Ketika Capung Membebaskan Jiwamu



MALAM semakin pekat. Bagimu, waktu terasa berjalan lambat, hingga kamu putuskan untuk menghitung kendaraan yang berhasil melewatimu. Seorang pria paruh baya mengayuh sepeda tua. Roda yang dari kejauhan tampak bergulir pelan, membuatmu tahu betapa berat beban yang ditanggungnya. Kamu mengira apa yang diangkut mungkin saja beras, gandum, atau jagung. Saat melewati lubang jalan tepat di depanmu, guncangan dari sepeda itu membuatmu akhirnya tahu, jika isi di dalam karung itu hanya pasir yang membuatmu kelilipan. Kamu mengerjap berulang kali, berharap air matamu keluar dan mengenyahkan butiran-butiran pasir itu.

Sejenak kamu teringat pada keluargamu. Tadi siang kamu masih bersama ibu dan dua saudaramu. Rebahan di bawah lincak bambu milik seorang petani mangga yang saat itu berganti profesi menjadi buruh bangunan. Karena bosan, kamu meninggalkan mereka yang terlelap, untuk mengejar capung. Kamu terlalu asyik bermain. Setelahnya kamu hanya ingat membentur sesuatu hingga terpental jauh. Saat kamu sadar, darah mengalir dari moncongmu, tubuhmu tak lagi bisa digerakkan. Kamu hanya mampu mengeong. Sesekali menjilati bulu kaki dan perutmu yang mati rasa.

“Kucing kecil yang malang,” suara seseorang menyadarkanmu.

Kamu berusaha membuka mata yang masih pedih. Seorang lelaki brewok menyentuh tubuhmu. Sepertinya kamu telah lupa menghitung dengan cermat, ia adalah orang ke berapa yang berhasil melewatimu. Tapi kamu yakin, sepertinya lelaki itu adalah satu-satunya orang yang peduli terhadapmu. Lelaki itu kembali masuk ke mobil, lalu keluar lagi dengan selembar kain. Ia mengangkat tubuh dan meletakkanmu di kursi depan, tepat di samping lelaki itu yang berada di balik kemudi. Kamu mengeong lirih, sebagai ungkapan terima kasihmu atas kebaikannya. Entah karena terlalu nyaman, atau memang lelah yang tak lagi bisa ditahan, kamu akhirnya terlelap.

Kamu tersentak. Suara benda jatuh dan teriakan bersahut-sahutan. Mendadak tubuhmu tegang. Ketakutan melingkupi perasaanmu. Tapi rasa ingin tahumu lebih besar. Kini kamu sudah berada di sebuah rumah, bukan lagi di dalam mobil. Tanpa memedulikan keadaan, kamu berhasil mengangkat tubuhmu dan mendekat ke sumber suara. Di dalam kamar, kamu melihat seorang perempuan meringkuk. Rambut dan pakaiannya berantakan. Saat kamu ingin masuk lebih jauh, lelaki brewok yang sebelumnya membawamu tiba-tiba muncul.

“Apa kau lapar?” tanya lelaki itu. Ia meraihmu ke dalam pelukan, mengelus lembut tubuhmu, lalu meletakkanmu kembali ke bantal, tempat di mana kamu berada sebelum mendekat ke arah suara yang membuatmu penasaran. “Makanlah, kucing pintar. Kau cepat sekali pulih,” kata lelaki itu lagi.

Kamu mengendus makanan kaleng yang baru saja dibuka, sebelum akhirnya menyantap dengan ditemani usapan lembut di kepalamu. Makanan asing yang terasa nikmat. Kamu tak perlu lagi mengais tulang di tempat sampah, atau mencuri kepala ikan di meja makan. Sejak saat itu, kamu menganggap si lelaki sebagai tuanmu. Seseorang yang sangat memperhatikan, serta melindungimu.

Esok hari, saat rebahan di bantalmu, kamu kembali mendengar suara-suara tak jelas dari arah kamar. Kali ini, kamu tidak berminat mendekat. Suara tuanmu yang hendak masuk ke rumah mengalihkan perhatianmu. Ia mengangkat tubuhmu, dan dibawa ke luar. Kamu melihat sebuah rumah kayu berukuran kecil, bertengger di dahan pohon yang tak begitu tinggi. Setelah kamu diletakkan di dalam rumah kayu itu, tuanmu pergi meninggalkanmu begitu saja.

Entah mengapa, ada sesuatu yang terasa hilang dari hidupmu. Karenanya, kamu melompat keluar untuk menyusul tuanmu. Namun, belum sempat kamu berhasil masuk ke rumah, tuanmu menutup pintu dengan sangat keras. Kamu terkejut. Hanya bisa duduk diam, berharap tak lama lagi tuanmu sadar telah meninggalkanmu sendiri di luar rumah. Tapi hingga beberapa hari, ternyata tuanmu tak pernah menunjukkan batang hidungnya.

Kamu mulai menyisir tong sampah, mengais sisa-sisa makanan untuk mengisi perutmu. Setelahnya, kamu akan kembali ke rumah pohon. Tidur, atau sekadar mengawasi rumah tuanmu. Bersiap melompat jika melihat pintu rumah itu tiba-tiba terbuka.

Malam harinya, kamu menghabiskan hampir seluruh waktumu sembunyi di dalam rumah pohon. Kamu merasa malam itu sangat berbeda. Begitu sunyi, bahkan suara jangkrik yang biasanya bersahut-sahutan tak kedengaran. Angin berembus kencang. Membawa aroma ganjil yang membuatmu menggigil. Lengkap sudah, ketika hujan deras turun tanpa peringatan. Kamu hanya bisa bertahan. Mlungker memeluk dirimu sendiri hingga tertidur.

Dalam lelapmu, kamu bermimpi menjadi manusia, seorang perempuan berambut panjang yang kala itu sedang bersama seorang lelaki di ruang tamu.

“Aku akan mengantarmu pulang jika hujan sudah reda,” kata lelaki yang kamu panggil dengan sebutan Jo.

Kamu mengangguk. Kini perasaanmu lega. “Kamu malaikat, Jo. Tepat di saat kamu datang, orang-orang yang mengikutiku akhirnya pergi menjauh. Kamu tahu, jantungku hampir copot. Aku tidak tahu bagaimana harus melarikan diri,” jelasmu panjang.

Suara guntur membuatmu kaget. Kamu terbangun dan sejenak panik. Mondar-mandir di dalam rumah pohonmu, sembari mengintip hujan yang masih menderas. Kamu berusaha tenang. Usai bisa menguasai dirimu, kamu menutup mata dan terlelap lagi. Mimpimu bersambung.

Saat itu kamu berlari menerobos hujan. Dengan napas tersengal dan rasa takut yang mencekam, kamu berusaha menjauh dari kejaran Jo. Tetapi Jo berlari lebih cepat darimu. Ia berhasil menangkapmu, membawamu masuk kembali ke rumah, lalu memperdayaimu dengan kejam. Teriakanmu teredam suara hujan dan guntur.

“Aku temanmu, Jo. Tega sekali kamu,” katamu terisak.

“Jika kamu nurut, aku tidak akan bertindak kasar,” sanggah Jo membela diri.

Wajahmu memerah. “Aku tidak akan tinggal diam.”

“Apa yang mau kamu lakukan, hah?”

“Aku akan membuatmu membusuk di penjara! Sampai mati aku tidak akan melepaskanmu.”

Jo panik. Ia mulai melampiaskan kecemasannya dengan menyiksamu. “Sebelum itu, aku akan membunuhmu,” bisik Jo sesaat sebelum meraih patung perunggu dan mengarahkan berulang kali ke kepalamu.

“Hei, apa kau tidur?” suara tuanmu membangunkanmu. “Kamu pasti lapar.” Tuanmu membopongmu masuk ke dalam rumah.

Kamu lega, akhirnya bisa bertemu dengan tuanmu yang kembali perhatian. Ia memberikan sekaleng makanan kucing, lalu membiarkanmu menikmatinya dengan elusan lembut di kepala. Kamu merasa bantalmu lebih empuk. Suasana rumah juga lebih hangat. Kamu bahkan mengikuti tuanmu sampai ke kamar. Menunggu dengan setia hingga ia selesai membersihkan diri.

Ketika tuanmu keluar dari kamar mandi, kamu agak terkejut. Brewoknya dicukur habis. Seketika bayangan perempuan berambut panjang, Jo, suara-suara berisik dan perempuan berantakan yang meringkuk di kamar, berselang-seling mengganggu pikiranmu.

“Kau bau sekali, sepertinya kamu harus mandi juga,” kata tuanmu sembari mengendus bulumu. Saat kamu melihat wajah tuanmu lebih dekat, kamu teringat peristiwa yang sempat kamu saksikan sebelum capung yang kamu kejar menghilang, dan sebuah mobil melindasmu.***

Bagikan:

Penulis →

Septi Rusdiyana

Seorang ibu rumah tangga, yang tinggal di Yogyakarta. Penyuka cerpen.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *