DARI mobil sedan keluaran 90-an, pria paruh baya lima puluh tahun itu sesekali melihat ke salah satu rumah mewah di dalam kompleks perumahan elit yang sore itu tampak sepi. Tangan kirinya sesekali menggaruk lipatan kain celana panjang samping resleting. Sedang tangan kanannya memegang rokok menyala yang tersisa sedikit. Puntung-puntung bekas rokok bertebaran di luar pintu mobilnya yang dibiarkan terbuka.
“Mila,” begitu panggil Marto pria lima puluh tahunan itu, sambil berdiri membuang rokok ke tanah, menginjaknya dengan sepatu kulit warna cokelat yang mengkilap. Berlari kecil menghampiri seorang perempuan muda dua puluh tahun berambut pendek sebahu yang baru ia kenal dua hari lalu di sebuah foodcourt mall, yang tadi dipanggilnya Mila.
Kini ketika keduanya bertemu lagi, tidak ada rasa canggung. Marto melihat wajah Mila kini lebih cantik dan jauh berseri bahagia daripada pertemuan pertama dulu. Mila tiba-tiba memeluknya. Marto membiarkannya, ia memilih menikmati pelukan Mila yang terasa hangat.
“Sayang…, aku sudah putusin pacarku lho.” Marto terkejut mendengarnya. Melepaskan pelukan Mila.
“Kapan?”
“Tadi pagi, Sayang.” Marto tersenyum mendengar cerita Mila.
“Tapi kenapa kamu putusin dia?” Mila tidak menjawab. Ia kembali memeluk Marto. Kali ini lebih erat.
”Karena aku enggak cinta dia lagi, Sayang.” Mila menyahut mesra.
”Bukankah dia seumuranmu dan ganteng, lebih pantas dia jadi pacarmu ketimbang aku.”
”Enggaklah, umurnya sudah tiga puluh tahun tapi dia kere (miskin). Enggak bisa penuhi apa yang aku minta. Motornya juga butut, sering mogok. Makanya aku putusin dia lalu pilih kamu.” Marto mencium kening Mila.
”Aku sayang kamu.” Mila tersenyum.
Kemudian Marto menyuruh Mila masuk ke dalam mobilnya.
“Kita mau kemana?”
“Ke tempat kita bersenang-senang.” Mila menurut saja. Masuk ke dalam mobil Marto.
***
Marto mengajak Mila pergi ke Taman Tengah Kota. Jaraknya sekitar sepuluh kilometer dari kompleks perumahan tempat tinggal Mila dan keluarga besarnya. Tapi waktu tak berasa bersama Mila. Berdua naik mobil, menikmati pemandangan indah sepanjang perjalanan. Taman-taman kota yang tampak terawat indah.
Waktu setengah jam tidak terasa. Keduanya tiba di Taman Tengah Kota. Terhampar pemandangan keriuhan pembeli wedang ronde, jagung bakar dan roti bakar, serta anak-anak kecil yang bermain bola. Lalu keduanya duduk di kursi panjang yang ada di tengah taman.
“Lho katanya bersenang-senang tapi kenapa ke sini?”
“Karena di tengah keriuhan ini, kamu dan aku bisa saling lebih menyatu.” Marto mengenggam tangan Mila yang ada di sampingnya. Mila menepiskannya.
“Aku malu dilihatin orang.”
“Memang kenapa?”
“Di mata mereka, kita terlihat seperti Bapak dan Anak.”
“Sudah, enggak usah hiraukan apa yang mereka lihat. Bukankah kamu cinta aku, sayang aku.” Mila menggangguk. Marto merangkul pundak Mila. Kepala Mila disandarkan ke pundaknya. Mila tidak bisa menolak. Beberapa orang yang lewat berbisik melihat kelakuan keduanya.
“Bagaimana kabar pacarmu yang kamu putusin tadi?” Marto mengalihkan perhatian Mila yang salah tingkah memperhatikan beberapa orang yang melihat ke arah keduanya.
“Kenapa sih kamu tanyain dia sih? Kamu enggak percaya aku ya.”
“Enggak begitu, Sayang. Aku cuma pingin kabar mantanmu. Siapa tahu dia sedang menyendiri di kamarnya lalu bunuh diri.”
“Ooo si Alan, dia mau bunuh diri atau apalah, aku sudah enggak peduli lagi. Cintaku tetap untukmu, Sayang.” Marto tersenyum senang. Lalu keduanya bercengkerama mesra. Bercerita banyak hal. Tapi Marto tidak menceritakan semua tentang dirinya. Ia mempunyai rahasa lain yang ingin ia tutupi rapat-rapat. Sebuah rahasia yang bisa mengakhiri hubungannya dengan Mila, semenjak perkenalannya di foodcourt mall dua hari lalu di mana ia tidak sengaja bertabrakan dengan Mila saat mengambil makanan.
***
Mila dan Marto, seiring keduanya sering bertemu dan bersama. Hingga pada bulan ketiga, pertengkaran diantara keduanya kerap terjadi. Lebih karena Marto belum juga mau jujur tentang dirinya. Dan puncaknya pada akhir bulan keempat. Mila akhirnya tahu yang sebenarnya.
Saat itu dua perempuan datang bersama dua bayi dan seorang anak yang masih kecil, datang ke rumah Mila. Menghardik Mila, menyebutnya perempuan perebut suami orang dan matre di hadapan keluarga besar Mila yang saat itu sedang berkumpul di hari ulang tahunnya ke dua puluh tahun. Sontak semua kaget, tidak percaya. Mila merasa campur aduk perasaannya, malu dan marah jadi satu.
Mila menghubungi Marto dengan gemuruh perasaan di hati. Meminta penjelasan Marto sejelas-jelasnya siapa dua perempuan bersama tiga anak yang datang ke rumahnya kemudian menghardiknya habis-habisan di hadapan keluarga besarnya, membuatnya teramat sangat malu. Marto tidak bisa lagi menyembunyikan rahasia besarnya. Ia memberitahu kalau dua perempuan bersama tiga anak itu istri serta anaknya.
Mila benar-benar syok pada Marto yang tidak sekalipun meminta maaf, bahkan terkesan bangga. Ia berusaha menenangkan diri. Kemudian mengajak Marto bertemu di tempat keduanya biasa menghabiskan waktu bersama, di Taman Tengah Kota.
***
Tampak Mila dan Marto berjalan dalam diam di Taman Tengah Kota, tanpa suara keluar dari mulut keduanya. Kedinginan hadir di antara keduanya.
“Sayang, kamu masih marah padaku?” Marto membuka percakapan. Mila tidak bergeming menjawab.
“Selama ini aku cinta padamu, aku rela putusin pacarku demi kamu. Tapi kenapa kamu membohongiku?” Mila akhirnya buka mulut, suara marahnya berusaha ia tahan.
“Bohong kamu cinta padaku!! Kamu juga butuh uangku kan. Mana uangku sepuluh juta yang katanya kamu cuma pinjam… Mana!!” bentak Marto. Mila kaget mendengarnya. Memukuli tubuh Marto. Lalu mendorongnya hingga jatuh. Orang-orang yang ada di sekitarnya sontak memperhatikan perbuatan Mila sambil bergegas merekamnya menggunakan ponsel.
“Kamu lelaki brengsek, Marto!!” disusul sumpah serapah keluar dari mulut Mila. Marto bangkit dari jatuhnya.
“Plak…!!!” Tamparan keras Mila ke pipi Marto. Disusul tendangan ke celana panjang bagian depan Marto, tepat mengenai alat vitalnya. Marto meringis kesakitan.
“Aku sudah berikan segalanya… segalanya untukmu, Marto. Tapi kenapa… kenapa… kamu lakukan ini padaku?” Marto tersenyum sambil menahan sakit.
“Karena kamu itu cèweķ matre seperti ceweķku yang lain, kamu juga nggak lebih dari selingkuhan untukku, tempat pelariankusaat dua istriku enggak bisa layani nafsu birahiku,” kata Marto kemudian tertawa lebar. Mila melotot, matanya merah nanar.
“Aku enggak sudi jadi selingkuhanmu lagi. Kita putus! Cari yang lain….!!!” teriak Mila kencang. Marto berhenti tertawa. Kali ini ia tersenyum.
“Aku sudah punya yanglain. Dia lebih cantik, lebih segalanya daripada kamu. Tya… Come here, Baby.” Mila terperanjat mendengar nama Tya, itu seperti nama sahabat lamanya.
“Hai, Mila,” suara renyah seorang perempuan berambut panjang dari belakang mengagetkannya. Sejurus kemudian, ia baru menyadari itu memang Tya sahabat lamanya saat sudah berdiri di depannya, bersama Marto.
“Dia sudah lama jadiselingkuhanku. Jauh sebelum aku ketemu kamu. Istri-istriku enggak tahu tentang dia,” Marto merangkul pinggul Tya mesra. Mila lagi-lagi kaget.
“Tya… Kamu tega ya bikin aku begini, kamu itu sahabatku,” Mata Mila berkaca-kaca.
“Sahabatmu? Sahabat yang selalu kamu manfaatin buat kesenanganmu sendiri?! Enggak lagi! Aku bukan sahabatmu!!!” Tya berkata meledak-ledak. Orang-orang yang menonton ketiganya kian berdatangan, makin banyak pula yang keluarkan ponsel merekamnya.
Ketiganya seakan tidak mempedulikannya. Terhanyut dalam pertengkaran yang semakin panas.
“Kamu jahat, Tya. Kamu jahat!!” Mila menahan isak tangisnya.
“Asal kamu tahu ya aku yang beritahu istri-istri Mas Marto soal kamu, aku tambah-tambahin ceritanya biar mereka makin emosi.” Mila kaget.
“Sekarang tahu kan bagaimana rasanya dipermalukan di depan keluarga besarmu? Sakit dan malu banget bukan?” Mila menggelengkan kepala berulang kali, tidak percaya sahabatnya bisa setega itu kepadanya.
“Kenapa kamu berbuat begini sama aku, Tya? Kenapa… kenapa?” Tya tertawa terbahak-bahak.
“Kamu lupa atau pura-pura lupa dulu kamu rebut Alan dari tanganku sampai aku gagal tunangan dengannya. Gara-gara kamu selingkuh dengan si Alan, aku malu… benar-benar malu di hadapan keluarga besarku. Kamu bikin hati ini sakit sekali… sakit sekali!!!” Tya kembali meledak-ledak. Mila bak disambar geledek mendengar kata-kata Tya. Air mata Mila tumpah, ia tidak kuat lagi. Dilihat sekelilingnya, kamera-kamera ponsel mereka yang tidak punya empati merekam pertengkarannya. Mila kian merasa sangat malu.
Berderai air mata, Mila berlari meninggalkan keduanya. Langit seolah runtuh baginya, sahabat yang sudah ia anggap saudara tega menyakiti hatinya. Tya dan Marto hanya diam memperhatikan sambil tersenyum puas. Terdengar sorakan caci maki orang-orang di Taman Tengah Kota yang menonton kelakuan ketiganya seakan menganggap itu bagian program reality show stasiun televisi terbaru. Tya dan Marto tidak peduli, keduanya terus melangkah. Tya memapah Marto yang berjalan tertatih.
“Maaf ya aku enggak bisa tepati janji kencan denganmu malam ini, Sayang.” Raut wajah kecewa terpancar dari wajah Tya.
“Enggak apa kok, Sayang, asal kamu transfer lima puluh juta ke rekeningku.” Marto mengangguk. Wajah Tya berubah ceria.
***
Mila sudah tidak peduli lagi pada apapun. Yang ada di pikirannya sekarang hanya ingin secepatnya sampai rumah. Ia semakin mempercepat larinya. Bahkan saat menyeberang jalan.
Tiba-tiba sebuah mobil menabraknya. Mila terpental, tubuhnya jatuh membentur aspal. Lalu diam tidak bergerak. Darah segar mengucur dari kepala, telinga dan hidung Mila. Pengemudi mobil, seorang pria tiga puluh tahun keluar dari mobil.
“Mila… .” Pria itu tercekat melihat perempuan yang ditabraknya.
“Alan, ada apa?” Seorang perempuan dua puluh tahun keluar mobil. Ia juga kaget melihat perempuan yang tersungkur di depan mobil.
“Dia sahabatmu kan, May.”
“Iya tapi itu dulu.” Perempuan yang dipanggil May melihat ke sekitarnya, semakin banyak orang yang mendekat ke lokasi tabrakan.
“Alan, cepat masuk ke mobil.” Pria yang dipanggil Alan ragu-ragu.
“Kamu lupa siapa yang modalin bikin kafemu sampai bisa sesukses saat ini.” May mengingatkan. Alan menurut. Masuk ke dalam mobil, mengunci pintu dan menutup kaca mobil.
Banyak orang mengerubungi mobil yang ditumpangi Alan dan May. Menggedor kaca mobil dan menggoyangkan mobil, sambil berteriak meminta keduanya untuk keluar. May mengeluarkan pistol dari tas KW mewahnya. Membuka pistolnya yang terkunci. Kemudian menodongkan ke kanan ke kiri bergantian. Orang-orang di luar mobil yang melihatnya mundur, berangsur menjauh.
“Cepat jalan.” perintah May. Alan mengangguk kemudian menjalankan mobilnya pelan-pelan karena masih banyak orang di sekitaran mobil.
“Urusan Mila bagaimana?” Alan panik memikirkan Mila, mantannya.
“Dia sudah mati. Biarkan saja” Alan tercekat mendengar kata-kata kejam keluar dari mulut perempuan muda yang duduk di sebelah kursi mengemudinya. Ah andai May tidak bawa pistol, mungkin sudah ia hajar mulut jahatnya.
“Itu pistol mainan kan, May?” May tersenyum lalu mengeluarkan megasin berisi belasan peluru dari gagang pistol. Alan terperanjat.
“Dari mana kamu dapat pistol sungguhan itu?”
“Diam!! Gak usah banyak tanya. Fokus saja nyetirnya.” May memasukkan kembali megasin ke dalam pistol lalu menguncinya. Alan terdiam. Mengalihkan pandangannya ke samping kanan di mana ia tiba-tiba melihat seorang perempuan muda sedang memapah pria paruh baya yang berjalan tertatih, keduanya menuju ke parkiran mobil.
“Bukannya itu Tya, sahabatmu ya, May.” Alan memberitahu May. Tapi yang diberitahu, hanya melihat sejenak lalu melengos.
“Sudah enggak lagi. Dia juga mantanmu kan.” Alan tersenyum.
“Kenapa Tya dan Mila bukan sahabatmu lagi, May?”
“Dia dan Mila bukan sahabat yang baik, sering melorotin uangku dan mesti aku yang bayar pas jajan bareng.” Alan mengangguk pelan.
“Itu pria paruh baya aku juga kenal. Namanya Marto.” Alan kaget mendengarnya.
“Kok kamu bisa kenal?”
“Dulu aku selingkuhannya Marto tapi aku tinggalin dia setelah aku keruk semua hartanya. Termasuk pistol ini aku ambil darinya. Aku kira dia bakalan miskin eh ternyata tetap kaya.” Alan terperanjat mendengar cerita May. Ia ingin marah besar tapi dilihatnya tangan May sedang membawa pistol.
“Dasar cewek matre… cewek psycho.” Alan bergumam lirih.
“Ngomong apa kamu barusan?” Mata May melihat tajam ke arah Alan sambil tangan kirinya mengelus pistol.
“Eh anu aku cuma bilang kamu cantik, Sayang.” Tangan kanan May mencubit pipi kiri Alan.
“Oh so sweet banget sih kamu,” sahut May lalu tersenyum puas. Alan mengelus pipi kirinya sambil menghela nafas lega. Mobil terus melaju menyusuri jalanan kota yang mulai terang bermandikan cahaya lampu toko-toko di sekitarnya dan juga bulan purnama.
***
Jasad Mila masih terbujur kaku di tengah jalan. Darah yang keluar tubuhnya mulai mengering. Tidak ada yang inisiatif menelepon ambulance atau membawanya ke rumah sakit dengan kendaraan yang lewat. Tidak ada yang ingat mencatat nomor polisi mobil pelaku. Tidak ada yang berusaha mencari CCTV di sekitaran pinggir jalan untuk menelusuri jejak pelaku.
Semua orang malah sibuk mengabadikan dengan memfoto dan memvideokannya. Menjadikannya konten media sosial. Sebagian tersenyum puas saat mendapati jumlah jempol yang menyukai konten mereka bertambah, hingga penuh komentar-komentar berisi doa duka cita dan mengecam pelaku tabrak lari.
Marto dan Tya ada di antara mereka yang hanya memperhatikan jasad Mila. Wajah keduanya gembira, tidak menyiratkan raut kehilangan akan rasa cinta dan seorang sahabat. Keduanya bercengkerama sambil sesekali melontarkan candaan lepas di dalam mobil yang terjebak kemacetan, akibat makin banyak orang yang mengabadikan kejadian adanya jasad perempuan muda di tengah jalan diduga korban tabrak lari.
Yogyakarta, 4 April 2025