kantuk yang tak bisa disembunyikan. Mereka membuka pintu bersamaan dengan ribuan ekor kepiting yang muncul dari lubang-lubang kecil di sepanjang garis pantai. Para penduduk itu lalu berkerumun mengamati sesuatu. Sesuatu yang terlihat seperti bayangan gelap di bawah permukaan air.

Sementara dari arah lain, tiga pria terlihat berjalan menuruni punggung bukit. Dua pemuda, mengenakan pakaian serba hijau, berjalan bagaikan pengawal, dan seorang pria tua berpakaian serba putih berjalan di depan mereka bagaikan pemimpin.

“Kemarin malam, ada sebuah batu yang jatuh dari langit. Batu itu seukuran perahu orang-orang Bugis,” tutur Rama.

“Di mana batu itu sekarang?” tanya Sumi.

“Di bawah permukaan air.”

Satu di antara tiga pria itu, yang paling tua, bertubuh lebih tinggi dibandingkan dengan dua orang yang mengikutinya. Hidungnya mancung, jidatnya lapang, sekilas wajahnya mirip orang Yaman, rambutnya berwarna putih panjang seperti rambut perempuan. Ia membawa tongkat di pinggangnya.

“Mereka akan memindahkan batu itu. Lintah-lintah, kalajengking, dan ular laut telah bersarang di sana. Batu itu terlalu dekat dengan teluk. Terlalu dekat,” kata Rama.

Pancaran tanda tanya yang mengembang di wajah penduduk menyambut kedatangan mereka di tengah penduduk. Pria yang bertubuh paling tinggi mirip orang Yaman, meraih tongkat yang bersarang di pinggangnya.

Dua pemuda yang mengawalnya menggoreskan pasir hingga membentuk lingkaran di tempat pria itu berdiri. Pria itu mengangkat tongkatnya ke langit, lalu menancapkannya ke pasir, ke tengah lingkaran.

Tepat ketika ekor tongkat tertancap, burung-burung yang bertengger di bebukitan terbang mendekati garis pantai. Mereka terbang berputar-putar di langit seakan gagal membaca arah musim, seakan menanti-nanti perintah.

Sesaat setelah tongkat ditancapkan, air laut surut hingga hampir menyentuh pulau Bali. Batu seukuran kapal Bugis yang dikabarkan jatuh dari langit pada malam sebelumnya, muncul dengan warna hitam arang. Batu itu dipenuhi ular-ular laut. Bagaikan perut sapi yang dipenuhi lintah setelah berendam di sungai musim hujan.

Para penduduk yang menyaksikan kejadian itu bergidik ngeri. Bocah-bocah yang semulanya bermain-main sambil acuh-tak acuh, mendadak meminta digendong. Burung-burung yang sebelumnya terbang di langit bagai titik-titik hitam di kertas, berubah menjadi makhluk menyerupai monyet dengan paruh dan sayap. Makhluk-makhluk itu menukik, dan mencengkeram ular-ular di atas batu dengan cakar, lalu membawa mereka pergi menuju laut timur.

Sebagian penduduk yang sebelumnya kembali ke dalam rumah mengintip dari celah-celah pagar.

“Maha besar Tuhan yang menciptakan rasa takut dan kegelapan,” kata pria tua.

“Maha besar Tuhan yang menciptakan jin dari nyala api,” sambung dua pemuda yang bersamanya.

“Siapa Tuhan yang kalian maksud?” tanya seseorang di tengah kerumunan yang tersisa. Disambung pertanyaan-pertanyaan serupa dari yang lain.

“Apakah ada Tuhan lagi selain dia yang singgah di Arsy?” kata salah seorang pemuda yang mengawal.

Kemudian dari tempat bekas ditancapkannya tongkat, muncul mata air yang jernih.

“Para penduduk tidak perlu naik ke gunung lagi,” kata Sumi, menengok puncak bukit di belakangnya. Terdengar suara gemuruh air terjun yang mengalir di balik punggung bukit.

Ketika Sumi mengembalikan pandangannya ke teluk, tiga orang itu sedang membilas wajah dan lengan mereka dari sumur yang memancurkan mata air. Mereka juga meminumnya.

“Kepercayaan harus ditukar dengan keajaiban.”

“Tujuh hari lalu, pria tua itu menancapkan tongkatnya ke hampir seluruh bagian bukit ini. Lantas setiap ia mencabut tongkatnya dari tanah, menjulang pohon besar. Bukit menjadi hijau dan bebuahan jatuh tidak jauh dari pohonnya, padahal musim kemarau masih panjang.”

Sumi bertanya, “Apa yang dibutuhkan orang-orang pesisir?”

“Air. Sebagaimana orang-orang pegunungan membutuhkan pohon.”

Pria tua berjalan di sepanjang teluk seraya menancapkan tongkatnya secara berkala. Tiap kali ia mencabut tongkatnya, maka tercipta sumur yang memancurkan air tawar.

Para penduduk mengambil wadah dari rumah mereka masing-masing, berduyung-duyung menimba air tawar dari sumur-sumur itu. Mereka yang sebelumnya bersembunyi di balik pagar rumah berhamburan keluar mengambil kesempatan. Bagaikan kepiting yang mendekati bibir ombak.

“Mereka akan diajarkan cara berterima kasih, bersabar, dan tidak rakus, setelahnya.”

Pria itu kembali mengikatkan tongkatnya ke pinggang. Lalu menaiki batu besar yang sudah bersih dari binatang berbisa. Seketika batu itu bergerak seakan bangun dari tidur panjang hingga menciptakan gemuruh yang menarik kembali air laut hingga mendekati pesisir.  

Pria tua itu berlayar ke arah selat Bali mengendarai batu.

“Lantas apa yang akan dilakukan dua pengawalnya?” tanya Sumi.

“Memastikan penduduk pesisir mau menukar syahadat dengan setimba air bersih.”

“Apa yang akan terjadi jika para penduduk tetap tidak mau mengucapkan syahadat?”

“Sesuatu yang lebih besar akan terjadi.”

“Apakah kita tahu sesuatu itu apa?”

Pria tua itu terus berlayar menuju selat. Berlayar di sepanjang garis cahaya matahari yang tumpah ke laut.

Rama dan Sumi kembali bersemayam ke dalam pohon. Dari pohon itu, kemudian terdengar lagi bisikan cinta yang tak putus-putus, bersilang-silang dengan kicau burung pagi.

“Kita tak pernah tahu ke mana arah angin takdir bertiup. Kita juga tak pernah tahu, apakah ia membawa udara berair atau badai debu.” ***




================
Robbyan Abel Ramdhon, aktif menulis cerpen dan bekerja sebagai jurnalis. Turut bergiat di Komunitas Akarpohon Mataram.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here