Mahfud (Tidak) Bekerja

Judul Buku   : Buku Melihat Pengarang Tidak Bekerja
Penulis      : Mahfud Ikhwan
Penerbit     : Diva Press
Cetakan      : Pertama, Februari 2022
Tebal Buku   : 128 halaman
ISBN         : 978-623-293-651-5

Pada Februari yang lengang, sebuah paket buku sudah sampai di rumah, saya segera membukanya dan mendapati buku kumpulan esai karangan Mahfud Ikhwan, Melihat Pengarang Tidak Bekerja, buku dengan judul yang saya kira ingin guyonan dengan Aan Mansyur, penyair kesayangan kita yang membikin kumpulan puisi Melihat Api Bekerja itu.

Sebelum membaca Melihat Pengarang Tidak Bekerja saya sudah meniatkan di dalam hati, bahwa saya akan meresensi buku kumpulan esai ini apapun yang terjadi. Namun sayang seribu kali sayang, ketika saya sudah selesai membacanya dan kemudian dilanjutkan dengan menulis resensinya, baru sampai di paragraf kedua, saya mengalami kemandegan yang amat sangat luar biasa. Saya merasa tidak akan bisa melanjutkan tulisan saya untuk meresensi buku ini. Padahal sebelum-sebelumnya saya tak mengalami kendala berarti saat meresensi sebuah buku, entah ini karena faktor apa.

Saya seperti mengalami kejumudan yang luar biasa ketika akan melanjutkan untuk meresensi kumpulan esai Mahfud ini. Saya berhenti total untuk beberapa lama, lumayan cukup lama. Tapi anehnya buku kumpulan esai ini saya bawa ke mana-mana, entah nantinya akan saya baca lagi atau tidak. Dan ketika merenung (dan bermalas-malasan) untuk beberapa lama, akhirnya saya menemukan hal yang tak terduga, bahwa apa yang saya alami ternyata dialami juga oleh Mahfud, dan itu tertuang di dalam tulisan-tulisannya, tentang bagaimana ia mencari alasan untuk tidak menulis dan bagaimana sebenarnya pola dan mood itu adalah suatu hal yang eksis, dan saya kira semua penulis mengalami momen kemandegan luar biasa itu dalam dunia kepenulisannya. Mendapati kenyataan yang demikian, maka saya kemudian berusaha untuk menyusun kembali paragraf-paragraf tulisan saya yang mandeg ini pelan-pelan, sepelan bisikan.

Melihat Pengarang Tidak Bekerja, merupakan kumpulan esai Mahfud Ikhwan yang menghimpun sebanyak 12 tulisannya. Di dalamnya kita akan diperlihatkan bagaimana seorang Mahfud sebagai seorang pengarang memandang kehidupan dan dunia seorang penulis. Tulisan-tulisannya adalah tulisan ringan yang dapat dicerna oleh berbagai lapisan masyarakat, dari golongan rakyat jelata yang serba kekurangan maupun dari golongan Luhut Binsar Pandjaitan orang-orang yang bergelimang kemapanan, wabilkhusus para penulis pemula dan orang-orang yang ingin menjadi penulis. Kita seperti akan mendengarkan seorang lelaki tambun yang gemar rebahan nan angkuh dan banyak pikiran sedang bercerita tentang dirinya, tentang kemalasannya, tentang bagaimana ia menunda-nunda pekerjaannya dan bagaimana ia menjalani kehidupannya sebagai seorang penulis.

Dalam buku ini setidaknya kita akan disuguhkan pemikiran Mahfud tentang dunia literasi atau kepenulisan, atau lebih tepatnya proses kreatif dia sebagai seorang penulis dan masalah-masalah apa saja yang ia hadapi dalam dunia kreatifnya. Bagaimana cara Mahfud untuk menyelesaikan tulisannya maupun sebaliknya, bagaimana ia memandang kehidupan seorang penulis yang digadang-gadang tangannya dapat mengubah dunia, tapi di satu sisi penulis adalah manusia biasa sebagaimana manusia awam kebanyakan saat menghadapi situasi tertentu seperti menghadapi pandemi.

Kita seperti akan diajak Mahfud bertamasya ke dalam alam pikiran dan pengalamannya, dan disuguhkan perspektif-perspektif alternatif melalui tulisan-tulisannya. Seperti Mengapa ia menulis yang kemudian dijawabnya dengan enteng saja “saya menulis karena saya adalah pecundang untuk banyak hal”. Kemudian bagaimana ia menyalin semangat Prometheus dengan peristiwa kenakalannya sewaktu bocah yang tak sengaja membakar sebuah dangau milik tetangganya di padang tandus yang luas hingga habis, dan dari kejadian itu ia kemudian mengaitkannya dengan mengutip kata-kata Banerji, penulis favoritnya. Lalu dari kutipan itu ia jadikan moto menulisnya, bahwa “Api dilahirkan oleh api. Kita tak dapat menyalakan obor dengan menyelupkannya di tumpukan abu yang dingin” yang kemudian ia sampaikan lagi kepada para calon penulis-penulis pemula di dalam setiap seminarnya dengan semangat Banerji itu “Semua penulis baru tak lebih dari peminjam api para penulis lama” begitulah kemudian Mahfud memulai.

Kemudian ia juga berbagi keresahannya dengan apa itu sastra Indonesia dan permasalahannya dengan bahasa Indonesia, karena Mahfud sebagai seorang lelaki yang berbahasa ibu jawa nyatanya sangat “iri” dengan orang yang berbahasa ibu melayu, ibu kandung dari bahasa Indonesia. Dan di satu titik, Mahfud bahkan berpikir mengapa ia tidak mencoba untuk menulis sesuatu tentang tidak menulis, dan ini adalah tema yang sebenarnya Mahfud ingin sampaikan dalam sebagian tulisannya dalam buku ini.

Mahfud meyakini bahwa menulis itu dapat disejajarkan dengan perbuatan-perbuatan baik yang lain, karena menulis selalu menghadapi godaan-godaan dan rintangan berat begitu ia hendak ditunaikan. Lalu kenapa menulis itu berat? “Karena tidak ada kebaikan yang bisa dilakukan dengan gampang” Subhanallah. Selain itu Mahfud juga mengingatkan kepada para remaja dan orang-orang yang ingin menjadi penulis, untuk memikirkan ulang niatnya, karena menjadi penulis itu tak seindah dan semudah yang dibayangkan. Mungkin ini terkesan pesimistis, tapi sebenarnya Mahfud berkata demikian demi kebaikan kalian semata, soalnya sebagian  masyarakat memandang bahwa dunia tulis menulis dan mengarang berbeda dengan profesi lain, beberapa pekerjaan tidak menuntut kita untuk memberi penjelasan, sementara pekerjaan seperti penulis membutuhkan penjelasan lebih lanjut, Penulis “Oh yang dipercetakan…

Kekurangan dari buku setebal 128 halaman ini jika boleh disebut sebagai kekurangan adalah tak ada kata pengantarnya. Menurut saya pribadi kata pengantar ini menjadi penting keberadaannya ketika seorang pembaca akan masuk ke dalam alam pikiran si penulis, karena si pembaca akan memiliki gambaran latar belakang dan apa motivasi penulis membuat kumpulan esai ini dengan lebih gamblang. Tapi sebenarnya ini kekurangan yang tak telalu fundamental, ini hanya pandangan pribadi saya, dan masih sangat memungkinkan untuk diperdebatkan.

Saya adalah salah satu penggemar Mahfud dan karya-karyanya (terutama novel dan esai-esai ringannya tentang kepenulisan). Saya menyukainya karena ia memiliki 3 alasan untuk saya sukai, pertama dia anak desa setengah urban (dengan kesederhanaan dan keruwetannya), kedua tulisannya keren dan lucu, dan ketiga ini yang paling penting, dia jujur dalam menulis. Dari ketiga hal ini sangat cukup menjadi alasan bagi saya untuk menyukai karya-karyanya, pun menjadi alasan bagi saya untuk tidak segan-segan kepada Anda yang belum membaca karya-karyanya, coba masukan satu saja karyanya ke dalam list bacaan Anda, tabik.





Bagikan:

Penulis →

Juli Prasetya

Penulis puisi, esai, dan cerpen. Sekarang sedang berproses di Bengkel Idiotlogis asuhan Cepung. Kini ia bermukim di Desa Purbadana, Kembaran, Banyumas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *