Bunga-bunga Kesayangan Ibu di Halaman Rumah

PERGI aku ya, Nak!” kata ibuku, lalu memasuki mobil. “Jangan lupa, kau tengok-tengok bunga-bungaku.”

Aku mengernyitkan kening. Ibu tersenyum. Kulihat ibu begitu puas karena berhasil membuat aku bersedih. Aku sudah melarangnya pergi, tapi ibu tak menggubris. “Nanti ibu kecapean,” kataku. “Pergi ke Jakarta naik mobil itu bukan keputusan yang bagus.”

“Aku masih kuat.” Ibu bersikeras. “Sudah lama aku mengidamkan ke Jakarta naik mobil, tapi kau selalu melarangku. Kau pikir aku ini orang tua lemah.”

Aku menggelengkan kepala. Kulirik Nauli, adikku, berharap dia memberi pengertian kepada ibu. Ibu akan berangkat ke Jakarta bersama Nauli, menumpangi mobil yang dikendarai Hanafi, suami Nauli. Harapanku pupus ketika Nauli justru mendukung. “Tak apalah, Bang,” katanya, “Aku sama Mas Hanafi sudah sepakat.” Dia melirik Hanafi, suaminya, dan Hanafi tersenyum.

Aku tak bisa berbuat apa-apa lagi. Kupandangi ibu yang sudah mengambil tempat duduk di dalam mobil. Dia sedang bercanda bersama tiga cucunya, anak-anak Nauli dan Hanafi. Ibu menyayangi ketiga cucunya itu. 

Dalam usia 70 tahun, ibu memiliki dua belas orang cucu. Tiga orang anak Nauli-Hanafi, sisanya anak dari adik-adikku yang lainnya. Kami enam orang bersaudara. Hanya aku yang tinggal di kampung. Lima lainnya merantau. Nauli tinggal di Jakarta.  Dua lainnya, Risma dan Yulia mengikuti suami mereka yang bekerja di Bandung dan Surabaya. Risma punya dua anak, Yulia punya tiga orang anak. Sementara Risha yang tinggal di Kendari memiliki serang anak. Si bungsu, Langgeni, memiliki tiga orang anak, anak terakhirnya lahir kembar. Langgeni tinggal di Bandar Lampung.

Aku anak laki-laki satu-satunya. Ibu merindui cucu-cucunya. Aku tak bisa memberikan cucu kepadanya. Tuhan belum menitipkanku seorang anak pun meski usia pernikahanku sudah berjalan dua puluh tahun. Ibu sangat mendambakan mendapat cucu dari aku, apalagi aku anak pertama dalam keluarga. 

Cucu dari anak pertama dan laki-laki pula, merupakan kebanggaan orang tua, karena nama cucu itu akan menjadi nama panggilannya. Seandainya aku punya anak dan anak itu aku beri nama Hasian, maka orang akan memanggil ibu sebagai Ompu Hasian. Tapi, lantaran aku belum punya anak, sampai hari ini ibu belum dipanggil Ompu meskipun aku sudah merelakan agar ibu dipanggil dengan nama cucu pertamanya, Ompu Agung. Agung adalah anak pertama Nauli. Tapi ibu menolaknya, karena ibu sangat yakin kalau aku akan punya anak suatu saat nanti.

Nauli-Hanafi yang tinggal di Jakarta memutuskan pulang Lebaran tahun ini.  Setiap tahun, semua harus pulang. Aku yang menetapkan aturan itu agar semua cucu ibu berkumpul dan mereka dekat antara satu dengan lainnya. Tapi, tahun ini hanya Nauli yang bisa pulang. Adik-adikku yang lain, jauh-jauh hari sudah memberi kabar tidak bisa pulang lantaran satu dan lain hal.

Hanafi menghampiriku, menepuk pundakku. Dia berkata akan menjaga ibu dengan baik. “Jangan khawatir, Bang,” katanya. “Kalau ibu sudah bosan, aku akan antar pulang.”

Aku tak mengkhawatirkan keselamatan mereka. Aku percaya Hanafi akan menjaga ibu dengan sangat baik. Dia mencintai ibu seperti kepada ibunya sendiri. Aku justru khawatir, ibu akan betah di Jakarta dan memutuskan akan tinggal di sana. Aku tak menginginkan hal itu. Sebagai anak pertama, ibu adalah tanggung jawabku. Lima orang adik-adikku sudah pernah aku ingatkan soal ini. Mereka meminta pengertianku, bahwa anak-anak mereka menginginkan agar ibu sekali-sekali datang mengunjungi mereka. Aku tak melarang, malah menyarankan agar mereka pulang dan menjemput ibu. Itu sebabnya Nauli pulang, tapi aku ternyata belum mempersiapkan diri untuk hidup tanpa ibu di sampingku.

*

TIGA hari kemudian, Nauli mengirimiku pesan di telepon bahwa mereka sudah sampai di Jakarta. “Semuanya sehat. Ibu juga sehat. Semua bergembira,” katanya.

Semua bergembira, kecuali aku. Empat adikku yang lain, yang tidak buisa pulang, ikut senang karena ibu sudah ada di Jakarta. Risma yang tinggal di Bandung memberi kabar, bahwa dia akan mengunjungi ibu ke Jakarta. Begitu juga dengan Yulia, akan membawa anak-anaknya menemui ibu di rumah Nauli. Risha sendiri akan berusaha mengunjungi ibu di Jakarta, tapi dia masih menunggu izin dari suaminya. Sementara Langgeni mengaku tidak bisa, karena anak kembarnya masih kecil dan dia khawatir membawa mereka berjalan jauh.

Ibu meneleponku dari Jakarta. Dia tidak menanyakan kabarku, tapi malah mengulangi ucapannya: “Jangan lupa, kau tengok-tengok bungaku! Kau siram biar tetap segar!”

Kalimat itu justru membuat aku sedih. Aku mengerti kenapa ibu justru lebih memikirkan bunga-bunga kesayangannya. Dia sengaja lebih memperhatikan bunga-bunga kesayangannya daripada menanyakan kabarku, karena ibu menginginkan agar aku selalu mengingat kebiasaannya. Ibu pernah bilang, bunga-bunga yang ditanam di pot dan diletakkan di halaman rumah itu punya sejarah panjang. Setiap kali ibu mengetahui bahwa dia punya cucu baru, dia akan membeli bunga dan menandai kehadiran cucunya dengan menanam bunga. Bunga itu kemudian dia beri nama cucu yang baru lahir itu. Dia akan merawat bunga-bunga itu sepenuh cinta, berbicara dengan bunga-bunganya, dan mengagumi bunga-bunga itu setiap kali berbunga.

Suatu hari, salah satu bunga yang ditanamnya layu. Bunga itu bunga mawar berwarna merah darah. Meskipun ibu sudah merawatnya dengan sangat baik, tapi bunga itu mendadak layu. Kondisi itu membuat ibu sangat khawatir. Dia langsung menelepon Risha yang tinggal di Kendari. “Apakah cucuku sakit?” Ibu langsung mengajukan pertanyaan itu, membuat tangis Risha meledak.

“Saya sengaja tidak memberitahu ibu, tapi ibu justru tahu….”

“Bunga…Bunga yang ibu tanam saat dia lahir…” Ibu tidak melanjutkan kalimatnya, wajahnya segera memucat. “Apa yang terjadi pada Harun?”

Risha menjelaskan bahwa anakinya, Harun, dirawat di rumah sakit dan didiagnosa dokter mengalami penyempitan katub jantung. Tapi dokter telah melakukan operasi kecil, dan Harun telah lebih baik.

Namun, kabar yang disampaikan Risha itu tidak membuat ibu senang. Dia bersikeras akan berangkat ke Kendari. Dia bilang, cucunya hanya akan sembuh jika dia ada di sisi cucunya. “Cucuku merindukanku,” katanya. “Akulah obat yang dapat menyembuhkannya.”

Risha mengatakan ibu tidak perlu datang karena kondisi harun sudah lebih baik. Ibu bersikeras. Risha tidak bisa lagi berkata apapun. Setelah menutup telepon, ibu mengatakan dia akan ke Kendari karena cucunya sakit dan dirawat di rumah sakit.  Aku tidak bisa membayangkan ibu ke Kendari, menempuh perjalanan yang tak pernah dilakukannya. Tapi, aku tidak akan mampu melarang ibu karena ibu keras dengan pendiriannya. Jika ibu sudah menginginkan sesuatu, dia akan berupaya keras untuk mewujudkannya.

Aku menghubungi Risha, menanyakan kondisi kemenakanku sembari membicarakan tentang rencana ibu mau ke Kendari. Risha berharap agar aku bisa menghentikan ibu, karena perjalanan ke Kendari akan sangat melelahkan bagi ibu. Aku bilang kepada Risha agar dia memberitahu semuanya, sehingga semua orang akan punya jawaban yang sama bila ibu meminta pendapat mereka soal keberangkatan ke Kendari. Aku sendiri kemudian menghubungi yang lainnya, meminta mereka untuk tidak mengizinkan ibu pergi.

*

BUNGA-BUNGA kesayangan ibu tumbuh segar, terutama dua belas bunga mawar yang ditanam dalam pot besar. Ke duabelas pot bunga mawar itu sama-sama berbunga, warnanya kelopak bunga-bunga begitu indah. Aku mengagumi bunga-bunga itu, menjaganya agar tetap segar sambil membayangkan ibu di Jakarta.

Tiap pagi, ibu selalu meneleponku untuk menanyakan ke duabelas pot bunganya. Ibu ingin tahu kondisi bunga-bunga kesayangannya itu. Aku ceritakan apa adanya. Bunga-bunga itu bermekaran. Ibu tidak yakin dan meminta agar aku memotret ke duabelas pot bunga itu. Aku memenuhi keinginan ibu. Aku kirimkan duabelas potret bunga kesayangannya.

Selain duabelas pot bunga itu, masih ada pot-pot bunga lainnya. Semua bunga itu tumbuh segar. Ada enam pot bunga yang berukuran sama, dan pot itu ditanami bunga rezeki berwarna putih. Setiap kali musim berbunga, bunga-bunga putih itu mengeluarkan aroma yang harum. Aroma itu akan bertahan di udara, terutama pada malam hari. Aroma harum itu akan masuk ke dalam rumah. 

Ibu pernah cerita, aroma bunga itu adalah aroma kebahagiaan. Aroma itu menguap dari enam pot bunga rezeki yang ditanamnya untuk menandai kami, enam orang anak-anaknya. Bunga-bunga itu tidak pernah berhenti berbunga. Kata ibu, ketika bunga-bunga itu berbunga, keenam anak-anaknya pasti sedang berbahagia.

Tapi, aku justru tidak bahagia meskipun keenam pot bunga itu berbunga. Aku mengkhawatirkan ibu, khawatir dia tidak akan pulang. Aku khawatir ibu akan betah di Jakarta. Aku resah, aku tak ikhlas, tapi enam pot bunga rezeki itu masing-masing berbunga, mengeluarkan aroma yang harum. Dua belas pot bunga mawar terus berbunga membuat halaman rumah menjadi indah. *





==============
Budi P. Hutasuhut atau sering menulis dengan nama Budi P. Hatees lahir di Sipirok, Tapanuli Selatan, Sumatra Utara, pada 3 Juni 1972. Menulis karya jurnalistik dan karya sastra seperti cerpen, puisi, esai, dan novel yang telah diterbitkan di Koran Tempo, Tempo, Horison, Kompas, Media Indonesia, dan lain sebagainya.  Sehari-hari bekerja sebagai peneliti dan konsultan  untuk Institute Sahata dan Tapanuli Database Center for Researd Culture and Social (Tapanuli Database).

Bagikan:

Penulis →

Kontributor Magrib

Tulisan ini adalah kiriman dari kontributor yang tertara namanya di halaman ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *