Judul Buku   : Persembunyian Terakhir Ilyas Hussein
Penulis      : Muhammad Nada Fauzan
Penerbit     : Buku Mojok
Cetakan      : Pertama, Maret 2022
Tebal Buku   : vi + 180 halaman 
ISBN         : 978-623-7284-73-4   

SEMESTA sejarah—apa pun itu—nyatanya memiliki nilai lebih di mata orang-orang yang peka lagi peduli. Ia sangat mungkin ditelisik lalu diambil sarinya, baik sebagian maupun seluruhnya, menjadi bagian-bagian yang patut dituturkan ulang dalam wujud macam-macam: gambar, catatan, reportase, puisi, atau cerita.

Pada buku Persembunyian Terakhir Ilyas Hussein ini saya menemukan kepingan-kepingan sejarah yang kemudian dielaborasi secara andal oleh Muhammad Nanda Fauzan. Sebagaimana kebiasaan saya mengulas kumpulan cerita pendek (cerpen), saya akan lebih dulu mengurai singkat cerpen yang paling bertanggung jawab dalam buku ini. Barang tentu pilihan itu jatuh pada cerpen berjudul “Pemuda Malang dan Persembunyian Terakhir Ilyas Hussein”.

Bila para pembaca sedikit sabar menerka, mereka bakal mengetahui fakta bahwa nama Ilyas Hussein bersinggungan dengan Tan Malaka. Dalam riwayat-riwayat yang bertebaran, diketahui Tan Malaka memang memiliki sejumlah nama samaran, yang konon ia gunakan sebagai tameng pelariannya. Sebelum nama Ilyas Hussein, terlebih dulu kita jumpai Tan Malaka berkedok sebagai Elias Fuentes, Estahislau Rivera, Alisio River, Hasan Gozali, Ossorio, Tan Ming Sion, Tan Ho Seng, dan beberapa lainnya. Dalam hal ini, penulis berhasil menarik kepingan riwayat Tan Malaka dan dijadikannya sebuah cerita fiksi yang, setidaknya bagi saya, sungguh menarik minat: tentang sebuah pelarian, kesumat pada Jepang, hingga suara-suara sumbang yang berbunyi, “Apakah kau mengenal Ilyas Hussein?”.

Selain itu, pembacaan serupa juga tertuju pada cerpen “Kagum 5 Juta”. Sejarah mencatat bahwa 32 tahun silam, Arswendo Atmowiloto menelan nasib pahit: dibui selama 5 (lima) tahun karena kuis/angket yang bertajuk ‘Kagum 5 Juta’ tersiar di tabloid Monitor yang saat itu tengah ia gawangi. Ia mengajak para pembaca Monitor untuk memilih tokoh-tokoh favorit mereka. Celakanya, Arswendo Atmowiloto mempublikasikan hasil angket itu, yang pada kenyataannya menempatkan Nabi Muhammad pada urutan ke-11 dari 50 tokoh. Hal demikian membuat banyak umat Muslim masa itu naik pitam dan menganggap Arswendo telah menistakan Islam. Mereka lantas menggeruduk kantor Monitor di Jalan Palmerah, Jakarta Barat, pada 17 Oktober 1990.

Di bagian inilah kira-kira benang merah cerpen “Kagum 5 Juta” saya temukan. Secara ringkas, Muhammad Nanda Fauzan hendak mengisahkan pencarian tokoh Aku terhadap bapaknya yang urung juga pulang bahkan saat tiba hari ulang tahunnya kedelapan. Sebagai siasat untuk menuju ke kisah angket yang saya kemukakan di atas, maka penulis menghadirkan Abdul Aziz sebagai tokoh penting. Dari Abdul Aziz-lah, Aku mengetahui bahwa bapaknya hilang lantaran turut aksi unjuk rasa demi menggugat tabloid Monitor. Syahdan, cerpen ini bagi saya sangat kompleks namun tetap dapat dinikmati sebagai kesatuan utuh. Komplekstitas itu tercipta sebab pergulatan tokoh Aku atas kepergian sang bapak bukan saja berkutat pada diri sendiri, melainkan tersaji melalui pertanyaan-pertanyaan lugu anaknya tentang berapa jumlah kakek yang ia miliki serta di manakah kakek itu sekarang berada. Begitulah. Cara berkisah demikian bagi saya adalah cara yang cemerlang. Karenanya, bukan perkara sulit bagi saya mengingat-ingat “Kagum 5 Juta” sebagai cerpen terbaik dalam buku ini.  

Pada sekumpulan cerita dalam buku ini, agaknya Muhammad Nanda Fauzan gemar berpindah-pindah latar atau sudut pandang. Itu bisa diketahui dari banyaknya penggunaan **** (bintang empat), tanda yang jamak dipakai penulis-penulis cerpen sebagai pemisah, pertanda pindahnya latar (tempat dan waktu) maupun sudut pandang cerita. Jika tidak luput menghitung, Muhammad Nanda Fauzan menggunakan teknik demikian pada 13 (tiga belas) judul cerpennya: “Ia Menyeret Diri dalam Lumpur”, “Pemuda Malang dan Persembunyian Terakhir Ilyas Hussein”, “Tamasya Para Hantu”, “Tikar Itu Merah, Jenderal!”, “Tando”, “Dendam dan Dua Ember Kalajengking”, “Kagum 5 Juta”, “Suara di Telinga Karabaong”, “Mendengar Marauleng Bercerita”, “Nekromansi”, “Permen Itu Lezat Sekali”, “Aksi Terakhir Rudy Palkam”, dan “Karabaong Menyaru Burung”. Sementara khusus cerpen berjudul “Kutuk Banaspati: Empat Cerita pada Satu Malam” dan “Teka-teki Delapan Menteri”, penulis menyampaikannya dalam bentuk fragmen-fragmen—terpecah namun berkelindan.

Sebelum menyudahi ulasan ini, perlu kiranya saya seret satu judul cerpen lagi ke tengah-tengah pembaca. Dari 18 cerpen itu, saya memilih judul “Karabaong Menyaru Burung” untuk selanjutnya sedikit dikedepankan dalam urusan mengoyak emosi. Karabaong merupakan anak angkat yang—semasa bapak (angkatnya) hidup—direnggut dari rasa bebas. Ya, kakinya dijerat pasung bergerigi. Namun begitu, kedua tangannya tetap dibiarkan bebas. Kedua tangan itulah yang kerap disibukkan membikin hewan-hewan dalam bentuk siluet: burung, bebek, gajah, harimau. Semuanya biasa dilakukan secara langsung di hadapan tokoh Aku. Aku yang berempati pada Karabaong tak bisa berbuat lebih kecuali menghiburnya lewat pembacaan dongeng-dongeng.

Hingga suatu waktu, ketika bapak angkat Karabaong meninggal, tokoh Aku meloloskan kaki Karabaong dari pasung yang membelenggunya. Ending cerpen ini serasa pukulan telak, Muhammad Nanda Fauzan menuliskannya demikian: Aku langsung beranjak menuju ke lantai atas. Kusaksikan sekelompok burung mengelilingi tubuh ringkih Karabaong. Mereka seperti kawan lama yang dipertemukan dalam keadaan yang kurang tepat. Burung-burung itu mengoceh keras diikuti siulan Karabaong. Burung-burung itu mengepakkan sayap diikuti rentangan tangan Karabaong. Burung-burung itu terbang dan hinggap di kabel-kabel dengan mantap, sementara Karabaong melompat dan tak menyisakan apa-apa selain luka di dadaku. (hlm. 178).

Sebagai catatan akhir, sejujurnya saya cukup terganggu ketika menemukan nama tokoh yang sama persis pada lebih dari satu judul cerpen. Seperti halnya Sentot Mugali pada “Tamasya Para Hantu” dan “Permen Itu Lezat Sekali”, Badri pada “Tikar Itu Merah, Jenderal!” dan “Tando”, Abdul Aziz pada “Kagum 5 Juta” dan “Nekromansi”, juga Karabaong  pada “Suara di Telinga Karabaong”, “Meruwat Laut”, dan “Karabaong Menyaru Burung”. Sewaktu menemukan kesamaan-kesamaan tersebut, saya mencoba mencari-cari kesinambungannya. Akan tetapi sayang, apa yang saya cari terbilang cukup memaksa untuk sekadar dikait-kaitkan. Kesamaan nama tokoh rupanya tidak lantas membikin cerpen itu jadi saling terikat dan terkait dengan jelas.

Terlepas dari itu, secara keseluruhan, saya tak sangsi jika kelak—atau malah sudah—buku ini bakal menjumpai nasib gemilang di tangan para pembaca, pengamat, atau bahkan juri perlombaan sastra.





==============
Indarka P.P, lahir di Wonogiri (Jawa Tengah). Saat ini bermukim di Mamuju (Sulawesi Barat). Menulis buku “Penumpasan” (Sirus Media, 2021), dan bergiat di Komunitas Kamar Kata.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here