Perempuan di Atas Tumpukan Sampah

KETIKA raja siang sedang rakus-rakusnya menghisap embun-embun yang tersisa di permukaan dedaunan hijau, perempuan berbaju putih sudah berdiri di atas tumpukan sampah. Rambut hitamnya nyaris hilang dari pandangan karena setiap helainya disembunyikan di belakang topi proyek warna kuning yang dikenakan sebagai penutup kepalanya. Matanya berputar-putar menyusuri setiap jengkal sampah kertas di sekelilingnya. Raja siang yang pelan-pelan menggerogoti kulitnya, dia abaikan begitu saja. Lukisan muram di wajah perempuan itu seperti menyimpan tanda tanya besar dalam isi kepalanya.

Bagi orang awam, sampah kertas yang menggunung di sekeliling perempuan itu adalah sampah biasa. Sampah yang tidak berguna. Jika pun ada nilainya, hanya cukup menghidupi para pemulung dan tukang rongsok yang saban hari keluar masuk gang-gang kampung dan komplek perumahan mencari barang bekas. Tetapi bagi perempuan itu, sampah kertas yang sekarang dia berdiri di atasnya adalah aset perusahaan yang nilainya miliaran rupiah. Setengah gunung dari sampah-sampah kertas itu sengaja didatangkan dari luar negeri untuk didaur ulang di perusahaan tempatnya bekerja.

Kemarin siang, perempuan itu mendapat panggilan dari markas besar polisi. Kabarnya ada kerikil-kerikil tajam yang mengganjal dalam proses impor kertas bekasnya. Di depan sebuah meja, di sebuah ruangan yang luasnya lebih besar dari sebuah ruangan praktek dokter, perempuan itu berhadapan wajah dengan seorang polisi bintang satu berkumis tebal. Di bagian dada seragam coklat kebesarannya tertera sebuah nama Kresno Sudibyo dengan huruf-huruf raksasa. Tetapi jenderal polisi bintang satu itu hanya ingin dipanggil Pak Kres saja. Biar lebih simpel katanya.

“Ibu Ani? Kontainer atas nama perusahaan Ibu ada masalah di pelabuhan,” kata Pak Kres membuka tabir persoalan.

“Perasaan selama ini kami tidak pernah ada masalah, Pak. Semua sudah sesuai dengan peraturan yang berlaku,” jawab perempuan yang masih tergolong muda itu.

“Itu kata Ibu! Perusahaan Ibu telah melanggar regulasi impor limbah non-B3. Di beberapa kontainer ditemukan banyak sampah plastik dan limbah yang tidak bisa diurai.”

“Tapi, Pak! Selama ini kami tidak pernah melanggar regulasi. Kalau masalahnya di importir kami, itu bukan kesalahan kami.”

Ani, nama perempuan itu mengelak tuduhan jenderal bintang satu itu dengan ribuan dalih. Menurut pendapatnya, perusahan tempat dia mengais rejeki sudah memenuhi standar peraturan yang ditandatangan pemerintah dan tidak pernah sekalipun berurusan dengan pihak yang berwajib. Baru hari ini dia mengunjungi markas besar polisi untuk persoalan ini. Namun ribuan dalih yang menggelontor dari mulut Ani selalu dipatahkan mulut polisi berseragam coklat yang duduk di depannya. Foto-foto dari kontainer yang bermasalah disajikan satu demi satu di atas meja. Polisi bintang satu itu seperti mengorek-orek luka yang sedikit supaya terlihat membengkak.

“Begini saja, Bu! Supaya perusahaan Ibu impor kertas bekasnya lancar. Bagaimana kalau perusahaan ibu menyumbang sedikit dana pengawalan buat kami setiap bulan? Cuma empat puluh juta per bulan. Bagi perusahaan yang dipimpin ibu, angka sebesar itu tentu saja bagai membeli segelas kopi di warung kopi keliling. Anggaplah uang itu sebagai sumbangsih kepada aparatur negara.” Polisi bintang satu itu tersenyum culas.

“Baiklah! Saya telepon dulu pemilik perusahaan.”

Ani sebenarnya sangat jengkel, bagaimana mungkin polisi yang katanya mengayomi, melindungi, dan melayani masyarakat tega berbuat seperti itu.

Ani meninggalkan markas besar kepolisian dengan langkah dongkol. Pemilik perusahaan, atasannya memberikan lampu hijau atas permintaan polisi bintang satu itu.

“Biarlah Ni tidak apa-apa! Mau bagaimana lagi. Ini juga demi keberlangsungan perusahaan.” Demikian jawaban pemilik perusahaan di ujung telepon genggam. Sejujurnya, kata-kata itu sangat tidak ingin mendarat mulus di lubang telinga Ani. Perempuan itu ingin berontak melawan polisi dengan bintang satu di pundaknya itu. Selama ini Ani selalu berusaha mengikuti regulasi yang dikeluarkan pemerintah, baik pusat mau pun daerah. Katanya reformasi, tidak ada pungli, tidak ada kete belece, tidak ada uang keamanan. Presidennya sendiri mengatakan demikian dan dijadikan berita utama di media cetak, elektronik, dan online. Kalau kenyataannya seperti ini sama saja bohong.

Mata Ani belum berhenti berkeliaran mengelilingi tumpukan kertas di sekelilingnya. Dia masih memendam dongkol bekas pertemuan kemarin. Mengapa? Mengapa? Mengapa kejadian kemarin masih terjadi di negeri ini? Kalau ada masalah mengapa tidak diproses hukum saja? Dia sangat siap menghadapinya. Mengapa majikannya harus tunduk kepada ancaman polisi? Terdengar deru mesin forklift datang menghampirinya.

“Bu! Mau turun sekarang? Hari sudah semakin panas?” seru orang dibelakang kemudi forklift.

“Sebentar lagi,” jawab Ani setengah berteriak.

Saat Ani membalikkan tubuhnya menantang matahari, telepon genggamnya tiba-tiba berbunyi. Dari nama yang keluar di layar, terbaca nama anak buahnya.

“Bu ada dimana? Ada orang lingkungan hidup ingin bertemu! Kemarin mereka ke sini tapi ibunya kan sedang di markas besar polisi.”

“Suruh tunggu saja dulu! Sebentar lagi saya ke kantor!”

Sejujurnya, Ani sangat malas bertatap muka dengan mereka. Setiap mereka menginjakkan kaki di kantornya, selalu mengungkit-ungkit masalah limbah pabrik. Dan ujung-ujungnya minta disediakan ayam dan ikan bakar serta uang perjalanan dinas. Tak lama kemudian, mulut perempuan di atas tumpukan sampah itu berteriak-teriak memanggil nama operator forklift supaya segera menghampiri tumpukan tempat dia berdiri.

Di ruang rapat, seorang pria buncit dan perempuan berkacamata tebal terlihat duduk dengan wajah gembira. Seminggu kebelakang mereka masuk ke ruang rapat sambil membawa seorang wartawan media online lokal. Mereka berbagi kabar tentang sungai yang mangairi sawah dan kolam warga tercemar limbah pabrik. Diduga limbah itu berasal dari perusahaan yang dipimpin Ani. Padahal perusahaan yang letaknya tidak jauh dari sungai itu banyak, bukan hanya perusahaan yang dipimpin perempuan muda ini. Wartawan itu membeberkan keluh kesah penduduk serta foto-foto kolam dan sawah yang tercemar.

“Bagaimana, Bu? Apa keluhan warga dan foto-foto ini saya naikkan jadi berita utama?”

“Saudara mengancam?”

“Bukan, Bu! Saya bukan mengancam. Saya hanya mengingatkan! Seandainya foto-foto dan keluh kesah warga naik jadi berita utama, perusahaan yang ibu pimpin bisa didemo warga.”

“Ya sama aja kalau begitu.”

“Ibu tidak usah khawatir. Saya tidak akan menjadikan berita utama. Tulisan saya tidak akan mengkreditkan perusahaan ibu. Biar bapak dan ibu dari lingkungan hidup ini yang jadi saksinya,” kata Si Wartawan sambil melirik kedua orang dari lingkungan hidup.

Yang dilirik tersenyum lebar.

“Iya tenang saja. Yang penting ibu tinggal memperbaiki amdalnya saja. Nanti kami bantu,” kata bapak berperut buncit seolah memberikan solusi yang paling tepat.

“Baiklah,” kata Bu Ani.

Mereka sepakat tidak akan membesar-besarkan masalah limbah. Namun harus ada kompensasinya alias tidak gratis. Selain dijamu makan siang, tangan mereka diselipi amplop putih berisi lembaran-lembaran rupiah tanpa bukti penerimaan uang.

Sekarang mereka kembali melewati pintu ruang rapat dengan mengaleng sebuah map warna hijau diketiak lelaki perut buncit.

“Ini, Bu, bagian-bagian yang harus diperbaiki.” Lelaki perut buncit membuka lembaran-lembaran kertas di atas map hijau. Kepala Ani mangggut-manggut bersama mulut kedua tamunya yang menjelaskan catatan kertas di atas map hijau.

“Minggu depan kepala dinas sendiri yang akan mengunjungi pabrik Bu,” kata lelaki perut buncit sebelum menutup pertemuan.

Menjelang alarm istirahat dibunyikan, mereka terlihat satu meja di sebuah rumah makan dengan menu yang beragam. Sebelum benar-benar berpisah, tangan Ani terlebih dahulu menyelipkan amplop putih yang isinya lembaran-lembaran rupiah kepada tamunya.

Menjelang matahari tenggelam perempuan itu terlihat kembali berdiri di atas tumpukan sampah. Tidak jauh dari tempat dia berdiri, satu, dua, tiga forklif hilir mudik menurunkan sampah kertas dari truk-truk kontainer. Pikiran perempuan itu dinaungi mega hitam yang berarak di langit senja. Ternyata semakin besar perusahaan, semut-semut nakal semakin banyak yang mengerubuti. Wajah matahari sudah tidak kelihatan tetapi sinarnya masih memaksa menerobos mega-mega hitam yang berkeliaran sore itu. Perempuan itu buru-buru memanggil operator forklif untuk segera turun dari tumpukan sampah kertas.




=====
Eli Rusli
, Penulis alumnus UPI Bandung. Menulis dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Sunda.

Bagikan:

Penulis →

Kontributor Magrib

Tulisan ini adalah kiriman dari kontributor yang tertara namanya di halaman ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *